
“Biar aku saja yang akan memberitahukannya Tante kataku,
“Baiklah..! kata tante mira akhirnya,
Tante Mira besoknya menemani suaminya Tugas di Papua selama seminggu, sepertinya belum sempat membahas tentang pernikahan kami yang gagal dengan suaminya. Karena penugasannya mendadak
Karena paginya ia masih mengingatkan Felix untuk menjaga calon istrinya, Dan Felix hanya mengangguk dengan wajah datar. Tante Mira menatapku dan tidak mengatakan apa pa dan tidak tau juga apa yang dipikirkan wanita itu,
Pergi selama seminggu entah apa yang bisa aku kerjakan, rumah ini akan terasa sepi, karena salah satu asisten Rumah tangga lagi pulang kampung dan seminggu aku akan sendirian di rumah
Membayangkannya aku sudah merasa tidak enak,
Hari itu Tante Mira akhirnya pergi dan Om , Sebelumnya Kaila sudah berangkat terlebih dahulu, ada pelatihan Di Bandung dan sibungsu lagi ada tugas kuliah selama Tiga hari dan tidak akan pulang kerumah,
Aku dan Felixlah yang ada dirumah saat ini, ia menatapku dengan acuh ,Niatku untuk memberinya pelajaran mendadak buyar diganti dengan perasaan Takut. Takut ditinggal sendiri dirumah,
Aku masih berdiri di depan rumah sehabis mengantar keberangkatan Om sama Tante, aku takut masuk rumah, Suasana yang rame tiba –tiba sepi itu yang membuatku merasa sesak,
Tante karena buru –buru sepertinya belum menyadari penyakitku yang tidak bisa ditinggal sendirian,
“Kenapa masih berdiri disitu kata Felix membuatku kaget
“Jangan pergi !” kataku menatap seperti memohon
Ia menatapku masih dengan tatapannya yang masih dingin dan cuek
“Aku tidak kemana-mana, ayo masuk.!
Oh hatiku mulai tidak enak jika es batu dipertemukan denganku maka apa jadinya !”
Baru masuk saja aku sudah mulai detak jantungku tidak karuan, Felix yang menyukai suasana tenang dan hening justru jadi penyakit untukku,
Ia duduk di sofa dan kembali membaca buku, kembali mengabaikanku, aku menarik nafas panjang
“Tidak apa –apa Faila semua akan baik baik saja kataku dalam hati mengucapkan mantra beberapa kali,
“Apa kamu libur karena aku ..?” aku memulai obrolan walau aku tau, ia tidak menyukainya,
“Iya” Ia menjawab tanpa menoleh
“Apa kamu mau makan sesuatu aku akan memasaknya.?
__ADS_1
“Bukan kah kita baru serapan sepuluh menit yang lalu..! Katanya dengan tatapan tanda petik” JANGAN BERISIK”
“Oh iya benar” sahutku dalam hati. Tapi aku bisa mati jika kau mengacuhkanku kataku membatin.
Dari pada mengganggunya aku menyetel TV dan membesarkan volumenya, Lagi-lagi ia marah dan kesal dan ingin meninggalkanku, ia beranjak dan ingin masuk kekamarnya,
Aku berlari mengikutinya dari belakang dan mengekor ikut kekamarnya.
“Apa yang ingin kamu lakukan Faila’ ini kamarku,!
“Tidak apa apa aku calon istrimu kataku dengan nafas sedikit terengah-engah menahan jantungku yang berdendang tak karuan,
Lebih baik ia menamparku sekalian atau memaki atau menghinaku yang penting ada suara kataku membatin.
“Aku bukan tipe Pria seperti itu jadi pergilah, ia mendorongku dari kamarnya,
“Aku mohon biarkan aku disini aku takut kataku dengan memeluk tubuhnya dari belakang, entah apa yang di pikirkan tapi saat itu, hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkanku dari kejang –kejang,
Aku terisak –isak entah kenapa aku malah memangil Frans, aku sangat merindukannya
“FRans aku takut, tolong selamatkan aku , aku mohon..!
“Aku takut Felix aku mohon jangan tinggalkan aku..!
Aku Menangis bagai anak kecil, yang tidak ingin tinggalkan ibunya, aku memegang bajunya, itu sangat memalukan,
“Baiklah katakana ada apa..? katanya kemudian membalikkan badanku.
“Aku phobia sepi gelap hujan dan masih banyak lagi semua itu bisa membuat tubuhku kejang-kejang nantinya kataku jujur.
“Bukankan hanya mengenai jantung penyakitmu kata ibu kau penerima donor dari Ibumu katanya
“Itu juga, dan masalah Phobia juga kataku dan kembali memeluk tubuhnya,
Kali ini ia menerimanya dan membiarkan, aku memeluknya tubuh kekarnya, dengan erat , tapi yang ada di bayanganku, malah laki-laki lain yang kau sayangi.
Kriiiiing
Krinnnnng”
Iya bu!”
__ADS_1
“Iya ampun “ kau lupa memberitahukanmu, Faila” Tante Mira panik
“Iya kenapa BU..!”
“Jangan tinggalkan Ia sendirian Felix. Ia takut sendirian Ia bisa kejang-kejang nantinya. jika itu terjadi kamu bisa memberikan obat di Meja Ibu kata Tante Mira diujung telpon dan aku bisa mendengarnya dengan jelas karena posisiku masih memeluk tubuh lelaki itu dengan erat, Ia menatapku
Tapi entah kenapa tanganku menekan nomor Frans yang sudah hampir satu bulan aku tidak menghubunginya, karena aku menganti nomor baru mencoba melupakannya. Tapi kali ini aku sangat merindukannya,
“Haloooo!”
“Halo sipa ini..!”
Kata Frans di balik di ujung teleponku, hanya mendengarnya suara bisa membuatku tenang dan merasa sedikit normal. Walau keringat membasahi tubuhku karena diluar Hujan deras dikuti Petir itu yang membuatku hampi berubah jadi Monster ,di depan Felix. Lelaki yang sangat membenciku karena di paksa menikah denganku Oleh Orang Tuanya.
“Haloooo!”
“Apakah itu kamu Fai..!” kata Frans sangat lembut dan mampu membuatku menangis tersiksa. Masih dalam posisi memeluk Tubuh Felix , entah apa yang ia pikirkan laki-laki itu karena aku memeluknya tubuhnya, tapi menelpon laki-laki lain. Tapi menurutku “ kalau ia tidak memiliki perasaan padaku semua itu tidak akan berpengaruh pada lelaki itu
“Fai..?” Aku tau itu kamu” tolong katakana sesuatu katanya.
“IYa “ Aku merindukanmu kata kemudian..!
“Fai..Apa kamu baik baik saja kata Frans khawatir
Tapi suara itu membuatku terhenti, Terdengar seperti suara seorang wanita, seseorang yang sudah lama mengejarnya, wanita yang pernah membuat kami pernah menjauh satu sama lain.
“SIapa sayang terdengar suara wanita menyapa disampingnya.
Hatiku sakit,dan merasa menyesal menghubungi, aku mematikan ponselku ,dan terisak lagi pada pelukan laki –laki itu, ia hanya diam membantu aku benar benar menjadikannya pelarian.
Ia menyetel musik audio dikamarnya suasana akhirnya bisa menghidupkanku kembali dan menyelamatkanku dari kematian hari itu.
Hampir 20 menit aku membajak tubuh lelaki itu, kujadikan pelarian, ia hanya menurut dan membiarkan aku membasahi bajunya dengan airmataku yang aku tumpahkan di bajunya, air mata karena rasa rinduku pada lelaki yang aku cintai selama bertahun –tahun, dan sepertinya posisiku sudah tergantikan oleh orang lain, wanita yang sudah lama mengidolakan Frans bahkan lebih lama dari aku.
“Secepat itukah ia melupakanku..? aku membatin
Dia merasa aku tidak lagi sesenggukan, tapi masih memeluk tubuhnya,
“Sudah..?” ia menatapku dengan tatapan mata lesernya, entah apa yang ia dipikirkan saat itu, aku bodoh amat memikirkan perasaanya, karena kau tau ia tidak akan peduli bagaimana bentuk perasaan dan kata Cinta.
“Iya “ kataku dan mengambil posisi mundur, matanya masih mengawasi tapi tidak bertanya apapun padaku” kenapa aku ?” separah apa kondisiku ?” , ia hanya diam dan membuka bajunya yang basah dan benar-benar sangat basah entah berapa liter air mata yang kutumpahkan di bajunya, dan air dari hidungku sepertinya ikut menambahin.
__ADS_1