
Saat memilih makanan,
“Eh, Neng, kamu mau ambil jualan ibu itu atau jualan saya?”
“Semuanya Bu, aku pengen coba in semuanya”
“Oh ya ella Neng … kalau mau cobain, ambil dalam piring masing- masing setiap dari yang jualan aja,” ujar si Ibu yang penjual belut goreng.
“Oh gitu Bu, beda- beda orang semua ya?”
“Iya atuh neng,” sahut si bapak..
“Iya kalau begitu aku mau yang ini, belut goreng , ya pak.” Aku memilih semu menu jualan di setiap piring, memina di antar, meja yang di duduki Tari dan yang lain.
Ibu - ibu itu mengantar menu yang aku pesan tadi, total nya ada delapan piring menu yang berbeda
“Gila lu Fai!” teriak Tari kaget dengan pesananku yang banyak .
“Kamu mau habisin itu semua?” Matanya melotot menatapku.
“Kamu kesurupan, ya,” kata Adira yang matanya hampir mau keluar melihat menu pesananku yang hampir memenuhi seluruh meja yang kami dudukki
“Aku mau cobain semuanya,” kataku dan mulai kulahap satu persatu
“Kamu kayak orang yang baru di lepas dari kandang si Fai,”
celetuk Tari mereka masih melihatku dengan tatapan heran.
Ternyata bukan hanya mereka yang bingung dengan sikap rakusku, ada beberapa orang yang menatap dengan tatapan heran juga.
“Lapar neng?” Tanya si Bapak yang duduk di samping kami
Aku hanya senyum saja, selesai mencicipi semuanya perutku hampir
mau meledak menampung makanan sebanyak itu, walau ketiga tukang gomel itu ikut memakannya juga tapi tetap porsi makanku yang paling banyak.
Jam sudah menuju angka tujuh malam, suasana di daerah Senen semakin ramai lampu- lampu mulai menghiasi setiap sisi jalanan Jakarta,
Kami menaiki busway itu lagi iya ampun penuhnya aku hampir
pingsan karena berdesakan dan bediri juga.
Hampir jam sepuluh malam, akhirnya aku tiba di rumah mami. Mobil Frans sudah ada di depan rumah, itu artinya lelaki tampan itu sudah ada di rumah.
“Fai kok lama bangat si sayang?” Tanya Mami terlihat sangat kawatir
Mami sama papi sengaja duduk di ruang depan menunggu pulang, maka itu aku merasa anak perantau yang paling beruntung, menumpang di rumah orang, tapi dianggap seperti putri sendiri.
“Iya ampun Mi, daerah Senen itu macet parah dan busway nya
sangat padat, aku hampir pingsan karena sesak dan sempit,” ujarku memulai cerita. Bercerita dengan semangatnya terlihat seperti anak kecil yang bercerita pengalaman pertama nya pada orang tua.
“Emang teman- temanmu tidak ada yang punya kendaraan?”
“Gak ada Mi, semua anak-anak kost perantau juga kayak Fai,” ucapku memijit betis kaki ini rasanya sangat pegal berdiri sepanjang jalan di bus.
“Coba bilang mami, pasti diantar,” ujar Mami penuh perhatian.
“Iya, Mi mendadak juga dan ini pengalaman pertamaku juga jalan kesana,”
“Kamu pasti lelah, uda makan?”
__ADS_1
“Udah Mi,”
Sekarang menggebu dan bersemangat menceritakan pengalaman pertamaku makan di kaki lima, mami tertawa dan
terpingkal dengan aksi polosku dan cerita waktu pas bayar makan
duitnya kurang , apesnya lagi tidak ada ATM terdekat, untung ada orang baik
“Iya ampun Fai , kamu kenapa makan banyak begitu lagian,” kata Mami wajahnya memerah karena mendengar ceritaku.
“Iya, teman pada malu dengan aksi Rakus ku.”
“Emang berapa piring yang Fai bawa?” Tanya papi Frans, ikut juga tertawa
“Delapan piring PI”
“Astagaaa …!” Mami tertawa memegangi perut.
“Wah iya ampun itu banyak.” Papi tertawa lebih keras lagi.
Mendengar kami tertawa, padahal sudah malam kak Dion dan
Arjun ikut duduk juga. Tapi tidak dengan kak Frans dia sepertinya
tidak terusik, ia mungkin masih marah. Mereka berdua tertawa
dan meledekku lebih heboh lagi.
Jam menunjuk setengah dua belas, akhirnya kami menyudahi cerita
lucu malam itu, masuk kamar masing - masing.
Aku menoleh kamar Frans sepertinya dia sudah tidur dan aku tidak ada niat melihatnya atau sekedar menyapanya setidaknya untuk saat ini.
*
Saat pagi tiba, tidak biasanya aku bisa bangun sepagi itu, membantu menyiapkan serapan pagi , aku ada ide masakan yang aku lihat di Senen malam itu.
Menu pagi ini, sengaja buat gado- gado ternyata mami dan papi, Arjun dan kak Dion suka. Tetapi Frans belum terlihat dan belum mau makan bersama atau serapan pagi bersama kami, sepertinya rasa marahnya sama maminya belum habis dan bukan untukku, aku tidak
melakukan apa -apa aku hanya salah sasaran saja
Sehabis serapan, aku bergegas karena ada kuliah pagi juga hari ini.
Waktu berlalu begitu cepat, kelasku juga selesai.
“Fai!” Panggil Serli tepat setelah aku keluar dari kelas
“Iya Ser, kenapa?” Aku membalikkan badanku kearahnya
Wanita jurusan arsitektur itu mendekat, dia pacar Agus teman Frans, teman yang sering ikut nongkrong dengan Frans juga.
“Ada, masalah apa Fai? kenapa kamu gak pernah ikut nongkrong kita lagi, ga asik tau,”ucapnya menatapku.
“Iya aku lagi belajar, nilai mata kuliaku semester ini anjlok, aku mengejarnya dulu,” Aku mencari alasan yang tepat
“Benarkah? Tapi alis matanya menyengit, mungkin tidak percaya dengan jawaban yang aku berikan, “Tapi Frans juga berubah diam dan lebih banyak melamun belakangan ini dan teman-temanya pada protes kemarin team basket mereka kalah. Tapi kamu benar- benar tidak apa- apa kan?”
“Iya,” jawabku singkat, dengan bibir di ulas senyuman.
“Ok, besok team Frans ada pertandingan dengan universitas lain kamu datang, iya,”
__ADS_1
“Baik akan aku usahakan,” jawabku. Melangkah ingin menemui Tari di taman kampus.
Langkahku berhenti, melihat Frans dan Gengnya lagi ngobrol serius membuat lingkaran, entah membahas apa aku tidak tau, untuk pertama kalinya bagiku tidak ingin menghampirinya, Sejak Frans memaki ibuku, sepertinya setan genit di dalam diriku mulai pergi.
Biasanya aku akan berlari dan akan ikut bergabung seolah aku bagian dari mereka.
Otakku berpikir sejenak, kalau aku berbalik akan menimbulkan kecurigaan pada teman- temannya,
Hanya itu ide yang yang masuk ke otakku, aku pura- pura menerima telepon
Frans dan temannya duduk di taman taman yang berbentuk lingkaran dan mahasiswa sering menyebut nya taman lingkaran atau taling karena setiap harinya selalu di penuhi para mahasiswa.
Aku mengambil sisi kiri dan berharap tidak ada dari mereka yang melihat.
Ternyata dugaanku salah, baru berapa langkah ada suara yang memanggil.
“Fai …!”Panggil Hendra.
“Sial ,” umpatku dalam hati, menoleh berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Sini Fai gabung.” Hendra menggeser panggulnya memberiku tempat di sampingnya.
Tidak bisa mengelak juga, mau tidak mau aku ikut bergabung.
“Dari mana saja Fai.” Tanya Hendra mencercaku dengan tatapan menyelidiki.
Seperti dugaanku, sepertinya Frans belum siap bertatap muka denganku, setelah aksinya yang melampiaskan kemarahannya ke sasaran yang salah. Dia hanya diam dan sibuk memainkan ponselnya
“Sepertinya ada yang terjadi pada kalian berdua yang tidak kami ketahui,” ujar Hendra bergantian menatap kami berdua.
Frans hanya diam tidak menanggapi.
“Gak lah, masalah apa,” kataku bersikap biasa saja, walau rasanya susah
“Berapa hari ini pertama kalinya aku tidak melihat mu bersama Frans,” cecar Agus dengan penasaran
“Hanya mengejar ketertinggalan,” kataku menjawab seadanya lebih tepatnya mencari alasan.
Aku tidak ingin lama -lama di tempat itu, menjawab pertanyaan mereka semua membuatku pusing, aku berharap ada bantuan kecil membawaku keluar dari situasi itu.
Vera datang dan Tiara, Serli ikut bergabung, membuatku ingin semakin cepat - cepat ingin menghilang dari tempat itu.
“Hai Fai dari mana aja lu, tumben gak ekorin Frans beberapa hari ini?” mulut Tiara mulai mengeluarkan racun.
“Iya biasanya lu ksn jadi Babunya,” Vera ikut menimpali.
“Tapi bagus juga sih jadi gue ada kesempatan dekat tanpa ada yang menganggu, ga usah datang lagi, iya itu lebih bagus,” ucapnya Vera dengan dengan sikapnya yang sombong
“Iya itu benar ,” timpal Tiara tertawa.
Aku tidak ingin menanggapinya, aku hanya ingin kabur dari tempat itu.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi