Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Masak Berdua


__ADS_3

Hujan uda mulai reda walau masih  mendung di luar. Ia membuka bajunya di depanku aku sengaja menatap kearah jendela tidak ingin tidak sopan karena menatapnya yang sedang ganti baju


Bajunya baru saja ditanggalkan suara petir itu seakan membuat petaka baru pada hidupku,


“DUAAAR !”


Aku melompat panik ketubuh felix,  yang sedang bertelanjang dada membuat badannya mundur dan jatuh karena kehilangan keseimbangan dan jatuhnya tidak enak. Bukan jatuh kayak drama drama Korea yang mungkin jatuh di sofa dan posisi bibir ketemu bibir dan membuat penontonnya auto baper.


Tapi tidak untukku dan felix kali ini,  ia jatuh kebelakang dan tubuhnya terjatuh ketempat sampah kecil yang ada dikamarnya. Aku menindihnya dari atas membuatnya meringis kesakitan dan sikut tangannya sepertinya terkilir,


“OoooooH ah sakit,” ia meringis menahan sakit masih dalam posisi tubuh tertindih olehku.


OH mati aku.Ini bencana aku bermonolog dan mencari alasan agar ia tidak marah


“Fai aku tidak bisa bernafas”  dengan suara berat dan aku menoleh ke bawah


“OH…NO ”


Wajahnya terpendam dibawah dadaku, itu sangat memalukan pantesan ia tidak bisa bernafas ternyata ditimpa dua Gunung kembarku yang besar. Lutut kakiku menekan bagian perutnya,  itu sangat sakit, posisi jatuh yang tidak elegan,


Kalau saja saat itu ada jurang dekatku atau disampingku” mungkin aku sudah melompat, kesana, karena kelakuanku yang memalukan


“Faila aku kesakitan!” Suaranya seperti erangan dan tangannya tidak lagi memegang sikunya terkilir tapi tangannya memegang pusakanya.


“Maafkan aku Felix,” kataku duduk di sampingnya


“Aaaauhhhhhh.” ia meringkuk menahan rasa sakit itu dan tangannya memegang anunya.


Iya ampun kenapa harus itu sih yang kena,  kataku membatin.  Apa perlu aku mengompresnya kataku dalam hati.


Tapi lebih baik diam dan menunggu, petir itu semakin menjadi sementara Felix sudah meringkuk disampingku karena ulahku, ketika petir itu menyambar lagi nafasku mulai terasa berat. Demi menyelamatkan diri sendiri, hilang sudah urat maluku,  aku membaringkan diri disampingnya dan memeluknya lagi dari belakang, gila emang


“Maafkan aku Mas!”  kataku. benar benar tidak berdaya. Untuk pertama kalinya memanggil dengan sebutan Mas, karena emang umurnya beda setahun di atasku.


Tanpa  kusangka ,ia  membalikkan tubuhnya dan balik memeluk tubuhku yang ketakutan, ia terlihat masih menahan rasa sakit di anunya,


Hingga akhirnya kami benar benar tertidur dilantai  yang dingin. Dalam posisi berpelukan hangatnya tubuh kekarnya.  Mampu membuatku tertidur yang masih ketakutan.

__ADS_1


Terimakasih  karana kamu menyelamatkanku  kataku dalam hati, sungguh aku minta maaf pada laki- laki ini karena salah paham padanya selama ini, tidak menyangka ia punya hati yang baik jauh dari yang aku pikirkan selama ini.


Ia memberikan tangannya untuk aku jadikan bantal, dan  posisi tubuh kekarnya kupeluk dan  kujadikan tameng untuk melawan ketakutan dalam tubuhku.


Entah berapa lama kami tertidur.  Hujan sudah berhenti dan digantikan panas matahari yang terik dan memantul di jendela kamar Felix, dimana kami berdua tidur berpelukan.


Pantulan cahayanya menyilaukan mata,  aku melirik Jam sudah hampir jam 12. Ia masih tertidur dengan nafas teratur,


Untuk pertama kali aku  melihat wajahnya sedekat itu,  ternyata ia sangat tampan di balik sifatnya yang dingin. Mungkin karena selama ini aku sangat membencinya karena sifat sombongnya dan sifat dinginnya, aku tidak menyadari kalau ia sangat tampan dan pahatan wajahnya terlihat tegas dan keras  hidungnya  tidak terlalu mancung tapi pas untuk pahatan wajahnya


.


Saat aku lagi memandangi wajahnya disitulah ia membuka matanya, aku tertangkap basah lagi memandangi wajah tampannya  yang dingin itu,  ia menatapku,  mata kami saling menatap satu sama lain, Matanya masih merah layaknya orang baru bangun


“Aduh fai, tanganku mati Rasa, dan pegal ini,” katanya  kemudian,  kami berdua terduduk, Ia masih  merasakan sikut tangganya masih sakit karena terjatuh tadi


“Aku obatin iya” kataku


“Boleh, sakit bangat rasanya,” kata felix sedikit meringis membuatku  jadi tidak enak,


“Apa itu juga masih sakit ?” tanyaku memberi perhatian , tapi Felix malah menyuruhku bertanggung jawab.


JIka nanti dia tidak memberimu kepuasan jangan menyalahkanku karena kamu sudah menyakitinya kata,


Mungkin dipikirannya, Kami akan tetep menikah. Ia belum tahu kalau pernikahan kami sudah aku batalkan


“Maafkan aku sungguh aku tidak ingin menyakitimu itu karena aku benar benar sangat takut jika aku tadi tidak memelukmu, bisa- bisa aku yang mati, karena kejang-kejang dan mulutku akan mengeluarkan busa dan aku akan meronta-ronta seperti kesurupan dan akan merepotkanmu, makanya aku memilih jalan yang memalukan itu, Saya minta maaf semoga kamu tidak salah mengartikannya lagi,”  kataku jujur.Ia terdiam menyimak


“Itu artinya waktu yang di    Hotel itu waktu itu karena kamu takut juga?”


“Iya, aku mengalami penyakit ketakutan berlebihan,   pada banyak hal, Aku takut sepi, takut hujan, dan petir, takut rumah sakit dan ambulance, dan takut dokter dengan Jubah putihnya” ujar ku menjelaskan,


Ia menatapku dengan sedikit merasa bersalah, karena sudah mencurigai ku selama ini


“Kenapa kamu tidak memberitahukannya padaku sebelumnya”


“Sudah,tapi karena sudah salah paham padaku terlebih dahulu,   menuduhku macam- macam membuatku marah  dan membencimu ”

__ADS_1


Akhirnya,  ia tau apa yang selama ini aku alami, dan penyakit yang aku derita. Tapi aku belum memberitahukannya tentang pernikahan kami yang dibatalkan,


Mungkin itu membuatnya sedikit senang nantinya, karena ia tidak jadi menikahi ku,


Aku yang banyak menjelaskan padanya,  karena seperti biasa. Ia akan irit bicara dan lebih banyak mendengar, dari A sampai Z hanya aku yang terus berkoar- koar bagai burung beo, ia hanya mendengar  dan lebih banyak diam


Aku berpikir betapa kakunya lelaki ini,  bukan tipeku bangat,


“Maaf iya,kamu harus libur karena aku hari ini” kataku kemudian dengan tanganku membalut sikunya yang terkilir.


“Iya” Jawabnya singkat dan padat dan jelas.


“Apa kamu lapar aku akan memasak untuk kita.”


“Iya bole.”


“Tapi kamu harus menemaniku di dapur,iya” Aku menatapnya


“Aku tidak bisa masak faila”   dengan sikap dinginnya.


Aku baru sekali melihat ia tersenyum selama aku tinggal dirumahnya.  Ia tersenyum,  itupun  karena hanya pura pura dinikahan mantan pacarnya,


Aku ingin melihat ia tersenyum sekali saja, sebelum kami berpisah,


“ Tidak perlu bantu, kamu hanya menemaniku duduk disana , aku takut”  bujukku,


Dengan wajahnya yang sangat berat, ia mau menemaniku duduk di kursi itu, wajahnya tidak ada kesan senang, apalagi saat  bersamaku selalu dengan raut cemberut dan dengan dengan suasana hati yang tidak suka.


Ia duduk di dimeja makan,  tangannya memegang buku dan tangan kirinya kupakaikan kain dan kainnya melingkar di lehernya untuk menopang tangan yang terkilir.


Memakai selemek,  jari tangan diperetek. Ritualku sebelum mulai memasak dan rambut panjangku aku kugulung dan keatas agar tidak menggangu


Kadang pertanyaan besar untukku,  karena semua pria yang aku kenal hanya lelaki ini yang tidak menyukaiku,  dan tidak menunjukkan ketertarikan padaku sedikitpun dan kadang membuatku penasaran seperti apa sih tipe wanita yang ia sukai.


Hampir  1 jam bergulat di dapur,  aku sudah bisa memasak menu empat menu sekaligus,


Tidak lupa nasi goreng kesukaannya,  pada hal sudah siang hari harusnya tidak cocok tapi ia melahapnya dengan senang.

__ADS_1


Tidak ada pujian,  tidak ada obrolan.  Aku tidak menyukai situasi itu,  tapi aku menjaga keinginannya,  yang tidak suka berisik dan  Dia lebih suka suasana hening seperti kuburan. Bertolak belakang dengan keadaanku dan sifat, aku suka suasana berisik dan tempat rame,


Baiklah ini waktunya,  kataku dalam hati dan  mengalah.


__ADS_2