Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Sebulan berlalu tanpa Frans


__ADS_3

Hari ini  pertamaku masuk kuliah lagi, setelah beberapalama ikut kegiatan sosial di Suka Bumi .


Setelah  menyelesaikkan satu  mata  kulih  hari itu.  Aku merasa  lapar, aku dan  Tari  menuju  kantin  yang  di  sebut  Kancut’  eh.  Ngomong-ngomong  dibilang  kancut, bukan ******  dalaman,  tetapi  adanya  anyaman  di  atap kantin yang berbentuk  kerucut.


Duduk  di  meja  paling  pojok  tapi  sebelum duduk  aku  mengamati  sekitar  dulu  memastikan  seseorang  tidak ada  di  sana


Mohan  sejak  hari itu  berubah  haluan  jadi  si penganggu kemanapun  aku pergi, ia  akan  ikut  dan  terus  mengekor  sampai  keinginannya  di  turuti. Ia memintaku jadi model video klip temannya aku menolak tetapi tetap saja ia membujuk terus.


Menu pilihan kami  hari itu  Tari  lebih  memilih  Batagor  dan  aku  memilih mie  ayam, untuk mengisi perut.


Walau  belakangan ini  aku  justru menabrakan  pengetahuan  yang   kau  geluti. Karena  aku tak lagi  mempertimbangang kan Gizi  yang  masuk  ke tubuhboni ,  seperti  jurusan yang  aku  geluti, Fakultas  Gizi baru  juga beberapa  suap, aku  masukin  kemulut,  aku  bisa  rasakan cacing-  cacing ku  merebutan  karena  sudah  kelapran. Namun, tiba - tiba  ada  tangan  iseng yang  melepaskan  kucir  kuda  rambutku, tak  haling  rambutku  terjuntai  masuk  kedalam  mangkong  mie ayamnya,


alhasil  rambut itupun, bergabung ke dalam mangkuk  mie ayam  yang kuseremput  kedalam  mulutku  dengan  lahapnya dengan  rambutku ikut masuk kedalam mulut, aku memukul tangan Tari minta pertolongan dengan  mulut  menggaga  dengan mie ayam dan rambut  di dalamnya.


Aku  mengeluarkan  suara  aneh  dari  mulut yang penuh  dengan  mie ayam.


Mohan  menarik kucir rambutku dan   hanya  tertawa melihatku, lalu ia duduk   disebelahku   dan satu  tangannya membantu  menarik narik  rambut  yang  hampir  kemakan.


“Kamu  ngapain sih …,” ucapku marah, menarik tisue mengusap mulut ini yang memakan sebagian rambutku.


“Aku ingin  nemanin  kamu makan juga,” ucapnya santai.   Menarik Bangkok yang ada di depanku, melahap  mie  ayam  yang  di  Bangkok yang  aku pesan. Dengan sikapnya yang bodo amat dan menghabiskan isi mangkoknya.


Ih ingin rasa lelaki  yang  satu ini, kujadikan sate tusuk, Tak tusuk-tusuk di kasih asam peras, lalu di bakar, geram rasanya.


 Ternyata suaraku   lumayan keras juga,  mengundang  perhatian  seisi  kantin,  karena  yang  datang  yang  membuat  gara  gara itu  adalah  seorang  Mohan  Turka ,  lelaki tampan keturunan  Turki   dengan  wajah  sedikit ke bule- bulean  dengan  matanya  yang  abu- abu dan tubuhnya  tinggi, ia salah satu idola juga di kampus kami sama halnya dengan Frans.


Melihat  pandangan orang  terhadapku membuatku  mati kutu,  di  tambah  dengan  tingkah  Mohan yang  bodoh  amat yang  seenak  udel nya  menghabiskan  mie  ayam  punyaku,  padahal sudah bekas jigongku pula.

__ADS_1


“Mohan aku lapar,” ucapku setengah berbisik melotot tajam padanya.


Peliharaanku  sudah berteriak memaki  dari  dalam  perut  karena  baru aku makan sedikit tetapi keburu di rebut Mohan.


Posisiku  masih  berdiri dengan satu tangan masih memegang  rambut  ekor kudaku yang  terlepas talinya,  aku  celegak -celeguk  mencari karet pengingakatnya di bawah  meja  mencari pengikat, kalau rambutku  panjanganku terlepas seperti ini, aku tidak akan bisa makan. Saat sibuk mencari kebawah kolong dan menoleh kebelakang.


Dug ..


 Tubuhku terdiam  sebentar, mata kami saling beradu untuk sepersekian detik. Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah lain.


Ternyata  Frans  duduk  di belakangku tubuh nya persis  menghadap  kearaku.


Saat aku  menunduk menoleh ke belakang, mencari karet,  ternyata ekor matanya mengawasiku juga.


 Sebulan lebih sudah aku  pergi dari  rumah  kelurga  Frans  dan satu bulan ini,aku  baru  pertama  melihatnya.


Ia juga mangalihkan pandangan kearah lain, saat aku melihatnya, tatapan matanya  dingin


 Sebentar saja jantung ini berdetak kencang, lalu  kembali berdetak normal, hanya tatapan teman-temannya yang menatap kami saling bergantian, Frans bersikap seoalah-olah  aku orangnlain, aku juga bersikap biasa saja padanya.


'Kelak akan  ada  masanya”


  Kau  yang  menunggu dan  aku


Yang  tak pernah datang' ucapku membantin.


Aku  kembali duduk tenang di samping Mohan.

__ADS_1


“Ni orang iya,” aku mengurutu  kesal  pada Mohan si biang onar.


“Habis!” Mohan melirikku dan bersendawa.


“Tapi…  aku  belum makan Mohan, aku lapar”


“Kita  tinggal memesannya  lagi,” ucapnya santai tidak merasa bersalah sedikitpun.


Aku ingin marah dan ingin melempar mangkok kosong itu ke wajanya tetapi aku  malu dilihatin orang seisi kantin apalagi Mohan dan Frans,  ke dua lelaki popular ini selalu mengundang perhatian anak –anak  perempuan di kampus.


“Hadeeh ... aku sudah lapar bangat bahkan mau mengerakkan tangan tidak berdaya lagi,” kataku meletakkan  kepalak diatas meja.


“Kamu mau makan punyaku dulu?” Tari menyodorkan bangkoknya.


"Mau makan apa Fai? kamu tinggal pesan , tenang ada babang Mohan di di sini untuk kamu, tapi kamu mau nanti malam aku ajak iya, Iya Fai tolonglah aku sudah janji,” ucapnya  tidak berhenti membujukku.


“Baiklah … baiklah Mohan, berikan aku makanan dulu,” ujarku lemah.


Ia tertawa dan memesan makan siang untukku.


      Bersambung …


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)


__ADS_2