Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Mengalami kemalangan lagi


__ADS_3

Ia menyadari kebodohannya yang menuruti semua kemuan Adella .Ia menyuruh Frans untuk meninggalkan wanita itu dan berjuang untuk mendapatkan kami .


“Maafkan aku frans.!” Aku tidak tau Mami sudah tiada


Ia menghampiriku dan memberi pelukan hangat yang membuatku begitu tenang.


“Mommy..!” Ia langsung melepaskannya bisa-bisa si kembar melapor pada kakakku


Belum menuntaskan semuanya yang terjadi Arden merengek minta pulang karena bajunya lengket kena keringat ia tidak betah.


Ia mengendong Arden ke dalam mobil dan kami pamit meninggalkannya. Aku masih menatapnya sampai jauh. Ada rasa sesak didadaku


Jauh didalam hatiku masih ada dasar yang besar untuknya hanya saja perasaan itu seperti membelenggu dengan sangat kuat hingga aku tidak bisa melihatnya.


Terkadang aku berpikir” ada apa kisah cinta serumit yang kami jalani saat ini? , rasa ini sangat menyesakkan, saat aku merasa dekat padanya sama seperti saat ini, aku ada bersamanya aku ingin memeluknya tapi tidak bisa, karena kami saat ini sudah berpisah,


Bukankah kalau masih saling menyukai harusnya bersatu ? bukankah bila saling mencintai harusnya saling memiliki?”


Tapi kami berdua mengalami kerumitan saling mencintai, tapi tidak bisa memiliki


“Mommy.!” Suara arden membagunkanku dari lamunan panjang yang menyesakkan dadaku


“Kenapa sayang?”


“Aku mengantuk..!” mata keduanya sudah seperti bohlam yang meredup


Mata mereka berdua mulai sayu mungkin karena kelelahan. Jadi membuat keduanya jadi sangat mengantuk,


Aku menatap Arden yang lagi tertidur pulas dipangkuanku, Ya ampun wajah itu semakin lama semakin memborong semua apa yang dimiliki Frans.


Ia semakin lama semakin tampan, tidak akan ada yang berani mengatakan mereka berdua bukan anak dan bapak


Sekalipun aku dengan sangat kejamnya memutuskan hubungan mereka berdua sebagai bapak dan anak, dan sekalipun aku mengukir dilangit kalau mereka berdua tidak mempunyai hubungan, tapi wajah ini sekali lagi akan membuktikan kalau ia adalah anaknya bahkan mereka berdua seperti pinang dibelah dua,


Jauh dihatiku,aku ingin kebahagian anak-anakku jauh dari kebahagianku.


Akhirnya mobil kami berhenti di perumahan kapling mewah dengan halaman yang luas dan rumah besar berlantai dua dengan tiang pondasinya menjunlang mewah dengan kokohnya, tanaman bunga-bunga yang terawat rapi menghiasi dan mengelilingi Rumah bergaya eropa itu terlihat kokoh dengan batu –batu kali yang kuat di setiap dingdingnya


Mewah dan berkelas, itulah rumah kami, Rumah yang kami bangun degan kakakku, rumah tempat kami berkumpul dengan anak-anakku dan anak-anak kakakku nantinya kalau sudah lahir.


Kami sudah berjanji, kami akan tetap tinggal bersama tidak bisa dipisahkan dari kakakku .Tapi hatiku sering, bertanya bahagiakah aku?


“tidak aku tidak merasakan kebahagian ,aku merasakan kekosongan dalam hatiku.


Tubuh yang bernyawa tapi seperti tidak punya jiwa, setiap hari aku merasakan kesepian yang amat dalam belakangan ini,


Tepat saat aku memutuskan menyudahi hubungan kami dengan Frans, tepat saat aku bertindak sangat berani dan merasa hebat, hebat saat aku memutuskan hal penting dalam hidup ya itu ikatan.,

__ADS_1


Aku melangkah masuk kerumah .


Tapi sesuatu terjadi lagi dalam keluarga kami, seolah tiada habisnya cobaan terus saja datang silih berganti.


Kakakku berlari turun dari atas dengan mengendong Tari yang terlihat kesakitan memegangi perutnya.


“Ya Tuhan apa lagi yang akan terjadi, aku bergelidik merasakan tubuhku bergetar hebat karena takut”


“Ada apa kak?”


“ Ia mengalami kontraksi hebat dan tiba-tiba janinnya tidak bergerak lagi “ Saat itu juga aku merasakan duniaku runtuh lagi, untuk kesekian kalinya


Aku ingin berteriak menangis,


Aku harus kuat untuk memberi kekuatan untuk mereka berdua,


“Bawa mereka keatas dan tidurkan.!” Aku menyerahkan pada kedua pengasuh sikembar, untung keduanya sudah tertidur tadi kalau saja mereka bangun tadi, entah bagaimana menjelaskannya pada mereka ketika Bunda yang mereka sayangi terkulai lemas .


dan Papi mereka berlari mengopong dengan tangisan kepanikan, mungkin mereka juga akan ikut menangis mungkin


“Aku ikut kak!”


“Tapi anak-anak.!”


“Mereka sudah tidur dan sudah dibawa sama mbaknya ke kamarnya..”


Hingga tiba disalah satu rumah sakit swasta terbaik di Kota ini dimana biasanya keluarga kami memeriksa kesehatan di rumah sakit ini, dan mendapat pelayan VIP kelas satu di sini.


Tapi walau di berikan kelas satu sekalipun, aku tidak memperdulikannya pikiranku hanya pada dua orang yang berada dalam ranjang rumah sakit itu,


Kakakku lemas tak berdaya, lagi-lagi ia disuruh membuat keputusan yang berat antara anaknya dan istrinya. Dulu juga kakakku dipaksa membuat keputusan yang berat, ia dipaksa memilih antara aku atau sikembar tapi karena kebesaran yang Kuasa Ia membuat keputusan yang tepat, ia memilih menyelamatkan keduanya. Tapi saat ini situasinya berbeda.


kakaku kehilangan kepercayaan dirinya, ia ingin memiliki keturunan dan bahkan ia dan Tari sudah melakukan hal yang terbaik semampu mereka berdua.


Mulai istirahat total selama satu bulan, ia tidur selama satu bulan di ranjang dan ,melakukan segala hal dari ranjangnya Tari melakukanya, “api Ya Tuhan “ apa semua pengorbanan besar mereka akan sia-sia belaka”


Lututku rasanya bergetar karena lama menunggu diluar, jarum jam seolah lambat berputar


Kakak dalam posisi yang sulit aku datang menghampirinya, Oh mata itu benar-benar menangis , JIka seorang Dokter menjadi wali dari orang yang dicintainya, Ia akan berubah lemah dan tak berdaya , seperti kakakku Ia begitu bingung disuruh memilih anaknya apa istrinya,


Tapi aku membantunya membuat pilihan sulit itu, aku memilih menyelamatkan sahabatku , walau nantinya itu akan menjadi petaka baru.


Kakakku terkulai lemas ketika ia kehilangan anaknya untuk kedua kalinya rasa kecewa putus asa, sedih, terlihat jelas di wajahnya


Aku terpaksa yang membubuhkan tanda tangan disurat persetujuan itu, Bagiku keselamatan temanku jauh lebih penting, mereka masih muda, Yang Kuasa pasti akan sudah membaut rencana untuk kelurga mereka,


Tapi secara manusia , semua yang mereka lalui sangatlah berat dan tidak mudah , saat mereka ingin sekali mendapat keturunan kenapa begitu sulit untuk mendapatkannya ,

__ADS_1


Kenapa pada orang yang benar-benar menginginkannya tidak mendapatkannya dengan mudah, padahal hampir tiap hari ia mendengar kasus aborsi dan pembuangan anak oleh orang Tuanya.


“ takdir hidup terkadang susah untuk dimengerti.’


INI bukan tentang menghakimi Tuhan , hanya aku merasa dadaku begitu sakit, melihat kakakku yang aku sayangi terluka lagi


“Pulanglah biar aku yang menjaga disini” kak Hendro menatapku dengan mata yang sembab


Tanpa kami sadari waktu sudah berlalu,


aku menatap jam dinding dirumah sakit sudah 3:15 WiB sudah pagi. Aku baru mentari ingin menelpon tentang si kembar pasti mereka berdua menangis mencari Bunda kalau tidak kakak dan aku juga, mereka bisa menangis.


Tapi aku menyadari ternyata poselku tertinggal di Mobil karena buru-buru mengantar Tari tadi.


Aku meminjam ponsel salah seorang staf rumah sakit untuk memangil supir,


Jalanan Ibukota tidak padat karena ini masih subuh perjalan kami pulang kerumah sangat lancar, tanpa hambatan tidak sampai 20 menit kami sudah sampai didepan rumah pikiranku tidak tenang sejak tadi memikirkan kedua bocah kembar itu bisa bisa menangi mungkin


Haris dan Dion bahkan ikut bergadang tidak tidur. Mereka memilih bermain catur sembari menungguku.


“Belum pada tidur?”


“Bagaimana Mbak. Istri Bos bagaimana?


Aku menggeleng, sedih dion baik Haris seolah ikut merasakan kesedihan kami.


“Bagaimana anak-anak.?”


“Ini mbak tadi Arden dan Aretha menangis mencari semuanya,


“Terus..!”


“Itu..!”


“Apa? Cercaku tidak sabar.


“Pak Frans kami meneleponnya, dan ia datang mereka diam,


“Kenapa malah meneleponnya kata terbawa emosi pada Haris


“Bukan meneleponnya tapi pak Frans ketepatan datang mengantarkan Boneka Aretha ditempat bermain dan waktu pas bangat mereka berdua menangi . Jadi pak Frans menenangkan keduanya dan sekarang sudah tidur kata


“Maaf aku terbawa emosi” akun hanya berasa capek


“Iya gak papa mbak aku mengerti situasinya”


“Iya terimakasih atas pengertiannya .”

__ADS_1


“Frans masih di kamar mereka Mbak mungkin ikut tidur juga sepertinya menidurkan anak-anak.


__ADS_2