
Walau Mohan dan teman teman lain protes dan tidak setuju dengan pekerjaan baru ku karna sering kali aku harus pulang pagi dan kelelahan dan mulai jarang ikut nongkorong lagi dengan mereka.
Aku menerima tawaran dari restoran yang menyajikan live musik di salah satu restoran cafe di kawasan Jakarta Selatan kali ini aku tidak memegang sendok dan garpu, aku memegan gitar dan piano . Buka malam hari sampe pagi, walau resikonya sangat berat tapi hasil nya juga lumayan untuk biaya praktek dan biaya semester kuliah ku,
Pagi itu aku memasuki ruangan Universitas ternama itu
Ku akui, aku jarang terlihat lagi belakangan ini, lebih sibuk bekerja dan sering meninggalkan mata kuliah itu di awali karena tiba - tiba orang yang aku kenal dan aku ingin hindari , mengajar disalah satu mata kuliah yang aku geluti, itu membuat duniaku serasa runtuh kenapa mereka mengusik sampai ke kampus juga ?” aku membatin kesal,
dan kali ini langakahku terhenti lagi sosok yang lain yang aku hindari lagi tiba- tiba berdiri di hadapan ku. Frans dan kakek dan kakak juga kenapa tiga orang ini ada di sini?
Entah berapa lama aku harus menghindar dari mereka, mereke adalah keluarga. Aku membalikkan badan sebelum mereka menyadariku, tapi ternyata aku salah, Frans sudah melihatku
“Fai ! tunggu kamu mau kemana ?” Frans sedikit berlari mengejarku, Tapi aku menghiruakannya bertemu ketiga lelaki ini bagiku saat ini lebih horror dari pada harus bertemu sundal bolong sekali pun.
Aku sangat membenci kakak lelakiku, bahkan kakekku, aku belum siap bertemu mereka dan Frans juga karena kejadian di apartemenya yang saat aku melarikan diri.
Aku sedikit berlari meninggalkan gerbang Universitas, walau Frans kakek dan kakak ku, berlari mengejarku, aku lebih cepat berlari lagi meningalkan mereka, dan menghilang
Entah berapa jau aku menghindari dan berlari meninggalkan mereka membuatku gos-ngosan dengan napas terengah- engah,
Berlari kesetanan ,seperti di kejar anjing membuatku, lemas bersandar di balik gedung Restoran cepat saji yang berasal dari Pamansam itu. Tapi tiba- tiba ada tangan kekar yang baik hati menyodorkan ku minuman miniral , aku menoleh Mohan mentapku dengan senyum
“Baiklah trimakasih”
Ia tidak bertanya apa yang terjadi dia mengikuti ku menyandarkan tubuhnya di dinding Restoran
Apa dia melihat aksi ku tadi? aku bertanya dalam hati, sikap diamnya membuatku penasaran.
“Apa yag kamu lakukan di sini” tanyaku setelah napasku mulai pulih dan normal kembali,
“Mengikutimu” katanya santai.
“Haaa, apa kamu melihat ku tadi.”
“Hammm” Mohan, mengangu, terlihat tidak bersemangat juga kali ini,
__ADS_1
“Ayo kita pergi dari sini. Aku tidak ingin kuliah hari ini, bagaimana denganmu, Fai?”
“Boleh juga” jawabku.
Sepertinya sama pemikiran aku dan Mohan, Kami lagi di rundung masalah, mencari hiburan waktuyang pas saat ini.
“Tunggu disini aku ambil motorku” Mohan menyuruhku menuggunya dekat halte tidak jauh dari Kampus
Motor Ninja besar milik Mohan membawa kami menjauh dari Kampus itu
Berhenti di Pantai Ancol, tujuan kami saat ini ide itu terbesit begitu saja, Mohan bertengkar lagi dengan kelurganya membuatnya sangat murung kali ini,
Menyusuri pasir di tepi pantai seperti sepasang kekasih itlah yang kami lakukan saat ini, mengahasbiskan waktu hingga sore hari, menghilangkan kejenuhan.
Mohan sekarang lebih terbuka padaku, dia tidak sungkan menceritakan kelurganya padaku ,Ibunya selalu berharap dia ikut andil ambil bagin di perusaan milik keluarganya, sedangkan kakak sambungnya tidak mengiginkanya, ayah nya selalu menyepelekan nya, Ibu nya hampir tiap hari menekannya,
“Apa yang aku harus lakukan Fai” Ia bertanya dengan tangannya sibuk melempar batu- batu kecil kearah pantai itu, berusaha membuat beberapampatan.
“Kamu harus membuktikan pada kelurgamu bahwa kamu bisa,”
“Caranya?.”
“Aku hanya butuh sedikit pengakuan dari Ayahku,” kata Mohan suranya pelan, Aku bisa rasakan apa yang di rasakan Lelaki ini. Ia butuh perhatian dari orang tuanya, kadanga anak butuh perhatian dan untuk menginvirasisinya, kadanga anak bertingkah nakal untuk mencari perhatian dari orang tuanya. Tapi hanya orang menyadarinya.
Mohan hanya ingin Ayahnya memujinya, memberinya sedikit semangat dan menghargai semua apa yang dia kerjakan,
Mohan setiap harinya semakin dekat denganku kami tidak lagi saling meledek satu sama lain, duduk berdampingan dengan nyaman. Aku memintanya menemaniku mencari buku di perputakaan untuk tugas kuliahku.
Belum mendapatkan buku yang aku cari, Bendungan gelap di langit sedikit membuat takut dan gelisah. Mohan belum menyadari tentang diriku sepenuhnya, apalagi tentang ketakutanku untuk berbagai hal, ia masih dengan sikap tenang mencari buku di dalam perpus, sesekali tangannya menjangkau bungku di rak yang paling tinggi untuk mendapatkan buku yang kami cari,
Hujan semakin deras ,aku mulai merasakan keningku di penuhi keringat, walau ruangan itu memakai pendingin tapi tidak mampan ke tubuhku, sepertinya monster dalam tubuhku mulai bangun,
Jangan lagi aku mohon aku bermon, aku bergumam pelan.
Gelang petanda yang aku pakai mulai menandakan kedipan merah itu artinya ada hal buruk yang akan terjadi. Mohan masih berdiri di sampingku, pikiranku tidak lagi pokus untuk mencari buku, walau tanganku memegang salah satu buku, tapi aku merasakan tubuhku mulai gemetar jantungku semakin memompa lebih cepat, seiring hujan makin deras dan suara petir seakan langit akan runtuh.
__ADS_1
Setelah sambaran petir untuk kedua kalinya, dan hujan semakin deras, bajuku sudah mulai basah, tanda merah di gelang yang aku pakai sudah mengisi satu tanda love. Aku memegang lengan Mohan dengan ketakutan,
“Kenapa Fai kamu takut petir juga, jangan takut ada babang Mohan di sini,” katanya dengan nada bercanda ,tapi tidak menoleh ke wajahku yang ketakutan dan keringat dingin sudah membanjiri tubuhku,
Ponsel ku berdering, Tari sahabatku. Ia menelepon, ia tadi ada dalam kantin bersama Repina.
“Fai kamu di mana?” tanya Tari terdengar sangat kawatir, tanganku gemetaran dan mulai merasa sesak, “Fai kamu sama Mohan,kan? Fai!” Tari terus memanggilku, di ujung telepon aku mendengat ia berlari.
“ Tar, aku takut,” aku takut kataku gemetar.
“Tunggu, aku akan datang, jangan kemana- mana pegang saja tangan Mohan, OKe. jangan kemana” Tari menutup telponnya,
Dan panggilan kedua datang dari Bang NIko
“Fai, tarik nafas dalam dalam, Oke jangan keluar dari tempat itu ok!” suara bang Niko juga seperti berlari
Pada hitungan manit, akhirnya apa yang di takutkanpun terjadi. Mati lampu karena genset dalam Kampus rusak tertimpa Pohon.
Mati aku, kambuh lagi iya Tuhan, aku memegang dadaku.
Akhirnya monster dalam tubuhkupun bangun, Aku memeluk Mohan dengan kuat.
Bang Niko menghubunginya, terdengar dari balik ponselny bang NIko
“Faila bersamamu kan?”
“Iya bang, kenapa?” Tanya Mohan yang belum menyadari kondisi darurat
“Tolang pegangin, Faila”.
“Memang kenapa Bang , mati lampu sebentar lagi dia akan kejang- kejang” Mata Mohan melotot padaku. Apa lagi saat aku tiba- tiba memeluknya.
Di takutkan terjadi juga, hal yang menakutkan terjadi aku kejang-kejang. Ia panik, tapi masih dalam posisi bang Niko menelponnya ,
“Iya bang, ia… kejaang- kejang,” kata Mohan melihatku memeluk lengannya denngan erat dan satu tanganku lagi memegang dadaku yang tiba- tiba sesak tidak bisa bernafas,
__ADS_1
Kenapa harus terjadi lagi, kenapa harus saat ini kataku,
Tubuhku mengalami kejang yang luar biasa karena penyakit phobiaku pada hujan, petir, gelap, tempat sepi.