
Mencoba membuat cemburu
Niko menemaniku di dapur, ia tumben baik hari ini, saat menemaniku memasak ia membuat kelucuan membuatku sangat terhibur, bahkan sampai melupakan Frans.
“Ciee… Niko coba dekati Fai ni,” goda Rania, ia mencoba memancing Frans marah.
“Habisnya kamu nolak aku mulu sih, Ran,” Niko menggoda Rania.
“Awas lo diliatin ama singa jantan.” Mereka menoleh Frans, lelaki itu sibuk dengan ponselnya, sepertinya ia sedang berkirim pesan dengan seseorang, aku bisa menebak ia mungkin saling berbalas pesan dengan kekasihnya Adelia. Hatiku sakit saat melihat ia mengirim pesan dengan wanita yang bernama Adel itu. Aku tidak ingin ada wanita lain yang mendekati Frans ia milikku seorang.
“Singa jantannya lagi sibuk, cari betina lain,” seringai Niko melirikku
Tidak tahan menahan perasaan cemburu ini, aku kembali ke dapur, Niko juga ikut membantuku.
“Fai, tugasku ngapain? Aku siap membantu,” ucap lelaki yang berasal dari Sumutra Utara itu dengan suara ngebas seakan-akan pakai toa.
“Abang potong bawang saja iya,” kataku menyodorkan keranjang tempat bawang ke hadapannya.
Di tengah kesibukan kami memasak, Niko bercerita hal yang lucu- lucu membuatku tertawa sepanjang kami memasak. Tidak tahu kenapa. Nika seakan-akan tahu apa yang aku rasakan ia sangat menghiburku, aku merasa sangat nyaman saat suasa gembira seperti saat itu.
“Aku senang deh sama kamu Fai, pintar masak, ceria tidak jaim dan apa adanya.” Ia memujiku dengan pujian yang berlebihan,
“Aku juga senang sama bang Niko, orangnya Rame, ceria, tipeku bangat,”ucapku membalas pujiannya dengan kalimat gombal juga, kami sama-sama tertawa.
“Aku serius loh, Fai,” Raut wajah bang Niko di buat serius, padahal aku tau, ia saja bercanda.
“Aku juga, bang.” Kataku dengan tawa yang di tahan, dia menatapku dengan tatapan lucu dengan mata yang di buat juling.
“Serius ini.” Niko membuat mimik lucu, mata juling dan bibir mirip
Melihat tingkat tertawa terpingkal- pingkal hampir kencing celana dibuatnya.
Tanpa kami sadari Frans datang, dengan mata sinis, ia menatap kami dengan tatapan tajam, ia berdiri di sisi kulkas dengan tangan bersila di dada,
Aku dan bang Niko masih terus tertawa, menghiraukan nya, banyak hal yang jadi topik mulai dari bahas film yang lucu, pembaca berita yang terlucu dan artis yang paling lucu.
“Suara kalian sangat menggangu dan berisik,” protesnya Frans dengan wajah kesal, ia datang untuk mengambil minuman dingin dari kulkas.
Karena merasa tidak ada yang salah dari obrolan kami, aku dan bang Niko hanya menganggapnya angin berlalu, melanjutkan cerita kami yang sempat terjeda karena kedatangan Frans. Hingga masakan sudah selesai.
“Oh enak, sepertinya ,” kata Agus mengendus-enduskan hidungnya.
“Ga percaya gue itu enak, biasa aja,” kata Tiara.
Hendra menjatuhkan panggulnya di salah satu kursi meja makan,
“
“Harusnya kita buat pedas iya, Fai, biar enak gerimis-gerimis begini,” kata Bang Niko, ia membuka kulkas mengambil cabe rawit hijau lagi.
“Ini buat kamu Fai, minuman dingin,” kata Frans memberinya minuman botol dingin, karena kami masak tadi lumayan panas.
__ADS_1
“Wah, perhatian sekali,” canda Hendra, lelaki bertubuh jangkung itu meledek kami berdua,
Kami berdua di jadi bahan bahasan dan ledek-ledekkin dengan dari mereka.
“Sepertinya kapal itu sudah menentukan tempat persinggahannya, dia akan berlabuh di mana, iya?” goda Agus.
“Sepertinya Faila sudah lelah menunggu, Frans," ucap Hendra lagi.
“Apa mungkin, pelabuhan yang biasa dihinggapi terlalu dingin dan kaku, jadi dia cari pelabuhan lain?”Tiara melirikku.
Aku paham apa yang mereka bicarakan, aku dan Niko, makan dengan diam, bersikap bodoh amat dengan apa yang mereka bicarakan, paling utama saat ini, urusan perut dulu.
Tapi sikap diam kami sepertinya disalah artikan oleh mereka, mata semua menoleh kami bergantian seolah-olah menyelidiki kami berdua, aku cuek karena kami berdua tidak melakukan hal yang salah,
‘Hadeh kalian ingin manas-manassin Frans gak bakalan ngaruh , ia akan bersikap tidak perduli’ ucapku dalam hati.
“Apa?” Tanyaku.
Hendra memincingkan sebelah matanya, menatap kami bergantian seolah-olah kami berdua pasangan yang selingkuh.
“Kalian berdua kenapa begitu? Apa ada yang kalian rahasiakan dari kami?” Tiara masih berusaha mengusik Frans.
Tapi bagaimanapun ia bekerja keras untuk membuat Frans cemburu, itu tidak akan berhasil. Cemburu menandakan cinta, ia tidak mencintaiku bagaimana ia cemburu? Aku hanya cinta sepihak padanya kataku dalam hati.
“ Paling Enak makan mie goreng, minumnya teh manis,” ucap bang Niko menatapku, ia juga tidak menghiraukan tatapan aneh dan pertanyaan-pertanyaan dari teman- temannya.
Mereka masih menatap kami dengan tatapan curiga, sikap diam kami berdua menimbulkan kecurigaan . Frans masih berkutat dengan sendok dan piring di depannya dengan wajah datar.
“Ada apa sih?” Tanyaku menatap tajam pada Tiara.
“Frans, lo gak marah, Niko nih dekati Faila, babu kamu,” kata Rania terdengar sangat kasar.
Tapi kata-kata seperti itu sudah biasa aku dengar, jadi kupingku, tidak terlalu kaget lagi
“Kenapa harus marah, mau pacaran sama siapa saja itu urusan Faila,” ujar Frans.
“Aku pacaran sama kamu terus,” Kataku tidak ingin ia menganggap aku dan Niko pacaran.
“hadeeeh, lo itu ngotot bangat sih maunya sama Frans padahal sudah jelas ia tidak pernah ada niat Ama lu, maksa banget jadi cewek,” rutuk Tiara kesal.
Tetapi saat Frans sibuk dengan ponselnya, ia terlihat marah.
‘Siapa yang buat dia marah? Apa dia bertengkar dengan pacarnya?’Tanyaku dalam hati, merasa tidak tenang saat itu.
“Fai’ kamu mau minum lagi gak?”Tanya Bang Niko, menatapku dengan tatapan iba, ia sepertinya kasihan saat melihat Frans , bersikap bodoh amat padaku.
“Boleh bang”
“Baik aku buatin iya.” Ia meninggalkan meja makan.
Suasana meja makan tiba-tiba jadi hening. Belum tau apa yang terjadi sebenarnya, karena Frans sepertinya marah pada seseorang.
__ADS_1
“Aku sudah kenyang.” Tiara meninggalkan meja makan, piringnya bersih tak bersisa
“Aku juga,” Hendra kemudian ikut berdiri, tangannya memegangi perutnya yang mulai bucit.
“Makasi untuk sepasang koki kita.” ungkap Rania seperti memanas- manashin situasi lagi “Bang Niko bisa masak juga iya, apa karena di ajarin sama kamu Fai tadi di dapur? kayaknya mesra bangat tadi,” katanya lagi.
Semua mata memandangi kami, kebetulan berdiri bersebelahan dengan bang NIko.
'Apa sih yang dipikirkan wanita bar-bar ini' pikirku.
“Kami hanya tertawa dan bercanda apa yang salah dengan itu,” ungkapku bersikap tenang.
“Betul,” kata bang Niko juga
“Mereka cocok.” Frans ikut menimpali dengan gaya cuek ,terlihat sangat acuh.
“Iya benar- benar, mereka cocok,” Tiara ikut-ikutan
Waktu menunjukkan jam delapan malam.
Kriiing ….
Panggilan masuk ke ponselkku, Maminya Frans menelepon. Jariku dengan cepat menekan tanda panggil berwarna hijau.
“Iya ,Mi”
“Pulang jam berapa, mau makan di rumah apa tidak?”
“Kami tidak makan di rumah mi, sudah makan di rumah teman Frans tadi ,” jawabku singkat.
“Baiklah sayang, jagan pulang malam- malam iya,” pesan Mami dari ujung telepon.
“Baik Mi.”
Tiara, Rania duo cewek borjeus itu melihatku dengan tatapan sinis, menandakan ketidak sukaan. Mereka sudah tahu wanita yang aku panggil Mami adalah ibunya Frans , wanita itu sudah menggapku seperti putri mereka sendiri.
Mami dan papinya Frans mendukung aku jadi menantu mereka, mami dan papilah yang jadi tamingku melawan dua cewek penyihir ini, jika mereka berdua datang kerumah Frans, pasti papi dan Mami membuat dua perempuan ini tidak betah berada di rumah Frans.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya keempatku, tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)
__ADS_1