
Setelah mencari pekerjaan beberapa kali, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan, lumayan untuk menambah uang pemasukan. Karena aku memutuskan hidup mandiri dan tiak mau bergantung pada uang dan harta kakek tua itu.
Hari ini, aku memilih belajar di balik pohon besar di taman di depan Kampus
Karena kesibukanku bekerja paruh waktu, aku ketinggalan banyak mata kuliah, untungnya Tari selalu mencatat kalau aku tidak masuk, ia akan merekamnya dan memberikannya padaku.
Tari meminjamkan laptopnya untuk aku pakai, karena ia pergi ke rumah orang tuanya, ayahnya memintanya untuk pulang karena ada acara keluarga, tidak ada Tari teman baikku, membuatku tidak bersemangat,
Karena malas tidak ada teman, aku memilih duduk di balik Pohon besar di halaman kampus, menikmati angin sepoi- sepoi, sembari mengerjakan tugas.
Aku merasa sangat mengantuk, karena aku pulang malam dari tempat kerja, angin sepoi-sepoi itu membuatku mengantuk, aku menutup mata dan tertidur dan menempelkan headset ke kuping ini, seolah-seolah mendengar musik sambil belajar, pada hal, aku sebenarnya bobo cantik, kubiarkan laptop itu terbuka layarnya. Jadi kesannya aku sedang belajar. Tetapi baru juga ini terpejam dan mulai terlelap, ada suara yang mengusikku;
“Jangan kamu paksakan dirimu, lu tidak akan mampu, karena kemampuan tidak sampai ke situ, lu dan ibumu, hanya pembuat masalah di rumahku,” ujar suara itu.
“Aku akan melakukan nya Kak ‘ aku akan buktikan pada kalian bahwa aku mampu,” ujar seseorang.
“Mampu apa …!? Berhentilahlah sebelum kamu menyesal. Bukannya sekarnga saja kamu tidak ada uang? karena ayah memilih untuk menghentikan uang sakumu? Makanya belajar hidup mandiri mulai sekarang dan jagan mengantungkan hidup pada orang lain!”
Sepertinya seorang kakak laki,-laki, sedang memarahi adek sang adik, lebih tepatnya seperti menyepelekannya adik laki-lakina dan ingin mengusirnya.
“ Aku akan berusaha, Kak,” ujar eseorang lagi di balik suara itu, seperti seorang adek yang menyangupi dengan sopan tuduhan sang kakak.
Aku tidak ingin ketahuan,makanya aku diam tidak ingin mengintip.
Tetapi rasa penasaran ku muncul , ketika layar laptop Tari yang posisi Of itu memantulkan gambar dua orang yang yang lagi bersitegang dan salah satunya orang yang aku kenal Mohan.
Aku mengeser posisiku, agar lebih berlindung lagi ke balik pohon besar itu. Tak ingin ketahuan mendengarkan pertengkaran mereka, bisa-bisa ia akan merasa malu padaku, karena aku mengetahui rahasia kelurganya. Aku kembali menutup mataku berpura- pura tidur kembali.
Tiba - tiba ada tangan yang menepuk pundakku, aku tidak menoleh atau pun terkejut karena aku tahu itu Mohan.
“Ngapain Fai?” Tanya Mohan bersikap ceria seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Tidur di sini,”ucapku pura-pura acuh, aku tidak ingin ia malu karena aku mendengar pertengkaranya dengan kakak tirinya.
__ADS_1
Tidur di kamarmulah, masa tidur di taman,biar dilihatin orang Ya,” ujarnya bercanda, wajahnya datar, guyonan di paksakan agar lucu pada akhirnya terdengar garing dan kaku , berbeda dengan Mohan yang biasanya ceria .
Aku masih posisi menutup mata, aku mengacuhknya.
Tangannya membuka heardset yang menutup kupingku dengan wajahnya yang menatap serius ke dalam mataku, dengan posisi jongkok menghadapku seolah-olah kami sedang melakukan aksi senonoh di balik pohon besar itu.
“Apa kamu mendengar semuanya,” tanya degan mata sendu.
“Iya “ jawabku singkat
Aku menutup mataku kembali dengan cuek , bersikap seolah- olah aku tidak perduli, aku melihat raut wajah kecewa dari Mohan.
Melihat wajah Mohan sedekat itu untuk pertama kalinya, membuatku sedikit tidak nyaman merasa suasana sangat panas dan gerah dan aku menutup mataku kembali, sekian detik aku masih bisa merasakan napas hangat dari hidungnya, ia masih mematung di depan wajahku, entah apa yang dia lihat dari wajah ini, aku tidak tahu karena, mata ini tertutup itu.
Bahkan aku masih bisa merasakan napas hangat, anehnya, aku malah membiarkan wajahnya sedekat itu denganku, kalau biasanya hanya melihatnya dari jauh saja, aku suda mulai gatal tangan pengen nabokin mukanya.
Tapi kali ini, aku merasa bahwa dia sama seperti aku yang dulu, , membungkus semua masalah dan mengangapnya semua baik- baik saja dan selalu bersikap ceria. Padahal dalam hati sangat terluka dan rapuh, rasa kesepian, sakit hati. Tetapi tidak ingin di ketahui orang lain, atau tidak ada orang lain yang bisa dia percayai untuk berbagi perasaan. Sangat sakit rasanya bila di pikul sendiri sama seperti yang aku alami.
“Ah, sial,”ujarnya putus asa
“Fai …! panggilnya setelah ia beberapa lama berdiam diri “Apa kau kecewa padaku?”
“Untuk apa?” jawabku masih bersikap acuh
“Karena aku tidak seperti yang kalian pikirkan,” wajahnya dan kuping tiba- tiba merah, mungkin merasa malu.
“Terkadang, apa yang kita lihat , tidak semuanya benar dan tidak ada manusia yan sempurna,” kataku masih posisi menutup mata.
“Iya, tapi kamu sudah mendenagar semuanya tadi kan?”
“Iya, tapi untungnya ruginya buatku, aku bukan tipe manusia yang suka mendikte seseorang dan mengkoreksi kekurangan orang lain, karena aku merasa aku jauh lebih banyak kekurangan dan kelemahan, jadi tenang saja … aku bukan tipe wanita yang ember mulutnya alias bocor,” kataku
“Dia kakak tiriku.”
__ADS_1
Mohan memulai ceritanya walau aku tidak bertanya , aku bersikap biasa saja, komitmen dengan ucapan sendiri, bukan wanita yang suka kepo, padahal tipe orang yang pengen tau segalnya pakai bangat malah.
Mendengar dia menyebut kakak tiri sebenarnya membuatku sedikit kaget dan kepo pakai bangat.
Tapi aku bersikap santai, agar Mohan bisa bercerita dengan tenang tanpa beban.
Karena Mohan tipe orang yang tidak mau di kasihanin dan tipe orang yang menjaga rahasia apa lagi tentang kelurganya, kalau kita menunjukkan sikap antusias dan rasa peduli padanya, ia tidak akan mau menceritakannya.
Dengan sikapku yang acuh terliha dingin pada situas saat itu, akhirnya dia menceritakan semuanya.
“Dia selalu ingin aku pergi dari rumah, dia mengangap kalau rumah itu milik kelurganya aku dan ibuku seolah orang parasit buat mereka.”
Kali ini dia berhenti menceritakannya, ia terdiam, aku bisa melihat ada setumpuk kesedihan di hatinya, mungkin sudah lama di pendam, aku berharap ia menceritakan semua nya demi kebaikannya dan demi mengurangi beban di hatinya, karena aku tahu, bagaimana rasanya yang dialami Mohan.
Aku meliriknya, pandangan nya kosong dan hampa, aku membuka earphone yang menutup teligku, menunjukkan simpatiku padanya aku berkata padanya secara tidak langsung
‘Ceritakan lah kawan’ aku siap jadi pendengar karena apa yang kamu rasakan itu aku juga merasakannya bahkan lebih’ aku membatin.
Dia melihat sekilas aksiku dan dia meneruskan ceritanya dengan senyuman ketir.
“Aku iri pada mu Fai.”
“Iri apaan? Kamu meledekku atau kamu ingin bego seperti aku,” kataku ketus.
Aku menydari satu hal, kalau lelaki itu tidak ada bedanya denganku selalu berskap ceria padahal itu hanyalah kepura-puraan atau kebohongan. Aku dan mohan menyimpan sendiri kesedihan kami dan menikmati sndiri luka hati pasrah menerima ketidakadilan takdir.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)