
“ Tapi Pestanya belum selesaikan ?” Kata Mohan seolah tidak ingin aku bertemu dengan Tari.
“Tunggu Fai. Aku ingin bicara hal penting denganmu, tunggu acaranya selesai,” kata Mohan berharap
“Maaf Mohan. Tapi Tari sudah disini,’ kataku wajahnya berubah langsung pucat pasi.
“Sejak kapan ?,” kata Mohan panik
“Baru” kataku
“Ayo kita bicara sebentar Fai “ bujuk Mohan sedikit memaksa
Aku juga ingin tahu, spekulasi apa yang ingin Mohan katakan padaku. Aku ijin sebentar pada kakek.
“Fai “ apa kamu sudah bicara pada Tari?” Tanya Mohan
“Belum bicara banyak ,ini kita ingin mengobrol banyak, maka itu ingin bertemu “ kataku pada Mohan.
Mohan membawaku kesatu ruangan . Di pojok Hotel wajahnya serius menatapku, aku sengaja menelepon Tari dan membiarkan ponselnya menyala di pangkuanku, aku, dan aku tutupi dengan sapu tangan kecil milikku, aku ingin tari mendengar sendiri, apa yang ingin Mohan ceritakan
“Fai, boleh aku jujur padamu?” Ia bertanya dengan wajah serius
“Iya bicaralah “ kataku memberinya ruang dan siap siap menjadi pendengar baik.
“Aku menyukaimu” kata Mohan dengan mata menatap sangat dalam
“Benarkah?” sejak kapan kamu ,menyukaiku?,” aku tanya lagi,
“Sebenarnya sudah lama Fai, sejak kita pertama kali di Kampus, “kata Mohan memberi pengakuan tentang perasaanya,
Aku masih membiarkan ponselku menyala dan sepertinya Tari mendengar semuanya. Jadi aku tidak perlu capek –capek menjelaskan lagi pada Tari nanti,
“Benarkah,apa kamu tidak memiliki wanita lain ?” aku bertanya lagi
“Tidak Fai, tapi itulah yang aku ingin bicarakan padamu,” kata Mohan .
Apa itu ?” Aku bertanya lagi,
“Sebenarnya aku dan Tari sudah melakukan satu kesalahan. Karena sudah tidur bersama,tapi aku tidak memiliki perasaan sedikitpun pada Tari “ katanya gampang sekali mulutnya bicara seperti itu bisikku
Hatiku rasanya sangat panas dan Marah mendengar pengakuannya
“Terus bagaimana dengan Tiara , apa kamu menidurinya juga?”
Ia diam, dan wajahnya kaget karena aku tentang hubungannya dengan Tiara . Ia memikirkan jawabannya
“Iya” jawabnya kemudian, Tapi Tiara jangan dipikirkan, Ia tidak masalah.
__ADS_1
“Aku minta maaf Fai, aku hanya mengutarakan perasaan,” ku katanya.
“Baiklah, terus apa yang ingin kau inginkan dariku sekarang ?,” kataku sedikit terbawa emosi
“Aku ingin memulai hubungan dengan kamu Fai,” kata Mohan, ingin rasanya aku meninju mulutnya.
Tapi aku mencoba memikirkan rencana pembalasanku padanya. Mencoba mendinginkan kepalaku kembali.
“Baiklah aku akan memikirkannya dulu “ kataku kemudian dan meninggalkannya.
Acara pertemuannya akhirnya selesai juga. Aku langsung pamit sama kakek.
Tari sudah menunggu disalah satu kursi ruang tunggu dekat lobby Hotel . wajah tersenyum ,walau aku tahu itu semua di paksakan.
“Uda lama Tar turunnya ?”
“Baru” pas kamu yang menelepon tadi,” katanya sedikit tersipu.
“Jadi udah paham’ kan sayang? orang seperti apa ia, jadi jangan di harapkan lagi’ iya,” kataku.
Karena aku tahu . Tari masih mengharapkan Mohan. Ia berpikir kalau lelaki itu setidaknya meminta maaf padanya ,karena sudah merusaknya dan meninggalkannya
Tari masih terlalu Naif menurutku, mana ada lelaki yang meminta maaf pada sesuatu yang begitu enak ,mereka sama- sama menikmati , apa lagi dalam ceritanya Tarilah yang merayunya duluan.
“Tidak apa –apa Fai “ terus apa yang ingin kamu lakukan padanya , kata Tari penasaran.
“Fai’ jangan jadikan perasaan orang lain jadi mainan, baik hanya sekedar balas dendam,’kata Tari
“Lah… ? Kok kamu membela dia lagi,” kataku sewot. “Kamu tidak suka, aku balas perbuatannya?”
“Kamu bukan hakim Faila” biarkan Ia mendapat hukumannya dari yang patut memberi hukuman “kata Tari sangat bijak.
Akhirnya Niatku untuk membalas perbuatan Mohan tidak jadi dilakukan karena. Tari tidak setuju,
**
~Kriiiing ~Kriiiing~
Telpon dari Mohan, sepertinya ia punya firasat saat kami lagi membahas tentang Dirinya. Ia menelpon.
“Halo”
“Fai apa kamu sudah memikirkannya?” Tanya Mohan di ujung telepon. Waktu sudah menunjukkan Jam 01:00 pagi suara Mohan terdengar tidak jelas, sepertinya ia mabuk dan masih berada club. Karena dentuman musik ala DJ itu masih terdengar sangat jelas di telinga.
“Mohan kamu lagi mabuk ?” aku bertanya menahan amarah berani –beraninya, ia menganggu orang lagi Tidur, hanya dengan hal yang tidak penting.
“Tidak Fai, aku baik baik saja, apa kamu sudah memikirkannya?” Ia Bertanya lagi, menjawab pertanyaan dari orang mabuk itu, sama saja membuang –buang waktuku.
__ADS_1
Aku mematikan teleponnya dan mencoba untuk tidur kembali. Karena sudah terganggu. Aku kembali menutup mata tapi sepertinya tidak mau diajak tidur lagi . Aku mencoba keluar kamar mencari udara luar, agar bisa tidur kembali.
Entah kenapa kaki mengajakku untuk turun. Suasana Hotel mulai sepi .
Aku berniat mencari makanan di dekat Hotel , karena mungkin efek lapar juga. Acara makan dengan rekan bisnis kakek tidak mengenyangkan, karena kesannya hanya mencicipi saja. Begitu banyak makanan itu terbuang sia-sia tadi.
Mungkin Nasi goreng sekitar sini masih ada pikirku.
Karena biasa abang –abang tukang Nasi goreng nongkrongnya sampai pagi. Oh tapi sayang aku tidak menemukan seperti yang aku inginkan.
Perut semakin keroncongan. Aku berpikir akan memasak sesuatu yang diinginkan Di Restoran Hotel.
Baru masuk ke dapur, tapi suara krusuk- krusuk dari arah dapur mengalihkan perhatianku.
Tadinya aku pikir kucing yang mengotak atik tempat sampah dekat dapur Restauran .
Tapi tidak, aku melihat ada tiga orang laki-laki yang sedang bergegas di arah penyimpanan bahan makanan Restoran di Hotel.
Apa yang mereka lakukan jam segini pikirku,mulai merasa tidak tenang, Aku mencoba mengeluarkan Ponselku dan merekam ketiga orang tersebut. Salah satunya yang kalah membuatku begitu terkejut . Ia seorang kepala Koki di restoran kakekku.
Dua lainya petugas waiters restoran. Aku saja hampir tertangkap basah . tiba –tiba Tari meneleponku mungkin, Ia terbangun, aku tidak ada disana. Untung sebelum merekamnya aku sudah mengecilkan suaranya
“Dari mana si Fai, aku takut tau gak,” kata tari dengan wajah cemasnya yang mengemaskan.
“Dari bawah cari Nasi goreng, tapi tidak ada lagi uda pada habis” kataku.
“Kenapa panggilanku di matiin beberapa kali tadi,?”
“Takut membangunkan orang lain,” kataku mencari alasan
“Tar ” bagaimana kalau kita bekerja mulai besok,”kataku tiba-tiba
“Wah ada denganmu ?” kata Tari kaget dengan ideku. Bukannya kamu bilang ingin mencari posisi yang tepat untuk kita kata Tari
“Aku sudah tau posisi yang tepat saat ini untuk kita”
“Kita bekerja bagian dapur”
“Apa ?” kata kakek jangan menganggu bagian inti dari restauran itu
“Kita tukang makan, agar kita bisa memakan apa yang ingin kita makan juga,” ucapku meyakinkannya. “Lebih dekat dengan kamar kita kan,”dengan satu alis diangkat tanda curiga Tari menunduk setuju.
“Baiklah,keputusan ada ditanganmu,” kata Tari menurut saj
baca juga ceritaku yang lain, jangan lupa kasih bintang dan komentar iya kakak.
Follow IG @sonatha-nata
__ADS_1