Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Terjebak dalam lift


__ADS_3

Ayah Tiara akhinya di penjara menghabiskan masa tuanya. Tiara tidak disangka menjalani pemeriksaan karena kasus pornografi akhinya jadi tersangka .Ia terjerat pasal dan dapat hukuman 6 bulan penjara dan denda.


Bukan kami ingin bersenang-senang diatas penderitaan orang lain, tapi aku dan Tari merayakannya.


“Aku senang Fai akhirnya ia mendapat balasan dari perbuatanya. Kamu tau Fai, mereka sudah lama menghina dan merendahkan keluargaku," ucap Tari wajahnya send


" Aku berharap mereka mengingat semuanya."Aku yakin mereka pasti mengingatnya"


"Setelah beberapa lama mendekam di penjara . Mohan menceraikannya, walau sebenarnya bukan seperti ini yanga kami harapkan. Tapi itu bukan karena ulah kami dan Tari, ada beberapa situs berita menyebutnya , ia mengalami depresi di penjara. beberapa kali ingin menyakiti diri sendiri, tapi itulah kehidupan, Jika Ia berpikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang dan kekuasaan , maka saat ini takdir melukiskan cerita Lain. Adalah hidup berada diatas dan ada saatnya berada dibawah , seperti saat ini, maka orang bijak bilang; Jika berada di atas Ingat untuk melihat kebawah'


Akhirnya, aku bisa melihat senyuman indah lagi dari Tari,kini bisa berkumpul dengan kelurganya, Ayah dan adiknya mereka masih menyembunyikan keterlibatan ku untuk kebebasan Ayahnya. Adiknya sudah lulus dan ingin Kuliah di Jakarta.


“Tar, Bagaimana kalau Om Bayu kerja lagi?" tanyaku pada Tari


“Ia sudah tua Fai, siapa yang mau memperkerjakan mantan napi," kata Tari wajahnya terlihat sedih.


Kami membuka perusaan baru dibbidang pengiriman barang keluar Negeri. akhirnya perusahaan keluarga Tiara saya ambil alih, saya ingin Om Bayu yang memegangnya” kataku dengan hati-hati .Aku takut Ia tersinggung, karena aku pikir terlalu menghawatirkan kelurganya.


“Apa benar Fai?" kata Tari


.”Iya maksudku, apa Om mau?


“Tentu, katanya. Iya mencari pekerjaan paruh waktu, Ayah tidak terbiasa berdiam diri dirumah” kata Tari.


Perusaan jasa pengiriman milik keluarga Vera yang di Jual aku membelinya dan dikelola Oleh ayah Tari.


Satu paket kebahagian utuk Tari. Tapi dibalik kebahagian itu selalu ada batu –batu kecil yang menggangu . Ibu Tirinya ingin kembali ke Ayah Tari. Mendengar Kabar Itu Ia meradang dan mengusir wanita yang membuatnya banyak penderitaan. Ia berteriak histeris untuk mengusirnya, Tari mengusir ibu Tirinya


Ibu tirinya tau kalau Ayahnya . menjadi seorang Direktur, bahkan lebih hebat dari pekerjaannya yang dulu , dulu hanya bawahan yang disuruh-suruh, bahkan Ia di jebloskan penjara karena pekerjaan yang di lakukan atas perintah atasannya,


“Jangan membuang tenagamu lagi sayang"Kata Ayah Tari padanya.


Ia menyeret perempuan itu dan menyuruhnya keluar.


“Aku tidak membutuhkan Wanita Tamak sepertimu, Aku lebih membutuhkan anak-anakku” Kata Ayah tari mengusir mantan istrinya

__ADS_1


“Mantan buang ketempat sampah iya kan. Yah" Kata Tari terlihat sangat senang.


Beharap Ia tetap ceria dan bahagia selamanya, Pak Bayu menganggap sikembar seperti cucunya sendiri, Tari sekarang tidak seburuk waktu dulu lagi, Ia lebih banyak tertawa saat Ia bisa melihat Ayah dan adiknya kembali


Aku melenggang santai memasuki ruanganku ruangan Direktur.


Berkutat kembali pada tugas yang menumpuk, kertas- kertas yang perlu ditanda tanganin mataku tertuju pada tumpukan kertas gambar.


Oh... hampir terlupakan


Sekarang sudah mengingat dengan jelas gambar itu, tanganku kini memegang gambar Frans, tiba-tiba aku merasa tertarik bekerja sama dengan mantan suamiku yang menganggap diriku masih lupa ingatan.


Aku memegang gagang telepon. Menekan tombol memanggil menyuruh Haris masuk keruanganku.


“Iya mbak” kata haris dengan sigap


"Hubungin yang punya gambar ini, kita akan memakainya untuk pembagunan cabang yang di Bali," kataku, meletakkannya di depan tanpa menoleh Haris, aku tahu saat ini wajahnya pasti berkerut mengetahui , aku memilik bekerja sama dengan mantan suamiku


,


Hari itu Tiba seorang Lelaki Tampan berdiri menyambut ku, dalam satu ruangan pertemuan.


“ Siang Bu Faila” Suara baritonnya seksi. itulah mantan suamiku Frans Devan.


“Siang," menjawab dengan terlihat serius tanpa basa basi. Aku bersikap biasa dan professional dan duduk didepannya.


“Terimakasih, sudah memilih gambar saya, aku berharap anda mendapatkan hal yang menarik hingga memutuskan bekerja sama dengan saya . Boleh saya tau apa yang membuat keputusan memilih saya? Ia bertanya dengan menatapku dengan manik mata coklatnya.


Membuat dewi batinku berteriak seperti saat dulu, dimana aku mengejar-ngejarnya.


Aku juga menatapnya. “Oh Frans kamu sangat Tampan ,masih seperti dulu. Kadar ketampanan mu melebihi Arjuna sang lanang- sejagat. Ketampanan itulah dulu membuatku seperti kehilangan pijakan Hidup hanya bergantung padamu.


Ketampanan ini kuyakinin mampu memporak-porandakan seluruh hati di dunia ini termasuk Aku dan Adella.


Untuk sesaat aku melongo dibuatnya hingga aku menyetel alam sadarku .'Sadarlah Faila kendalikan dirimu, Ia mantan suamimu yang menendang mu keluar dari kehidupannya' kataku berbisik dalam hati,

__ADS_1


"Pertama. Proyek pembagunan di Bali ingin dikebut penyelesaiannya, dari sekian orang yang persentasi, Aku sampai saat ini sebenarnya, belum ada yang sukses membuatku tertarik


Tapi daripada yang lain, punya anda yang palin menonjol jawabku seadanya" Mencoba tidak memandang wajahnya, karena memandang tepat kerjanya, membuatku kehilangan Fokusku. Aku tidak mau lagi terjebak dalam perasaan gila itu lagi.


Ia menjelaskan semua detailnya dan dan digabungkan dengan keinginan saya , akhirnya kerja sama itu terjalin.


Kami memilih duduk di ruangan yang meja menghadap kejalanan, padatnya jalanan Ibu kota


Sesekali untuk menekan perasaanku , aku mengalihkan pandanganku kearah jalan Jakarta.


Haris keluar dan Dion lagi mewakili ku mengikuti seminar disalah satu Hotel di Bandung, jadi hanya aku dan Frans saat ini


Ia menatapku dengan sangat dalam, aku bisa melihatnya dari ekor mataku.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Frans tiba-tiba


“Saya baik-baik saja Pak Frans, jangan Kawatir” kataku dengan senyuman manis yang dipaksakan dan rasanya urat-urat wajahku saling menarik.


“ Dari tadi aku perhatikan kamu menatap keluar” kata Frans terdengar cara bicaranya menjadi informal


“Iya, saya baik-baik saja” aku ber susah payah agar tetap bersikap profesional.


Ia menarik Nafas panjang ”Apa benar, kamu tidak mengingatku? Ia bertanya dengan suara Bariton itu, kini halus terasa lembut menyapu hatiku .


“Tidak! Apa ada yang sepesial dari itu?" aku balik menantang menatap matanya.


“Baiklah “tetaplah seperti ini” kata Frans menatapku .


“Kita akan mensurvei lokasinya besok. Aku Harap bapak bisa ikut dengan kami, aku mengalihkan topik pembicaraan


“Baik” besok saya bisa kata Frans dengan yakin.


Apa bapak sudah makan ?” kebetulan saya belum makan. Saya ingin mengajak anda makan di Restoran kami!


“Boleh , Kebetulan juga saya belum makan," kata Frans.

__ADS_1


“ Mari," kataku mengajak Frans turun, untuk makan siang di restauran milik hotel juga yang yang tempatnya berada di di sebelah Hotel.


__ADS_2