
“Emang ada lagi yang lebih buruk dari yang ku alami selama ini..! bisikku membatin
segala kepahitan hidup sudah aku rasakan, membuatku terbiasa. Mendapat kabar buruk.
“Kamu tidak akan bertanya” Kenapa begitu” Protes lelaki dengan tatapan matanya yang tajam.
“Tidak” jawabku singkat, Orang tua tidak akan memberikan hal buruk untuk anaknya kataku dengan asal ,walau aku tau, pernyataan yang aku lontarkan tidak semua benar.
“Oh ,begitu iya, menurutmu tapi itu menurut kamu yang sudah lama mengincar aku” kata Felix dengan keyakinannya yang menyebalkan. Membuatku muak mendengar ia berbicara.
Ingin rasanya aku hari itu langsung menikahinya dan membuatnya shock dan struk.
“Menikah denganku suatu keuntungan bagimu tapi bencana bagiku” katanya lagi penuh penghinaan.
Darah tinggi, kolestrol, asam urat, tiba tiba naik, gelas yang didepan meja kugenggam erat menahan emosi, kalau saja kedua orang tuanya tidak ada disitu, mungkin aku sudah berteriak kesetanan.
Tapi sebagai calon mantu yang baik aku harus menjaga sikap.
“Felix jaga sikapmu,” bentak Tante Mira menatap anaknya.
“Oh iya kenapa harus lamaran Om ?” langsung Nikah aja kataku tiba tiba membuat Felix manusia Gurun Es itu mematung menatapku heran.
“Begini,Nak” Kata Om Sami dengan ragu. Ada hal yang perlu kita bicarakan pelan-pelan. Kamu sendiri tau kan Om agamanya berbeda dengan kamu. Kamu Nasrani dan Om Islam ini mengenai agama sedikit sensitif makanya kita bicarakan pelan-pelan” kata Om Sami. “Kakek kamu kurang setuju kalau kamu ikut agama Om”Katanya lagi.
“Oh tidak apa –apa Om kita menikah secara Islam saja agamanya Om dan tante, kita akad nikah saja” kataku tanpa berpikir panjang
Kedua orang tua itu menatapku dengan heran, Mungkin pikiran mereka aku seperti yang dikatakan anaknya yang kebelet ingin menikah dengan Felix
Felix mendengus kesal, mendengar keputusan ku yang ingin mengadakan pernikahan dengan cepat-cepat
Wajahnya penuh kemarahan. Bukan hanya Ia, bahkan adik adiknya menatapku dengan curiga,
Hari itu semua kelurga datang menyelidiki ku dengan cara masing –masing dan aku memaklumi itu. Dimulai dari adik perempuannya Kaila.
“Apa kakak tidak apa-apa ?” Menikah memerlukan sikap dewasa untuk menjalaninya ,katanya sok menasehatiku padahal umurnya hampir sama denganku.
“IYa aku tau” kataku dengan acuh..
“Kamu’kan sama kakak Felix belum kenal satu sama Lain, tidak baiknya, kalian bertunangan dulu atau tahap pengenalan dulu.”
__ADS_1
“Tidak perlu, aku sudah yakin” kataku lagi
Tiba tiba wajah Kaila menatapku dengan aneh, aku tau apa yang mereka pikirkan padaku,
Mungkin mereka menganggap ku hamil dari orang lain dan meminta pertangungjawaban pada kakaknya,
Tatapannya kerarah perutku yang datar.
Tapi berbeda dengan Tante Mira yang justru mendukungku agar tetap tinggal dirumah itu.
“Fai. Tante tau apa dalam pikiranmu. Tapi selalu ada keajaiban dalam setiap kehidupan seseorang” katanya dengan ramah.
“Apa tante sudah tau tentang semuanya?”
“Iya sayang. Jujur aku punya hutang budi padamu, sebenarnya ibumu, menitipkan kamu padaku dan Dokter Santosa.”
Tapi aku tidak mencarimu sepenuh hati,karena kesibukan masalah pekerjaan yang padat,tau sendiri tanggung jawab sebagai dokter ,harus tetap profesional dalam bekerja
akhirnya janji itu terlewat begitu saja, Melihat keadaanmu seperti saat ini aku menyesali semuanya. “Maafkan Tante Faila. Karena tidak berusaha mencari dan mengobati mu” ucap Mama Felix. Mudah-mudahan catatan kesehatan yang ditinggalkan Ibumu padaku bisa kami gunakan lagi untuk mengobatinya, mudah-mudahan tidak terlambat” kata tante Mira dengan mata bulatnya yang indah. “Kalau kamu ingin menikah dengan Felix aku mendukungnya karena dulu waktu kecil kami sudah menjodohkan kalian berdua, karena perbedaan sikap kalian dulu waktu kecil. Kamu sama dia,setiap kali bertemu akan bertengkar, dan yang memulai gara gara iya kamu” Kata tante Mira tertawa lalu dan mendukung kami untuk menikah tinggal di Rumah tante Mira.Tenanglah sayang” aku tetap mendukungmu !” istirahatlah” kata tante Mira meninggalkanku
Hari itu rasanya sangat melelahkan , hingga otak rasanya tidak bisa diajak untuk berpikir lagi. Baru ingin merebahkan tubuh, suara ketukan pintu mengganggu lagi.
“Apa kau begitu ngebet bangat, ingin menikah denganku?”
Rasanya tubuh ini tidak punya tenaga hanya untuk menjawab pertanyaannya. Aku memilih diam dan memijit-mijit kening yang terasa sangat pusing.
“Apa kamu mendengar pertanyaan ku? Siapa yang melakukanya?” Pertanyaan menyelidiki,
“Melakukan apa?” jawabku dengan malasnya,
“Siapa orang yang menghamili mu.?”
“Siapa yang hamil ?” Jawabku masih dengan malasnya,
“Harusnya kamu minta pertanggung jawaban pada orang
Yang melakukanya, kenapa padaku ?
Felix simanusia kutub utara, menuduhku yang bukan-bukan, matanya menatapku dengan tatapan penuh penghinaan, dan matanya menatap tajam kearah perutku. Biarkan saja kataku dalam hati.
__ADS_1
Membela diri sepertinya akan sia-sia, Pikirannya sudah dipenuhi rasa curiga padaku sejak dari awal bertemu.
“Apa kamu tidak berpikir ini terlalu jahat padaku.!”
Orang yang berbuat dan orang yang merasa
Kan enaknya aku yang bertanggung jawab, kata Felix masih dengan pendapatnya yang menganggap ku hamil saat ini.
“Aku sudah bilang dari tadi aku tidak hamil” Jawabku cuek
Tatapan matanya menyelidiki tidak percaya, matanya lagi-lagi melihat kearah perutku.
“Terus apa alasan kamu ingin menikah denganku
“Aku menginginkan pernikahan,kataku acuh tanpa menoleh
“Apa kamu serius ingin menikah denganKu?
“Iya”kataku lagi singkat,
“Pernikahan tanpa cinta apa itu yang kau inginkan, Apa kau tidak takut jika suatu saat nanti aku menyakitimu ? atau kau akan tersakiti ?”
“Hidupku sudah terbiasa hal seperti itu kataku dengan putus asa.
Felix sepertinya dapat membaca keputusasaan dalam wajahku, tatapan tajam dan sinis yang diberikan padaku berangsur biasa. Karena sebesar apa ia menolak pernikahan itu aku tetap menikah
“Baiklah apapun tujuanmu menikah denganku aku tidak peduli lagi ,baiklah mari kita lakukan sesuai dengan keinginanmu dan keinginan orang tuaku tapi ingatlah .Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan cinta padamu dan tidak akan pernah menyentuh mu..!
“Yes” jawabku sangat gembira mendengar aku tidak akan disentuh sebagai istrinya karena itu yang aku harapkan,
Tidak suka, di sentuh orang yang tidak aku sukai.
Felix meninggalkan ku sendirian. Om sami sepertinya menyetujui permintaanku yang ingin mempercepat pernikahan kami.
Felix saat ini sudah bertugas di Malang kembali karena sebelumnya di ditugaskan di Jakarta.
Rencana pernikahan kami sudah mulai dirancang oleh kedua belah pihak. Tapi entah kenapa aku sampai saat itu belum paham dengan segala keputusan yang aku setujui,
Otakku yang lamban dalam berpikir sepertinya masih belum bangun. Dari tidur panjangnya. Kenapa aku menikah dengan orang yang aku benci ?” bisikku dalam hati,
__ADS_1