
Mataku langsung melotot seperti dapat cubitan keras. Neneknya Frans yang terkenal sangat cerewet galak , Ia selalu berbuat semaunya, seorang nyonya besar. Dulu tinggal di Indonesia, tapi sekarang balik lagi Delhi India.
Maminya Frans, tidak tahan bila ia sudah datang dulu ke rumah Frans.
Selalu ada yang salah di matanya pekerjaan maminya Frans. Waktu aku tinggal dirumah frans mami pernah meninggalkan rumah ,karena tidak tahan menerima ocehan neneknya Frans. Kali ini Ia datang sebelumnya, Ia bersikeras kami akan menikah Di India.
Tapi aku dan Frans menolak . Neneknya juga tidak mau datang acara ke pernikahan kami.
Tapi kenapa Tiba –tiba datang?”
“Ha, bukanya dibilang ga datang ? kataku berbisik pada Frans
“Aku juga tidak tau pastinya” Ia memutuskan datang tadi malam ,kata Frans.
“Baiklah aku ingin kekamar mandi dulu” merapikan penampilanku, aku mencari Tari dan Adira tapi tidak
Ada.
“Kenapa ?” Tanya Frans yang melihatku celegak-celegukan
“Tari tidak ada untuk menemaniku kekamar mandi kataku” . Matanya juga ikut mencari tapi Tari tidak tau pergi kemana.
“Biar aku yang mengantarmu, kekamar mandi,” kata Frans menopang tanganku.
Kali ini sukses membuat para jomblo kejang-kejang berjamaah, karena perlakuannya padaku.
“Iya ampun penampilanku, benar- benar berantakan, Riasan wajahku hilang tersapu keringat yang bercucuran tadi
Luka itu terasa semakin sakit, aku mulai meringis kesakitan bukan hanya badan belakangku yang terasa sakit, tulang pipi yang terkena sikut Frans juga ikut terasa sakit.
Frans masih menunggu di depan pintu kamar mandi.
“Fai kamu tidak apa- apa ?” Tanya Frans mengetuk pintu. Aku mendengarnya tapi tubuhku jauh lebih sakit .
Aku meringis memegang badan belakangku, sepertinya tali pengikat baju pengantin itu, terlalu kencang dan menekan luka jahitannya ,alhasil semakin aku bergerak semakin ditekan .
Sekarang sudah menetes mengenai rok belakang yang aku pakai.
Noda seperti itu, di gaun pengantin dalam Mitos India sebuah awal petaka , walau aku tidak mempercayainya. Karena dari awal pernikahan kami sudah memang sudah petaka.
“Frans!” Aku memangilnya untuk masuk kekamar mandi
“Iya ampun ini sudah mengotori kain sarimu sama selendang” kata Frans
“Bawa aku kekamar frans, ini tidak boleh dilihat orang apa lagi keluargamu” kataku”
Frans menatapku sebentar,dan Ia membuka pintu kamar mandi menoleh kanan kira memastikan tidak ada orang .Ia akhirnya membawaku kekamar atas.
“Di sini Frans,” kataku menunjuk kamar yang aku pakai.
Tapi Ia membawa kami kekamarnya. Kamar itu sudah dihiasi dengan bunga-bunga layaknya kamar pengantin .
__ADS_1
Tapi aku tidak menghiraukannya lagi, aku memilih untuk duduk di sisi tempat tidur.
“Frans tolong lepaskan ikatannya kataku,menyisihkan rambutku dan menunjukkan bagian leherku pada Frans untuk membuka gaun pengantin.
Sudah di bayangkan betapa Rapotnya seorang pengantin India dengan segala asesorisnya.
“Fai, tapi-“
“Frans jangan berpikir macam-macam dulu padaku. Talinya menekan lukaku,”
“Oh,” baiklah kata Frans tangannya sangat hati hati membuka tali pengikat baju pengantin itu.
Didepan kami ada kaca, aku bisa melihat wajahnya terlihat sangat hati-hati membuka baju pengantin itu, sekilas terlihat seperti di film –film Hollywood yang mau melakukan malam pertama tinggal setel lagu India romantisnya.
Posisi dudukku yang diatas ranjang ya ng memberikan punggungnya pada suaminya. Aku yang masih menatap dari kaca yang depan kami memperlihatkan Frans dengan dengan raut wajah hati-hati melepaskan tali- tali baju pengantin ,
Hingga semuanya terbuka memperlihatkan punggungku terbuka dan tanganku menahannya bagian dadaku di depannya.
Harusnya momennya pas, Tinggal berbaring dan melakukan malam pertama.
Tapi Frans sudah mencegah semua itu dalam semua perjanjian kontrak. Bahwa Ia tidak menyentuhku, sebagai istrinya
Saat ini hubungan kami tidak lebih hanya kawin kontrak selama 6 bulan. Walau Frans menulisnya 1 tahun tapi mencoretnya jadi 6 bulan.
“Terimakasih Frans, kamu boleh turun lagi, aku sudah menelepon Dokter Putra sama Tari,” kataku pada Frans wajah tidak begitu senang.
“Aku menemanimu di sini kata Frans matanya masih menatapku yang mempertontonkan punggungku yang terbuka aku tidak tau apa yang dipikirkan Frans, tapi wajahnya terlihat tidak begitu menyukai, karena aku menelpon Dokter itu,
“Bolehkah aku meminta bajumu yang agak longgar, agar aku bisa menutup sebagian tubuhku,” kataku pada Frans.
Karena itu permintaanya. Tapi aku tau, saat ini Ia pasti menginginkan itu. Ia lelaki Normal. Tapi emosi dan kemarahannya membuatnya melakukan keputusan seperti itu padahal kami saling mencintai
Ia hanya diam tanpa berkata apa-apa, matanya hanya menatapku membuka bajuku didepannya memperlihatkan bagian atas tubuhku padanya.
“Apa kamu mengujiku FaiLa?” Frans menatapku tajam
“Aku tidak kuat, melangkah kekamar mandi frans, mungkin aku harus meminta maaf padamu untuk ini,” kataku seenaknya dan sengaja membuatnya panas dengan segala tingkahku yang sengaja membuatnya panas dingin.
“Kamu, bisa menyuruhku pergi,kan”
“Ini rumahmu dan ini kamarmu Frans, apa aku punya hak untuk mengusir” Kataku
“Apa kamu sangat membenciku?”
“Aku tidak punya hak untuk marah saat ini Frans”
~Tok tok~
Suara ketokan pintu menghentikan perdebatan kami dengan Frans. Dokter putra dan Tari.
“Wah pengantin baru selamat dulu iya” kata Dokter mengulurkan tangannya padaku
__ADS_1
Ia mengeluarkan peralatannya dari dalam tas kerjanya.
Berbaringlah pengantin baru, aku harus memeriksa, kamu sungguh wanita yang kuat, tadi saya pikir kamu tidak kuat,” kata Dokter.
Aku berbaring menengkurapkan tubuhku, Frans masih berdiri mengawasi Dokter yang memeriksaku,
“Disini juga sakit Dok kataku menarik tangan Dokter itu keperutku. Aku sengaja bikin Ia panas.
“Mohon maaf Faila sepertinya aku akan merabanya”Kata Dokter menatap Frans yang menunjukkan ketidaksukaan
“Tidak apa -apa Dokter,” kataku tersenyum licik dan puas melihat Ia memperlihatkan ketidaksukaannya pada Dokter yang memeriksaku.
“Ah jahitannya terlepas apa kamu terjatuh tadi?
“ Tidak Dok, tali baju pengantinnya mengenai luka itu”
“Wah itu pasti sangat sakit,” ucap Dokter putra menunjukkan senyuman yang teramat sangat manis
aku hanya mengangguk,
“Aku harus memberimu lagi suntikan Faila, tahan iya, agar aku bisa mengobati lukanya,” ucap Dokter, aku hanya menahan sebentar . Hingga masuk kelam mimpi.
Rasa mengantuk dari tadi ditambah obat bius maka aku tidur dengan waktu lama dengan posisi badan tengkurap. Posisi tidurku harus tengkurap karena luka yang di punggungku.
Sepertinya pengaruh obat bius sudah membuatku tidur sangat lama. Entah apa yang sudah terjadi sejak aku tertidur dari sore tadi. Entah bagaimana Frans menghadapi semua tadi aku tidak tau.
Aku bangun jam sudah menunjukkan jam 2 malam rasa lapar membagunkanku, ternyata baru sekali aku makan satu hari ini itupun sedikit.
Aku melihat Frans tidur di sampingku, masih memakai baju pengantinnya. Berbeda denganku,yang sudah memakai celana tidur.
Dadaku rasanya sakit tidur telungkup tidur lama, melihat tidur terlelap disampingku. Sesuai perjanjian dalam kontrak, aku memilih tidur di sofa panjang di kamar Frans,
Antara rasa pusing mengantuk dan lapar. Aku memilih tidur baru saja ingin merebahkan disofa.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Frans Ia juga ikut bagun.
“Tidur”
“Kenapa harus disitu Faila, saya pikir ranjang ini, muat menampung kita berdua
“Jangan bilang kau takut padaku” Frans menatap tajam
“Aku hanya mematuhi apa yang kita sudah sepakati”Kataku
“Apa?”
“Ada poin dalam suratnya, tidak berbagi barang apapun itu denganku’kan? Baiklah, kamu di ranjang itu dan aku disini karena ini rumahmu Frans”
“Ayolah Faila, jangan membuat semuanya menjadi semakin susah”
“ Kamu yang bilang kita harus mematuhi semua kesepakatan, Lelaki sejati harus menepati janji”
__ADS_1
“Iya, tapi lelaki sejati tidak akan membiarkan wanita menderita”
“Tidur di sini bukanlah, hal yang membuat menderita ada hal jauh lebih sakit dari semua ini, ini bukanlah apa-apa bagiku.