Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Anakku


__ADS_3

Tiga hari di Bali, hari ini kembali ke Jakarta, saat tiba hari sudah sore, ikut mengurus pekerjaan di lokasi pembagunan restauran agar bisa benar-benar bisa berdiri bulan ini , sesuai rencana.


*


Saat tiba di didepan rumah ada tiga mobil yang terparkir di depan rumah, aku berpikir kakak kedatangan tamu.


Aku hanya memikirkan dan merindukan kamarku Aku ingin tidur sehabis mandi . itu yang aku bayangkan dari tadi, melangkah pelan-pelan kelantai atas


Tapi aku mendengar suara Frans di rumah kami . Apa ia ingin melihat Si kembar?


Rasa lelah itu, membuatku mengantuk tapi, aku memilih pintu samping untu naik kekamarku, rasa lengket di badanku membuatku tidak nyaman memilih menghindari ruang tamu.


Walau aku tahu ada suara Frans ada dibawah.


Aku berpikir akan langsung mandi tapi aku melihat kamar sikembar dikunci dari dalam, tidak biasanya aku mendengar Aretha menangis.


Tok… Tok…!


Pengasuhnya membuka sedikit pintu, mendongak, mengeluarkan kepalanya sedikit,


“Ini saya”


“Oh, ibu,” ucapnya ia membuka pintu,


“Mommy…,” keduanya menangis memelukku. Padahal aku belum mandi.


“Kenapa sayang?”


“Papi tidak boleh kami turun, kami dikurung disini”


Suara Frans terdengar memohon ingin melihat sikembar, tapi tidak diperbolehkan kak Hendro


Suara kak Hendro meninggi mengusirnya, aku tidak bisa berkata-kata .


Dulu aku memimpikan saat ini, dimana Frans memohon datang tapi tidak dapat kesempatan. Hari itu terjadi, tapi aku merasa tidak bahagia, aku merasa aku perlu mendengar satu penjelasan darinya atau aku ingin memberinya kesempatan untuk menjelaskan.


Si kembar akhirnya tidur,


Tiiing…


Bunyi notip poselku.


Ada pesan masuk dari Frans, ia menyuruhku keluar dan ingin bertemu


Aku memilih mengabaikan pesannya, lebih baik tidur rasa capek yang aku rasakan mampu membuatku tertidur pulas.


Melupakan semuanya untuk sesaat.


Ingin berjalan lurus kedepan. Tidak ingi melihat masa lalu itu yang aku pikirkan, tapi selalu ada duri disetiap perjalan hidup


Berita Hoax yang dibuat Tiara beberapa bulan lalu kini muncul lagi kepermukaan entah siapa yang menghidupkannya kembali


Padahal aku sudah tidak ingin terlibat lagi dengan orang-orang seperti mereka

__ADS_1


Masih seputar baby twin hasil hubungan gelapnya dengan Mohan dan beritanya di putar-putar dibalik-balik , tapi mendengar itu kami hanya tertawa dengan Tari.


Tapi setelah beberapa lama, semakin menyingung kesana-kemari, masih seputar anakku, aku tahu itu ulah Adella, merasa gerah juga mendengarnya sudah sangat lama tapi ia masih belum berubah.


“Urus dia tempatkan ia di Hotel yang sama,” aku menyuruh Haris bekerja lagi,


“Baik mbak”


Keluarga Frans ingin sekali melihat sikembar. Maminya Frans beberapa kali mengundang kami untuk makan di rumahnya,


Tapi kak Hendro selalu menolaknya,


“Kita harus menghadiri undangannya kak, sampai kapanpun hidup kita tidak akan tenang, dengan fitnah-fitnah murahan seperti itu lama-lama pusing juga” Aku niatnya berdiam diri tapi kalau sering diusik aku marah, kita harus katakan kebenaranya , lama-lama juga pasti akan tahu,


Tari dan kakak akhirnya menurut, bertamu kerumah Frans akan jadi momen yang unik saat ini.


Rumah Frans di penuhi keluarga besarnya aku masih bisa mengingat mereka dengan sangat jelas. Ami wajahnya kini sudah sangat tua . Ia bahkan sudah duduk di kursi roda.


Kabar Frans memiliki anak kembar, membuat mereka semua penasaran


Tari menatapku dengan perasaan gelisah. Kami di sambut dengan tradisi adat India. Menginjak kembang dan menendang satu kendi susu , aku tidak tau artinya apa, tadi itu biasanya di lakukan , untuk menyambut menantu di kelurga mereka.


Mereka saling berbisik seperti suara lebah, karena masih, kami berdua yang masih datang.


Kakak Hendro dan sikembar memakai mobil yang satunya. Karena tidak ingin sikembar menggangu Tari


Frans duduk disampingku, membuatku semakin bingung.


“Apa yang kamu lalukan ?”


“Tau, duduk tapi kenapa harus disebelah aku?”


Kriiiiing


Kriiingg


“Iya Kak”


“Fai…”


Kakak terisak di ujung telepon, aku mendengar ia menangis membuat bulu kudukku merinding


Kenapa kakak menangis . Tari langsung menatapku dengan raut wajah tegang,


“Arden dirumah sakit”


Aku merasakan tubuhku lemas , seperti tidak ada tenaga.


Rencana makan malam kami dengan kelurga Frans berubah jadi petaka, Mobil kakak berhenti di supermarket. Arden merengek beli jajan sebelum kerumah Frans. kakak keluar dari mobil, ia tidak tahu kalau Arden juga ikut turun.


Seperti biasa ia super aktif, ia menaiki rak barang di supermarket , ingin mengambil jajanan dirak atas , raknya jatuh dan menimpah kepalanya.


Tanpa berpikir panjang aku melarikan diri kerumah sakit diantar Frans.

__ADS_1


Kemalangan itu datang lagi melihat anak terluka , ulu hati rasanya terbakar.


Tari menangis histeris, kakak harus berusaha keras menangkannya . Ia Tidak boleh lelah karena saat ini. Ia lagi Hamil.


Aku berharap ia baik-baik saja karena itu juga tadi, kakak tidak ingin Arden ikut bersama kami tidak ingin Tari terlalu capek karena kandungannya lemah.


Kabar kehamilan Tari membuat kakakku sangat bahagia, mendapatkan anak sendiri memang lebih bagus, melihat Tari terus menangis, aku menyuruh kakak menangkan dan menjaga Tari


“Biar aku sama Frans yang menjaganya kak” Kak Hendro menatap Frans seolah tidak rela. Tapi Ia tidak punya pilihan istrinya membutuhkannya, Ia tidak ingin lagi Tari kehilangan bayi kedua kalinya.


Frans juga menatap tidak percaya.


“Dokter memanggilku kedalam ruangannya. Arden membutuhkan transfusi darah .Aku membuang segala egoku, dan mementingkan keselamatan Arden. Ia memilik golongan darah langkah yang disebut golongan darah ABO atau di sebut golongan darah Emas , aku tau itu hanya kelurga Frans yang memiliki turunan dari Maminya,


“Kamu harus menyelamatkannya Frans, tolong Arden “


“Fai katakan apa maksudnya katakan yang jelas”


“Frans Ia butuh darah hanya kamu yang bisa memberikannya”


Ia anakmu Frans matanya langsung terbelalak, ai mengusut ujung matanya.


“Ambil sebanyak –banyak sus yang penting anak itu sembuh,” ia menyerahkan lengannya tapi matanya menatapku dengan tatapan sedih


“Ia memiliki darah yan-


“Mereka miliki golongan darah yang sama sus…Tolong selamatkan anak saya” Aku terisak disamping Frans .


Frans menatapku dengan tatapan penasaran, aku tahu ia ingin memburuku dengan banyak pertanyaan,


“Aku hanya ingin ia sembuh, kalau kamu ingin membahas yang lain nanti saja, Frans”


Kriiiing…kriiiing


Pengasuh Aretha menelepon, ia ingin membawa Retta ke rumah, sedangkan Frans masih berbaring disamping Arden, matanya memandang wajah anaknya dengan jelas, matanya memerah menahan tangisan. Mereka di pertemukan untuk pertama kalinya dengan cara seperti itu


Ponselku berdering lagi, Retta terus mencari abangnya.


“Mommy aku melihat Arden berdarah, ia sakit”


“Sayang, Abang tidak apa –apa , abang baik-baik saja. Dedek tidur besok momy jemput!


“Aku mau sama bunda, aku mau sama papi” aku mau sama momy, aku sama abang” Ia menangis ia minta video call. Aku mengusap air mataku sebelum meneleponnya. Tak sanggup rasanya menelepon . Aku menangis disamping ranjang Frans. Aku tidak bisa.


“Apa itu Aretha?” Suara Frans bergetar.


“Ia terus menangis minta kesini. Ia melihat abangnya tadi terluka ia menangis terus mereka berdua tidak mau dipisahkan”


“Bunda…”


“Momy!”


Arden bangun , aku memeluk tubuhnya.

__ADS_1


Frans sudah selesai di ambil darahnya. Ia berdiri menatap Arden tangannya gemetar dan akhirnya memeluknya . “Anakku. Oh maafkan” Ia terisak memeluk Arden untuk pertama kalinya ia bertemu mereka.


__ADS_2