
MENGUSIR TIKUS-TIKUS BERDASI DI HOTEL KAKEK.
“Baik mbak Faila “kata Glen
Aku memberikan satu ponsel pada Glen, agar aku bisa menghubunginya.
“Kamu bisa menghubungi orang ini jika kamu butuh bantuan,” kata kakek. Memberikan nomor Polisi temannya padaku.
“Aku tidak mau kerja lagi Fai. aku takut pada berandalan itu “kata Tari.
“JIka kamu ingin aku sendirian di sana kamu boleh tidak ikut kataku.
“Katakan apa yang terjadi sebenarnya Faila,” desak Tari masih di abang kebingungan.
“Nanti kamu akan paham juga Tar. Intinya di Hotel kakek ada ada tikus-tikus yang perlu kita bereskan,” aku menolehnya.
“Apa itu termasuk dalam masalah di dapur tadi pagi” kata Tari penasaran.
“Iya” Jawabku berusaha setenang mungkin
“Apa itu masalah besar, Fai?” Tanya Tari Takut.
“Iya begitulah, makanya aku ingin kau membantu ku Tari. Kita akan pergi ke Hotel dan pergi kerja seperti biasa,” membujuk Tari, ia begitu berat Hati.
KAMAR 606.
Kamar yang kami tempati beberapa hari ini bersama tari, tapi setelah tadi aku membawa kakek keluar dari Hotel dan membawanya ke rumah Sakit.
Kini kami kembali ke kamar itu, tapi terasa begitu horor bagi kami berdua dan Tari
Jam sudah menunjukkan waktu jam tiga tanganku beberapa kali salah menggesek card kuncinya karena merasa tiba-tiba tanganku begitu gemetaran.
“Ada yang bisa saya bantu Bu ?” suara itu mengangetkan Tari dan aku, badanku tidak bisa dipungkiri terasa menggigil.
Petugas patroli malam Hotel berkeliling.
“Tidak apa-apa pak,kami hanya terlalu mengantuk sampai salah memasukkan,” kataku berusaha bersikap tenang.
“Ok baiklah”Ia meninggalkan kami berdua yang menghela nafas panjang. Tari mengambil alih kartunya dan menggeseknya dalam satu gesekan berhasil terbuka
Aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dari kamar itu, tapi , tidak ingin membuat Tari ketakutan.
Karena tas jing-jing milikku. tadi aku letakkan di bawah kasur tapi tas Itu sudah berpindah tempat. Itu artinya ada petugas Hotel yang masuk ke dalam kamar kami, waktu keluar dari kamar itu.
“Aduh Tar, aku ketinggalan barang dibawah” kataku tiba tiba. Padahal Tari baru saja Ingin menjatuhkan tubuhnya di kasur.
“Iya,gimana dong ” kata Tari protes.
“IYa,kita ambillah Tari !” kataku menarik tangannya.
Aku masi menarik tangannya dan bersembunyi di balik dinding kamar lorong yang lebih depan.
“Ada apa”? tanya Tari wajah pucat ketika seorang wanita berpakaian petugas kebersihan buru-buru keluar dari kamar kami.
__ADS_1
Ucapan kakek benar, kami ditugaskan di bagian dapur hari itu, sama saja cari perkara pada diri sendiri.
Mereka akan meneror dengan hal –hal yang bisa membuat kita takut dan keluar dengan sendirinya,
“Sepertinya aku akan bekerja lebih keras lagi” kataku sama Tari, sepertinya dari setiap kalangan bawah sampai atas sudah di jangkit virus di tempat ini”
Hanya satu cara yang aku pikirkan saat ini . menghubungi bang Niko. Tapi waktu sudah pagi tidak ingin menggangunya sepagi ini
Aku memutuskan menelponnya besok saja. Aku dan tari benar-benar tidak bisa tidur sama sekali masih si hantui perasaan takut.
Jam 06:00.
Kamar 606.
Badanku rasanya lemas karena tidak tidur semalaman.
Sejak aku dan Tari bekerja di bagian dapur itu. Hidup kami tidak ada ketenangan lagi. Aku merasa lelah dengan sikap mereka.
*
Pagi itu, setelah beres- beres aku dan Tari mencoba bersikap biasa.
walau rasanya berat untuk menghadapi mereka tiap hari terasa di kerjain habis-habisan, ingin cepat –cepat memberi mereka pelajaran .Tapi karena bukti belum terkumpul terpaksa bertahan untuk beberapa saat.
Baru juga masuk kedalam dapur kami sudah mulai dikerjai oleh mereka , ingin rasanya aku marah memotong kuping mereka, terus aku jadikan sup dan kusuruh dimakan sendiri.
Kali ini Mereka lebih berani. Panas hati melihat kelakuan itu dan tidak tahan kalau hanya aku mungkin masih bisa bertahan, karena sudah kebal.
“Baiklah, kalau itu mau kalian” kataku.
Dalam dapur aku mengeluarkan ponselku dan menelepon
Mereka masih menertawai ku ketika aku mencoba menelepon
“Masuklah” kataku menyuruh mereka.
Aku menyuruh para jajaran yang bekerja pada Hotel untuk masuk.
Mulai dari manajer dan supervisor dan seluruh jajarannya. Dapur itu tiba tiba jadi hening, Para jajaran itu saling menatap belum memahami keadaan.
Ada bang Niko disana dan delapan orang-orang kakek yang aku bawa untuk mengawalku, untuk menghadapi para preman
‘
“Pastikan jagan ada yang masuk dan jangan ada keluar” kataku memberi perintah dengan Tegas.
Tiba tiba tatapan mata mereka , menatapku dengan heran.
“Baiklah, maaf sebelumnya jika aku harus mengumpulkan kalian ditempat ini Perkenalkan namaku Faila Kirana . Cucu pemilik Hotel dan restoran ini!” kataku. Wajah mereka tiba tiba , pucat bagai kapas. Apalagi wanita bertato yang melecehkan Tari.
Jauh sebelum aku bertindak saat ini. Sebelumnya aku sudah menyelidiki latar belakang mereka.
“Mulai hari ini aku yang memegang Hotel dan Restoran ini, bersama kakak lelakiku,”aku membawa kak Hendro yang baru tiba dari Jerman tadi pagi.
__ADS_1
Aku akhirnya meminta bantuannya untuk membantuku.
“Tadinya aku ingin mengadakan acara pesta penyambutan .tapi setelah menyadari keadaan ini, aku memutuskan tidak mengadakannya,
Aku memilih acara bersih bersih .
Aku juga seorang koki” kataku dengan menatap wajah Koki sombong itu. Ia langsung menunduk bagai kerupuk yang disiram air, tiba –tiba melempem. “Aku tidak ingin manusia-manusia kotor memenuhi dapurku” Kataku dengan nada Tinggi . Tari menatapku dengan greget seolah ia ingin mempitak orang-orang yang membuli kami berdua.
“Hmm dasar, rasain,” kata Tari greget
“Suruh polisinya masuk”
Mereka semua panik karena aku tiba –tiba membawa-bawa polisi. Bahkan salah seorang wanita itu menangis histeris.
“Apa karena mereka tidak menghargaimu Nona ” sehingga kamu memenjarakan mereka,” kata Managernya.
“Target utamaku” bisikku pada orang yang mengawalku.
Ia mendekat dan memegangi tangan lelaki itu.
“Apa-apaan ini aku sudah bekerja bertahun tahun disini, ni tidak adil bagiku”
“Selama bertahun-tahun itu juga kamu menghabiskan uang kakekku” kataku dengan Emosi
“Aku pastikan kamu membusuk di dalam penjara karena sudah menyakiti kakekku”
Aku juga menyuruh perawat yang aku suruh untuk memberi obat-obatan yang salah pada kakek, menyebabkan tubuh kakek semakin hari semakin lemah.
“Putrimu juga, aku akan seret ke dalam penjara” kataku dengan menatapnya dengan kemarahan.
“Maafkan aku, aku akan jelaskan semua tolong jangan bawa-bawa putriku”Katanya dengan ia berlutut di kakiku.
Seorang Manager berlutut. Ruangan itu begitu mencekam, karena hampir semua jajaran itu bersekongkol.
“Untuk dapur yang diklaim sebagai Istana oleh seseorang , aku juga perlu membersihkan kotoran yang membusuk itu” dengan memegang sendok penggorengan yang ia jadikan untuk memukul kepalaku waktu itu
Aku memutar rekaman, mereka mencuri bahan-bahan makanan dari gudang penyimpan makanan.
hampir tiap hari, berapa kerugian yang dialami kakek selama ini.
Wajah mereka pucat pasi. Bahkan orang yang mengaku Koki itu menundukkan kepala dan tidak berani menatapku.
“Aku pastikan kelurga kalian, akan senang dengan perbuatan kalian ,aku ingin mereka merasakan jika kelurganya disakiti “Kataku.
Polisi akhirnya memboyong sepuluh orang yang sangat fatal menurutku. Sebagai dalang semuanya
Tenyata koki sombong itu secara mengejutkan adalah kakak seseorang yang membuat aku dan Tari kaget
Ia berdiri pucat dan matanya menatap tajam
Ia dan tari tidak kalah kaget juga ketika orang yang ingin mereka hindari ada ditempat itu juga.
“Kenapa Ia berada disini ?” bisik ku pada Tari.
__ADS_1