
Wajahnya berubah, dengan satu alis diangkat melihat tingkah konyolku .
“Iya, tapi tanganku kamu taro kemana Itu?”
‘OH. maafkan aku.
Wajah Rio terkekeh, melihat tingkah yang selalu mengawasi ponsel Felix agar tidak menghubungi siapa siapa,
“Baiklah, berikan alasan kenapa kami tidak boleh memberitahukan keluargamu, kalau kamu sudah ketemu.” Kata si felix
Dibalas dengan anggukan Rio, yang sepertinya sepakat dengan pendapat temannya,
“Berhubung karena suaramu sudah kembali, ceritakan juga kenapa kamu bisa sampai ke panti asuhan ini” kata Rio ikut-ikutan menututku memberi penjelasan
Mencari tempat yang lebih tenang, dari anak anak Mereka berdua menungguku memberi penjelasan
“Baiklah, kataku kemudian dengan Nafas agak berat mungkin keluargaku sudah cerita sebagin tentangku ,aku ini sedikit stress dan agak gila,,apa lagi ketemu cowok seperti kalian berdua, yang tampan kataku cengengesan
iya elah malah, bercanda lagi protes Rio yang sudah tidak sabar lagi mendengar tentang aku,
“Ok. baik lah’ lagi lagi dengan nafas berat untuk menjelaskan
“Namaku Faila Kirana, mungkin kalian sudah ketemu dengan keluargaku jadi tidak usah ku sebutkan lagi siapa mereka, Aku pernah tinggal disini.”
“Di panti ini?”Tanya Rio tidak percaya
“Iya, Setelah kematian ibuku mulai, aura kesedihan terpancar diwajahku. Setelah ibu meninggal dan sebelumnya Ayahku sudah meninggal duluan .Kakekku dan kakak laki-lakiku meninggalkanku Di Panti asuhan ini.
“Aku juga anak Panti ini kata Rio tiba tiba, Tapi tahun berapa?”
“Aku tahun duaribuan uda jadi penghuni tempat ini Fai,
Mungkin inilah yang di sebut Suratan takdir,” aku dan Kak Rio sama –sama pernah tinggal di Panti ini.
“Sebentar disini masih ada foto waktu jaman dulu,” kata Rio berlari membawa Foto lama. Kamu yang mana Faila?”
Wajahku masih kecil berbeda dengan anak anak yang lain
“Anak yang dulu seperti Tuan putri, dipaksa takdir, turun tahta menjadi upik abu ,ini orangnya, tunjuk pada gadis berpita merah dengan masih mengenakan baju baju bagus, yang kubawa dari rumah mama,
“OH kamu si Putri menangis itu? kata Rio mengingat dengan jelas, dulu umurku 11 tahun disitu dan kamu mungkin 7 tahun, kamu begitu terkenal dari awal kedatangan kamu,
Hanya menangis setiap hari tidak mau makan tidak mau apa-apa hanya minta pulang saja”
“Kamu memberikan aku jambu agar aku berhenti menangis.Kamu mengingatnya?” tanya kak Rio dengan mata yang sedikit sembab
“Kakak laki-laki berlesung pipit, yang selalu membujuk agar berhenti menangis dan memberikan apa saja agar aku tidak menangis?
__ADS_1
Pada akhirnya kakak akan kena pukul sama penjaga panti, karena terlalu peduli padaku,kan?”
Tiba tiba aku memeluk kakak Rio yang merasa seperti dia kakak yang melindungi waktu dulu,
Aku menangis di pelukannya “Terimakasih kak..!” aku dulu belum sempat mengucapkannya itu,
Felix menatap kami dengan wajah yang aneh dan kesan tidak suka,
“Udah, udah pelukannya” wajahnya manyun bagai tomat busuk
Cerita panjang lebar pada kak Rio yang sekarang kupanggil kakak karena memang umurnya dia atasku dan juga dia bagai kakak bagiku dimasa kecilku,
Rio kabur dari panti asuhan setelah aku duluan, dia juga kabur dari sana, di tampung Tante Mira dan menjadi bagian
Kelurganya, di sekolahkan menjadi anak berhasil, seorang Tentara,
Nasib yang baik untuk dia, hari itu kami akrab dan dekat satu sama lain tidak bisa dipungkiri aku nyaman karena sama sama pernah menderita.
“Temanin aku ziarah kak, ke kuburan orangtuaku”ajakku sama kak Rio
“Kamu yakin ajak aku? nanti kalau ibu tanya siapa aku?
aku jawab apa?”
Ia bercanda Felix merasa dirinya di kucilkan, karena tiba tiba aku akrab sama kak Rio,
Entah benar atau tidak akhirnya Felix setuju tidak memberitahukan keberadaan ku, baik untuk tante Mira mamanya Felix,
Karna tujuan utamaku pulang kekampung karena ingin ke makam kedua orang Tuaku,
Akhirnya tertuntaskan juga ,Rasa sedih menyelimuti sepanjang di kuburan Mamaku yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata kata,
Di kuburan, aku berjanji aku berbisik dalam hati, aku akan kembali lagi suatu saat , untuk mengembalikan milik mamaku yang seharusnya ikut terkubur di situ,
Bagian dari Tubuh mamaku yang diberikan padaku, awal petaka dalam hidupku, mungkin dulu mama berpikir itu jadi awal kehidupan untukku. Tapi justru kebalikannya,
Jantung yang diberikan mamaku awal dari petakaku,
Kakek menuduhku membunuh ibuku, dan mengambil jantungnya, dan menganggap ku sebagai pembawa petaka disalahkan atas kematian anaknya ,
Hatiku masih bertanya sampai saat ini ,Benarkah Mamaku membunuh dirinya sendiri demi memberikan jantungnya untukku?
Sesulit itukah hidup yang aku jalani?
Aku akan mengembalikan nanti Ma, apa yang menjadi milikmu Aku membatin di kuburan mamaku yang di penuhi bung-bunga yang sudah layu,
Mungkin kemarin kakekku dan kakakku datang juga Ziarah ke kuburan mamah.
__ADS_1
Mencoba tidak membenci mamaku membuatku sedikit lega, berdamai dengan diri sendiri mungkin akan membuatku sedikit pulih.
“Ayo” ajak kak Rio yang melihatku larut dalam kesedihan
“Selamat tinggal Ibu, Ayah ” bisikku, rasa rindu untuk kedua orang tuaku sedikit terobati,
Aku memutuskan tinggal dipanti mungkin untuk beberapa hari ini , untuk mencari ketenangan dan kesejukan di Desa itu, karena udara pedesaanny membuatku nyaman,
“Kamu yakin Fai,” kata Rio tidak mau ikut kita pulang kerumah Tante Mira,
“Aku disini aja kak, tapi tolong jangan kasih tau siapa-siapa aku disini aku mau semedi dulu di tempat ini, mencari ketenangan,” dengan wajah penuh bujukan pada mereka berdua .
Berharap Mulut si Felix yang sombong itu tidak membocorkan keberadaan ku pada keluarganya,
“Kalau aku si Ok”
Aku melihat si Cowok batu Es itu, memastikannya apa dia juga mau berjanji tidak memberitahu keluarganya,
“Baiklah” jawabnya kemudian dengan masih tampang dinginnya,
Ini malam ketiga untukku berada di Panti asuhan itu, jauh dari keramaian yang ada ketenangan ,dan suara anak anak dan Udara yang segar, Malam itu cahaya bulan sangat indah,
Meraih baju hangat dan pergi keluar udaranya sangat sejuk, Rasa sepi itu dan sunyi tidak membuatku panik lagi kali ini
Wah apa aku sudah sembuh, tidak takut saat sepi
langkahku menyusuri gedung Panti dan berdiri di halaman Panti.
Tapi pandanganku berhenti pada satu Motor gede yang terparkir di depan pagar Panti . Suasananya sudah sepi bahkan pagar sudah di kunci dari dalam,
Siapa ? berjalan mencoba mencari tahu,
Haa, ngapain ia jam segini dip anti mencariku?
Aku mendekat mencoba siapa yang ada disana
“Felix?”Ia kaget menoleh kebelakang, “Mau ngapain?” Tanyaku menyelidiki
“Oh tidak aku tadi pas melintas habis dari rumah teman dan teringat kamu disini, sepertinya sudah tidur jadi aku duduk disini,
“Kenapa tidak masuk?”
“Aku takut menggangu”
“Oh.Baiklah aku masuk, iya”
“Eh…Fai, tunggu sebentar,” wajahnya Ragu,
__ADS_1
“Iya,”
“Itu aku ingin meminta maaf padamu, atas sikap kasar ku padamu!” katanya dengan Tulus kali ini wajahnya tidak sedingin yang kemarin lagi,