Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Mantan yang di sesali


__ADS_3

MANTAN YANG DISESALI


~Tiiiiiiing ~


Bunyi notip ponselku


pesan dari Tari ” Fai kami pulang Iya , kak Hendra merasa tidak enak badan “


Hatiku mulai merasa tidak enak, aku merasa ada sesuatu yang menggangu hati kakak Lelakiku. Setelah . Ia ngobrol dengan Papinya Frans . Raut wajahnya sepertinya tidak begitu senang.


Ia juga menatapku seperti tatapan Prihatin tadi.


Entah apa yang dikatakan papinya pada Frans, kini lelaki itu mengikutiku kemanapun aku pergi.


“Mau minum sesuatu?” Tanya Frans, aku yang duduk melamun, dan seolah rohku, pergi bergentayangan ke dunia lain, aku tidak menghiraukannya


“Hei” Ia mengetuk meja,


“Apa?” aku menatapnya jengkel karena menggangu


“Apa?”kataku menatapnya dengan raut wajah kesal


Hingga tiba-tiba Papi memanggil kami ke depan podium.


“Aku sangat berterimakasih pada Anak saya Frans dan menantu saya Faila. Karena semua ide-ide dalam dekorasi Restoran baru kita ini , adalah hasil karyanya mereka,” ucap Papi


Aku tidak melakukan apa-apa,


Frans mengulurkan tangannya, untuk aku pegang tapi dilihatin semua orang . Aku menurut mengandeng tangannya , terlihat seperti pasangan yang serasi. Frans tersenyum, menyapa semua orang. Ia pintar berakting, aku bergumam


Tidak mengerti apa yang dipikirkan papi , Kenapa tiba-tiba melibatkan kami dengan Frans . sepertinya Ia ingin mengumumkan secara tidak langsung bahwa Frans sudah punya Istri.


Tapi pasti ada sesuatu tadi, akhirnya beliau melibatkanku dan memperkenalkanku, sebagai menantunya . Mami menunjukkan raut ketidaksukaannya. Apalagi banyak teman-teman sosialitanya yang datang.


Mereka terlihat berbisik-bisik membuatku tidak nyaman, Ingin meninggalkan acara , tapi Frans menggenggam tanganku sangat erat dan ikut membawaku , menyapa teman-teman Papi.


Aku sungguh tidak percaya diri. Aku tidak mengerti jalan pikirannya Frans, aku bingung,kenapa kamu, menyuruh aku membencimu, tapi kamu terkadang membuatku hampir gila karena sifat dan perhatianmu, tapi terkadang mengabaikanku. Dan bersikap tidak peduli padaku, bagaimana aku bertindak.


“Aku malu Frans”


“Tidak apa-apa Faila, aku ada bersamamu” kata Frans Masih menggenggam tanganku.


Saat diperkenalkan pada kerabat dan kolega-koleganya.Frans membawaku kembali di meja tempat kami duduk, disaat yang tidak tepat Adella dan vera datang,


“Eh loe Toh Faila” kata Vera kirain siapa kata vera berpura-pura didepan Frans . padahal Ia sudah melihatku dari tadi , bahkan sudah meledekku .

__ADS_1


“Kamu tidak salah kostum?,” kata Adella memanas-manashin,


“Ia sangat cantik bukan ?” kata Ami tiba-tiba datang dari belakang , hatiku terasa sangat senang sekali untuk pertamanya melihat Neneknya Frans. Kalau biasanya kehadirannya tidak pernah diinginkan, kali ini sangat berbeda, Ia bagai penyelamat untukku,


“Ami,” suara kami serentak dengan Frans. Ami dari mana ? aku mencari dari tadi” kataku.


“Aku lagi ditempat lain tadi, ada kerabat ingin bicara hal serius”


“Siapa wanita- wanita tidak sopan ini. Frans? Beraninya kalian mengomentari penampilan cucuku, jelas-jelas jauh cantik dari kalian bertiga” kata nenek membelaku dan mengusap punggung tanganku.


Tatapan nenek justru seperti merendahkan, mereka bertiga, Ia menatap penampilan ketiganya , yang memakai mini dres yang lumayan terbuka,


“Mereka teman-temannya Frans Ami, Beliau neneknya Frans,” kataku memperkenalkan kedua belah pihak.


“Penampilan kalian itu terlalu terbuka anak gadis, tidak pantas mengobral aset- aset pribadi seperti itu Frans. jangan berteman degan orang yang sembarangan” kata nenek menegur Frans


Wajah Adella terlihat pucat dan malu didepan Frans, ketika Neneknya Frans menghina penampilan mereka bertiga.


Suara nenek juga terdengar agak keras , jadi tamu tamu itu juga banyak yang mendengar.


Mereka ,menerima langsung. Balasan penghinaan yang diberikan padaku,


Nenek Frans membawa kami berdua menjauh dari mereka. Tertawa puas dalam hati. Nenek Frans mau di lawan, gaya bicara neneknya Frans pedas level tinggi.


Frans tersenyum datar ketika Neneknya memberi pelajaran pada ketiga wanita borjous itu.


“Baik Nek kata Frans,


Aku masih memikirkan, kemarahan kak Hendra Frans berkutat dengan ponselnya. Kami duduk di salah satu kursi. Sama-sama diam .tiba-tiba merasa kaku kayak tiang jemuran. Aku merasa Bosan.


Kembali melamun ke tingkat langit ketujuh. Memainkan tusukan kue yang ada diatas meja.


“Fai ,kenapa kamu melamun dari tadi s?” kata Frans


“Terus, aku mau ngapain” kamu sendiri sibuk dengan ponselmu,” kataku. Aku berdiri.


“Aku pulang saja, aku bosan, aku Naek taksi aja” Padahal Frans juga tidak menawarkan ingi mengantar . tapi dengan pedenya aku menjelaskan tujuanku pulang dan aku naik apa pulangnya,


“Fai ,tunggu nanti aku bilang apa sama Mami dan papi dan ami” kata Frans ikut berdiri.


Aku pergi, aku berharap Frans mengejarku menghentikan Tapi…Ia tidak peduli . Ia malah mengobrol dengan sahabatnya .Melihat Ia tidak mengejarku dan membiarkanku pergi , hatiku sedih aku menangis. Aku mempercepat langkahku


membiarkan bendungan air dimataku tumpah. Aku menangis sesegukan , menahan rasa sakit hatiku.


Aku merasa semakin kesal karena Taksi yang aku ingin tumpangi tidak kunjung juga datang. Belum juga penampilanku ayang cantik badai, karena kain sari yang aku kenakan, Membuatku semakin ingin berteriak.

__ADS_1


Menunggu yang tidak pasti, rasanya tidak enak , aku memilih duduk disalah satu kursi, pakaian yang aku pakai menarik perhatian orang. Semua mata melihatku entah aku cantik dimata mereka, atau karena aku, salah kostum,


Tapi bagaimanapun, aku mengusap air dimataku. tetap saja mengalir deras.


“Kenapa mba” tanya salah satu bapak melihatku prihatin, karena melihatku menangis sedih.


“Tidak apa-apa pak” kataku.


“Fai” suara seorang dari pinggir jalan diatas motor gede, memakai baju Tentara . Ia belum membuka helmnya,


Ia meminggirkan Motornya dan membuka helmnya, ia masih menatapku.


“Felix!?”


Tidak peduli, dan tidak sadar, aku memeluk tubuh Felix walau memalukan dan tidak seharusnya, tapi aku melakukanya spontan.


“Faila, ada apa? kenapa kamu menangis di pinggir jalan” kata Felix. Membiarkanku memeluk tubuh kekarnya sedikian menit.


Aku baru sadar, apa yang aku lakukan. Ternyata semua mata melihat kami. Bahkan ada yang mengarahkan kamera ponselnya


“Iya Tuhan, apa aku lakukan?” Aku melepaskan tanganku.


“Sini, duduk,” kata Felix memberiku minum,


Semua mata melihat kami, membuatku semakin tidak nyaman .Felix sepertinya mengerti, Ia membawaku kesalah satu Cafe yang ada disebrang jalan . memesan minuman teh manis hangat dan Roti bakar. Seakan ia tahu apa yang aku butuhkan.


“Ini lap matamu,” kata Felix. Menarik beberapa lembar tissue memberikan padaku


“Penampilanku berantakan iya?” Aku kembali menangis.


“Jangan menangis lagi. orang nanti berpikir aku memukulimu Faila”


Aku mencuri pandang pada Felix, iya ampun Felix .Kenapa sekarang kamu jadi begitu manis dan begitu Tampan


Merasa seperti makhluk yang kena Karma. Pantaskah aku menyesali semua tindakanku? Salahkah aku membuat pilihan menikah dengan frans, Frans yang sekarang bukan lelaki yang aku kenal dulu, ia berubah jahat sekarang aku tidak menyukainya.


~Bersambung~


baca juga ceritaku yang lain


- My Brondong Husband


- Tetaplah bersamaku


- Merindukan cinta

__ADS_1


- Satu cinta dua hati.


Follow IG @sonatha-nata


__ADS_2