
Satu keluarga itu gantian menatapku dengan tatapan menyelidiki.
“Mau kemana …Fai?”
“Eh .. . itu anu, aku mau kuliah, Mi,” aku gugup karena tertangkap basah tanpa persiapan tidak menyiapkan jawaban atas kejadian malam itu.
“Ini kan Sabtu, Fai,” kata Papi lebih menyelidiki lagi.
“Oh iya..he..he..maksudku mau mengerjai tugas kuliah lagi Mi,” kataku, manggut- mangut kayak orang bego dan badan di putar- putar
“Kamu sekarang mau kemana?” Tanya mami lagi.
Para lelaki tampan itu belum mengalihkan matanya dariku. Ingin rasanya aku menghilang saat itu juga.
“Mau ke rumah teman Mi,” jawabku, makin terpojok dengan berbagai pertanyaan.
“Sepagi ini ? Ini baru jam enam kak Fai,” Arjun ikut-ikutan menyidang ku juga, “Penampilan kakak beda bangat hari ini,” timpalnya lagi dan kali pandangan mereka serentak menyapaku lebih dalam lagi. Frans menatapku dengan tatapan dingin
“Iya beda, sedikit terbuka,” kata Papi melihatnya dengan mata mengit.
Aku mengumpat dan mengutuki Tari beberapa kali, dia yang menantang diriku memakai pakaiannya yang dia berikan untuk aku pakai hari ini
Baju berwarna merah mudah atau warna pink bertali satu memperlihatkan pundakku dan leherku, aku melihat sosok Faila yang berbeda pagi itu.
Rambutku yang panjang dan baru pertama kali ini aku membiarkan rambutku di gerai panjang lurus hanya di jepit bagian tengah nya, celana sumpit yang cocok dengan baju yang ku pakai sedikit memperlihatkan lekuk tubuhku, walau gak nyaman, karena ga biasa dan baru pertama coba, karena Tari aku terpaksa.
Mami tidak suka dengan pakaianku tidak suka aku pergi, ia berpikir, seolah-olah diri ini, akan lari dari rumah itu,
“Fai sini donk duduk, kita serapan dulu,” ujar mami melangkah ke dapur.
“Tapi kami uda ada janji mi, pagi ini,” jawabku
“Tapi aku, kan bisa mengantarmu sayang, tidak usah orang lain sama Mami saja perginya,” ucapnya lagi.
“Aku juga bisa mengantar kak Faila, kemana saja.” bontot sedikit bersikap menggoda ia melirik kakaknya. Frans terlihat acuh berdiri di sisi sofa tangannya memegang botol minuman mineral, matanya melihat kearah luar dari jendela kaca.
Tiba - tiba tanpa rencana bang Niko datang , tidak biasa hari ini gayanya sangat berbeda dari biasanya. Aku mundur karena terkejut ,karena kami tidak ada rencana untuk ketemuan hari ini.
Wajah Mami berubah suram melihat bang Niko datang dan bukan hanya mami yang tidak menyukai kehadiran dia.
Frans terlihat tidak suka juga, tidak tau apa pastinya yang terjadi pada kedua sahabat itu, kini mereka berdua tidak saling bertegur sapa.
“Jadi kamu, Niko yang mau ngajak Faila jalan?”Tanya mami tanpa basa basi
__ADS_1
“Iya tante, kami udah janjian tadi malam.”
Mataku seolah memutar memberi kode, agar jangan membahasnya dan bang Niko melihatnya dan mengerti.
“Tugas kuliah Faila belum rampung tante, kebetulan ada saudara di daerah Senen yang kita bisa dapatkan bahannya, jadi saya ingin membawanya ke sana,” kata bang Niko.
Frans , tidak bicara ia bersikap bodo amat dan tidak perduli, ia memainkan botol mineral di tangannya.
“Saya bisa antar dia kasih saja alamat saudara kamu, saya akan antar di kesana.” Mami Frans ingin mengantarku, karena ia tidak suka melihatku dengan bang Niko.
“Mami kami berangkat rame-rame, ada Tari juga di sana, kami berangkat satu kelompok,” kataku.
“Apa Niko satu kelompok juga?” Tanya Mami, menatap lelaki yang bertubuh tinggi itu dengan tatapan tidak ramah.
“Aku yang minta tolong padanya Mi,” jawabku dengan suara pelan.
“Baiklah pergilah…,” kata Mami terdengar ketus, mami pergi ke dapur meninggalkan kami di ruangan depan.
Aku tidak ingin lama- lama dalam situasi tidak mengenakkan ini, aku buru - buru bangkit mengajak bang NIko pergi
“Aku permisi Om,” kata bang Niko
“Baiklah, jangan malam- malam, iya Fai,” pesan Papi melirik sinis pada Frans
Di luar aku menggerutu pada diri sendiri sebelum menaiki motor gede milik bang Niko
“Kenapa Fai?” Niko menatapku.
“Tari sialan, Ia memaksaku memakai baju sialan ini,” kataku menunjuk baju model terbuka itu
Bang Niko tertawa lebar, tangannya memberiku helem, bang Niko baik bangat ia juga membuka jaket motornya memberikannya padaku.
“Pakai ini saja, kalau kamu tidak pede,” katanya perhatian, “ Sepertinya kamu gak nyaman dengan bajumu, kataku cantik, memang cantik,” kata bang Niko.
Dapat pujian dari bang Niko membuatku malu, sepertinya keluarga itu melihat kami dari rumah dari balik kaca jendela yang menerawang ke luar ruangan.
Mungkin keluarga Frans berpikir aku mencari pelarian karena tidak mendapatkan Frans. Sesungguhnya bukan itu yang terjadi.
*
Saat duduk dengan Tari dan yang lain, ponselku berdering.
“Fai pulang sekarang iya”
__ADS_1
“Kenapa Mi?”
“Kakekmu datang”
Aku terdiam ada perasaan tidak enak setiap kali orang tua itu datang.
“Baiklah Mi,” ucapku menarik napas.
Bang Niko kembali mengantarku ke rumah Frans.
Diruang tamu ada kakek dan dan Frans, Arjun kak Dion dan tanpa sengaja kak Regi datang bareng kakek dari malang,
Aku mendengar sedikit dari balik tembok mereka sedang membahasku,
“Maaf kan Frans kek aku tidak bermaksud menyinggung Faila pada saat itu” saya hanya emosi saat itu kata Frans.
“Tidak apa apa Frans, faila’ perlu di kasih sedikit pelajaran juga, kakek juga tidak suka jika ada seorang gadis yang mengekori terus menerus seperti itu, sangat menganggu,” ucap kakek walau dia berkata seperti itu, aku tahu orang tua itu juga pasti sangat sedih cucu yang dia sayangi di hina apa lagi bawa- bawa anaknya yang sudah meninggal.
“Maaf kan saya Om, saya sebenarnya yang salah ,” kata Maminya Frans.
“Ini bukan masalah ia mengekoriku kek, ini tentang pekerjaanku, harusnya aku bertanya dulu , tapi saat itu aku sudah terlanjur terbawa emosi karena kerja kerasku hilang begitu saja, itu membuatku emosi.” Frans mengaku salah.
“Gak apa Frans dia tidak akan menganggu mu lagi, aku yakin tidak akan mengekorimu lagi, kamu akan terbebas darinya mulai sekarang,” kata kakek terdengar yakin, ia tersenyum kecil.
“Kenapa Kek?” tanya mereka serentak dan wajah penasaran.
“Aku uda bilang padamu waktu itu, kalau kamu terganggu dengan sikap Faila kamu tinggal singgung ibunya itulah kelemahan Faila. Sekarang kamu mengunakan kartu itu baguslah jadi tidak usah, pikirkan dia … kakek yakinlah ia pergi,” kata kakek
“Tidak Kek, aku tidak sedikitpun niat bawa bawa ibunya, itu spontan karena marah saja,” ujar Frans suaranya bergetar merasa bersalah.
“Apa? kamu sudah tau kelemahan Faila. tapi dan kamu melakukannya juga, kamu orang yang kejam ,” ujar mami Frans.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi