Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Di buat pingsan


__ADS_3

Dalam situasi ini, aku berharap Frans memang harus mengerti apa yang aku bicarakan dan aku akan bicara pada Kak Hendro tentang kebenaran semuanya.


Hampir satu minggu Arden dirumah sakit . Frans mengerti apa yang aku katakan. Ia tidak datang, maupun menelepon itu sangat tepat kak Hendra tidak mengungkit-ungkit hal itu lebih selama Ia tidak muncul


Kini tinggal menjelaskan semuanya padanya, tentang semua yang terjadi termasuk ingatanku, yang sudah pulih dan sudah mengingat semuanya.


Memikirkannya membuatku merasa sesak. Membayangkan reaksi kakakku mengetahui Frans masih suamiku.


Oh akan ada Badai ini sepertinya, gumanku


Tapi menjadi rumah tangga yang utuh , impian semua orang, termasuk aku, mencoba melupakan masa lalu dan menerima kenyataan kalau aku masih istri dari Frans,


Membesarkan sikembar bersama itu impianku. Frans sudah menceritakan semuanya akhirnya bagaimana Ia menjalani kehidupan selepas aku meninggalkannya. Ia bertahan menunggu selama 4 tahun . Ia yakin pada hatinya,


Ia membiarkanku pergi karena tidak ingin melihatku bersedih melihatnya sakit . terlebih saat itu maminya tidak menyukainya dan Adella masih sering memfitnahku, membiarkanku, pergi jalan yang terbaik menurutnya waktu itu, walau banyak hal yang disesali Frans.


Ketika aku pergi saat itu. Aku juga baru tau Papinya Frans tidak main-main dengan ancamannya dengan Frans. Ia pergi dari rumah dan membeli rumah sendiri. Jadi sejak saat itu Papinya Frans berpisah dari maminya . Walau belum sah untuk bercerai. Tapi mereka memiliki dua rumah sampai saat ini. Artinya mereka mengalami masalah rumah tangga setelah kepergianku, Itu sangat menyakitkan berpisah setelah menjalani rumah tangga begitu lama,


Minggu pagi yang cerah. Sinar matahari menembus tirai kamarku , seolah ikut berdercak marah membagunkanku dengan panas teriknya yang menembus kulit ,walau aku sudah menutup kepalaku dengan Bantal . Tapi tetap saja silaunya menggangguku. Aku menyeret langkahku dengan malasnya, menuju kamar mandi.


Dikamar mandi, aku hanya membasuh wajahku dengan hanya beberapa kali usapan air membasuhnya, hingga di pastikan tidak ada yang menempel diarea mataku.


Berjalan lunglai menyusuri lantai bawah , dengan masih memakai piyama tidur yang aku pakai.


“Frans? Apa-apa yang kamu lakukan sepagi ini kesini aku tergagap bercampur panik,


Wajahku terasa terbakar, Ia mengacaukan semua rencanaku ketika aku berusaha bagaimana, agar kakak tidak marah dan dapat menerima semua alasan yang aku ingin berikan. Frans datang dengan pendiriannya.


Aku berdiri mematung merasa lantai aku pijak sebuah kaca yang bisa retak ketika aku melangkah. Itulah situasi yang tepat menggambarkan situasi saat ini. Aku tidak ingin membela Frans dan aku tidak ingin membela kakak Hendro juga. Aku menatap tajam pada Frans. Rasa kecewa yang amat padanya saat ini.


Kenapa sulit mempercayaiku sekali saja Frans? Aku membatin mengusap ketir airmata yang mengalir deras dari pipiku.


Saat aku berjuang mengumpulkan , lempengan hatiku, yang sempat hilang ketika kamu memilih menyimpan sendiri tentang sakitmu. Tapi setelah aku tau semua kebenaran, aku ingin mencoba merangkai serpihan itu, demi si kembar yang akan alasan kuat kenapa kita harus bersama,


“Sekarang kamu datang dengan egomu, menghancurkan semua yang aku susun.” Siala*n kamu Frans” aku memakinya dalam hatiku dengan Frans

__ADS_1


“Duduklah Fai! katakana semua apa yang terjadi , suara itu bukti bahwa yang punya suara dalam posisi tidak suka,


Aku menurut duduk , merasa bersalah terlebih pada kakakku yang sudah membohonginya tentang ingatanku, yang sudah pulih. Entah bagaimana aku menatap wajah itu nantinya,


Itulah yang ada dalam pikiranku


“Maafkan aku kakak! Aku membuatmu kecewa. Sebenarnya aku ingin menceritakan semuanya pada kakak .Aku menunduk dengan sangat lemah, tidak sanggup melihat wajah kakakku yang akan kecewa nantinya.


“Tidak usah Fai, kenapa Harus minta maaf itukan pekerjaanmu aku tidak mau ikut campur,” ucap Kakak Hendro


“Ha…”


Aku mendongak seketika menatap wajah kak Hendro bergantian dengan Frans . Aku berpikir keras ,ini membahas apa sebenarnya, aku menatap Frans yang ikut menatapku dengan satu alis matanya ikut naik.


“Kamu mengajak perusaan Frans bekerja sama membuat desain gambar pembagunan restauran yang di Balikan?” tanya kakak Hendra, padahal jantungku sudah mau hampir melompat, tangan ku saja sampai dingin.


“Aaah, oh iya” kataku kaget.


Aku menjawabnya dengan setengah budeng, karen aku sama Frans tidak melakukan kerja sama itu, karena Ia memutuskan meninggalkan Bali saat itu.


Jantungku masi h belum stabil , Aku mengajak Frans duduk di taman belakang


Aku masih memegang jantungku detaknya masih belum juga normal,berkali-kali melakukan ritual tarik nafas dan buang keudara, bahkan mataku masih lembab karena aksiku yang menangis tadi,


Piuuuuh…


Frans menatapku dengan sorot mata coklatnya yang teduh.entah apa yang Ia pikirkan dengan dengan tatapan itu, aku masih berdiri mengeluarkan rasa-sesak dari dada, jika terus-terus main kucing-kucingan seperti ini , aku bisa jatuh pingsan.


Tapi Frans, ia sangat tampan pagi ini, memakai kaos di padukan dengan celana jeans . tersenyum sangat manis, sangat SEKSI pagi ini, Ia mengunyah permen karet dengan tangan terlipat di dada mata memincing menatapku


“Berhenti menatapku, seperi itu Frans, aku belum merasa stabil, karena kelakuanmu pagi ini” kataku


“Aku hanya berpikir, aku harus memulai dari mana Fai?” ucap Frans


“Apanya? Apa yang kamu mulai, jangan lakukan apa-apa yang kalau itu membuatku terkena serangan jantung” kataku mengangkat satu kakiku kebelakang melakukan olahraga kecil

__ADS_1


“Apa, aku harus mendapatkan hati emak dulu, apa hati Anaknya?”


“OH. kamu sangat perhatian sekali Tuan Frans Devan Tentu hati mamanya dulu baru dekati anak-anakku” ia anak-anakku jangan lupakan itu, kataku


“Kamu sangat cantik Fai” ucap Frans.


Aku menatap kaget padanya, ketika Ia memujiku dengan pakain baju tidur motif kupu-kupu, tanpa polesan makeup.


“Apa kamu salah minum obat? Apa kepalamu terbentur tembok? Frans yang aku kenal tidak pernah memujiku, kamu tidak pernah mengatakan itu Frans, pertahankan sikapmu itu”


Ia tersenyum dengan satu kedipan mata diberikan padaku.


“Kamu merayuku Frans?” tanyaku, aku mendengus kesal, lebih mirip seperti endusan seekor kuda,


“Hal yang dulu belum aku lalukan padamu , ingin aku lakukan,’ kata Frans. Wajahnya yang rupawan menatapku serius, sepertinya Frans ingin memulai sesuatu yang baru, untukku walau aku tidak menginginkannya, aku bukan Faila yang dulu, Faila yang mengejarnya seperti peliharaan.


“Itu tidak perlu Frans , aku hanya ingin bagaimana mengatakan pada kakak tentang diriku dan hubungan kita saat ini”


“Itu gampang Fai” kalau hanya itu yang kamu mau” kata Frans terlihat sangat santai, aku berpikir entah apa yang ia rencanakan.


“Gampang?” tanyaku penasaran.


“Kamu mau melakukannya? Kamu hanya menuruti apa yang aku perintahkan” ucap Frans kali ini wajahnya menatapku dengan serius.


Aku duduk mendengarkan rencana Frans.


“Nanti aku akan membuatmu pingsan kamu bilang kalau kamu berusaha mengingatku dan berhasil, itu jalan agar kamu bisa lepas dari dusta kamu dan bisa memulai hal yang baru”


“Gila…mang segampang itu”


“Kamu harus melakukan , langkah kecil dulu demi langkah yang besar” ucap Frans.


Ia menoleh kanan kiri dengan satu sentuhan yang begitu cepat di belakang leherku, tiba-tiba membuatku terasa mati rasa. Tidak merasakan apa –apa aku pingsan


Ia benar melakukanya, Iya ampun Frans apa yang kamu lakukan, aku belum bilang setuju. Ia sudah melakukanya. Ada apa dengan otakmu pagi ini bisikku dalam hati, hingga benar benar gelap.

__ADS_1


Ia melakukan tehnik jurus totok di bagian saraf belakangku membuatku pingsan. Seperti jurus- jurus kungfu China diflim aksi yang sering di telivisi.


Frans selain jago basket, Ia juga kerap ikut latihan bela diri. Tapi aku tidak berharap mendapatkan ini darinya. Ia melakukanya padaku.


__ADS_2