
“Kakak dari mana saja sih, semua mencari kakak kemana- mana semua orang panik” Kata Regi dengan cemas bercampur senang,
“Kamu mengenalnya ?” Tanya Jhon pada Regi,
“Iya ia kakakku,”
“Haaaa!” Ketiga lelaki kaget.
“Ibu juga mengenalnya?” Tanya Om Sami pada istrinya yang melihat kami dengan senyuman.
Aku sudah memberitahukan pada tante Mira kalau aku masih dalam tahap lupa ingatan,
Saya takut kebohonganku akan terbongkar, karena saat ini berakting lupa ingatan sepertinya sangat berat,
“Ibu mengenalnya ?” Tanya Jhon adik si manusia es itu
Bahkan tatapannya si felix-felix itu sekarang melihatku penuh kecurigaan, ia berpikir kalau aku sengaja mengikuti mereka.
“Aku sudah menduganya” ucapnya dengan wajah dingin,
“Menduga apa,”
Tante Mira menatapnya,
“Kalau ia sengaja menipu kami tadi, aku bisa membacanya,” katanya dengan mulutnya yang pedas dan otak sombongnya,
Regi menatapku dengan diam, mendengar penghinaan itu dari calon kakak iparnya ia tanpa membela siapapun,
“Aku ingin pamit tante,’ kataku kemudian, melihat wajah lelaki sombong mendadak perutku jadi mules, dan ingin cepat -cepat menghilang,
“Aku antar iya Fai” Regi menawarkan bantuan untuk menemaniku Ziarah ke makam orang tuaku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tante Mira,
“Eh tunggu jangan pergi begitu aja, Fai,” tante Mira memperlakukanku dengan baik dan akrap.
“Siapa namanya bu?” Om sami penasaran “Sepertinya nama itu tidak asing,” kata om Sami.
“Makanya sini dulu sayang kamu sudah datang ketempat tante, bukan satu kebetulan lebih tepatnya ini seperti takdir,” kata tante Mira.
Tante Mira menarik tanganku bergabung di meja makan
“Ini Yah, namanya Faila Kirana. Dia anaknya teman Ibu dulu, Tante Desy yang waktu kecil sering main kesini,” kata Tante Mira, tapi sepertinya om Sami belum mengenal mamaku, wajah mereka masih bingung,
Hingga tante Mira mengambil satu Foto yang kami lihat tadi di kamar dan menunjukkan, bukti kalau aku sudah mengenal keluarga itu sejak dari kecil.
Iya ampun mirip sekali” Kaila sampai berdecak, ia memuji, terlihat aku sangat mirip sama Ibu.
Tapi entah kenapa, setiap membahas kedua orang tua batinku tidak tenang dan untungnya Regi menyadari kegilaan ku.
Aku mulai merasa sesak .wajahku mulai merah,
“Ini Fai,” kata Regi memberikan obat yang biasa aku minum jika panik ku muncul,
Hal itu membuat perhatian mereka lagi lagi tertuju padaku
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” Tanya Kaila pada Regi yang memperlakukanku sebagai seorang pasien.
“Aku akan membawanya saja,” kata Regi menarik tanganku
Tatapan mereka membuatku lagi- lagi tidak nyaman,
Mungkin mereka melihatku sebagai manusia aneh yang penyakitan.
Aku menurut saja, ketika Regi membawaku pergi menjauh, ia berpikir mungkin sedikit lagi mereka membahas kedua orang tuaku, aku akan berubah jadi Monster yang mengerikan, kejang-kejang dan sesak napas dan lebih parah mungkin akan mulut berbusa,
Walau pemikirannya salah, tapi aku menghargainya, perhatiannya dan pemikirannya yang salah membuatku menjauh dari tempat itu,
“Ayo naik” Regi yang sebelumnya sudah berpamitan pada tante Mira.
Tapi kita sudah diluar tante mira masih belum paham keadaanku dan mengejar kami
“Ada apa Regi Jangan seperti ini Tante belum mengerti,” kata Tante Mira dengan wajah bingung.
Aku berharap saat itu ada keajaiban yang bisa mengembalikan suaraku agar aku bisa menjelaskan semua pada mereka, tapi sepertinya Dewa keberuntungan belum berpihak padaku,
Karena masih membiarkanku jadi mahluk bodoh yang jadi bahan tontonan dan bahkan gunjingan mereka, karena aksi tidak sopanku yang meninggalkan meja makan begitu saja,
“Biarkan kami ikut menemani kamu ziarah,” kata Om sami,
Setelah Regi menjelaskan sedikit tentang diriku padaku ke mereka,
Wajah itu sekarang memandangku dengan tatapan iba, bukan lagi mencurigai tapi lebih tepatnya wajah kasihan,
“Oh iya ampun,” hatiku lebih sakit melihat tatapan itu
“Apa yang ibu lakukan”Tanya Om Sami masih samar samar terdengar olehku,
“Aku memberinya obat bius ” itu demi kebaikannya, barusan aku menelpon Dion dan menyuruhnya seperti itu kata tante Mira pada akhirnya mataku tertutup berkat obat bius
Tidur hampir setengah hari membuat tubuhku begitu lemas tak bertenaga, karena dari pagi perutku belum disi apa- apa,
Membuka mata melihat sekelilingku,
Oh ada si manusia es yang duduk disampingku, masih dengan tatapan dinginnya dengan tangan memegang buku yang lagi dia baca,
“Kamu uda bangun?”
Tiba- tiba ada keajaiban padaku, mungkin dewa kebaikan masih berpihak padaku. Pita suara tiba- tiba saja muncul begitu saja ,mungkin efek obat yang di berikan tante mira padaku,
“HA,Ha Ha” aku menes suaraku iya, aku bisa bicara lagi ,aku bukan orang bisu lagi aku kegirangan dalam hati,
“Apa suaramu sudah bisa”Tanya felix dengan melihatku dengan serius.
“Iya, tapi pada kemana semua orang kok tiba tiba sepi?”
“Ayah dan ibu menjemput keluargamu ke stasiun.”
“Apa?,” aku panik.
__ADS_1
Ini tidak boleh dibiarkan sangat memalukan, jika bertemu mereka semua,
Aku harus kabur dari sini otakku berputar,
“Boleh aku mandi dan meminjam baju adikmu?
Tatapan matanya meyelidikiku, dan mencurigaiku.
“Boleh sebentar” Ia mencari kunci pakaian adiknya dan tidak menemukannya,
“Kenapa”
“Itu lemari Kaila, kuncinya tidak kelihatan mungkin dibawa,” kata Felix ,
Bagaiman kalau baju ibu saja ia menawarkan baju ibunya.
“Boleh” Jawabku singkat.
Felix meninggalkanku di kamar itu sendirian, saat itu aku melarikan diri dari rumah itu, aku tidak ingin bertemu kakek dan kak Henro, aku juga takut bertemu Frans.
Aku menghilang secepat mungkin dan membawa tasku yang di letakkan dia Nakas kecil disamping ranjang.
Keluar dari rumah Felix, diam-diam kebetulan ada angkot yang melintas, menghentikannya dan membawaku menjauh dari rumah mewah itu.
Terpaksa harus menaiki angkot yang tadinya sangat aku takutkan,
Kendaraan berpenumpang itu, membawaku entah kemana aku tidak menghiraukannya lagi yang penting aku jagan bertemu keluargaku saat ini,
Jiwaku belum siap menerima mereka, sebelum dipastikan apa yang terjadi dan sebelum aku pastikan semuanya terungkap, aku menenangkan Jiwaku yang terlanjur sangat membenci mereka dengan sangat dalam.
“Turun dimana Neng?” tanya pak sopir sepertinya harus melapor dulu letak penurunannya,
“Sesuai titik pak,” jawabku tanpa mikir dulu mungkin karena keseringan naik kendaraan online di Ibukota.
“Maaf neng baru dengar itu dimana itu?” Tanya si bapak yang sudah mulai Tua
Ada orang anak muda yang naek bersamaku tertawa,
“Ini angkot mba bukan Grab celetuk mereka,
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)