
Aku menjatuhkan kepalaku di atas meja dan menutup wajah ini dengan kedua lenganku dengan setengah prustasi , perut yang lapar rambutku menjuntai bebas lepas dari ikatanya bahkan sangat mengangu, karena rambutku panjang bahkan melewati pinggul melewati kursi yang aku duduki dan mungkin orang yang melihatku dari belakang menatapku seperti tante kuntilanak penampakan di siang bolong.
Aku melirik Frans yang menatap tajam kearahku, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa dan aku juga tidak mengharapkan ia mengatakan apa-apa padaku.
Lelah rasanya di ganguin makluk yang bernama Mohan
Tetapi saat aku duduk lemas tiba- tiba Mohan membawa semangkuk soto ayam meletakkan di depan.
“Makanlah ini, lebih sehat dari mie ayammu. Masa ahli gizi makannya mie ayam pedas.” Ia meledekku
Tidak ada penolakan, saat itu karena rasa laparku mengalah kan rasa malu rasa gengsi dan semuanya, Kutarik mangkok kuah berwarna sedikit kekuningan itu dan kutaburi kuahnya ke dalam nasi putih sepiring hampir penuh.
Bodoh amat pikiran orang, satu tanganku sekali- kali bergerak mengeser Rambut ku ke belakang yang hampir- hampir ikut meyemplung ke dalam mangkok berkuah itu. Karena tali pelananya hilang entah kemana. Hilang apa di sengaja di sembunyikan manusia rusuh yang bernama Mohan satu ini , karena aku sudah mencarinya sampai kebawah-bawah kolong tapi tidak ketemu
Masa karet bisa jalan sendiri sih kataku masih penasaran melirik kebawah kakiku, takut keinjak kakiku.
Tiba - tiba Mohan berdiri, mengambil karet dari counter penjual di kantin, memintan dari seorang ibu penjual di kantin
Dia berdiri di belakang ku mengumpulkan semua rambutku mengikat jadi satu.
“Apa yang kamu lakukan!” Aku mengelengkan kepala tanda protes, dengan mulut penuh dengan nasih dan aku mengoyang goyangkan kepalaku.
“Uda, diam rambutmu sangat menganggu saat kamu makan,” ungkapnya dengan sok serius
Lagi - lagi aksinya si kutu kumpreet ini, mengundang perhatian seisi kantin itu, bermesraan, bercanda dan sampai ada yang mojok- mojok berdua, sebenarnya hal yang sudah biasa di kantin itu.
Tetapi karena yang melakukannya seorang Mohan, makanya menjadi sangat luar biasa dan sepertinya akan jadi Viral di kampus kami.
Aku bisa melihat tatapan Frans yang menajam ke arah kami , melihat Mohan yang memaksaku ,walau aku sudah menolak bahkan mendorong tubuhnya, aku memindah kan rambut ku ke depan agar tidak di pegang sama Mohan, bahkan memasukkan rambut panjangku ke dalam baju, ia tetap mengotot untuk mengikatnya sendiri, ia menekan pundakku agar aku duduk kembali dan dia bisa leluasa mengikat rambut ini.
‘Baiklah lakukan saja’ ucapku pasrah
Ingin Rasanya aku melempar piring yang berisi kuah soto itu ke muka Mohan
Rasa Marah dan emosiku hanya terbungkus dengan perasaan lemas dan pasra, bahkan dia meminjam sisir punya Tari untuk menyisir rambutku yang panjang.
“Wah rambutmu panjang bangat Fai, halus lagi, aku baru tau rambut kamu sepanjang ini,” ucap Mohan.
Dia terus mengoceh seperti burung Beo di belakang ke palaku, ia menarik kursi untuk melakukan aksi nya mengacak- acak rambutku.
Padahal Frans tidak suka jika rambutku di gerai atau dilepaskan, dulu ia selalu menyuruhku menggikat.
Dulu waktu masih tinggal dengan Frans ia suka melihat rambut panjangku.
Apapun yang dia pikirkan si brengsek ini, untuk memancing emosi Frans, aku hanya berharap dia tidak terpancing.
Sepertinya beberapa kali Frans, ingin berdiri tapi Hendra di sebelahnya menahannya dan membisikkan sesuatu.
__ADS_1
Ocehannya Mohan mulai membuatku muak dan emosi, ia mulai bertingkah aneh- aneh sepertinya ia berusaha sekali untuk memancing emosi Frans. Melihat tingkanya yang memaanfaatkanku, ia mulai mengedus-enduskan hidungnya ke rambutku,
“Harum rambutmu Fai,” kata Mohan, aku melihat dari ekor mataku Frans mulai ter usik, dia mengepal tangannya dan ingin berdiri melihat itu aku bertidak cepat aku tidak mau kerbutan karena aku.
Aku tiba - tiba berdiri .
“Dasar, kamu itu tukang rusuh, awaas,” ucapku berdiri
Menyambar tas dan meninggalkannya di kantin.
Aku berjalan keluar dengan rasa kesal, tatapan anak - anak seisi kanti padaku tidak aku hiraukan lagi.
Tetapi seperti dugaanku, Mohan malah mengejarku dengan sedikit berlari dan berteriak, melihatnya dia mengikutiku aku mempercepat laju langkahku sedikit berlari.
“Kenapa larimu cepat sekali sih, aku ngos- ngosan nih,” katanya tanpa ada rasa bersalah.
“Ngapain kamu ngikuti aku?” Aku menendang batang kakinya dengan kasar walau aksi itu kusesali, tapi itu karena faktor emosi.
“Auuu … sakit Fai, kamu kasar sekali”
Dia meringis memegang batang kakinya akibat tendanganku yang keras, tidak cukup di situ saja, aku memuku - mukul buku yang aku pegang juga ke pundaknya dengan persaan kesal, tanpa aku sadari, kekerasan yang aku lakukan jadi nontonan mahasiswa lain, bahkan Frans dan teman- temannya seperti nya melihat aku melakukan KDRPT
Atau bahasa lainnya kekerasan pada teman, walau aku belum mengangapnya sebagai teman
“Apa apa masalahmu padaku? kalau kamu benci padanya kamu harusnya bertarung dengan nya,secara lelaki bukan dengan cara memanfaatkanku , bodoh…! Jangan buat aku jadi mainanmu,”ujarku dengan kesal.
“Aduh, aduh.” Mohan meringis kesakitan, “Dasar galak” katanya kemudian.
“Cukup Fai kamu jadi tontonan orang liat itu,” tunjuk Tari yang menuntun mataku yang mengikui pandangannya.
Aku dan Tari meninggalakan Mohan yang jongkok masi memegang kakinya dan sesekali dia terdengar, samar-samar meringgis.
Karena kesal melihat sikap Mohan hari ini, aku memilih masuk ke dalam kamar merebahkan tubuh mencoba mengalihkan pikiranku
“Dasar Mohan sialan,” umpatku kesal, berharap tidak bertemu dengannya besok, lusa, dan selamanya. Menjengkelkan rasanya bertemu dengan seorang lelaki peganggu seperti Mohan itulah yang aku pikirkan tentangnya.
Keesokan harinya sepertinya tidak membuat Mohan jerah, ia masih dengan kelakuanya selalu mengangguku.
Makanya setiap melangkahkan kaki ini keluar dari Asrama Putri, aku harus celegak- geleguk kanan - kiri, mengawasi Mohan yang kadang bisa muncul tiba- tiba entah dari mana.
Terkadang ia seperti setan yang bisa muncul tib-tiba. Terkadang seperti Jelangku memang datang tak di jemput dan pulang tak di antar.
Hari itu setelah selesai mengikuti salah satu mata kuliah, kami berniat untuk mengisi perut , aku membujuk Tari mencari tempat nongkorongan yang lain, agar makanan yang cerna nanti nya bisa tenang masuk ke dalam lambung ini, karena sejak kejadian itu.
Mohan selalu bisa menemukan kita , walau kami makan di mana dan nongkrong di mana, dia selalu menggangku dengan aksi jahilnya yang konyol.
Dan paling gak enaknya dia selalu memergoki kami di waktu pas lagi makan, lagi enak - enaknya menikmati makanan jadi gak selera setiap dia menampakkan wajah nya, dan sering kali tersendak makanan karena aksinya yang selalu muncul tiba tiba
__ADS_1
“Kita kesana aja deh,” tunjukku ke kantin agak jauh di ujung kampus yang dekat dengan Danau, walau melewati sedikit ilalang untuk sampai ke kantin itu , Oh ternyata baru nyampe sudah rame juga karena ada pertunjukan seni dari fakultas lain.
Ada boyband yang sedang menyanyikan lagu lagu Romantis, membuat para gadis- gadis muda yang ada di kantin itu tebawa perasaan Baper, termasuk Tari cewek mungil ini langsung mengikuti alunan musik yang di nyanyikan, sementara aku sibuk mencari- cari kursi untuk jadikan tempat untuk mengisi perut.
Tempat yang cocok untuk nongkrong yang bisa berlama dan bisa berjam- jam, kalau tempatnya asik untuk bergosip juga dan mengerjai tugas, makanya haru cari yang tepat. setelah di cari- cari ternyata ada meja yang pas pemandangan nya ke arah Danau yang terlihat sangat indah.
Aku menarik salah satu kursi untuk kami duduki baru beberapa menit menjatuhkan pantat ,seseorang menoleh dari kursi depan kami yang sengaja badannya dan kursi nya di putar ke depan
Dug ...dig... dah ...!
“Argaa”
Mulutku mengaga dan mata kami saling menatap sepersekian detik.
Ternyata Frans dan gengnya ada di situ juga, sepertinya mereka memborong dua meja yang panjang itu dan meja yang kami duduki saat ini termyata punya Frans setengah, teman - temannya duduk di meja di depannya dan dia di meja belakang yang kami duduki.
Dia menatapku dengan tatapan yang susah untuk di jabarkan, ia terlihat kaget juga sama sepertiku, tatapan yang berbeda ia tujukan kali untukku.
Aku sudah jarang bertemu dengan Frans, aku sengaja menghindar dari nya, apa lagi sejak Mohan selalu mengangguku membuat waktu seperti teralihkan untuk Mohan saja.
“Oh uda ada yang punya Fai?” tanya Tari dengan ragu - ragu dan tatapan Tari bergantian melihat tingkah kami berdua terlihat asing dan tidak biasa.
“Iya sepertinya sudah penuh, kita cari tempat lain,” kataku berdiri ingin menghindar juga.
“Gak pa -pa duduk aja,” ucap Frans .
Teman teman Frans belum mnyadari ada tamu yang tak di undang di wilayah mereka, karena dengan asiknya berdiri mengikuti alunanan musik dari pangung mini itu.
Perasaanku sungguh tidak enak melihat Vera dan Tiara ada di situ juga ,aku berpikir akan malas nanti menghadapi ke dua nenek lampir ini, mereka akan mengintrogasiku sampai ke akar-akarnya dengan berbagai pertanyaan seperti biasa. Aku menoleh kanan-kiri mencoba mencari kursi yang kosong.
Tapi bukanya semakin kosong malah bertambah penuh, bahkan ada banyak berdiri juga.
“Tidak apa- apa duduk aja di sini,” ucap Hendra yang kali ini duduk di samping Frans di depan kami.
Jantung ini belum berhenti berdetu- detup, malah semakin berdetup , saat melihat Frans yang persis duduk di depanku, aku bisa melihat setiap perubahan di wajahnya
Saking dekatnya jarak wajahku dan wajahnya, aku bahkan bisa melihat ada satu gundukan merah di pipihnya dan sepertinya jerawat itu sudah matang dan hampir mengering,
Aku mengalihkan pandanganku sebelum dia menangkap basa diriku memandangi wajahnya yang tampan.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)