
Aku berharap. Jika aku bangun nanti semuanya baik-baik saja. Aku berharap Frans tidak merasa bersalah, karena aku terluka.
Melihatnya menangis waktu aku terluka membuatku merasa bersalah. Karena tindakanku makanya ia begitu, ia emosi dan melakukan hal itu.
Ia ingin membela kehormatannya, karena ada seorang wanita gila yang menyerangnya membabi buta, memaksa mengambil sesuatu dari bibirnya dengan sikap liar.
Makannya Frans membela diri, makanya mendorongku. Bukan penganiayaan, tapi pembelaan diri kira- kira seperti itu.
Aku masih menutup mata dengan bobo cantik menurutku. Tapi suara itu membuatku tidak ingin bagun selamanya.
Sepertinya Felix dan tante Mira ada dalam ruangan aku bisa pastikan aku di rumah sakit .Karena bau obat-obatan Khas rumah sakit.
Oh apa yang akan aku lakukan? Aku membatin
Aku sudah bangun, tapi karena suara-suara itu aku tidak ingin bangun dan kembali melanjutkan tidur, sepertinya mataku berat untuk diajak bangun.
“Kamu sudah bisa bangun ,mereka sudah pergi”
Suara itu? bukankah itu si manusia kutub utara…?
“ Nona Faila. Aku tau kamu sudah bangun dari tadi” katanya lagi,
Aku mengintip sedikit wajahnya pas didepan mataku jaraknya, hanya satu jengkal dari mataku.
Aku mengedip-edipkan mataku berapa kali. Mencoba menormalkan pandangan, ia terus menatap mataku entah apa yang di lakukan, Ingin rasanya aku menendang wajahnya
Aku malah menghayal:
~Hiaak Paaaaaaak~
Dalam khayalan singkatku, aku menendang bagian wajahnya dan terpental dari ranjang jatuh kelantai
Aku tersenyum puas, walau hanya dalam khayalan bagaimana kalau asli aku menendang wajahnya dari hadapanku, akan lebih senang lagi.
Entah kenapa dari awal bertemu sampai sekarang, aku tidak pernah menyukainya.
Kata orang Dari benci dulu baru cinta belakangan.
Tapi untuk mahluk yang satu ini ,sepertinya tidak, rasa benci padanya sudah berkarat-karat.
“Kenapa tersenyum, apa yang kamu pikirkan,” kata Felix. Nafas hangatnya, menyisir wajahku, nafasnya bau kopi late,
“Tidak” jawabku mencoba mengalihkan pandanganku dari wajahnya, melihat sekeliling, Menerka, aku di larikan kerumah sakit yang mana.
“ Ini makan dulu buburnya , karena banyak yang akan kita bahas hanya kita,” katanya dengan wajah datar, terlihat raut kecewa.
Entah apa yang terjadi selama aku dirumah sakit rasanya aku sangat lama tidur.
“Aku di Mana ?”
__ADS_1
“Kamu di rumah sakit Faila! Jangan bilang kamu tidak mengingatnya dan jangan bilang kamu lupa ingatan lagi,” kata Felix dengan raut wajah sangat dingin.
Tangannya mengaduk bubur putih yang ada dalam Bangkok, sesekali ia meniupnya. Kali ini Ia menatapku dan menyodorkan ujung sendoknya kedalam mulutku.
OH apa Ia ingin bersikap manis padaku’ Ia mencoba menyuapiku sekarang? aku bermonolog sendiri
“Buka mulutnya! tanganku pegal ini” kata Felix menatapku dengan sikap tidak suka.
Kadang aku bertanya –tanya kenapa ia memaksakan diri, kalau tidak suka padaku, kenapa Ia harus memaksakan diri seperti ini, bukankah hal itu sangat melelahkan bagimu.
Ia tampan, mapan dari keluarga baik –baik, kenapa ia tidak mencoba membuka hatinya untuk wanita di luar sana, mencoba hidup baru, melupakan wanita yang meninggalkannya. Kenapa Ia juga harus memaksakan dirinya seperti ini, jelas-jelas, ia tidak menyukaiku sedikitpun, baik akupun seperti itu.
Aku dulu melakukan kesalahan , meng iyakan, menikah dengannya. Tapi itu dulu dan akupun sudah menjelaskan padanya . Kalau aku tidak sungguh menginginkan pernikahan itu, aku hanya tidak berpikir Panjang saat itu, Lebih tepatnya, aku putus asa . Karena penyakitku yang di vonis Dokter akan lumpuh selamanya. Tapi Tuhan masih kasihan padaku dan diberi kesehatan sampai saat ini dan melewati semua Vonis Dokter. Tapi aku sudah meminta maaf untuk hal itu,
Apa yang kau harapkan dalam hubungan seperti ini? bisikku dalam hati, mencoba membaca lewat tatapan matanya. Aku masih menatap wajahnya , tangannya masih menunggu, mulutku terbuka .
“Biar aku makan sendiri,” kataku , aku menggeser tubuhku, Niatnya agar bisa duduk sedikit, bukanya memberi bantuan . Ia malah menonton dengan gayanya ,tangan melipat di dada,
ia hanya menonton melihatku kesusahan membenarkan posisi dudukku.
Dasar ****** !
Bukanya tolongin, malah diliatain, apa yang mau diharapkan dar laki-laki yang seperti ini aku benar benar kesal dan marah.
Aku tidak sengaja mengibaskan tanganku kesamping , nampan kecil yang berisi bubur itu berhamburan dan pecah dilantai.
Aneh’ Ia bisa berdiam begitu, walau bangkok bubur itu sudah pecah dan beserakan.
Tangannya masih berlipat di dada, tatapannya masih belum berpaling dariku,
Ada apa dengan semua laki-laki ini!. Kemari Frans yang menatapku seperti itu, sekarang ia juga melakukan hal yang sama. Ini malah lebih menjengkelkan, Ia bisa hanya diam seperti patung seperti itu
.
Bahkan aku berharap ada Dewa kematian menghilangkannya saat ini, dari hadapanku. Aku berharap aku tidak bertemu manusia seperti ini di mana aku memijak tanah.
Sangat menjengkelkan ,melihat tatapnya saat ini, aku sampai mengepal tangan di bawah selimut melihat wajahnya.
“Suster bisa bantu aku duduk?”
“Baik bu” kata suster itu,Tapi matanya menatap Felix yang masih duduk di depan. kali ini suster itu menatap wajahku mungkin dipikirannya kami sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
“Sus, bisa bantu aku berdiri?”
“Mau kemana mbak?” tubuh anda masih lemah.
“Aku ingin pergi dari tempat ini, di sini sangat menjengkelkan” Kataku dengan wajah marah.
“Maaf mbak, tidak bisa meninggalkan rumah sakit, tanpa persetujuan Dokter yang merawat mbak. Butuh persetujuan wali Mbak juga” katanya menahanku agar tetap di ranjang.
__ADS_1
“Aku sudah tidak apa-apa Suster, aku hanya keluar dari tempat ini, aku ingin tidur di kamarku saja.” Kataku dengan kesal.
“Baiklah, aku ingin bicara dengan walinya,” kata suster yang melihatku marah.
“Aku walinya sus,” biarkan aku yang bicara kata felix. Yang tadi hanya menontonku .Kini mulut itu bicara juga.
“ Baik Pak,” suster mengangguk.
“Tapi kamu bukan Waliku, panggilkan kakakku saja suster, kalau tidak kakekku. Aku tidak mengenal orang ini. Mungkin kelurga membuatnya disini untuk pajangan saja.” Kataku dengan kesal-sekesalnya.
Suster itu kembali diam dan memangil seseorang untuk membersihkan pecahan beling bangkok. Kami hanya diam menunggu Ibu yang memegang sapu dan serokan itu menyelesaikan pekerjaannya,
“Bisa tolong bawa bubur yang baru suster yang tadi tumpah semua . Ia belum memakannya sama sekali,” kata Felix masih dengan tatapan seperti tadi.
Suster itu meninggalkan kamar, ia menatapku sekilas sebelum meninggalkan kami.
“Apa kamu masih punya kekuatan menatapku seperti itu ?” Tanya Felix.
“Iya kenapa ini mataku” jawabku
“Faila…Faila, aku tidak menyangka kamu akan senekat itu,” katanya.
“Nekat apa?”
Apa Frans memberitahukan, kalau aku yang memaksanya , terus memaksanya hari itu. Apa Frans mempermalukan di depan keluarga Felix. Otakku masih berputar-putar.
Tiba –tiba otakkku mulai tidak mengingat kejadian hari itu dan paling parahnya, malam itu aku tidak bisa mengingatnya
dengan jelas. Apa yang terjadi?
Aku mencoba mencari ponsel mencari kanan -kiri
Aku mulai merasa kesal, karena orang –orang itu kenapa meninggalkan aku bersama alien yang satu ini.
Tanganku masih meraba-raba bagian bawah bantal mencari keberadaan ponselku.bBenda itu sudah bagian dari tubuhku. Jika Ia tidak berada dekatku, aku akan merasa seperti orang gila jika di jauhkan dari namanya Ponsel
Ia masih menatapku ,mendikteku,menghinaku martabat ku, dan menuduhku dengan segala macam. Aku mengambil jurus diam karena kasus terakhir di rumahnya, aku hampir tinggal nama
karena hampir menghabisiku.
Aku mendengarkan segala penghinaan yang dia ungkapkan versi pikirannya, entah dari mana Ia mendapatkan berita, begitu cepat. Orang yang bersamaku dalam club malam itu, tidak ada yang Ia kenal.
Hanya Tari yang paling Ia kenal, tidak mungkin Tari menceritakan semua itu, demi apapun aku yakin itu. Ia bagai malaikat pelindung bagiku selama ini. Tidak mungkin Ia menceritakan semua kegilaanku sedetail itu.
Manusia Atlantik ini, dapat dari mana semuanya tentang kami yang pergi ke club, mabuk-mabukan dan berakhir di rumah Agus temannya Frans
.
Bahkan kejadian malam itu katanya, aku tidur dengan Frans itu tidak mungkin terjadi. Lelaki itu bukan tipe yang seperti itu. Ia tidak akan menyentuh wanita yang malam.
__ADS_1