Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Menjadi guru paud demi anak anaknya


__ADS_3

“Maaf aku terbawa emosi” aku hanya berasa capek


“Iya gak papa mbak aku mengerti situasinya” Kedua orang itu selalu menunjukkan ke pedulinya pad keluargaku.


“Iya terimakasih atas pengertiannya .”


“Frans masih di kamar mereka Mbak, mungkin ikut tidur juga sepertinya sekalian menidurkan anak-anak.


Aku penasaran bagaimana cara Frans menaklukkan dua malaikat kecil tersebut , karena di mata mereka hanya tiga orang paling dekat pada mereka berdua.


Aku melangkah dengan pelan melangkah dengan berjinjit, agar tidak menimbulkan suara. Langkah pertamaku tentunya menuju kekamar kedua malaikat kecilku, jantung semakin berdebar tidak karuan, karena penasaran bagaimana caranya lelaki tampan itu menenangkan kedua bocah kembar itu,


Aku membuka pintunya dengan sangat pelan agar tidak mengeluarkan suara,


“Oh..tubuh frans terlihat mengicut kesempitan di ranjang kecil Aretha yang dikhususkan untuk mereka berdua, tangannya memeluk tubuh kedua bocah kembar itu


Arden ikut tidur juga di kasur milik Aretha, padahal ranjangnya di sebelah Aretha, tapi sepertinya Frans mencoba menidurkan mereka berdua sekaligus


Frans tidur memiringkan tubuhnya dan menjadikan tangannya jadi bantalnya ia sengaja tidur miring agar tubuh mereka bertiga muat dalam satu ranjang kecil tersebut.


Aku berdiri diantara ketiganya, melihat mereka bertiga tidur dengan gaya mata yang sama, matanya terbuka sedikit walau sudah tertidur ini bukan lagi kembar dua melainkan kembar tiga, pikirku tertawa dalam kesedihan


Aku berdiri diantara mereka bertiga terlihat seperti dewi pemisah antara anak Ayah.


Tapi menyesalpun tidak ada gunanya lagi yang aku lakukan menjalani, jalan yang aku pilih,


Aku masih berdiri di samping tubuh frans memandang mereka bertiga , kedua bocah kecil itu mengeluarkan dengkuran kecil dan tangannya Frans masih berada diatas tubuh keduanya sebuah pelukan dari ayah kandung. Kalau saja aku tidak mengambil keputusan yang buru-buru mungkin kami berempat sudah hidup bersama, lagi-lagi pikiran bodoh itu yang mengisi otak udangku,


Aku menarik nafas panjang dan berbalik tapi tangan Frans menahanku membuat ku kaget,


Ia terbangun dengan mata memerah ,karena sudah sempat ketiduran tangan satunya memegang tangannya yang dijadikan bantal,


“kamu uda pulang?”.


“Hem,” aku hanya menyahutnya dengan pelan takut mereka terbangun lagi.


“Bagaimana keadaan Tari?,” tiba-tiba aku merasa sangat sedih air dimataku hampir tumpah .


“Ia kehilangan Bayinya,” aku menunduk menahan rasa sedih itu, kesedihannya yang dialami sahabatku dan kakakku aku juga aku rasakan,


“Aku turut bersedih,” kata Frans dengan tulus, baju kemeja yang dipakai terlihat lecek dan rambutnya acak-acakkan.


“Apa kamu mau minum sesuatu?.”


“Boleh deh yang hangat-hangat saja perutku rasanya kurang sehat,” kata Frans tangannya memegang perutnya

__ADS_1


Jam sudah bertengger di angka 4, .jam empat pagi aku dan Frans meninggalkan kamar keduanya.


“aku tau banyak kesukaan Frans tanpa ia sebut minuman apa yang ia minum aku sudah membuatnya, susu hangat ditambah sedikit cream.


“Makasih,” kata Frans setelah aku menyunguhkan kedepanya susu hangat.


Aku hanya diam tanpa harus memulai bicara dari mana, apa yang aku tanyakan aku tidak tidak tau mau bilang apa


“Apa kamu baik-baik saja Fai?.”


“Iya ne sedikit pusing mungkin karena kurang tidur.”


“Apa kamu mu saya urut?.”


“Ah.tidak perlu frans kamu mending pulang frans untuk istirahat juga?”


“Ini sudah pagi Faila tidak mungkin untuk tidur lagi kata frans.


“iya juga sih tapi frans harus pulang aku urusannya aman


Ia melihatku gelisah dan mungkin mengerti situasi canggung diantara kami, frans memang orang yang sangat pengertian.


“Baiklah mungkin benar aku harus pulang kata Frans


Aku hanya menunduk meng iyakan , ia balik kekamar sikembar saya pikir ia ketinggalan kunci mobilnya tapi yang terjadi memberi kedua bocah kembar itu kecupan , mengusapnya dengan kasih sayang aku sungguh tidak tahan melihatnya aku memilih t urun lagi ke lantau bawa dan duduk dengan pikiran masih melayang jauh entah kemana,


“Baiklah Frans.” kataku mencoba bersikap tenang walau dalam hati ingin berterimakasih dan memeluknya tapi aku menahan diri,


Jam 06:00


Di meja makan kedua bocah kembar sudah rapi untuk berangkat ke sekolah, kedua pengasuh masing-masing sibuk membujuk keduanya untuk makan Aretha yang paling rewel, dari kemarin belum melihat kak Hendro dan Tari bundanya membuatnya ngambek dan rewel tidak mau sarapan dan maunya di suapin Papinya .


Sepertinya kakak tau akan hal itu, disela kesedihannya karena menjaga istrinya ia menyempatkan diri mengawasi sikembar walau ia tau aku ada bersama mereka.


Aku baru saja turun ingin berangkat kantor juga rencananya, karena sudah beberapa hari tidak masuk ke kantor juga,


Di di meja makan terlihat Aretha dengan bibir maju kedepan dan tangan di lipat ke dada, ia tidak mau disuapi makan sudah pasti karena ia tidak melihat Papinya dan Tari pagi ini.


Melihatku rurun ia berlari menghampiriku dengan tangisan, rambut panjang diikat ekor kuda,


“Mommy dari mana?”. Dengan bahasa Indonesia yang masih di campur-campu


Aku terpaksa megambil alih tugas semuanya dibantu keduanya orang mbak nya masing-masing.


Aku penasaran bagaimana mereka berdua bisa sangat akrab dengan Frans , ini kesempatanku ingin mengkoreksi semuanya mumpung tidak ada kakak di rumah.

__ADS_1


“Apa kalian sering bertemu dengan Om Frans?’:


“Oh ganteng itu ? kata Aretha memuji kegantengan papa kandungnya.


“iya,” jawabku


“ia guru kami,” kata Arden


“Ha guru? Aku kaget bagaimana ceritanya lelaki tampan itu menjadi guru Paud.apa itu ia lakukan demi bisa melihat anak-anaknya?.” Aku membatin dan penasaran.


Setelah mereka berdua sudah selesai, aku sengaja yang mengantar keduanya,


“Mommy ayo antar Aretha sampai kedalam kelas, rengek anak cantik itu, abangnya juga demikian mereka ingin saya yang mengantar sampai kedalam kelas,


“Ok baik tapi hanya sebentar Iya, habis ini mommy akan berangkat ke Kantor lagi , aku mencoba membujuk keduanya.


Kami disambut guru guru yang sangat cantik dan rama,


Aku penasaran apa benar Frans jadi guru ditempat itu, setelah keduanya diserahkan ke gurunya. Aku sengaja bersembunyi ingin bila waktu Frans datang , menunggu lima menit, benar saja seorang laki-laki tampan memaki baju santai dengan kaos polo berwarna putih dengan memakai tapi memasuki kelas Aretha dan Arden.


Disini para orang tua tidak boleh masuk dan melihat aktivitas anak anaknya mereka diberi batas masuk sehingga anak-anak didik dengan begitu mandiri.


Anak-anak yang kebanyakan wajah kebu-bulean yang kebanyakan penghuni karena sekolah ini sekolah internasional paud dari segala Negara makanya bahasa yang di pakai bahasa Inggris.


Untuk melihat mereka di sediakan monitor besar di rungan tunggu para orangtua,


Terlihat Frans sedang membujuk Aretha yang ngambek di jahilin kembarannya, hal seperti sudah itu sudah kebiasaan mereka berdua


Frans mengendong Aretha menenangkannya “ ini bukan lagi seperti guru Paud tapi seperti keluarga yang sedang belajar bersama.


Melihat kembarannya digendong entah kenapa Arden minta digendong juga.


Maka dengan ototnya yang besar Frans menggendong kedua darah dagingnya di pundaknya guru-gurunya hanya bisa senyum dan memaklumi, apa yang di lakukan Frans.


Melihat itu hatiku lagi –lagi merasa sakit dan bersalah,


“Apa ibu yang ibu melahirkan keduanya anak kembar Itu?.” Tanya seorang wanita , beliau adalah kepala sekolah


‘Kok ibu tau, saya bisa lihat kamu ada miripnya dengan lelaki itu.” Katanya seperti


“Haaa maksudnya Frans?.’


“Iya,”


“Kok, jadi mirip sama frans Bu.” bukan sama anak-anak saya.”

__ADS_1


“Pasangan jodoh atau pasangan hidup itu kadang kita bisa mereka sangat mirip. Kata wanita berambut pendek tersebut.


“Kami sudah bercerai Bu.


__ADS_2