Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Mencoba membuat cemburu


__ADS_3

Mencoba membuat cemburu


Niko menemaniku di dapur, ia tumben baik hari ini, saat menemaniku memasak  ia membuat kelucuan membuatku sangat terhibur, bahkan sampai melupakan Frans.


“Ciee… Niko coba dekati Fai ni,” goda Rania, ia  mencoba memancing Frans marah.


“Habisnya  kamu nolak aku  mulu sih, Ran,” Niko menggoda Rania.


“Awas lo diliatin ama singa jantan.” Mereka menoleh Frans, lelaki itu sibuk  dengan ponselnya, sepertinya ia sedang berkirim pesan dengan seseorang, aku bisa menebak ia mungkin saling berbalas pesan dengan kekasihnya Adelia. Hatiku sakit saat melihat ia mengirim pesan dengan wanita yang bernama Adel itu. Aku tidak ingin ada wanita lain yang mendekati Frans ia milikku seorang.


“Singa jantannya lagi sibuk, cari betina lain,” seringai Niko melirikku


Tidak tahan menahan perasaan cemburu ini, aku kembali ke dapur, Niko juga ikut membantuku.


“Fai, tugasku ngapain? Aku siap membantu,” ucap lelaki yang berasal dari Sumutra Utara itu dengan suara ngebas seakan-akan pakai toa.


“Abang potong bawang saja iya,” kataku menyodorkan keranjang tempat bawang ke hadapannya.


Di tengah kesibukan kami memasak, Niko bercerita  hal yang lucu- lucu membuatku tertawa  sepanjang kami memasak. Tidak tahu kenapa. Nika seakan-akan tahu apa yang aku rasakan ia sangat menghiburku, aku merasa sangat nyaman saat  suasa gembira seperti saat itu.


“Aku  senang deh sama kamu Fai, pintar  masak,  ceria tidak  jaim dan apa adanya.” Ia memujiku dengan  pujian yang  berlebihan,


“Aku  juga  senang  sama bang Niko, orangnya Rame,  ceria, tipeku bangat,”ucapku membalas pujiannya dengan kalimat gombal juga, kami sama-sama tertawa.


“Aku serius loh, Fai,” Raut wajah bang Niko di buat serius, padahal aku tau, ia saja bercanda.


 “Aku  juga,  bang.” Kataku dengan tawa yang di tahan, dia menatapku  dengan tatapan lucu dengan mata yang di buat  juling.


“Serius  ini.” Niko membuat mimik lucu, mata juling  dan bibir mirip


Melihat tingkat tertawa  terpingkal- pingkal hampir kencing celana dibuatnya.


Tanpa kami sadari Frans datang,  dengan mata sinis, ia menatap kami dengan tatapan tajam, ia berdiri  di sisi kulkas dengan tangan bersila di dada,


Aku dan bang Niko masih terus tertawa, menghiraukan nya, banyak hal yang jadi topik mulai dari bahas film yang lucu, pembaca berita  yang terlucu dan artis yang paling  lucu.


“Suara  kalian sangat  menggangu dan berisik,”  protesnya Frans  dengan wajah  kesal, ia datang untuk mengambil minuman dingin dari kulkas.


Karena merasa tidak ada yang salah dari obrolan kami, aku dan bang Niko hanya menganggapnya angin berlalu, melanjutkan cerita kami yang sempat terjeda karena kedatangan  Frans. Hingga masakan sudah selesai.


“Oh enak, sepertinya ,” kata Agus mengendus-enduskan hidungnya.


“Ga percaya  gue itu enak,  biasa aja,” kata Tiara.


Hendra menjatuhkan panggulnya di salah satu kursi meja makan,



“Harusnya kita buat pedas iya, Fai, biar enak gerimis-gerimis begini,” kata Bang Niko, ia membuka kulkas mengambil cabe rawit hijau lagi.


“Ini buat kamu Fai, minuman dingin,” kata Frans memberinya  minuman botol dingin, karena kami masak tadi lumayan panas.

__ADS_1


“Wah,  perhatian  sekali,” canda Hendra, lelaki bertubuh jangkung itu meledek kami berdua,


Kami berdua di jadi bahan bahasan dan ledek-ledekkin  dengan  dari mereka.


“Sepertinya kapal itu  sudah  menentukan tempat persinggahannya,  dia  akan berlabuh di mana, iya?” goda Agus.


“Sepertinya Faila sudah lelah menunggu, Frans," ucap Hendra lagi.


“Apa mungkin, pelabuhan yang  biasa dihinggapi terlalu dingin dan kaku, jadi  dia cari  pelabuhan lain?”Tiara melirikku.


Aku paham apa  yang  mereka bicarakan,  aku  dan  Niko, makan dengan  diam, bersikap bodoh amat dengan apa yang  mereka  bicarakan,  paling utama saat ini,  urusan perut dulu.


Tapi sikap diam kami sepertinya disalah artikan oleh mereka, mata semua menoleh kami bergantian seolah-olah menyelidiki kami berdua, aku cuek karena  kami  berdua tidak  melakukan hal yang salah,


‘Hadeh kalian ingin manas-manassin Frans gak bakalan ngaruh , ia akan bersikap tidak perduli’ ucapku dalam hati.


“Apa?” Tanyaku.


Hendra memincingkan sebelah matanya,  menatap kami bergantian seolah-olah kami berdua pasangan yang selingkuh.


“Kalian berdua kenapa begitu? Apa ada yang kalian rahasiakan dari kami?” Tiara masih berusaha mengusik Frans.


Tapi bagaimanapun ia  bekerja keras untuk membuat Frans cemburu,  itu tidak akan berhasil. Cemburu menandakan cinta, ia tidak mencintaiku bagaimana ia cemburu? Aku hanya cinta sepihak padanya kataku dalam hati.


“ Paling Enak makan mie goreng,  minumnya teh  manis,” ucap bang Niko menatapku, ia juga tidak menghiraukan tatapan aneh dan pertanyaan-pertanyaan  dari teman- temannya.


Mereka masih menatap kami dengan tatapan curiga, sikap diam kami berdua menimbulkan kecurigaan .  Frans  masih  berkutat dengan sendok  dan piring di depannya dengan wajah datar.


 “Ada apa sih?” Tanyaku menatap tajam pada Tiara.


“Frans, lo gak marah, Niko nih dekati Faila, babu kamu,” kata Rania terdengar sangat kasar.


Tapi kata-kata seperti itu sudah biasa aku dengar, jadi kupingku, tidak terlalu kaget lagi


“Kenapa harus marah, mau pacaran sama siapa saja itu urusan Faila,” ujar Frans.


“Aku pacaran sama kamu terus,” Kataku tidak ingin ia menganggap aku dan Niko pacaran.


“hadeeeh, lo itu ngotot bangat sih maunya sama Frans padahal sudah jelas ia tidak pernah ada niat Ama lu, maksa banget jadi cewek,” rutuk Tiara kesal.


Tetapi saat Frans sibuk dengan ponselnya, ia terlihat marah.


 ‘Siapa yang buat dia marah? Apa  dia  bertengkar dengan pacarnya?’Tanyaku dalam hati, merasa tidak tenang saat itu.


“Fai’ kamu mau minum lagi gak?”Tanya Bang Niko, menatapku dengan tatapan iba, ia sepertinya  kasihan saat melihat Frans , bersikap bodoh amat padaku.


 “Boleh bang”


“Baik aku buatin iya.”  Ia meninggalkan meja makan.


Suasana  meja  makan tiba-tiba jadi hening. Belum tau apa yang terjadi sebenarnya, karena Frans sepertinya marah pada seseorang.

__ADS_1


“Aku  sudah  kenyang.”  Tiara  meninggalkan meja makan, piringnya bersih  tak bersisa


“Aku juga,” Hendra  kemudian ikut berdiri, tangannya memegangi perutnya yang mulai bucit.


“Makasi untuk sepasang koki kita.”  ungkap  Rania seperti  memanas- manashin  situasi lagi “Bang Niko bisa masak juga iya, apa  karena di ajarin sama kamu Fai tadi di dapur?  kayaknya  mesra bangat  tadi,” katanya lagi.


 Semua mata  memandangi kami, kebetulan berdiri  bersebelahan dengan bang NIko.


'Apa sih yang dipikirkan wanita bar-bar ini' pikirku.


“Kami  hanya  tertawa dan bercanda apa yang  salah  dengan itu,” ungkapku  bersikap tenang.


“Betul,” kata bang Niko juga


“Mereka cocok.” Frans ikut menimpali  dengan gaya cuek ,terlihat sangat acuh.


“Iya  benar- benar, mereka cocok,” Tiara ikut-ikutan


Waktu  menunjukkan jam  delapan malam.


Kriiing ….


Panggilan masuk ke ponselkku, Maminya Frans menelepon. Jariku dengan cepat menekan tanda panggil berwarna hijau.


“Iya ,Mi”


“Pulang jam berapa, mau makan di rumah apa tidak?”


“Kami  tidak  makan di rumah mi,  sudah makan  di rumah teman Frans tadi ,”  jawabku  singkat.


“Baiklah sayang,  jagan pulang malam- malam  iya,” pesan Mami dari ujung telepon.


“Baik Mi.”


Tiara, Rania duo cewek borjeus itu  melihatku  dengan tatapan sinis, menandakan ketidak sukaan. Mereka sudah  tahu wanita yang aku panggil Mami adalah ibunya Frans , wanita  itu sudah  menggapku  seperti  putri mereka sendiri.


Mami dan papinya Frans mendukung aku jadi  menantu mereka, mami dan papilah  yang jadi tamingku melawan dua  cewek penyihir ini, jika mereka berdua datang kerumah Frans,  pasti papi dan Mami  membuat dua perempuan ini tidak betah berada di rumah Frans.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya  keempatku, tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-The Cursed King(ongoing)


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)

__ADS_1


__ADS_2