Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Pantai asuhan masa kecilku


__ADS_3

“Turun dimana Neng?”  tanya pak sopir sepertinya harus melapor dulu letak penurunannya,


“Sesuai titik pak,” jawabku tanpa mikir dulu mungkin karena keseringan naik kendaraan online di Ibukota


“Maaf neng baru dengar itu dimana itu?” Tanya si bapak yang sudah mulai Tua


Ada orang anak muda yang naek bersamaku tertawa,


“Ini angkot mba bukan Grab,” celetuk mereka,


Iya ampun turun dimana aku bingung juga. “Turun dimana aja pak” jawabku asal


“Iya si Nengnya mau kemana,” tanya sibapak


“Panti asuhan Kasih Ibu, masih jauh gak pak?,” tanyaku pada sibapak hanya itu yang terlintas,


“Nanti sekali naik angkot aja Neng di depan,” kata sibapak dengan Ramah.


Maka kuputuskan ketempat itu dimana aku dulu ditinggalkan kakekku. Tempat yang mengerikan sebenarnya untukku, tempat dimana aku mengalami banyak penderitaan, bahkan tidak ada niatku sekalipun akan mampir lagi ketempat itu.


Tapi karena tidak adalagi tempat yang bisa aku datangi,mau tidak mau masa lalu itu akan teringat lagi dalam batinku,


Dan mungkin akan membuatku merasa sesak Nafas,


Aku mengikuti anjuran si Bapak, turun di bahu jalan dekat perapatan,


“Itu neng mobilnya, yang berwarna Biru 03 naik saja,” pinta bapak yang baik hati itu.


Tidak lupa aku sangat berterimakasih  sama si bapak yang baik hati, tidak masalah


“Nanti bilang turun di Jalan Nangka jalan kaki sebentar,sudah sampai ke Panti asuhan Kasih Ibu, kata si Bapak menjelaskan,


“Baik Pak, terimakasih,” kataku sama si Bapak supir yang baik itu.


Akhirnya kakiku sampai di dekat Panti, setelah mobil berwarna biru menurunkanku di titik yang kusebutkan sama bapak supirnya,


Aku berdiri menatap sekeliling, sekilas dan mungkin samar- samar, aku pernah melewati tempat itu,


Jala kaki menyusuri jalanan setapak, jalanan agak menanjak Rumah panti Kasih ibu masih berdiri kokoh di tengah hamparan sawah,


Ingatan itu kembali lagi ,anak kecil umur 7 tahun yang dibuang.  Kakekku ke Panti asuhan ini

__ADS_1


Saat itu ada satu penjaga Panti asuhan seorang Ibu yang memperlakukanku sangat buruk, mungkin karena aku terlalu cengeng dari anak anak panti lainnya,


Penyiksaan kerap terjadi,  padaku saat itu, dikurung di gudang, dan disuruh cuci baju semua anak-anak Panti, karena kerap menangis memanggil kakekku, beberapa kali pernah diikat di Gudang dan disiram air dingin.


Memandang dari jauh, membuatku merinding dan Ragu akan melangkah untuk kesana. Bagiku itu Bukan panti asuhan, tepatnya dibilang Panti Penyiksaan.


Semoga anak-anak yang ada disana tidak mengalami apa yang pernah  aku alami, aku membatin


Saat ini aku belum siap untuk kesana, padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi. Tapi la hatiku belum mampu untuk bertemu lagi dengan luka dimasa laluku.


Mungkin suatu saat aku akan datang dan mungkin akan membawa sesuatu untuk mereka aku bagi-bagikan untuk anak-anak kurang beruntung itu. Aku melangkah  mundur sikapku terlihat ragu-ragu antara ingin pergi atau tidak.


Langkahku mundur, sepertinya sikap ragu-ragu yang aku lakukan, menyita perhatian bapak yang melintas


“Kenapa Neng? mau kemana biar bapak antar.”


“Saya mau kepanti pak, tapi saya takut dan belum siap,”


“Kenapa belum siap, hayoo atuh neng sibapak juga mau kesanan,” kata sibapak logat sunda.


“Saya juga mantan dari  sini pak, dulu penjaganya jahat, jadi aku takut lagi kesana”


“Sekarang sudah gak Neng, Penjaga mah teh sudah baik –baik semua karena sudah ganti pengurus pantinya,”


Benar saja Panti itu sudah banyak berbeda,bukan lagi seperti, ruang penyekapan, dinding papanya yang dulu kini sudah di ganti jadi dinding permanen


Dan ada Mesjid kecil disisi Panti dan suasananya makin rapih dan indah.


Masuk non silahkan kata bapak penjaga yang sepertinya sudah Tua,


Kemana si Ibu yang dulu sering menyiksaku apa ia mungkin sudah mati bisikku dalam hati,


Tidak ada yang terjadi padaku, mungkin karena Pantinya sudah beda dan pemiliknya juga berbeda,


Setelah ngobrol lama dan cerita banyak tujuan kedatanganku Si bapak dan Ibu pengurus  Panti memperbolehkan ku tinggal dan menginap disana,


Tidak kusiakan-siakan bakat yang kumiliki sebagai Koki, ada 20 puluhan anak, penghuni panti asuhan dari segala Umur,


“Kita akan memasak”kakak seorang Koki”  aku  ngaku-ngaku.


Padahal tidak. Hanya sebatas Hoby dan keinginan yang belum tercapai, Kualitasnya jadi seorang Koki  mah belum ada. Tapi yang pasti, pintar dan bisa dalam hal masak memasak,

__ADS_1


Melihat mereka bergembira menikmati makanan yang kubuatkan,membuatku iri pada mereka,


Iri karena masa kecil mereka dapat mereka nikmati dengan kegembiraan, beruntung dijaman mereka pemilik Panti sudah ganti


Aku betah berada disana, sudah hampir dua hari aku habiskan waktu bersama anak anak yang malang itu.


Mereka anak anak yang kurang beruntung sama seperti diriku dan ibu pengurus Pantai juga senang, denganku karena kau mengantikan perannya menjadi koki


Hari kedua, lagi asik bermain dengan anak anak, Mobil hitam berhenti, bagi anak anak itu sebuah anugrah dan kadang sebagai ketakutan bagi anak yang lain,


Mungkin salah satu teman mereka akan dibawa untuk diadopsi kelurga lain.


Tapi mobil kali ini, anak- anak malah berlari untuk menghampiri “Kakak!”


Pandanganku teralihkan tertuju pada sesosok yang membuatku  ingin mati berdiri, Felix manusia bertampang jutek itu datang membawa bingkisan pada anak- anak, bukan hanya itu ternyata Rio juga ada disana,


Mereka berdua mengunjungi anak- anak memang selalu Rutin dilakukan keduanya, jika ada libur mereka datang berkunjung kata si Bapak penjaga Panti.


Aku ingin berlari, menghindar, tapi sudah Terlambat, Rio sudah keburu melihatku


“Faila” Keduanya menatapku dan salah satu dari mereka dengan tatapan seakan ingin menelanku hidup-hidup dengan mata Sapirnya yang menyala.


Iya Felix menatapku dengan tatapan ganas. Mungkin karena aksi kaburku dan telah membohonginya dua hari kemarin,


“Jadi kamu kabur kesini,”katanya kemudian, baru kali ini aku takut melihat mata seseorang yang memandangku, seperti hewan buruan


“Iya,” jawabku menunduk sedikit takut karena merasa bersalah,


” Kamu tau aku disalahkan karena kelakuanmu,” kata Felix dengan wajah marah.


Tapi beda dengan Rio yang kali yang memperlakukanku dengan sangat manis bahkan sangat romantis.


“Ya ampun Fai, ada apa sih dengan kamu, kenapa kabur-kaburan”  kata Rio dengan senyumnya yang mengemaskan.


“Kita semua  panik keluargamu juga, tante Mira juga,” kata Rio dengan lembut


Tapi tiba- tiba Felix mengeluarkan Ponselnya ingin menelpon seseorang mungkin Kakekku tapi tanganku dengan cekatan menangkap tangannya agar tidak menelpon keluargaku,


“Apa yang kamu lakukan  di sini?” Tanya Felix yang melihat tingkah takutku memegang tangannya


“Jagan menelpon, aku mohon” kataku degan wajah memelas,

__ADS_1


Padahal aku pergi dari  Jakarta agar aku bisa menenangkan pikiran sekalian ziarah ke makam kedua orang tuaku,  tapi tiba di Malang seakan di teror makhluk yang lebih menjengkelkan.


Ia lelaki sombong sepertinya sangat membenciku, mulutnya pedas setiap kali bicara,


__ADS_2