
Hari ini pertamaku masuk kuliah lagi, setelah beberapalama ikut kegiatan sosial di Suka Bumi .
Setelah menyelesaikkan satu mata kulih hari itu. Aku merasa lapar, aku dan Tari menuju kantin yang di sebut Kancut’ eh. Ngomong-ngomong dibilang kancut, bukan ****** dalaman, tetapi adanya anyaman di atap kantin yang berbentuk kerucut.
Duduk di meja paling pojok tapi sebelum duduk aku mengamati sekitar dulu memastikan seseorang tidak ada di sana
Mohan sejak hari itu berubah haluan jadi si penganggu kemanapun aku pergi, ia akan ikut dan terus mengekor sampai keinginannya di turuti. Ia memintaku jadi model video klip temannya aku menolak tetapi tetap saja ia membujuk terus.
Menu pilihan kami hari itu Tari lebih memilih Batagor dan aku memilih mie ayam, untuk mengisi perut.
Walau belakangan ini aku justru menabrakan pengetahuan yang kau geluti. Karena aku tak lagi mempertimbangang kan Gizi yang masuk ke tubuhboni , seperti jurusan yang aku geluti, Fakultas Gizi baru juga beberapa suap, aku masukin kemulut, aku bisa rasakan cacing- cacing ku merebutan karena sudah kelapran. Namun, tiba - tiba ada tangan iseng yang melepaskan kucir kuda rambutku, tak haling rambutku terjuntai masuk kedalam mangkong mie ayamnya,
alhasil rambut itupun, bergabung ke dalam mangkuk mie ayam yang kuseremput kedalam mulutku dengan lahapnya dengan rambutku ikut masuk kedalam mulut, aku memukul tangan Tari minta pertolongan dengan mulut menggaga dengan mie ayam dan rambut di dalamnya.
Aku mengeluarkan suara aneh dari mulut yang penuh dengan mie ayam.
Mohan menarik kucir rambutku dan hanya tertawa melihatku, lalu ia duduk disebelahku dan satu tangannya membantu menarik narik rambut yang hampir kemakan.
“Kamu ngapain sih …,” ucapku marah, menarik tisue mengusap mulut ini yang memakan sebagian rambutku.
“Aku ingin nemanin kamu makan juga,” ucapnya santai. Menarik Bangkok yang ada di depanku, melahap mie ayam yang di Bangkok yang aku pesan. Dengan sikapnya yang bodo amat dan menghabiskan isi mangkoknya.
Ih ingin rasa lelaki yang satu ini, kujadikan sate tusuk, Tak tusuk-tusuk di kasih asam peras, lalu di bakar, geram rasanya.
Ternyata suaraku lumayan keras juga, mengundang perhatian seisi kantin, karena yang datang yang membuat gara gara itu adalah seorang Mohan Turka , lelaki tampan keturunan Turki dengan wajah sedikit ke bule- bulean dengan matanya yang abu- abu dan tubuhnya tinggi, ia salah satu idola juga di kampus kami sama halnya dengan Frans.
Melihat pandangan orang terhadapku membuatku mati kutu, di tambah dengan tingkah Mohan yang bodoh amat yang seenak udel nya menghabiskan mie ayam punyaku, padahal sudah bekas jigongku pula.
__ADS_1
“Mohan aku lapar,” ucapku setengah berbisik melotot tajam padanya.
Peliharaanku sudah berteriak memaki dari dalam perut karena baru aku makan sedikit tetapi keburu di rebut Mohan.
Posisiku masih berdiri dengan satu tangan masih memegang rambut ekor kudaku yang terlepas talinya, aku celegak -celeguk mencari karet pengingakatnya di bawah meja mencari pengikat, kalau rambutku panjanganku terlepas seperti ini, aku tidak akan bisa makan. Saat sibuk mencari kebawah kolong dan menoleh kebelakang.
Dug ..
Tubuhku terdiam sebentar, mata kami saling beradu untuk sepersekian detik. Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah lain.
Ternyata Frans duduk di belakangku tubuh nya persis menghadap kearaku.
Saat aku menunduk menoleh ke belakang, mencari karet, ternyata ekor matanya mengawasiku juga.
Sebulan lebih sudah aku pergi dari rumah kelurga Frans dan satu bulan ini,aku baru pertama melihatnya.
Ia juga mangalihkan pandangan kearah lain, saat aku melihatnya, tatapan matanya dingin
Sebentar saja jantung ini berdetak kencang, lalu kembali berdetak normal, hanya tatapan teman-temannya yang menatap kami saling bergantian, Frans bersikap seoalah-olah aku orangnlain, aku juga bersikap biasa saja padanya.
'Kelak akan ada masanya”
Kau yang menunggu dan aku
Yang tak pernah datang' ucapku membantin.
Aku kembali duduk tenang di samping Mohan.
__ADS_1
“Ni orang iya,” aku mengurutu kesal pada Mohan si biang onar.
“Habis!” Mohan melirikku dan bersendawa.
“Tapi… aku belum makan Mohan, aku lapar”
“Kita tinggal memesannya lagi,” ucapnya santai tidak merasa bersalah sedikitpun.
Aku ingin marah dan ingin melempar mangkok kosong itu ke wajanya tetapi aku malu dilihatin orang seisi kantin apalagi Mohan dan Frans, ke dua lelaki popular ini selalu mengundang perhatian anak –anak perempuan di kampus.
“Hadeeh ... aku sudah lapar bangat bahkan mau mengerakkan tangan tidak berdaya lagi,” kataku meletakkan kepalak diatas meja.
“Kamu mau makan punyaku dulu?” Tari menyodorkan bangkoknya.
"Mau makan apa Fai? kamu tinggal pesan , tenang ada babang Mohan di di sini untuk kamu, tapi kamu mau nanti malam aku ajak iya, Iya Fai tolonglah aku sudah janji,” ucapnya tidak berhenti membujukku.
“Baiklah … baiklah Mohan, berikan aku makanan dulu,” ujarku lemah.
Ia tertawa dan memesan makan siang untukku.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)