Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Berubah penampilan


__ADS_3

Satu  keluarga  itu  gantian  menatapku  dengan  tatapan menyelidiki.


“Mau  kemana …Fai?”


“Eh .. . itu anu,  aku  mau  kuliah, Mi,” aku  gugup  karena  tertangkap  basah  tanpa  persiapan tidak menyiapkan jawaban atas kejadian malam itu.


“Ini  kan Sabtu,  Fai,”  kata Papi lebih  menyelidiki   lagi.


“Oh  iya..he..he..maksudku  mau  mengerjai  tugas  kuliah  lagi Mi,” kataku, manggut-  mangut  kayak orang  bego  dan  badan  di  putar-  putar


“Kamu  sekarang  mau  kemana?”  Tanya  mami  lagi.


Para lelaki tampan itu belum mengalihkan matanya dariku. Ingin rasanya aku menghilang saat itu juga.


“Mau ke rumah  teman  Mi,” jawabku,  makin  terpojok  dengan berbagai  pertanyaan.


“Sepagi  ini ?  Ini  baru  jam enam  kak  Fai,” Arjun ikut-ikutan menyidang ku  juga, “Penampilan kakak  beda  bangat  hari  ini,”  timpalnya  lagi  dan  kali pandangan  mereka  serentak  menyapaku  lebih dalam lagi. Frans menatapku dengan tatapan dingin


“Iya beda, sedikit terbuka,” kata Papi melihatnya dengan mata mengit.


Aku  mengumpat  dan mengutuki Tari beberapa  kali,  dia yang  menantang  diriku  memakai  pakaiannya  yang dia  berikan untuk  aku  pakai  hari ini


Baju  berwarna merah mudah  atau warna  pink  bertali  satu  memperlihatkan pundakku  dan leherku, aku  melihat  sosok  Faila  yang  berbeda   pagi  itu.


Rambutku  yang  panjang  dan  baru  pertama  kali  ini  aku  membiarkan  rambutku  di gerai  panjang  lurus hanya  di  jepit  bagian  tengah nya, celana  sumpit  yang  cocok  dengan  baju yang  ku pakai  sedikit  memperlihatkan  lekuk  tubuhku, walau  gak  nyaman,    karena  ga  biasa dan baru  pertama  coba, karena Tari aku terpaksa.


Mami tidak suka dengan pakaianku tidak suka aku pergi,  ia berpikir, seolah-olah diri ini, akan lari  dari rumah  itu,


  “Fai  sini  donk  duduk,  kita serapan  dulu,” ujar  mami melangkah ke dapur.


“Tapi  kami uda  ada  janji mi, pagi  ini,” jawabku


  “Tapi  aku, kan bisa  mengantarmu sayang, tidak usah orang lain sama Mami saja perginya,” ucapnya lagi.


“Aku  juga  bisa  mengantar  kak Faila,  kemana saja.”  bontot  sedikit bersikap  menggoda ia  melirik kakaknya. Frans  terlihat  acuh berdiri  di  sisi  sofa tangannya memegang  botol minuman mineral, matanya melihat kearah luar dari jendela kaca.


Tiba -  tiba  tanpa rencana   bang  Niko datang , tidak biasa hari ini gayanya sangat berbeda dari biasanya. Aku  mundur karena terkejut ,karena kami tidak ada rencana untuk ketemuan hari ini.


Wajah  Mami  berubah suram  melihat bang  Niko  datang  dan  bukan  hanya  mami  yang  tidak  menyukai  kehadiran  dia.


Frans terlihat tidak suka juga, tidak tau apa pastinya yang terjadi pada kedua sahabat itu, kini mereka berdua tidak saling bertegur sapa.


“Jadi  kamu, Niko  yang  mau ngajak  Faila  jalan?”Tanya  mami tanpa  basa basi

__ADS_1


“Iya tante, kami  udah  janjian tadi  malam.”


Mataku  seolah  memutar  memberi kode, agar  jangan  membahasnya  dan  bang  Niko  melihatnya  dan    mengerti.


“Tugas  kuliah  Faila  belum rampung  tante, kebetulan  ada  saudara  di daerah Senen  yang  kita  bisa  dapatkan bahannya,  jadi  saya  ingin membawanya ke sana,” kata bang Niko.


 Frans , tidak  bicara ia bersikap  bodo amat dan tidak perduli, ia memainkan botol mineral  di tangannya.


“Saya  bisa  antar dia  kasih saja alamat  saudara  kamu, saya  akan antar  di  kesana.” Mami Frans ingin mengantarku, karena ia tidak suka melihatku dengan bang Niko.


“Mami   kami berangkat  rame-rame, ada  Tari juga  di sana,  kami berangkat  satu  kelompok,” kataku.


“Apa  Niko  satu  kelompok juga?” Tanya  Mami, menatap lelaki yang bertubuh tinggi itu dengan tatapan tidak ramah.


“Aku yang  minta  tolong  padanya  Mi,” jawabku dengan suara pelan.


“Baiklah  pergilah…,”  kata Mami terdengar ketus,  mami pergi ke  dapur  meninggalkan kami  di ruangan depan.


Aku  tidak ingin lama- lama  dalam  situasi tidak   mengenakkan ini,  aku  buru - buru  bangkit  mengajak bang  NIko   pergi


“Aku  permisi  Om,” kata  bang  Niko


“Baiklah,  jangan  malam- malam, iya  Fai,” pesan Papi melirik sinis pada Frans


Di luar  aku  menggerutu  pada  diri  sendiri  sebelum  menaiki  motor  gede  milik  bang  Niko


“Kenapa  Fai?” Niko menatapku.


“Tari  sialan, Ia  memaksaku  memakai baju  sialan ini,” kataku menunjuk baju model terbuka itu


Bang  Niko   tertawa lebar, tangannya  memberiku  helem,  bang  Niko baik bangat ia juga   membuka  jaket  motornya  memberikannya  padaku.


“Pakai ini saja, kalau kamu tidak pede,” katanya perhatian,  “  Sepertinya  kamu  gak  nyaman dengan  bajumu,  kataku cantik,  memang  cantik,” kata bang Niko.


Dapat pujian dari bang Niko membuatku malu, sepertinya  keluarga  itu  melihat  kami  dari  rumah  dari  balik  kaca jendela  yang  menerawang  ke luar  ruangan.


Mungkin  keluarga Frans berpikir aku mencari pelarian karena tidak mendapatkan Frans. Sesungguhnya bukan itu yang terjadi.


                                          *


Saat duduk dengan Tari dan yang lain,  ponselku berdering.


“Fai pulang sekarang iya”

__ADS_1


“Kenapa Mi?”


“Kakekmu datang”


Aku terdiam ada perasaan tidak enak setiap kali orang tua itu datang.


“Baiklah Mi,” ucapku  menarik napas.


Bang Niko kembali mengantarku ke rumah Frans.


Diruang  tamu  ada  kakek  dan  dan Frans,  Arjun  kak  Dion  dan tanpa   sengaja  kak  Regi  datang  bareng  kakek  dari  malang,


Aku  mendengar  sedikit  dari  balik  tembok  mereka  sedang  membahasku,


“Maaf kan  Frans  kek   aku  tidak  bermaksud    menyinggung   Faila  pada saat itu” saya hanya emosi saat itu kata Frans.


“Tidak  apa  apa  Frans,  faila’  perlu  di  kasih  sedikit pelajaran juga, kakek  juga  tidak  suka  jika  ada  seorang  gadis   yang  mengekori  terus  menerus  seperti itu, sangat  menganggu,” ucap  kakek  walau dia berkata  seperti itu,  aku  tahu orang tua itu juga   pasti  sangat  sedih  cucu yang  dia sayangi di hina  apa  lagi bawa-  bawa  anaknya  yang  sudah  meninggal.


“Maaf  kan  saya  Om, saya  sebenarnya  yang  salah ,” kata Maminya Frans.


“Ini bukan masalah ia mengekoriku kek, ini tentang pekerjaanku, harusnya  aku  bertanya  dulu , tapi saat itu aku  sudah terlanjur terbawa  emosi  karena   kerja   kerasku  hilang begitu  saja, itu  membuatku emosi.” Frans mengaku salah.


“Gak  apa Frans  dia tidak  akan  menganggu mu  lagi, aku  yakin tidak  akan  mengekorimu  lagi,  kamu  akan  terbebas  darinya mulai  sekarang,”  kata kakek terdengar yakin,  ia tersenyum kecil.


“Kenapa  Kek?” tanya  mereka serentak dan wajah penasaran.


“Aku  uda  bilang  padamu  waktu itu,  kalau  kamu  terganggu  dengan  sikap  Faila    kamu tinggal  singgung  ibunya  itulah kelemahan  Faila. Sekarang  kamu  mengunakan  kartu itu baguslah jadi tidak usah, pikirkan dia … kakek yakinlah ia pergi,” kata kakek


“Tidak  Kek,  aku  tidak  sedikitpun niat bawa bawa  ibunya, itu spontan karena  marah  saja,” ujar Frans  suaranya bergetar merasa bersalah.


“Apa?  kamu sudah tau  kelemahan  Faila.  tapi dan kamu melakukannya  juga, kamu orang yang kejam ,” ujar mami Frans.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-The Cursed King(ongoing)

__ADS_1


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi


__ADS_2