Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Saat hati merasa kosong


__ADS_3

Setelah mengenalkan diri pada jajaran rumah sakit, kalau aku salah satu pemilik rumah sakit dan kakak Hendra wakil dari Direktur, Dokter yang tadinya hanya melihatku hanya keluarga pasien kini memperlakukanku dan semua keluarga dengan sangat hormat.tidak seperti biasanya,mereka sadar mereka salah selama ini,


Saat keluar dari ruang pertemuan para petinggi rumah sakit, Arvind menunggu di depan pintu, kini wajah itu tidak lagi setajam saat aku mengenalnya.


“Hai, kamu membuatku terkejut,” ucap Arvind dengan tatapan mata menatapku dengan serius,


“Terkejut karena apa? karena saya pemilik rumah sakit ini ?” tanyaku menatapnya tidak bersahabat.


“Iya”


“Saya bukan tipe orang yang pamer dan tipe orang suka merendahkan martabat seseorang, tapi saya lebih tidak suka lagi, jika ada seseorang yang menilai orang dengan status,” ucapku.


“Maaf, itu karena saya marah itu karena kamu tidak mau menjawab panggilanku”


“Arvind tidak selamanya orang itu hatinya dalam keadaan baik, ada saat orang lain keadaan tidak baik keadaan tidak bisa menerima panggilan telepon dari kamu, di situlah kamu diminta untuk saling mengerti dan saling memahami,” kataku menasehati.


“Apa itu artinya kita tidak bisa berteman lagi?”


“Iya aku ingin bilang padamu carilah orang yang cocok dengan kamu, maaf saya tidak bisa hanya sekedar berteman atau hanya berteman ngobrol juga saya tidak bisa dengan kamu,” ucapku.


Ia terkejut dengan ucapanku, ia tidak menduga aku mengatakan itu, bahkan menolak berteman dengannya, Faila yang biasa yang ia kenal wanita yang lemah lembut, tapi kali ini hanya berteman juga aku menolaknya, semua manusia berubah bahkan berubah pikiran.


Aku meninggalkannya masih mematung menatap kearahku, aku harus melakukan itu dari awal, aku tidak ingin Arvind menyukaiku lebih dalam lagi sekilas ia memang sangat tampan idaman semua wanita, tapi bagiku ia hanya lelaki muda yang hanya ingin mencari kesenangan, dari pada panjang masalahnya atau terlalu dalam ia menyukaiku, lebih baik akhiri sampai di sini dengan Arvind.


Bagiku ia hanya karyawan yang bekerja di rumah sakit milikku, ia hanya seorang Dokter muda yang menghasilkan uang untuk rumah sakit,tidak lebih dari itu,kalaupun terjadi hubungan yang membuat hatiku berbunga bunga itu hanya sebuah kebetulan di dunia ini.aku berharap hal semacam ini tidak berlarut larut lagi,cukuplah sampai di sini


**


Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan dengan Tari, karena hanya ia teman dan keluarga untukku, aku tidak punya teman selain Tari, tapi saat I ini ia marah padaku, aku ingin masuk ke kamar Tari, tapi tidak ingin berteriak lagi padaku, tubuhnya sudah pulih hanya mentalnya yang masih lemah.

__ADS_1


“Kenapa tidak masuk?” tanya kak Hendra saat melihatku ragu untuk masuk.


“Aku hanya ingin bicara dengan kakak,”


“Apa? ayo kita cari tempat yang enak untuk mengobrol, Tari juga baru minum obat”


Berjalan ke taman rumah sakit duduk bersama kakak, wajahnya terlihat letih mengurus Tari belum juga rasa sedih yang ia rasakan kehilangan anak yang sudah lama di nantikan tentu saja satu pukulan untuk kakak.


“Aku ingin pergi kakak,” kataku saat kami duduk.


“Ah, kemana, kenapa tiba-tiba?”


“Aku merasa kehilangan semangat hidup kak, aku merasa ada bagian hatiku yang banyak hilang, aku kosong dan hampa, aku ingin berlibur menghilangkan kepenatan ini.”


“Tapia pa harus pergi Fai, bagaimana dengan anak-anak?”


“Ada kakak dan Tari untuk mereka, aku hanya ibu yang melahirkan mereka, tapi mereka tidak pernah benar-benar membutuhkan aku, mereka hanya membutuhkan kakak dan Tari”


“Tidak ada kak, aku hanya ingin liburan saja”


“Kapan?”


“Lusa kak, aku sudah mengurus semua untuk orang yang menangani Hotel dan restauran.”


“Apa kamu marah sama kakak?” tanya kakak menatap wajahku yang terlihat sangat kecewa, sebenarnya iya, tapi apa yang bisa aku tuntut, kakaklah yang berhak untuk semuanya.


“Tidak, mungkin ada sedikit”


“Apa karena aku melarang Frans menemui mereka?” Kak Hendra menatapku.

__ADS_1


Sebenarnya kalau boleh jujur iya, biar bagaimanapun ia adalah ayah mereka berdua terkadang sedih mendengarnya saat mendengar kedua bocah itu memanggilnya dengan panggilan Om, Frans juga sudah menceritakan alasannya kenapa ia membiarkan aku pergi, saat itu ia sakit parah, ia berpikir tidak selamat, ia menderita sendiri, aku juga menderita sendiri kami berdua sama-sama menderita.


“Lupakan hal itu kak, sampaikan salamku untuk Tari, aku sekalian pamit hari ini, sama kakak,”


“Fai? kamu akan pergi begitu saja, berapa lama? kemana?” tanya Kakak Hendra terlihat khawatir.


“Jangan khawatir kak aku pasti bisa mengurus diriku, jangan terlalu memikirkan keadaan ku,aku sudah jauh lebih dewasa sekarang,aku sudah banyak melawati cobaan itu bisa jadi pelajaran hidupku ke depannya kak" .aku titip anak-anak sama kakak”


Aku berdiri pamit, hatiku benar-benar lagi berantakan, aku ingin menangis, tapi tidak tahu untuk apa aku ingin menangis aku, tidak tahu aku mulai dari mana.


“Fai…!” panggil kakak wajahnya benar-benar sedih, ia berdiri saat aku melangkah meninggalkannya.


“Iya kakak,” kataku membalikkan badan menatapnya.


“Maaf,” ucap kak Hendra ia menahan bendungan di matanya. “Haruskah kamu pergi, tidak bisa kita bicarakan dulu baik-baik sebelum kamu pergi, harusnya kita bicara dulu, harusnya kamu bilang kalau kamu kecewa sama kakak,” ucap kak Hendra menatapku seakan aku akan pergi selamanya, ia terlihat sangat sedih melihatku pergi.


Aku hanya menunduk kecil meninggalkan kakak masih menatapku hingga jauh.


Pamit pada anak-anak mereka tidak akan merasa kehilangan sekalipun aku pergi jauh, tapi saat tidak melihat Tari dan kak Hendra walau beberapa jam mereka berdua sudah kelengger nangisnya, tapi kalau aku yang pergi berbulan-bulanpun mereka berdua hanya menyuruh untuk menelepon.


“Mommy mau kemana?” tanya Aretha kali ini tidak biasanya ia mewek karena aku bilang mau pergi kerja ke luar kota, kalau biasanya aku pamit keluar Kota ataupun keluarga Negeri biasanya mereka berdua hanya mencium pipiku , habis sudah tidak tanya mau ke tempat mana berapa lama pergi. Tapi kali ini Arden bahkan tidak membiarkan aku pergi ia terus memeluk kakiku baik Aretha seperti itu, mereka berdua sama-sama tidak membiarkanku pergi.


Ada apa? tidak biasanya bocah ini seperti ini? Apa karena tidak ada Tari di rumah.


“Mommy hanya pergi sementara sayang, nanti Bunda pulang dari rumah sakit,”


“Momy jangan pergi lagi tetaplah bersama kami,” ucap Arden menatapku dengan tangisan.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa mampir dan ikuti terus iya kakak, kasih krisanya iya kakak untuk memperbaiki lebih baik lagi.


__ADS_2