
Melihat aku yang jadi sasaran mami akhirnya mengaku.
“Faila tidak tahu apa-apa Frans , karena mami menyuruhnya menunggu di luar kelas, waktu aku menghajar wanita yang bermulut lepes itu,” kata Mami.
“ Kenapa Mami, ikut campur urusan anak mudah,” kata Frans, lebih marah
“Iya, karena kamu anakku dan mami peduli,” jawab mami.
“Aku bukan anak kecil lagi, Mi berhentilah mempermalukan aku seperti itu.”
“Aku tidak mempermalukan kamu, mami hanya membantu saja. Kamu marah karena wanita gila itu? apa karena kehilangan Proyekmu a atau ada hal yang lain?” Wanita berrambut pendek itu menatap Frans.
“Sudahlah aku capek”
“Makanya apa-apa itu tanya dulu Frans, kasihan Faila,kan kamu marah-marahin seperti itu padahal ia tidak tau apa-pa,” ujar Papi.
“Fai, pasti tahu juga Pi”
Padahal Maminya yang melakukanya pagi itu, Maminya memberi pelajaran pada Adelia.
Frans meninggalkan keluarganya yang masih duduk di ruang tamu.
“Jangan jadi pengecut duduk dan selesaikan dulu..!” Pungkas Maminya ikut marah melihat sikap Frans.
“Udah, udah Mi, berikan dia waktu sendiri.” Papi menenangkan istrinya yang ikut marah melihat Frans.
“Lagian mami, kenapa menghajar anak orang sih,” gerutu Dion ikut-ikutan marah pada Maminya.
“Wah, kasihan sama kak faila dia gak tau apa- apa malah dia yang di maki- maki malah bawa bawa nama ibu nya lagi,” ucap Arjun.
“Dia pasti marah bangat, karena Frans bawa- bawa ibunya nama Ibunya yang sudah meninggal,”ujar Regi .
“Dia berubah gak nanti ya?” Mami terdengar menghela napas. Aku mendengar semua obrolan mereka saat aku mengambil minum ke dapur.
“Gue berani jamin, dia pasti akan berubah,” celetuk Dion tiba - tiba
“Gak mungkin, dia tidak akan berubah dia akan tetap di sini.” Mami menatap ke arah kamarku.
Aku tahu, mami dan keluarganya berpikir aku berubah, mereka berharap aku baik baik saja dan tetap ceria sama seperti biasa.
Malam kelam itu, sudah terlewatkan, tetapi kejadian malam ini, akan menorehkan luka dalam hati ini.
Hingga pagi tiba, sinar mentari pagi datang menyapaku dari balik gorden, seakan-akan berbisik .’Tenang lah Faila, kamu wanita kuat dan ceriah, buktikan pada duniamu kamu wanita kuat’
__ADS_1
“Baiklah, selamat pagi dunia” Merentangkan tangan ini, menyambut pagi yang indah.
Setelah mandi dan sudah rapi aku bersiap turun, menarik napas mengucap mantra guna; Aku akan baik baik saja.
Di meja makan sudah ada mami dan papi yang duduk manis, menyambutku dengan senyum, mereka berpikir kalau aku tidak akan duduk di meja makan itu , karena pertengkaran tadi malam dengan Frans.
Aku duduk dengan raut wajah gembira seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa tadi malam.
“Selamat pagi.Mi,” sapaku dengan senyuman, menjatuhkan panggung di kursi makan, kursi makan .
“Selamat pagi sayang,” sahut mami dan memberi satu kecupan hangat di pipiku.
“Wah … serapan enak nih”
Aku mengambil piring dan menyendok nasi kuning buatan bibi, sikapku masih ceria seperti biasa, melupakan kejadian malam , aku tahu mata mereka semua melihatku. Tatapan mereka belum terlepas dariku .Aku tau ada banyak pertanyaan di benak mereka dan aku sudah siap dengan segala pertanyaan itu
Aku menyendok sendok demi sendok nasi kuning itu ke mulut ini.
“Kak Fai …!”Arjun
“Iya “
“Kakak masih marah?”
“Ok, baiklah, aku jadi tenang,” ungkap Arjun, wajahnya sumringah ikut tertawa juga.
“Aku juga Fai, tadinya aku berpikir kamu akan marah dan tidak akan mau serapan bersama kita pagi ini makanya aku tunda pulang ke asrama, kalau sudah baikkan gini aku jadi tenang balik,” ujar Regi.
“Baiklah berarti semua baik baik saja dan berharap akan baik baik saja,” ucap Papi berdiri.
“Ucapan Frans jangan di ambil hati,iya,” ucap mami dengan sangat lembut , ia juga merasa bersalah.
Tidak bisa di pungkiri ini semua karena Frans.
“Iya mi, ini bukan pertama ka kami berantem kan, jadi tenang aja mi, kami akan baik baik saja,” ucapku ceria seperti biasa.
Tapi berbeda dengan pandangan kak Dion si kulkas dua pintu itu dia seperti tidak yakin dengan ucapanku
“Aku berangkat mi, aku ada kuliah pagi ini,” kataku bergegas.
“Baik sayang semangat, iya.” Mami berdiri.
“Kakak Fai mau ikut denganku,” Tanya arjun padaku kebetulan sekolahnya searah dengan kampusku.
__ADS_1
“Emang boleh Jun?”
“Boleh lah Kak.” menyerahkan Helem warna hitam , bergambar Spiderman ke padaku,
Arjun Menaiki motor Ninja berwarna hijau ke sekolahnya, pelajar SMA ini terlihat sangat keren dan sering kali di gilai para gadis - gadis muda karena wajahnya yang tampan.
Sebelumnya, Mami dan papi mengantar kami anak anaknya sampai ke gerbang, setelah semuanya berangkat, barulah mereka berdua masuk kembali kerumah.
Tiba di Kampus di mana aku menimbah ilmu saat ini.
‘Kamu pasti baik-baik saja Fai, semua terang tidak ada kegelapan, semangatlah’ ucapku dalam hati sebelum melangkah. Berjalan sendirian selalu membuatku ketakutan dan merasa sesak.
Tiba - tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang,
“Hai ngapain ngelamun?”
“Hai bang Niko.” Hati - tiba tiba riang seperti sudah lama tidak melihatnya padahal baru minggu kemarin kami bertemu.
“Ngapain begong kau,” ucapnya dengan logat Bataknya yang khas.
“Gak. Aku lagi nungguin bang Niko kan,” jawab ku asal.
“Bisa aja kau. Ayolah, di sini kan rame ngapain kamu takut.”
Berjalan sejajar degan Bang Niko.
“Tumben gak sama Pangeran mu? Tanya bang Niko lagi.
“Dia ada urusan Bang, berangkat pagi pagi sekali tadi”
Tidak ingin memberi tahukan apa yang sedang terjadi tadi malam . Karena itu sangat memalukan dan sangat menyakiti hati.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi