
Kakek mempunyai sangat banyak rekan Bisnis hampir semuanya datang baik dari teman Papi Frans juga banyak yang datang.
Setelah semua nanti acara selesai. Kakek akan dimakamkan di Pemakaman Keluarga , bersama kedua Orang Tua Kami di Malang,
Aku tidak menyadari Frans duduk kembali di sampingku, aku merasakan kakiku tidak punya tenaga untuk berdiri.
“Ini minum Fai “Frans memberiku satu botol, minuman bervitamin.
“Makasih Frans !” Aku tidak menolaknya , karena aku memang membutuhkannya.
Karena besok pagi, akan perjalanan panjang untuk mengantar kakek ke Rumah terakhirnya di Malang.
Kini suasana Ruangan itu benar benar sepi, untung Repina, Adira, Tari ada menemaniku,
“Ikhlas kakek mu Fai” kata Adira memberi semangat untukku,
Walau dari tadi banyak orang yang memberi ucapan berduka cita, tapi hatiku kini membatu, Jiwa seolah ikut pergi bersama Roh kakekku.
“Fai Mami ingin bicara sebentar “ suara membangunkanku dari lamunan. Sosok wanita yang tidak asing itu berdiri didepanku.
“Mau bicara apa Mi” aku bertanya,
“Sini “ Ayo kata Maminya Frans membawa Keluar.
Istirahat disini Fai” aku sudah memesan ruangan sebelah kata Mami tiba-tiba jadi perhatian.
Perhatian itu justru membuatku semakin tidak suka, untuk apa lagi. Bagiku perhatian yang diberikan padaku saat ini tidak ada artinya lagi, sudah terlambat. Jangankan perhatian darinya Perhatian dari Frans juga aku tidak membutuhkannya lagi,
“Tidak usah Mi!” ada teman-teman saya di sana yang menemaniku, aku menolaknya dengan halus.
“Aku akan menemanimu Fai” Istirahatlah kini Frans yang menunjukkan perhatian mautnya.
Hai, saudara” bukankah ini sudah terlambat? Tidak berguna lagi, tidak usah kamu membuang energimu , untukku , aku membatin sangat jengkel.
“Tidak usah Frans, ada Tari dan Adira di dalam tidak enak meninggalkan mereka, alasan itu saya pikir sudah cukup, untuk menghentikannya
“Baiklah” Kata Frans sepertinya mengerti.
Tapi Faila Kirana!” aku saat ini ‘masih status suamimu, Kamu tidak pantas diabaikan Aku seperti ini! Kata Frans, Matanya menatapku tajam
“Aku tidak mengabaikanmu Frans, Hanya, mungkin otakku dipenuhi banyak pikiran. Aku tidak bisa berpikir, mana yang pantas diabaikan dan mana yang pantas dipertahankan.
“Maksudnya?’ Ia bertanya lagi, dengan tatapan Mata kali ini, lebih menyelidiki.
“Sudah lupakan Frans, Nanti ada saatnya kita bicara, tentang kita “ Kataku meninggalkannya
Besoknya hari pemakaman kakek, iring-iringan Mobil sudah berjajar rapi,
__ADS_1
Frans menarik tanganku, untuk ikut dengannya, Tadinya saya pikir Ia tidak ingin ikut setelah malam itu, aku mengabaikannya
Tapi sejak pagi itu, aku tidak tau Frans kesurupan setan apa, karena Ia selalu mengngikutiku, kemanapun aku pergi,Padahal niatnya saya ingin duduk dengan Tari, Adira,Repina, dan kak Hendro tentunya
Tapi lelaki bagol yang satu ini,membuntuti kemanapun aku pergi,
“Ada dengannya hari ini?” Aku membatin
Dalam mobilnya bahkan penghuninya hanya kami berdua, dari sekian banyak orang yang ingin ikut dan ingin butuh tumpangan, Tapi entah apa yang dipikirkan lelaki tampan ini, dengan otaknya yang kelewat pintar itu, aku tidak paham
Memilih untuk mengikuti apa maunya saat ini, kembali ke Mode hening cipta, Frans diam aku sibuk dengan pikirannya sendiri.
“UWaaak
Perutku rasanya mual ingin muntah, wajah Frans tegang, dan menghentikan Mobilnya, saat itu menjadi suami siaga satu untukku,
“Fai” kamu tidak apa-apa kata Frans mata itu kembali menyelidiki
Dalam pikiran Frans mungkin aku hamil,tangannya masih membaluri minyak gosok ke bagian leherku. Tapi matanya menerawang jauh
“Hentikan pikiranmu Frans ! itu belum terjadi” Aku membuyarkan lamunannya,
“Apa?” kata Frans dengan tampang gelagapan,
“Kamu pasti berpikir, aku sudah hamil, itu tidak mungkin itu baru tiga minggu’ Kamu tidak setokcer itu kok!” 1 bulan baru ada tanda-tanda, jadi hentikan pikiranmu ! kataku.
Setelah lama berkutik dengan jalanan, akhirnya tiba juga di Malang di mana Raga kakek akan dikubur di sana.
Kontraknya sudah habis di Dunia ini. Kini mungkin kakek sudah bertemu dan menghadap sang penciptanya,
“Apakah kakek bertemu Ibu dan Ayah saat ini’ Aku melamun
Banyak orang yang mengantar kepergian kakek, deretan mobil itu berjajar di pinggir jalan. Hingga mataku tertuju pada sosok yang tidak bisa terlupakan. Mantan yang sudah , saya sia-siakan dulu,
Felix dan keluarganya sudah terlebih dulu tiba, di tempat pemakaman. Baru saja aku mau menghampiri tapi tangan kekar milik lelaki itu menggenggam tanganku dengan begitu posesif
Aku mendengus kesal, Frans mempererat genggaman tangannya,
Sekarang aku baru menyadari kenapa mulai dari tadi pagi Ia mengekor kemana-mana. Ternyata karena Felix.
Sepanjang pemakaman . Ia terus menggenggam tanganku , terlihat seperti tawanan Cinta,
Aku ingin menangis , tapi aneh aku tidak ingin menangis di bahu Frans saat ini. Pikiran gilaku malah memikirkan Felix saat ini,
Tubuh orang Tua itu sudah tertutup Tanah,
Bendungan dimataku akhirnya tumpah juga aku mencoba menahannya dari tadi tapi tidak berhasil.
__ADS_1
Rasa kehilangan dan rasa penyesalan menyiksaku saat ini, setelah menyadari belum pernah melakukan yang membuatnya senang.
Jangan lemah Faila’’ tetaplah berdiri kokoh, aku berbisik menguatkan diri sendiri. Ingin rasanya aku terus menangisi orang Tua itu, untuk terakhir kalinya,
Kini mereka bertiga sudah berkumpul, Ayah,Ibu,Kakek
Aku mencabuti rumput di gundukan tanah Kuburan Ibu dan kak Hendro juga mencabuti rumput Ayah.
Satu persatu orang sudah meninggalkan tempat pemakaman itu, Aku dan kakak masih tinggal, sibuk dengan pikiran masing-masing tanganku masih membersihkan Rumput di kuburan Ibu.
Kini kami berdua yatim Piatu. Hanya kak Hendro keluargaku
Mataku masih menatap tiga batu Nisan itu. Aku berharap ayah dan Ibu melihat kami berdua.
“Ayo” kak Hendro menepuk pundakku
Rasa berat melangkah untuk meninggalkan tempat itu, masih banyak yang ingin aku katakana pada Ibu dan Ayah. Berharap mereka bertiga membantuku memohon pada Yang Kuasa agar aku Kuat.
Karena beban yang aku pikul rasanya sangat berat. Tari dan Frans masih berdiri agak jauh dari tempat kami. Mereka memberi waktu pada kami.
Aku menoleh sekali lagi kebelakang sebelum pergi dan berpamitan dari dalam hati pada mereka. Meninggalkan tanah pemakaman . Tapi di pinggir jalan. Tidak di duga Tante Mira dan Om Sami ,Felix menunggu kami.
Saya pikir sejak kejadian itu Tante Mira dan Om Sami tidak akan mau lagi menemuiku , tapi mereka masih bersikap baik . membuatku semakin merasa bersalah.
“Sabar ya sayang” Tante Mira mengusap tanganku.
“Kita istirahat ke Rumah Om dulu Fai !” om Sami malah menawarkan.
Frans yang menungguku berdiri di samping mobil. Memperlihatkan ketidak sukaanya.
“Maafkan aku Om Tante” kataku merasa bersalah
“Tidak apa-apa sayang” yang penting kamu bahagia kata Tante Mira dengan tulus
“ Oh Lord !” kenapa dulu aku tidak memilih keluarga ini bisik dalam hati memeluk tante Mira dengan hangat
Felix hanya menatapku tidak mengatakan apa-apa. Justru aku yang merasa malu bertemu dengannya, Karena kejadian malam itu.
“Pergilah Suami sudah menunggumu” kata Felix tapi justru terdengar seperti pengusiran untukku.
“Baik”Aku pergi Tante, Om” Aku meninggalkan keluarga itu. Tapi melihat Frans yang berdiri menunggu, Aku menarik Nafas panjang.
“Kamu pulang sendiri saja aku ingin pulang bersama kak Hendro saja kataku.
Wajah Frans memerah dan terlihat Rahangnya mengeras. Terlihat ada kemarahan di wajah itu,
“Aku datang denganmu Faila, pulang juga harus denganmu.!
__ADS_1
“Malas berdebat denganmu”Udah ayo !” kataku lebih kesal lagi,