
"Maksudnya aku bicara normal kamu bisa mendengarnya”
"Iya” Aku mengangguk
"Berarti aku bicara normal dan kamu menjawab dengan tulisan?”
Rio bertanya lagi dengan mimik wajah senyum, antara merasa
Legah, karena aku bisa mendengar
Aku tidak tahu apa ia menertawakan kekuranganku.
Oh, kalau itu arti dari senyuman itu, berhentilah mentertawakan
penderitaanku cowok tampan, aku bermonolog.
Sepertinya Rio mengerti, melihatku dengan wajah suram,
“Jangan marah, Aku senang
Setidaknya kamu bisa mendengar omonganku, maksudku aku sedikit legah Karena
Komunikasi kita akan lancar , jika kamu bisa mendengarnya,” kata Rio menjelaskan.
Lelaki itu dengan sopan menjelaskan agar aku tidak salah paham,
" Baikla aku mengerti.”
"Aku ingin ke alamat ini? Aku harus naik apa kesana”
Tanganku menunjukkan alamat yang aku catat sebelumnya dari rumah sebelum berangkat
Mata yang bernama Rio, membacanya sebentar dan memberikan pada Temannya Felix
"Apa kamu baru pertama kekota ini . ?" tanya Rio penasaran.
"Tidak aku hanya sudah lupa Karena sudah lama" aku tidak
Ingin menjelaskan kalau aku berasal dari kota itu, bisa- bisa mereka
Tamba menertawakan aku nantinya, bagaimana mungkin bisa lupa
Jalan ke kota kelahirannya,
"Apa ada saudara yang menjemputmu?” Ia bertanya l seperti seorang polisi. Pikiranku makain kacau.jangan -jagan
mereka malah mengantarkanku nanti ke pos polisi terdekat.
"Tidak "Aku hanya ingin ziara ke makam kedua orangtuaku,” aku
Mencoba sedikit jujur.
"Oh gitu baiklah" Raut wajahnya mereka berubah lagi
Mungkin lebih kasihan lagi, mungkin dalam pikiran kedua
Tentara itu,: "Sudah bisu, yatim piatu pula, Kasihan
Tapi sungguh, tidak separah itu koz pak aku berbisik dalam hati
" Begini Non,” wajahnya sedikit ragu sekaligus iba dan kasihan
Di perlakukan seperti itu membuat hatiku yang lemah ini pengen
Menangis, dan ingin melarikan diri.
"Kita serahkan" dengan wajahnya sedikit memancarkan keraguan
Si Non bisa bareng sama kita,
Oh Tuhan terimakasih.
Jika itu yang membuatmu ragu dan sedikit berdebat
dengan temanmu, maka maaf aku tidak berminat,
Sepertinya Rio ingin membawaku bersama mereka, tapi temannya
Felix kurang setuju dan menolaknya.
__ADS_1
"Tidak usah pak cukup kasih tau saja arahnya, saya akan pergi sendiri.” Aku menulis lagi dalam kertas.
"Oh tidak apa- apa, Faila” Rio menatapku dengan ramah, tapi mendengar namaku disebut
mataku menyengit
ia menunjuk coret coretan yang iseng aku menulis
Namaku di kertas coret-coretku. “Mari duduk” Rio,mengajakku beristirahat dan sekalian menunggu
orang yang akan menjemput mereka.
Tapi aku tidak ingin dan bahkan tidak berniat sedikitpun untuk pulang bareng mereka, bicara begini saja sudah membuatku sudah tidak nyaman apalagi nanti duduk satu mobil,
bisa bisa aku kesurupan lagi nantinya.
"Tidak pak, aku bertanya pada sekuriti nya saja" aku
Meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri melihatku.
Aku berterima kasih kepada kedua orang itu, karena sudah setidaknya
mau menemani ku mengobrol,
Aku melangkah menjauh, tapi seperti nya Rio tidak tega
melihatku sendirian mencari tau.
Tapi Felix, si manusia kulkas dua pintu itu, hanya diam tanpa respon
dan hanya berfokus pada buku yang ia baca.
Mungkin dalam sepanjang hidupnya ia tidak pernah mengalami kesusahan
Melihat wajanya yang dingin dan cuek dan tidak memiliki rasa empati sedikitpun
"Faila" tunggu Rio akhirnya mengejar ku, yang tubuhku hampir mendekati
dua orang sekuriti yang sedang duduk.
"Baiklah, kita bareng berdua aja perginya.”
Aku sedikit protes karena bagaimanapun kami belum saling mengenal
"Jangan salah paham dulu, aku hanya mencoba menolong, karena kita tidak tahu orang jahat ada di mana-mana”Kata Rio dengan wajah serius.
Aku menoleh kanan kiri. Jujur memang aku takut karena tidak biasa bepergian,
Melihat gelagatku, Rio semakin yakin kalau aku memang butuh bantuan.
Rio mengajak keluar dari stasiun, menuju pemberhentian angkot,
"Apa?’”aku sedikit merasa tidak nyaman bila mendengar kata angkot,
aku belum pernah menaiki kendaraan yang jenis seperti itu.
mendengar cerita Repina dan Adira yang selalu menggunakan angkot
kalau kekampus cerita dan pengalaman mereka membuatku tidak nyaman.
"Iya angkot, Untuk ke alamat itu kita harus naik angkot,” Rio menatapku dengan serius “Apakah kamu belum pernah naik angkot?”
“Tidak” aku menggeleng.
"Wah sepertinya kita harus, saling mengenal satu sama lain dan saling bertukar pengalaman” Rio bercanda
Baru melangkah beberapa meter klakson mobil menghentikan langkah kami
"Ayo buruan naik,” suara lelaki itu sedikit mengagetkan kami.
Iya Felix simanusia kutup utara duduk di depan di samping pengemudi
yang menjemput mereka.
Matanya kali ini menatapku dengan lebih sinis lagi, mungkin karena temannya lebih memilih aku dari pada ikut bersamanya.
"Buruan...!"
Suara itu sangat menjengkelkan di Tamba tampangnya yang masam.
__ADS_1
"Ayo, dari pada kamu naek angkot,” kata Rio dengan Ramah
Aku ragu apa aku harus ikut apa tidak
"Angkot banyak orang jahatnya" kata Rio menakut- nakutiku
“Baiklah " aku mengangguk setuju.
Duduk di jok belakang bersama Rio, membuatku pasrah kali ini.
Berharap mereka mengantarkan ku sampai tujuan.
" Siapa bang?” Lelaki yang menyetir itu menatap ku seperti dia adek dari si manusia es itu dilihat dari tingkat kemiripan nya.
Gak tau Nemu di stasiun kata si Felix dengan sogongnya,
Dikira aku barang apa? Nemu!?
Aku merungut, ingin rasanya si manusia es ini kuremak- remak danubuang ketempat sampah.
" Namanya Faila Jhon" Rio menjawab, ia duduk di sampingku tadi satu kreta
Dari Jakarta dan baru pertama datang ke daerah sini,
"Oh aku Jhon,” ia menyodorkan tangannya.
Iya menatap Rio karena aku diam tanpa suara.
"Dia tuna rungu,” kata Felix dengan cueknya.
Hal itu melukai hatiku, apa sih masalah dia kenal juga baru tadi sudah mengajakku bermusuhan , salah bicara baik-baik?
“Oh” lelaki itu mengangguk. “Wah sayang sekali, iya padahal ia cantik .”
"Ia bisa mendengar Jhon” Rio melirikku dengan merasa tidak enak,
"Oh benarkah maaf,” ia kagok melihat kearahku.
Baru setengah perjalanan perutkubsudah mulai nkeroncongan
Iya ampun tidak bisa diajak bekompromi ini perut, dengan tangan memegangi perutku.
"Kamu lapar iya?”Rio menatapku.
Wajahku merah Karena menahan malu
“Kita berhenti depan sebentar, iya
untuk makan,” lagi -lagi Rio membuat temanya kesal
“Nanti dirumah aja bro”Felix terlihat sangat kesal karena menganggu kelancaran perjalanan mereka
" Kasihan ia bro sepertinya kelaparan.”
" Orang kayak gitu dipercaya hati- hati aja, awas kena tipu sama wajah
polosnya,” ia menuduhku tampang modus.
dengan tampang yang tidak bersahabat
Berhenti di rumah makan Padangpilihan Rio, hanya kami bertiga yang menikmati makan siang, si manusia kutup lebih memilih ,memakan buku, maksudku membaca buku,
Matanya sedikitpun menoleh kearah kami yang dengan asiknya
Menikmati makan siang.
Tanganku sibuk mencari sesuatu dalam tas Tangan ku, dompet tempat
Penyimpanan uwang tunai yang biasa aku gunakan mendadak hilang,
dan makanan niatnya aku yang bayar sebagai tanda trimakasiku
Karena sudah memberiku tumpangan.
"Oh iya ampun kamana dia pergi "aku terus mencari
"Cari apa FAI..?
Bersambung
__ADS_1