Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Selalu diabaikan


__ADS_3

Selalu diabaikan


Kriiing …!


Kriiing …!


Tanganku meraba-raba  nakas kecil di samping tempat tidurku.


Tanganku menekan benda berisik itu dan berhenti.


“Selamat pagi dunia” kataku merentangkan  kedua tangan mengerakkan otot


Menyeret langkah kaki ini dengan malas menuju kamar mandi, membasuh wajahku sebelum melangkah kedapur,


Menyajikan serapan pagi untuk keluarga Frans, dalam keluarga Frans  semua menu makanan harus yang sehat-sehat.


Aku  mulai belajar memasak agar bisa  menyajikan makanan sesuai standar keluarga Frans. Aku  memilih jurusan ahli gizi sebenarnya agar bisa selalu menyajikan menu sehat nanti untuk Frans dan anak-anak kami. Maka serapan pagi ini;


Serapan hari ini banana Fancake dan potongan-potongan buah segar.


Setelah selesai serapan Frans langsung pamit.


“Frans tunggu aku,” teriakku, saat ia bergegas mau berangkat duluan.


Aku biasa menumpang  untuk berangkat  ke kampus, walau  nilaiku  jelek  setiap  semester,  aku  tidak peduli yang penting  aku  bisa  melihat Frans setiap saat, melihatnya  bermain  bola basket  bersama  teman - temannya hal yang paling menyenangkan untukku.


 Kebanyakan kalau  di kampus,  sepanjang  hari  tugasku menemani  lebih tepatnya mengekor pada  Frans. Dia  salah  satu deretan  cowok  idola di kampus, Frans cowok populer di kampus kami,  para mahasiswa perempuan akan menatap Frans dengan tatapan dalam setiap kami melintas, membuat hati ini sering sekali merasa panas.  Mata wanita  akan  meleleh  melihatnya,  ia  jago  main basket   ditambah lagi ia jago main  gitar  menambah  bonus  menjadi  idola  para  wanita termasuk  diriku.


Kakek,  sudah s mengingatku  beberapa  kali agar menuntaskan kuliah, aku mengacuhkannya, aku bisa dekat  setiap hari dengan Frans hal yang luar biasa untukku.


Apa Frans juga menyukaiku? jawabannya tentu saja.  Tidak


Aku masih berjuang untuk mendapatkanya, aku memang hobby memasak sejak dari kecil.


Kakekku meninggalkanku  di panti asuhan . Merasakan kehidupan yang keras. Kehidupan yang keras itu juga  menjadikanku wanita yang pantang  menyerah hingga saat itu, pantang menyerah untuk mengejar  impian termasuk  mengejar pria yang  aku suka.


 Rumah Keluarga Frans sudah sebagai  rumah  sendiri  bagiku. Mami  dan  papi  sudah menyerahkan  dapur  rumah itu padaku,  untuk menyiapkan menu makanan menjadi  tugasku, tugas  masa memasak itu aku ambil alih dari  bibi Atun, asisten rumah Frans  yang  sudah puluhan  tahun  mengabdi  untuk  keluarga  Frans aku ingin  belajar jadi  seorang istri untuk Frans.


 Kadang  kalau  aku tidak pengen  masak,  tugas itu  ku  kembalikan lagi buat  bi Atun.


Pulang dari kampus hari ini Frans  hanya diam, ia tidak banyak bicara padaku. Setelah malam  panas kami malam itu, aku berpikir ia akan berubah sedikit baik padaku karena aku sudah memberikan tubuh ini seutuhnya padanya. Tetapi dugaanku salah, bukan makin dekat Frans selalu ingin menghindar dariku.


Aku jadi sedih, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mendapatkan hati Frans, aku sudah melakukan semuanya. Tetapi ia tisak pernah sekalipun ia mengangapku.


Saat di dalam kamar, ku tatap tubuh ini di pantulan kaca.

__ADS_1


‘Iya tubuhku  bengkak seperti anak gaja, tetapi aku merasa aku tetap cantik walau pipiku bakpau tetapi tetap manis, Serius  aku ….


Frans tidak mau keluar dari kamarnya sejak kami pulang sekolah, aku sudah melakukan berbagai cara untuk  menemuinya tetapi tetap tidak berhasil aku mencoba  lagi. Tepat saat bibi  membawa jus jeruk hangat pesanan Frans.


“Bi, biar aku yang membawa ke kamar Frans iya”


“Tapi Non ….” Si bibi  menatapku dengan tatapan khawatir.


“Sudah, tidak apa-apa Bis, biar saja  saya saja.” Mengambil alih nampan di tanganya.


  Tok …! Tok ….!


“Iya?”


“Frans ini jus jeruknya pesanan kamu, si bibi memintaku mengantar ke sini”


Lama  menunggu diam, aku masih berdiri di depan pintu Frans.


“Minum sajalah, aku tidak meminumnya,” ucapnya


Aku merasa sangat kecewa, sekaligus merasa sangat sedih. Tetapi percayalah aku tidak akan menyerah.


                      *


 Aku  memasukkan pancake  ke dalam termos  bekal  yang selalu aku,  bawakan untuknya. Pagi  tadi  Frans belum  sempat  serapan, jadi aku akan membawakan serapan pagi  untuk Frans.


Frans,  berangkat  pagi  sekali  dengan alasan ingin latihan basket sebelum pertandingan nanti siang.


Aku berharap latihan itu alasan yang sebenarnya, bukan karena  pemaksaan  yang aku lakukan  malam itu.


Tapi belakangan ini, ia sering sibuk latihan sepanjang  hari dan   sering  melewatkan  serapan  paginya,  sebagai  calon  istri  yang  baik. Aku  harus  ikut  andil  pada  kesehatan  tubuh Frans,  untuk  aset  kami  nantinya setidaknya  itu   yang  selalu  aku  pikirkan.


Jam  kuliahku  siang,  aku  berlari  ke lapangan basket, ternyata benar,  ia ada pertandingan hari ini, lapangannya   sudah  di  padati manusia   dan kebanyakan  para  gadis - gadis  muda dari kampus.


 Cewek -cewek  muda  penggemar  basket. Frans devan  sebagai  kapten di timnya, jeritan histeris para  wanita  muda itu  terdengar  memenuhi lapangan basket  hari  itu,  saat  dia men dribble bola  lalu  memasukkan nya  kedalam  keranjang .


Tubuhnya  yang  tegap  dan  senyumnya  yang  menawan, tak pelak membuat cewek cewek seperti  kena setruman aliran listrik dengan  jantung yang berdebar - debar.


Termasuk   diriku, bahkan  sekelompok cewek cewek  pengemar  Frans Devan . Membuat clup Franslovers yang  pencetusnya  seorang gadis bernama Rania   yang selalu  menyebut  diriku  ‘babu’  si  penganggu  dan  aku  menyebutnya  nenek lampir versi melania, bahkan  club  yang di bentuk  sudah  memiliki  banyak  anggota.


  Ada lagi pengemar panatik lain, bernama Tiara  seorang  anak pengusaha Batubara yang  ikut  tergila-  gila  pada  Frans dan sering kali Rania  dan Tiara  adu  Banteng  memperebutkan perhatian  Frans . Jadi posisiku sebenarnya dalam keadaan sulit, cinta sepihak.


Saat pertandingan masih berlansung,  aku mendekati lapangan basket, keringat  yang  membasahi  tubuh Frans  membuatnya  semakin  seksi,  membuat teriakan dan jeritan histeris dari para pengemarn


Akhirnya  prewitt  panjang  menderu  memenuhi lapangan menandakan  pertandingan telah usai dan kali ini di menangkan   NBD 3-2  tim Frans dan teman- teman tepuk  tangan  sorak  meriah   mengisi  seisi  lapangan  basket di Universitas ternama  itu

__ADS_1


“Frans!” teriakku  sambil   melambaikan tangan  kearahnya.  Tapi  suaraku  sepertinya dikalahkan jeritan para cewek-cewek pengemanya yang  sedari  tadi mengkerumuninya  dengan  sangat  ramai.


Melihat  itu  hatiku  tidak  senang.   Aku  menerobos blokkade cewek- cewek  pengemar itu,  aku tarik  tangannya  dari  cewek - cewek yang mengkrubuninya,  aku menariknya paksa menjauh sampai  keluar  lapangan,   para cewek-cewek pengemarnya meneriakiku, karena aku membawa Frans.


“Lu kenapa sih Fai!” Frans membentakku dengan wajah marah, ia meyingkirkan tangan ini dari lengannya.


“Aku  membawa ini untuk Kakak,” ucapku menahan  volume suaraku, kemarahan di wajah Frans membuatku ingin berteriak menangis.


 Aku menunjukkan  rantang  bekal pancake yang  ku buat tadi pagi.


“Aduh  Fai,  tidak usah seperti ini lagi, gue  sudah  serapan, kan  gue  uda bilang  jangan  bawa-  bawa begituan  lagi, gue malu, lihat … lihat semua mata teman-temanku menatapku aneh, mereka mentertawakanmu Fai dengan segala tingkah konyolmu”


“Aku  tidak  mau  kamu  sakit,  makan   di luar   itu  kan tidak  sehat,” jawabku dengan  santai seperti biasanya.


Tidak perduli apapun, aku menarik tangannya lagi,  membawanya di kursi taman kampus, aku membuka bekalnya untuk ia makan.


“Ayo makan,” ungkapku penuh semangat.


“Fai  gue  masih belum lapar. Ayolah Fai jangan seperti ini … gue itu bukan anak kecil lagi, berhenti melakukan begini terus.. gue capek Fai, gue malu ama teman-teman gue, berhenti mengikuti  gue terus-menerus, cobalah untuk mencari pria lain Fai. Lelaki di luar sana sangat banyak,” ucapnya menatapku dengan tatapan serius.


Aku sudah biasa dengan kalimat seperti itu pengusiran dari cara halus sampai kasar,  ia sudah lakukan, dua tahun sudah aku melakukan hal yang sama setiap hari. Aku memang orang yang gigih, kali inipun aku mengacuhkan sikap penolakan itu, aku selalu mengangap semua hanya angin berlalu.


“Ini  baju  salinnya,  aku  mengeluarkan bag  kecilku dari tasku,” wajahnya datar.


“Letakkan saja disitu, ndut..,” katany, tanpa menolehku, matanya menatap serius ke ponselnya.


Aku  sudah  mengerti dirinya ,  kalau  dia  buru  -buru  dia  akan  sering  lupa bawa  baju ganti, maka itu aku selalu membawa baju ganti untuknya.


“Aku masuk iya, aku ada kuliah siang hari ini,” kataku meninggalkan Frans.


“Iya”


Aku berjalan meninggalkanya, saat aku  meliriknya dari jauh,  ia  masih sibuk dengan ponsel tanpa menyentuh bekal aku letakkan.


Tari sudah menungguku, ia juga melihat kami dari jauh.


“Fai, lo gak capek di acuhkan terus-menerus begitu sama Frans?”


“Gak, aku biasa saja, semuakan butuh proses,”  jawabku ceria merangkul pundak mungil Tari sahabatku.


“Ini sudah berapa tahun lebih,Fai,” ucap Tari nada suaranya lagi-lagi  terdengar  kesal.


“Kita masuk, nanti kita bahas,” kataku menariknya ke dalam kelas


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2