
Tidak ada pujian, tidak ada obrolan. Aku tidak menyukai situasi itu, tapi aku menjaga keinginannya, yang tidak suka berisik dan Dia lebih suka suasana hening seperti kuburan. Bertolak belakang dengan keadaanku dan sifat, aku suka suasana berisik dan tempat rame,
Baiklah ini waktunya, kataku dalam hati dan mengalah.
Hanya terdengar suara sendok yang bersahut-sahutan dan aku memakai headphone ke kuping mendengar musik agar aku selamat,
Matanya sesekali menatapku tajam, karena aku mengikutinya diam dan lebih memilih mendengar musik, menyumpal kedua lubang kupingku. Dengan iringan musik yang aku suka,
Makanan dalam piringnya sudah habis dan dengan sigap kutuangkan Minuman ke gelasnya, dan melayaninya dengan baik dan tidak menggangunya sedikitpun
Ia menyadari sikapku yang berubah, kalau biasanya nyecorocos kini bagai seekor doggy berhenti menggonggong, karena sakit gigi.
Kurapikan meja makannya, dan kucuci piringnya masih dalam diam. Ia hanya menatapku dari belakang ketika aku juga membalas sikap diamnya dengan diam juga.
Aku menyadari perbedaan jauh diantara kami , aku berpikir akan jadi apa jadinya jika kami harus menikah nantinya. Siksaan batin akan kau alami setiap saat selama hidup bersamanya,
Mungkin karena tidak kuat bertahan, akan cerai kalau tidak akan mati karena kesepian,
“Maaf !” katanya tapi aku pura –pura tidak mendengarnya, terus membereskan dan Fokus menyelesaikan pekerjaan tesebut
Dan aku mengabaikannya, yang terus menatapku dari belakang,
“Aku sudah menceritakan padanya situasi ku. Tapi kenapa ia tidak peduli sedikitpun aku membatin.
“Fai !” ia memangil tapi aku memilih mengabaikannya lagi,
Aku berharap ia datang menghampiriku. Tapi keinginan hatiku sepertinya sedikit berlebihan, “Ah” sudahlah !” kataku dengan mengelus dadaku
Aku menahan rasa sesak didadaku ingin rasanya aku pergi dari rumah saat itu juga,
Baru setengah hari bersamanya, menghadapi sikap cuek dan sikap dinginnya membuatku tak berdaya.
Merasa hidup didunia yang berbeda dengan orang seperti dia, disitulah aku makin penasaran, bagaimana ia dulu menjalani hubungan dengan mantannya, yang katanya menjalani hubungan mereka selama 8 tahun
apa ria berlaku seperti ini juga ke wanita itu?tapi bisa juga bertahan selama itu.
Aku yang bersamanya baru setengah hari berduaan, sudah hampir mati berdiri menghadapi sikap dingin, yang bertolak belakang dengan sifatku.
“Aku menoleh kebelakang dan menatapnya kali ini, Ia balik menatapku hanya sekilas, dan kembali berfokus pada buku bacaannya
Dia tidak lagi memanggilku seperti tadi “ ini ujian bangat untuk seorang faila pengalaman pertama bagiku. Mendadak merasa gagal mendapat predikat wanita yang cantik dan Manis, depan laki-laki manusi Kutub utara ini.
__ADS_1
Aku tersenyum padanya, menggambarkan aku mengibarkan bendera putih, merasa kalah telak menghadapinya.
Setelah berpikir keras aku memutuskan, mungkin kembali ke Kampus. dan mencoba mengurus cutiku kembali kuliah menyelesaikannya, Untuk bekal masa depan.
Setidaknya, selama Tante Mira Dan Om sampai pulang. Tidak mungkin juga laki –laki batu Es ini menjagaku selama seminggu. Satu hari aja sudah petaka, apalagi satu minggu bisa –bisa aku bisa berubah jadi Nenek –nenek karena stress menghadapi sikap dinginnya.
Setelah semua didapur beres, aku kembai duduk bersamanya yang masih terfokus pada buku yang dibaca,
Berbeda dengan aku, jika aku membaca buku maka seperti dinina bobokan, jika sudah membaca yang namanya buku langsung membuatku mengantuk.
Tapi Ia tahan berjam-jam membaca, tanpa pernah menguap atau merasa bosan,
“Salut.!”
Mungkin itulah perbedaan otak jenius sama otak udang sepertiku,
“Ada apa “ baru meresponku yang sudah hampir 5 menit berada didekatnya.
“Aku akan kembali ke Jakarta!” kataku kemudian
Ia diam tidak panik, tidak bertanya setidaknya merespon ia hanya dia tanpa menoleh.
Jika hatiku tidak original lagi, karena sebagian milik Ibuku tapi masih berfungsi dengan baik walau masih sering sakit oleh beberapa hal,
Tapi hati laki-laki ini sepertinya terbuat dari campuran tanah liat, keras bagai batako.
yang begitu kaku,tidak mudah di cairkan.walau sudah dengan berbagai cara yang kulakukan.
aku sudah pusing memikirkan dengan cara apa yang harus aku lakukan agar berhasil.
aku sudah bersedia mengalah,berusaha dekat dengan dia,berharap dia memperhatikan perlakuan ku ke dia,walaupun hanya sekedar membuat ku tenang,dan sedikit terhibur.
Apa kamu tidak ingin bertanya ? kataku sedikit mulai jengkel.
“Untuk apa bertanya.?” Katanya wajahnya itu loh ngeselin bangat.
Mendengar itu, aku yakin yakin- yakinnya kalau hatinya terbuat dari campuran kerikil dicampur dengan semen.
“Baiklah kalau begitu” jadi aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar kataku,
Aku meninggalkannya, yang masih asik dengan bukunya, kalau kemarin aku sempat kepikiran akan memberinya pelajaran., akulah yang sekarang diberi pelajaran olehnya, lebih dari sekedar makian dan hinaan
__ADS_1
Dan aku mengaku kalah mengibarkan bendera Putih untuk manusia kulkas dua Pintu Ini,
Mengumpulkan beberapa pakaian seadanya, mandi dan berganti baju, aku turun, Ia sekarang duduk di diruang tamu lagi menonton televisi
Aku menatapnya dari atas , aku berpikir memberitahukan pernikahan kami yang sudah dibatalkan, setidaknya mungkin ia tidak lagi membenciku karena tidak jadi menikahi ku.
Ia menolehku dengan tatapan dinginnya, sekalipun aku sudah menenteng Tas untuk pergi ia tetap saja tidak mengubah pandangannya ke aku.
“Apa yang kamu harapkan dari pria ini Faila !” aku membatin.
Setidaknya aku dengannya, tidak meninggalkan luka yang dalam dan tidak membenci satu sama lain, sebelum pergi. Itulah yang aku pikirkan sebelum pergi.
Aku duduk ingin bicara padanya , suara tv masih volume keras, ia tidaka ada niat untuk mengecilkan padahal aku sudah menenteng Tas.
Aku memberanikan mematikan TV nya, agar aku bisa bicara padanya tatapan matanya protes keras.
Aku menarik nafas dalam dan duduk didepannya
“Berhentilah membenciku..? Apa kau masih marah padaku !” walau aku akan mau pergi kataku, mungkin dipikirannya aku tidak serius mau pergi
“Aku memutuskan pergi dan minta maaf padamu karena sudah membuatmu marah dan kesal padaku kataku
“IYa” jawabnya
“HAAAAA !” Hanya itu jawabanmu aku membatin bercampur emosi.
“Pernikahan kita BATAL !” kataku menekan kata batal agar ia merespon, tapi tidak !” ia hanya cuek dan kembali melarikan matanya ke Buku yang tadi di baca.
Melihat itu, ingin rasanya aku guling-gulingan dilantai.Karna menahan kesal karena sikapnya,
“Apa kau sudah mengetahuinya !” kataku kaget melihat sikapnya yang biasa-biasa saja,
“Belum !” kata Felix manusia kutub utara,
“HAAA !” kau belum mengetahuinya hanya itu aja reaksimu” walau kita tidak jadi menikah !” Kamu tidak merasa senang kaget marah, kecewa begitu ?” kataku kemudian.
BERSAMBUNG ….
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
__ADS_1