Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Aku takut gelap


__ADS_3

Walau  Mohan  dan teman teman  lain  protes dan tidak  setuju  dengan  pekerjaan baru ku  karna  sering kali  aku  harus  pulang pagi  dan  kelelahan  dan  mulai  jarang  ikut  nongkorong  lagi   dengan  mereka.


Aku  menerima  tawaran  dari restoran yang  menyajikan live  musik  di salah  satu  restoran  cafe  di  kawasan  Jakarta  Selatan  kali ini  aku  tidak memegang  sendok  dan garpu,  aku memegan gitar dan piano . Buka  malam hari  sampe pagi, walau resikonya  sangat  berat  tapi hasil nya  juga lumayan untuk biaya praktek  dan biaya  semester  kuliah ku,


Pagi  itu  aku memasuki  ruangan  Universitas  ternama  itu


Ku akui,  aku jarang terlihat  lagi  belakangan  ini,  lebih  sibuk  bekerja  dan  sering  meninggalkan  mata  kuliah itu  di  awali  karena  tiba - tiba orang  yang  aku  kenal  dan  aku  ingin hindari ,  mengajar  disalah  satu  mata  kuliah yang  aku  geluti,  itu membuat duniaku  serasa  runtuh  kenapa   mereka  mengusik  sampai  ke kampus  juga ?”  aku membatin kesal,


dan  kali  ini  langakahku  terhenti  lagi  sosok yang  lain yang aku  hindari lagi  tiba- tiba  berdiri  di hadapan ku.  Frans  dan kakek  dan kakak juga kenapa tiga orang ini ada di sini?


Entah berapa lama aku harus menghindar dari mereka, mereke adalah keluarga. Aku membalikkan badan sebelum mereka menyadariku,  tapi  ternyata aku salah, Frans sudah melihatku


“Fai ! tunggu kamu mau kemana ?” Frans sedikit berlari mengejarku, Tapi aku menghiruakannya  bertemu ketiga lelaki ini bagiku saat ini lebih horror dari pada harus bertemu sundal bolong sekali pun.


Aku sangat membenci kakak lelakiku, bahkan kakekku, aku belum siap bertemu mereka dan Frans juga karena kejadian di apartemenya yang saat aku melarikan diri.


Aku sedikit berlari meninggalkan gerbang Universitas, walau Frans  kakek dan kakak ku, berlari mengejarku, aku lebih cepat berlari lagi meningalkan mereka, dan menghilang


Entah berapa jau aku menghindari dan berlari meninggalkan mereka membuatku gos-ngosan dengan napas terengah- engah,


Berlari kesetanan ,seperti di kejar anjing  membuatku, lemas bersandar di balik gedung Restoran cepat saji  yang berasal dari Pamansam itu. Tapi tiba- tiba ada tangan kekar yang baik hati menyodorkan ku  minuman miniral , aku menoleh Mohan mentapku dengan senyum


“Baiklah trimakasih”


Ia tidak bertanya apa yang terjadi dia mengikuti ku menyandarkan tubuhnya di dinding Restoran


Apa dia melihat aksi ku tadi? aku bertanya dalam hati, sikap diamnya membuatku penasaran.


“Apa yag kamu lakukan di sini” tanyaku setelah napasku mulai pulih dan normal kembali,


“Mengikutimu” katanya santai.


“Haaa, apa kamu melihat ku tadi.”


“Hammm” Mohan, mengangu, terlihat tidak bersemangat juga kali ini,

__ADS_1


“Ayo kita pergi dari sini.  Aku tidak ingin kuliah hari ini, bagaimana  denganmu, Fai?”


“Boleh juga” jawabku.


Sepertinya sama pemikiran aku dan Mohan, Kami lagi di rundung masalah, mencari hiburan waktuyang pas saat ini.


“Tunggu disini aku ambil motorku”  Mohan menyuruhku menuggunya dekat halte tidak jauh dari Kampus


Motor Ninja besar milik Mohan membawa kami menjauh dari Kampus itu


Berhenti di Pantai Ancol,  tujuan kami saat ini ide itu terbesit begitu saja,  Mohan bertengkar lagi dengan kelurganya membuatnya sangat murung kali ini,


Menyusuri pasir di tepi  pantai seperti sepasang kekasih itlah yang kami lakukan saat ini, mengahasbiskan waktu hingga sore hari, menghilangkan kejenuhan.


Mohan sekarang lebih terbuka padaku, dia tidak sungkan menceritakan kelurganya padaku ,Ibunya selalu berharap dia ikut andil ambil bagin di perusaan milik keluarganya,  sedangkan kakak sambungnya tidak mengiginkanya, ayah nya selalu menyepelekan nya,  Ibu nya hampir tiap hari menekannya,


“Apa yang aku harus lakukan Fai” Ia bertanya dengan  tangannya sibuk melempar batu- batu kecil kearah pantai itu, berusaha membuat beberapampatan.


“Kamu harus membuktikan pada kelurgamu bahwa kamu bisa,”


“Caranya?.”


“Aku hanya butuh sedikit pengakuan dari Ayahku,”  kata Mohan suranya pelan, Aku bisa rasakan apa yang di rasakan Lelaki ini. Ia butuh perhatian dari orang tuanya, kadanga anak butuh perhatian dan  untuk menginvirasisinya, kadanga anak bertingkah nakal  untuk mencari perhatian  dari orang tuanya. Tapi hanya orang menyadarinya.


Mohan hanya ingin Ayahnya memujinya,  memberinya sedikit semangat dan menghargai semua apa yang dia kerjakan,


Mohan setiap harinya semakin dekat denganku kami tidak lagi saling meledek satu sama lain, duduk berdampingan dengan nyaman. Aku memintanya menemaniku mencari buku di perputakaan untuk tugas kuliahku.


Belum mendapatkan buku yang aku cari, Bendungan gelap di langit sedikit membuat takut dan gelisah. Mohan belum menyadari tentang diriku sepenuhnya, apalagi tentang ketakutanku untuk berbagai hal, ia masih dengan sikap tenang mencari buku di dalam perpus, sesekali tangannya menjangkau bungku di rak yang paling tinggi untuk mendapatkan buku yang kami cari,


Hujan semakin deras ,aku mulai merasakan keningku di penuhi keringat, walau ruangan itu memakai pendingin tapi tidak mampan ke tubuhku, sepertinya monster dalam tubuhku mulai bangun,


Jangan lagi aku mohon aku bermon, aku bergumam pelan.


Gelang petanda yang  aku pakai mulai menandakan kedipan merah itu artinya ada hal buruk yang akan terjadi. Mohan masih berdiri di sampingku,  pikiranku tidak lagi pokus untuk mencari buku, walau tanganku memegang salah satu buku, tapi aku merasakan tubuhku mulai gemetar jantungku semakin memompa lebih cepat, seiring hujan makin deras dan  suara petir seakan langit akan runtuh.

__ADS_1


Setelah sambaran petir untuk kedua kalinya, dan hujan semakin deras, bajuku sudah mulai basah,   tanda merah di gelang yang aku pakai sudah  mengisi satu tanda love. Aku memegang lengan Mohan dengan ketakutan,


“Kenapa Fai kamu takut petir juga,  jangan takut ada babang Mohan di sini,” katanya dengan nada bercanda ,tapi tidak menoleh ke wajahku yang ketakutan dan keringat dingin sudah membanjiri tubuhku,


Ponsel ku berdering, Tari sahabatku. Ia menelepon, ia tadi ada dalam kantin bersama Repina.


“Fai kamu di mana?” tanya Tari terdengar sangat kawatir, tanganku gemetaran dan mulai merasa sesak, “Fai kamu sama Mohan,kan? Fai!” Tari terus memanggilku, di ujung telepon aku mendengat ia berlari.


“ Tar, aku takut,” aku takut kataku gemetar.


“Tunggu, aku akan datang, jangan kemana- mana pegang saja tangan Mohan, OKe. jangan kemana”  Tari menutup telponnya,


Dan panggilan kedua datang dari Bang NIko


“Fai, tarik nafas dalam dalam, Oke jangan keluar dari tempat itu ok!” suara bang Niko juga seperti berlari


Pada hitungan  manit,  akhirnya apa yang di takutkanpun terjadi. Mati lampu karena genset dalam Kampus rusak tertimpa Pohon.


Mati aku, kambuh lagi iya Tuhan, aku memegang dadaku.


Akhirnya monster dalam tubuhkupun bangun, Aku memeluk Mohan dengan kuat.


Bang Niko menghubunginya, terdengar dari balik ponselny bang NIko


“Faila bersamamu kan?”


“Iya bang, kenapa?”  Tanya Mohan yang belum menyadari kondisi darurat


“Tolang pegangin, Faila”.


“Memang kenapa Bang , mati lampu sebentar lagi dia akan kejang-  kejang” Mata Mohan melotot padaku. Apa lagi saat aku tiba- tiba memeluknya.


Di takutkan terjadi juga, hal yang menakutkan terjadi aku kejang-kejang. Ia panik, tapi masih dalam posisi bang Niko menelponnya ,


“Iya bang, ia… kejaang- kejang,” kata Mohan melihatku memeluk lengannya denngan erat dan satu tanganku lagi memegang dadaku yang tiba- tiba sesak tidak bisa bernafas,

__ADS_1


Kenapa harus terjadi lagi, kenapa harus saat ini kataku,


Tubuhku mengalami kejang yang luar biasa karena penyakit phobiaku pada hujan, petir, gelap, tempat sepi.


__ADS_2