
Frans mengunci pintu kamarnya.
“Maaf Frans, kamu salah menilaiku. Dulu aku memang mengemis untuk satu pelukan . Tapi itu dulu Frans …. saat ini , aku tidak menginginkannya lagi,” ucapku.
Aku menjauh darinya berdiri di satu sisi tempat tidur itu.
“Kenapa Fai, bukannya kamu, menginginkan hal ini dari dulu?”
“Aku tidak menginginkannya dan tidak menyukai hal seperti itu, kamu tidak ingin memaksaku, kan?”
“Aku akan memaksamu bila perlu, agar kamu tidak pergi dariku” Frans menatapku tajam.
“Jangan seperti ini Frans, ini tidak benar,” kataku masih berusaha menolaknya “ Jangan bertindak sesuatu yang akan kamu sesali nantinya,” kataku.
“Karena kamu membuatku hampir gila, Fai,”
Tatapan itu benar- benar sebuah kemarahan, “Aku yang menjagamu selama ini , kenapa Mohan seenak nya menyentuh yang bukan miliknya, enak bangat ia menyentuh bibirmu, bahkan aku tidak melakukanya, ia bahkan berani melakukanya di depan orang banyak. Kamu milikku Faila. Kamu hanya milikku, tidak ada seorang yang bisa menyentuhmu, kamu mengerti itu!” Aku kaget mendengarnya.
Ia berubah jadi posesif apa ini karma untuknya atas sikapnya yang mengabaikan cinta dan perasaanku selama ini?
Saat hatiku mulai lelah dan perlahan menjauh di saat itu juga dia mulai mencintaiku. Apa itu salahku?
Tatapannya buas memandangku, seakan akulah pihak paling bersalah di bagian ini, seakan aku sudah berselingkuh darinya. Ia menegaskan kalau aku barang miliknya yang tidak boleh dia ambil orang,
Aku masih seperti anak kambing yang terjebak di kandang macan, rasa menjaga diri dengan sikap mengantisipasi, aku masih memegang salah satu bantal alat untuk memukul, walau sesungguhnya bantal tidak akan bisa menyakitinya,
Sikapku yang menghindar membuatnya marah dan lebih bringas kali ini, dengan rahang mengeras , dia melampiaskan kemarahannya melempar barang barang yang berada dalam kamar apartemen itu, termasuk foto kami yang di atas nakas di samping tempat tidur,
__ADS_1
Kamar itu di hiasi foto-foto kebersamaan kami dan barang- barang pribadiku masih tersusun rapi, apartemen itu terlihat seperti apartemen milik kami berdua, karena lebih banyak barang-barang ku yang berada di apartemen
“Apa kau menghindar dariku? Apa kau ingin lari dari ku? setelah banyak kau tinggalkan di sini, ia menunjuk dadanya. Kenapa kamu menghukumku seperti ini? Aku sudah berusaha, aku pikir tidak akan sesakit ini,” katanya
Aku masih mematung seperti orang kebingungan , masih dengan sikap antisipasi, aku sudah berjanji pada diriku, aku ingin fokus kuliah dulu.
Tidak tau apa sebabnya, kenapa dari banyak Universitas di Ibukota dan kakakku harus memilih kampusku untuk ia mengajar satu mata kuliah di kampus kami.
Membuatku makin tengelam dari kampus dan memilih banyak waktu bekerja untuk mencari uang. Saat ini, aku khawatir Frans tidak bisa mengontrol luapan emosinya, tangan penuh darah dengan dentuman keras dari tembok apartemennya. Frans menonjok beberapa kali tembok yang tidak bersalah itu untuk pelampiasan emosinya.
Ia berteriak seperti kesetanan saat aku menghindar dan menolak tubuhnya. Ia sangat marah saat aku menolaknya, terus bagaimana dengan aku yang ia tolak terus-terus menerus dulu?
Dulu ia selalu menolaknya, alasannya takut akan di lihat orang lain , tapi kali ini saat aku menolaknya ia juga marah, berarti kita impas aku membatin.
“Fai jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu aku baru menyadari kalau aku begitu mencintamu, aku baru menyadari rasa kehilangan, setelah kau pergi, Hatiku sakit jika kamu bersama lelaki lain, rasanya aku ingin menghabisi mereka,” kata Frans dengan tatapan sendu dia menatapku, aku melihat ada keputusasaan di balik mata sendunya.
Ia mendekat dan memeluk tubuhku, aku masih membatu , aku tidak pernah mengira kalau ia akan semarah ini.
Matanya mengunci pandanganku dan mulai turun menjelajahi wajahku dan mendarat di bibir ku, tanpa meminta ijin pada pemiliknya. Ia mendaratkan bibirnya ke bibir yang berwarna merah itu , seakan-akan itu memang sudah miliknya.
Aku memilih menutup mataku, membiarkannya melakukan apa yang yang ia inginkan, tapi aku ternyata tidak bisa hanya berdiam diri, aku terusik juga dengan sentuhan hangat dan lembut yang di berikan Frans.
Setelah beberapa lama kami saling berpaut menerima dan memberi ternyata tidak sampai hanya bagian bibir saja, kali ini tangan kekar nya menyusup masuk ke bagian paling indah di dada ini, menarik di tubuhku ini mendekat. Jari-jari Frans menyusuri semua bagian tubuh ini.
Bagian indah di dadaku memang indah dan berisi. Tari selalu bilang kalau ia iri padaku, karena punyaku besar, ia selalu membandingkan dengan punya dia yang katanya buah manggis vs jeruk bali,dan jeruk bali punyaku.
Napas kami semakin menderu satu sama lain Aku merasakan aliran listrik yang mengaliri tubuh ini dan tubuh Frans juga.
__ADS_1
Kali ini aku merasakan napas kami saling memburu dan saling menyahut penuh semangat dan keringat sudah mulai menetes dari balik pori-poriku. Frans, menuntun tubuhku menjadi posisi tiduran ranjangnya, kali ini aku seperti betina rakus mengebu-gebu meminta lebih.
Lama bergelut dengan aktivitas panas dan cengkeraman di bagian lembut ini, kali ini hanya terbungkus bra berwarna coklat.
Mata Frans semakin liar dan buas melihatnya, tapi ia memperlakukannya dengan lembut , membuatku lupa kalau yang kami lakukan adalah sebuah kesalahan lagi dan ini memang untuk kesekian kalinya aku dan Frans melakukannya.
pundakku naik turun seiring mengimbangi napasku yang semakin berat, Frans menarik dengan sangat hati- hati kemeja bermotif yang aku kenakan, ia melepaskan benda penghalang itu, aku merasa malu melihat tidak ada selesai benang pun menutup bagian atasku , aku menutupnya dengan kedua tangan , ia menyingkirkan kedua tanganku dengan lembut.
Kembali mendarat bibirnya nke bibir ini, lebih akresif dan menyusuri dari bibir leher dan kali ini bermain lama di bagian dada, meninggalkan banyak jejak di bagian dada dan leher, aku bergerak tak beraturan, ia semakin bersemangat menjulur ke bagian perut dan siap ke pertempuran terakhir.
Tiba -tiba aku tersadar ketika tangannya mulai membuka kancing celana jeans milikku,
“Aku belum siap ....,”
Ungkapku tiba- tiba dan terduduk menutup bagian dada yang terbuka dengan bajuku
“Fai tenanglah aku bersamamu” Frans dengan sabar membujukku, berharap kami melanjutkan.
“Maafkan aku Frans, aku sungguh minta maaf,” Kataku menyudahi permainan kami, aku seakan terbangun dari mimpi indah itu
Berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk memakai baju, hebat juga aku bisa punya tenaga dan kesadaran untuk menghentikan aksi gila itu
Frans hanya terdiam melihat aksiku yang tiba- tiba berhenti dipertandingan terakhir.
Mungkin bagi Frans, itu sangat menyiksa sebagai kaum laki laki . Mungkin ia akan masuk ke kamar membawa sabun untuk menyelesaikannya, kalau ia tidak ingin sakit kepala, begitu kata buku yang aku baca.
Maafkan aku Frans, aku menyambar tasku dan melarikan diri.
__ADS_1
Bersambung …