
“Ia tidak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif, mungkin masih dalam ruangan seminar. Aku takut kalau , Ia sudah pulang nanti Fai! kata Tari semakin pilu tangisannya
Hari ini kak Hendro lagi mengadakan seminar di Rumah sakit tempat yang dulu. Mungkin Ia masih dalam acara seminar.
Tari takut kalau kakak tau . Arden hilang, aku lebih takut.Aku takut Ia memarahi Istrinya.
Hampir dua jam kami mencarinya , tidak menemukannya . Cuaca diluar semakin dingin . Hujan salju semakin deras.
Kali ini kak Hendro yang menelepon balik. Mungkin ia mengecek ponselnya , ada banyak panggilan masuk. Aku melirik Tari yang duduk lemah dengan wajah pucat, karena lelah. Kali ini juga Polisi ikut mencari.
“Kakak sudah pulang?”Aku bertanya dan berpikir keras bagaimana agar kakak Hendro tidak panik juga.
“Udah nih lagi di jalan . Aku terjebak salju di jalan menuju rumah.Tapi pas Tari telepon aku uda di jalan , aku tidak dengar “kata Henro.Kenapa Fai?
“Kak”?- aku diam tidak bisa berkata kata.
“Kenapa? belum apa-apa suaranya diujung telepon sudah panik
“Ada. apa Faila?”
“Arden hilang kak” Kataku mencoba dengan nada suara yang pelan. Agar kakakku tidak ikut panik.Saya takut juga Ia kenapa-napa karena lagi bawa mobil juga.
“Apa? Kok bisa? Baiklah, aku sekarang datang ka
Entah bagaimana, Ia melewati badai salju itu, baru satu jam sejak aku menelepon kakak. Ia sudah tiba, tapi tidak membawa mobil melainkan diantar Motor besar.
“Wajahnya putih dan pucat dan jaketnya dan kepalanya dipenuhi butiran-butiran salju.
Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana kakak menahan dinginnya terpaan udara dingin itu.
“Kenapa Bisa? katanya panik dan hampir menangis.
Ia pergi kehalaman mencari .bagaimana kalau Ia kedinginan dan membeku di luar “katanya.
Tari semakin meraung -raung menangis, menyalahkan diri sendiri. Aku mengikuti kakak, ikut mencari di luar . Ya ampun! baru kali ini aku melihat wajah itu begitu ketakutan.
Terakhir aku melihatnya pernah merasa takut juga, pada saat aku jatuh di rumah pada saat itu, di Oxford. 2 tahun silam .tapi tidak setakut saat ini.
“Aku mohon kembalilah sayang!” maafkan Papi” katanya degan mata memerah menahan tangisan.
Para polisi itu sangat baik, mereka menggerakkan anak buahnya mencari kesemua tempat, termasuk membersihkan salju tebal di Pekarangan Rumah.
__ADS_1
Disamping rumah kami ada taman bunga dan ada banyak mobil diparkir. Kak Hendro juga memeriksanya, tanpa mempedulikan dirinya yang menggigil, karena badai salju semakin tebal.
Polisi menyuruhnya masuk. Mereka yang mengambil alih pencarian. Hampir 5 jam sejak Ia dinyatakan hilang.
Kami duduk membatu . Tari masih menangis.Walau suaminya tidak marah , tapi Ia semakin menyalahkan dirinya, padahal kami tau. Ia tidak lalai sedikitpun , Ia orang yang cekatan dan lincah dan teliti mengurus si kembar.
Tapi Arden lebih lincah dari Bundanya. Kak Hendro memeluknya karena Ia menyalahkan dirinya teru menerus sampai ingin menyakiti dirinya sendiri
Polisi masih sibuk mencari diarea Rumah dan memeriksa cctv. Felix juga ikut sibuk mencari.kami terduduk lemah dalam hening di depan tungku api.
“Bunda…!”
Suara itu . mengagetkan kami semua. Arden keluar dari salah satu kamar , tangannya memegang Robot mainannya
Ternyata Ia tertidur dalam Bok besar. Penyimpanan mainannya yang belum diberesin
“Haaaaa! Kami semua teriak memeluknya.
“Arden” Suara Tari yang paling keras memeluk dengan sangat erat menangis .Ia kebingungan melihat kami semua menangis memeluknya,
“Kok bisa, padahal polisi dan saya juga sudah mengecek kesini kata Felix penasaran , masuk kembali untuk melihat kedalam kamar itu.
Mainannya belum sempat kami keluarkan, jadi disimpan dalam rungan itu, dan barang barang yang lain. Ia mencari mainannya dan masuk kedalam boks itu. Mungkin karena dalam boks itu hangat Ia tertidur.
“Aku tutup, biar bunda cariin aku! Main umpat –umpat kata Arden tanpa berdosa.
“Iya” kamu pemenangnya. Kamu pantas dapat piagam atas aksimu kata Felix
“Iya ampun” Papi ! uda mau mati nih” kata kak Hendro kali ini benar benar menangis. Tidak menghiraukan kami lagi. Ia mengusap matanya yang basah.
“Papi jangan menangis kata Inces, memeluk kak Hendro mengusap matanya. Aretha benar benar cantik bak Barbie. Rambutnya hitam sedikit bergelombang dan lebat terawat. Tari dan kakak Hendro memanjangkan rambutnya .
Mereka orang tua yang luar biasa, untuk anak-anakku. Kasih sayang yang diberikan kak Hendro melebihi orang tua kandung.
Ia banyak berubah , sejak si kembar ada. Dulu Ia jarang bicara dan kesannya sombong. Tapi sekarang . berubah 180 derajat.
Kadang aku merasa Iri pada Baby twin , karena disayangi dua orang tua yang begitu luar biasa . dimasa kecilnya
Baby Twin, jauh lebih sayang Tari dan kak Hendro dari padaku. Tapi aku bersyukur anak-anakku mendapat kasih sayang yang tidak bisa aku berikan
jam 09:15 .Waktu London
__ADS_1
Cuaca di pagi hari di London . menjelang akhir bulan Desember
Hari yang amat dingin. Walau kami sudah menghidupkan penghangat dalam ruangan itu, dan menyalahkan tunggu api tetap saja rasa dingin itu miskin magarrr.
Tari paling tersiksa. Maklum tubuh yang biasa hidup ditempat tropis. Ia tidak kuat dingin dan tubuhnya bentol-bentol, jika sudah musim dingin .Tentu saja jadi gangguan berat untuknya
Ia alergi cuaca dingin, kak Hendro harus memberinya suntikan dan obat-obatan untuk mengatasinya bentol-bentol
Itu juga yang membuatnya selalu merengek minta pulang Ke Indonesia, setiap kali bulan Desember tiba ia akan mengalami hal itu,
Karena bulan Desemberlah, puncaknya salju Turun. Maka bulan ini jadi derita tersendiri buat Tari.
Tapi bertolak belakang pada kurcil-kurcil Tari. Saat Bundanya ketakutan keluar ruangan, saat itu juga kedua bocah kembar itu minta main salju diluar Ruangan.
Tari menurutinya. Tapi Ia berpenampilan serba double segalanya .Duobel jaket sarung tangan dan lain –lainya.
Tapi hari ini Ia benar-benar sakit. Tubuhnya panas menggigil. Dan seluruh tubuhnya bentol-bentol. Aku tidak tega melihatnya. Ia kesakitan.
“Baiklah “kita akan pulang ke Indonesia” kata kakak saat itu.
“Aku sangat senang “ kata Tari dibalik selimut tebal itu. Kedua bocah kembar itu tentu saja ikut menyusup kedalam selimut.Mereka pikir Tari hanya main-main
“Ayo “ Papi yang jagain saat ini! kata kak Hendro
Mengendong keduanya kanan kiri, kalau tidak bisa-bisa Tari dijadikan kuda –kudaan sama Arden si biangkerok.
Persiapan pulang kampung. Mulai disusun rencana.
Terlihat sekali kekhawatiran diwajah kak Hendro, ada beban berat sepertinya yang tidak bisa Ia lepaskan. Beberapa kali Ia menarik Nafas panjang.
Ia Pernah mengutarakan, isi hatinya pada saya kalau. Ia saat ini tidak ingin pulang ke Indonesia. Tapi berbeda dengan Tari yang begitu Rindu pulang ke Indonesia. Enak di Negara orang Tapi lebih indah lagi di Negara sendiri. Aku juga demikian.
Empat tahun lebih kami sudah meninggalkan Jakarta. Tari selama Empat tahun, kami pergi. Ia beberapa kali pulang. Untuk menjenguk Ayahnya , yang menjalani hukuman di penjara.
Memberi uang biaya sekolah adik laki-lakinya yang disekolahkan di Pondok pesantren. Ia melakukan tanggung jawabnya sebagai kakak. Ia selalu Rutin mengirim, memberi biaya sekolah untuk adiknya . tentu saja dibarengin dukungan suaminya
Kak Hendro lelaki dan suami yang Luar biasa menurutku. Ia tidak pernah saya lihat terlibat pertengkaran diantara mereka berdua.
Kabar kami akan pulang ke Indonesia , sampai juga ke telinga Felix. Ia datang kerumah dengan wajah bersemangat, karena Ia juga telah menyelesaikan studinya . Setelah belajar selama 3 tahun.
“Wah, bisa pas gitu iya.!”
__ADS_1
“IYa Tari, merengek ingin pulang kata Hendro tidak begitu bersemangat.
Faila ingin pulang ke Indonesia. Bagaimana nantinya iya?