Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Aku tidak mengingatnya


__ADS_3

“Oh . Aku juga ada pertemuan hari ini, aku berangkat saja, nanti makin macet”


“Fai kamu tidak serapan dulu?”


“Takut telat Tar, nanti saja di Hotel”


“Nanti juga kami mau main kesitu, pulang mereka sekolah iya,” ucap Tari menatapku seakan meminta izin dariku.


“ Baiklah datang saja”


Jalanan macet memperlambat perjalanan kami.


~Kriiiiiiing~


~Kriiiiing~


Manager marketing Hotel meneleponku.


“Iya kenapa pak”


“Bu. Mereka sudah menunggu dari tadi .Apa skedulnya dimundurkan saja?”


“Tidak usah, ini sudah mau sampai kataku kurang bersemangat, karena rasa sakit di bagian leher belakangku sangat menggangu.


Haris. bodyguard merangkap sekretarisku, menawarkan minyak gosok, untuk dibalur ke leherku


“Apa perlu saya atur ulang lagi skedulnya mbak, agar kita k periksa ke Dokter,”kata Haris.


“Tidak usah, mungkin nanti istirahat sebentar sudah baikan,”


Mempunyai asisten super ganteng seperti Haris kadang membuat fokusku jadi buyer. Tapi terkadang. Ada saat merasa sangat indah.


Apa lagi perhatian yang ditunjukkan terkadang terlihat bukan seperti antara atasan dan bawahan.


Tapi aku selalu bersikap professional didepan mereka berdua Boleh di bilang tegas dan cuek. Walau didalam hatiku terkadang meleleh.


Dalam ruangan rapat itu, kami sudah di tunggu para eksekutif Hotel .Tinggal menunggu aku. Melangkah dengan gaya elegan menyesuaikan dengan jabatan baru yang di emban.


Baju Palazzo dan cullate di padukan dengan sepatu heels tinggi 12cm. Model rambutku sengaja digerai dan ujung di buat bergelombang. Terlihat sangat berkelas dengan pakaian branded yang aku pilih tentunya. Aku punya pemikiran wanita berkelas dan berwibawa yang pertama sekali dilihat dari penampilannya,


Menurut Haris . Hotel kami saat ini lagi dipakai untuk acara Pernikahan. Terlihat di lobby utama Hotel terlihat banyak orang berpakaian gaun pesta


Aku berjalan menyusuri lobby. Para karyawan menundukkan kepalanya memberiku Hormat .

__ADS_1


Walau aku tidak ingin diperlakukan seperti , itu tapi tradisi itu sudah lama ada. Saat kakekku masih hidup


Jadi terlihat seperti di Drama-drama Korea yang sering aku Tonton, dikala para bosnya datang para karyawan akan berbaris memberi hormat. Aku tidak ingin seperti itu juga. Kesannya Sombong


Melangkah cantik dengan elegan di beri hormat oleh setiap karyawan dan di kawal tiga orang membuat aku, jadi Perhatian para pengunjung Hotel.


Tiba dala ruangan Rapat, mereka sudah menungguku hampi 20 menit.


Aku masuk, mengulas sedikit senyum. Mereka semua berdiri menyambutku datang. Aku duduk di bagian depan tentunya di kursi spesial khusus Direktur


Para arsitek itu kebanyakan masih muda dan beberapa ada wanita.


“Maaf ‘ membuat kalian menunggu, kondisi jalanan ibukota saat ini semakin memprihatinkan, kami hampir terjebak lama disana. Sekali lagi saya minta maaf kataku.


Dengan gaya pemaparan tenang dan tegas. Karena aku adalah Bosnya.


Silahkan dimulai ! kataku memberi perintah.


“Ini Bu , gambar-gambarnya. Mereka akan memaparkan nanti hasil karya mereka. Jadi Mbak tinggal memilih yang mana yang cocok nantinya. Kata seorang Wanita berpenampilan Cantik. Ia adalah salah satu andalan di Hotel kami Ia senior di tempat ini. Namanya Laras.


Ia adalah kepala Bagian Pemasaran di Hotel kami, yang merangkap dua tugas sekaligus mengawasi Hotel dan mengawasi Restauran yang gedung Restorannya di sebelah Hotel kami.


“Baiklah “ Aku mengangguk mengerti. Karena ini Rapat pertamaku dengan orang dari luar Hotel. Jadi haru membuat kesan pemimpin yang berwibawa,


“Ok baiklah, saya sudah melihat semua hasil karya kalian semuanya . Aku akan mempelajari ini dan nanti sekretaris saya yang menghubungi kataku.


Aku menggaruk kepala belakangku , yang sebenarnya tidak gatal. Tiba tiba perhatianku teralih pada satu gambar, yang menurutku unik apa aneh !? bentuknya. Kesannya nekat apa terlalu memaksakan. Seperti baru belajar menggambar,


“Ini gambar siapa?kalau boleh tau.Ini belum di jelaskan Tadi ya?


Boleh tolong paparkan ini! kataku, Haris mengambil kertasnya memanggil namanya


Karya darI Adella” boleh di jelaskan gambarnya ?


Ia terlihat bingung melihat kanan kiri.


“Ayo “boleh di jelaskan Ini agak uni-? Kata menggantung antara unik dan aneh menurutku.


Ia ragu. Tap akhirnya mau, memaparkan dengan pede yang luar biasa.


Iya itu desain saya! Wajahnya terlihat menantang.


Boleh tolong jelaskan mbak “siapa namanya kataku . Ia namanya Adella mbak bisik Haris matanya menatap gambar itu juga.

__ADS_1


“Ya aku menggambar sesuai konsepku1 katanya marah membuatku sedikit bingung, karena aku merasa tidak melakukan kesalahan. Dari semua peserta mempresentasikan dengan sangat baik, berharap gambarnya yang kan dipilih .Lah Ini? Kenapa jadi marah” bisikku dalam hati.


“Ini konsepnya. Kura kura? Aku bertanya. gambar anehnya. terlihat jelas di layar monitor besar itu.


“Gaklah! Kamu gak bisa lihat dengan jelas?” Ia marah. Membuat para peserta yang ikut dalam ruangan itu berbisik-bisik seperti lebah.


Aku menoleh Haris yang berdiri tegas menatap tajam pada wanita itu. Aku sedikit bingung, karena aku tidak mengenalnya atau mungkin tidak mengingatnya. Karena Ia sepertinya sangat marah.


“Begini! ibu memasukkan gambar ibu , dan saya hanya bertanya konsep dari desain itu apa? Kataku dengan ramah tidaka ada unsur menyinggung dalam pertanyaan saya. Hanya ingin tau karEna sayalah yang pihak penyelengara yang menginginkan gambar yang tepat untuk Restoran baru saya!


Jadi bisa anda jelaskan lagi mba-? Siapa tadi namanya? mba Adella .Ya?


“Iya! Aku mengambil konsep rumah adat Papua! katanya


Aku mengangkat alisku, Ingin tertawa takut dosa.Tapi para peserta yang lain malah menertawakannya. Memang wajar ditertawakan karena gambarnya terlihat seperti tempurung kura-kura dan disekelilingnya di gambar banyak taman Bunga.


Di Papua mereka tidak menanam bunga. Tapi banyak pohon-pohon.


Karena gambar itu tidak ada miripnya dengan rumah adat Papua.


Aku menyuruhnya menjelaskan lagi. Tapi malah jadi bahan tertawaan pada peserta lain.


“Oh”Maaf , bisa jelaskan hal detailnya.kataku makin jengkel karena sikap pedenya, yang menyebalkan.


“Iya tidak ada! Hanya begitu katanya.


“Rumah Honai. Rumah adat Papua bentuknya bulat kerucut dan tingginya 2,5 meter. Untuk atapnya sendiri terbuat dari ilalang dan jerami kataku! menjelaskan padanya bagaimana bentuk Rumah adat cantik itu, di samakan dengan gambar tempurung kura-kura miliknya.


Sepertinya anda salah dalam memilih konsep gambar kataku kesal.


Ia duduk dengan wajah memerah menahan malu


Acara hari ini selesai dan bubar . Aku masih duduk di kursi melihat gambar –gambar desain mereka.


Tapi tidak ada yang cocok dengan konsep dalam otakku,


“Aneh orangnya sudah bodoh mengotot lagi “kata Haris ikut kesal juga.


Aku memilih diam mendengar mereka berdua membahas tentang wanita cantik bernama Adella.


Sebelum keluar dari ruangan itu, Aku menyempatkan diriku mengecek penampilanku di pantulan .Kaca kamar Mandi.


“Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2