
“Ini tentang kamu sekarang Tar” kataku
Malam itu juga aku membawa Tari mengungsi ke Hotel dimana aku tinggal. Kakekku tidak keberatan aku
memakai satu ruangan VIP yang luas untuk kami berdua.
Kami menikmati hidup bagai di atas Awan,
Hidup di Hotel berbintang lima milik kakekku, kami masih berendam berdua dalam bathtub yang dalamnya diisi susu cair dan bunga mawar merah rasanya sejuk dan lembut.
Aku dan Tari bercengkrama dan saling melempar busa dalam bak mandi
Kulit Tari begitu putih dan mulus sekilas pikiranku mengingat malam yang, Ia habiskan dengan Mohan. Betapa beruntungnya lelaki jahat itu sudah menjelajahi kulit mulus Tari.
Hatiku tiba tiba panas memikirkannya, Aku sudah biasa mandi berdua sama tari, apalagi waktu di asrama kampus dulu hampir tiap pagi berdua akan mandi bersama karena takut akan terlambat jika harus menunggu satu –satu.
Dan paling gila Tari sering sekali menerobos masuk saat enak-enaknya jongkok di kloset. Ia seolah tidak peduli dengan segala aromanya, Ia akan mandi dalam kamar mandi itu,
Melihat tubuhnya tidak dibungkus sehelai kain seperti saat ini sudah terbiasa kami lakukan , sebagai sahabat bukan sebagai pasangan yang aneh-aneh.
Tapi melihat tubuh mulusnya yang sudah ternoda kali ini membuat hatiku sakit dan marah pada lelaki yang bernama Mohan.
Dan aku berharap kami berdua bisa membalas perbuatanya.
“Aku tau apa yang kamu pikirkan padaku Fai ” kata Tari tiba-tiba membuatku terkaget.
“Apa itu sakit ? Apa enak ?” Aku bertanya pada Tari aku juga ingin tau.
Ia kemudian menolehku, kemudian tersenyum sedih.
“Apa yang ingin kamu ketahui Fai.?”
“Aku hanya penasaran.” Kataku
“Apa benar kamu juga belum melakukanya Fai ?” Ia bertanya tiba tiba, dan tubuhnya menghadap kearahku memperlihatkan bagian dada Tari dengan sangat jelas ,
Bentuknya Indah putih dan mulusnya tidak begitu besar dan tidak begitu kecil juga, pas untuk ukuran tubuh Tari yang kecil
“Belum pernah” kataku sedikit ragu masih mencoba mengingat terakhir malam bersama Felix. Itu sudah apa belum sih tanyaku dalam hati.
“Kamu yakin Fai? Tapi berita kalian dalam Hotel itu ,” kata Tari.
“Itu tidak benar ” kataku
“Masa sih” kata Tari setengah percaya,
“Makanya aku bertanya padamu Apa itu sakit? Karena aku penasaran juga karena terakhir aku satu kamar dengan Felix sepertinya aku keadaan pingsan,” kataku.
“OH” begitu rupanya, bagi yang masih Virgin itu sakit Fai” Kata Tari dengan mata berkaca-kaca mengingat malam itu
Padahal aku masih ingin tahu rasa sakit yang di maksud sejauh mana , aku juga pengen tahu. Tapi melihat ia sedih seperti itu aku tidak ingin mengungkit masalah itu. Aku terdiam menunggu Ia berbicara dan aku sibuk dengan pikiranku sendiri , masih dalam mengingat malam itu. Apa aku sudah melakukanya ? karena jika dibilang sakit aku juga tidak merasa sakit di bagian intiku yang sakit badanku.
“Aku tidak ingin mengingatnya lagi Fai. Boleh kamu tidak usah mengungkitnya lagi,” kata Tari memandangku dengan tatapan kesedihan dan rapuh
“OK baiklah sobat,tidak akan lagi” Kataku menghiburnya, “Kita akan bersenang- senang malam ini melupakan semuanya dan kita akan jadi anak bebas,” kataku
“Haaa..Haaa ” Tari tertawa ketika aku mengajaknya mencoba gaya hidup anak Jakarta . Clubbing.
“Aku serius Tar” aku ingin lepas dari zona nyaman yang aku pakai selama ini,” kataku sedikit serius.
“OK” kata Tari setuju.
“Sekarang hari jumat kita akan pergi besok malam kataku,
“Ok” Kata Tari balik menantang.
Dan aku tidak mau ketinggalan ikut senang dan sedikit Norak kami berdua mengabiskan makanan itu semua degan lomba adu cepat.
“HAAHAAA aku pengen muntah Fai,” kata Tari, memegang perutnya yang kekenyangan.
__ADS_1
Tidak sampai disitu saja, kami berdua melompat-lompat diatas ranjang super empuk itu, Terlihat sangat Norak
INi hidup kami , bebas melakukan semuanya .
Hanya dalam kamar saja, kami berdua sudah melewatkan hari itu ,satu hari sudah berlalu begitu saja,
Seperti kebiasaanku, aku sering sering sekali membiarkan ponselku lowbat sampai mati.
Setelah sadar sudah malam aku mengajak Tari turun melihat lihat area Hotel milik kakek.
Tadinya Tari tidak mau, entah kenapa saat kejadian yang menimpah kelurganya dua bulan yang lalu. Ia tidak punya rasa percaya diri lagi untuk melihat keramaian, ia takut ada yang mengenalnya dan menghinanya seperti yang dilakukan Tiara yang menghina kelurganya.
“Tidak apa –apa Tar kita hanya daerah disini saja bujukku.
TOK TOK TOk
Suara ketukan pintu itu mengalihkan perhatian kami berdua, aku membuka Pintu. Berdiri seorang Pria yang begitu tampan, lengkap dengan seragam Jasnya, aku kembali membaca Nameteg dalam dadanya.
GLEN
“Maaf mba bapak dari tadi menghubungi mba, tapi tidak bisa , ponsel mba tidak aktif,” katanya dengan senyuman ramah. Seperti kebanyakan pekerja Hotel pada umumnya yang selalu terlihat Ramah.
“Oh iya Ponselku Mati mas GLEN kataku . Ia menatapku dan kembali menatap nametag didadanya.
“Mba disuruh turun kebawah, bertemu bapak,” kata Lelaki berparas Tampan Itu
“OK mas Glen,” kataku
“Baik mba” wajahnya sedikit tersipu malu ketika aku kesanya seperti merayunya.
Aku meninggalkan Tari dalam kamar menemui kakekku, karena sebelumnya kakek sudah berpesan akan mengajakku memperkenalkan Rekan bisnisnya, dan memberi baju yang akan aku pakai .
Bajunya sangat pas ditubuhku ditambah polesan yang dibuat Tari. Wanita berkelas dengan baju branded dan perhiasan yang mengkilau yang harganya tiga kali lipat dari gajiku waktu kerja di Restoran.
“Wah keren bangat Fai,” ucap Tari dengan muka pengen juga.
Wajahnya langsung berseri
“Tunggu aku di sini iya, jangan kemana-mana, aku akan memulai petualangan hidup baru kita “kataku
“Asiaap Bos kata Tari bersemangat.
Aku turun menemui kakek di bantu seorang yang bernama Glen tadi, dalam lift aku tau. Ia mencuri-curi pandang padaku, terlihat dalam bayangan pantulan dinding kaca Lift
Tiiiiiiiing!”
Aku melangkah elegan sesuai anjuran dari Tari, aku harus menyesuaikan penampilan dan perilaku , layaknya seseorang terpelajar dan gaya orang kaya,
Dalam satu ruangan Terdengar suara kakek bergurau dengan rekan bisnisnya.
~TOK ~TOK~
Glen mengetuk pintunya dan mempersilahkan aku masuk
‘Disini sayang.” Panggil kakek menyuruhku mendekat.
“Perkenalkan ini cucuku,” kata kakek memperkenalkanku pada beberapa kolega kakek,
Tapi aku sedikit terkejut. Tapi aku mencoba bersikap tenang walau melihatnya ada disana.
Begitu dengan wajahnya, terlihat kaget ketika melihatku
“Halo semua perkenalkan aku Faila Kirana ” kataku memperkenalkan diri , sedikit menundukkan kepala tanda memberi hormat pada yang mereka yang lebih tua,
“Wah cucunya cantik pak,” seorang wanita yang terlihat begitu berkelas, dengan pakaian yang bermerek yang dia kenakan dan Jam Rolex yang dia gunakan, dan Tas didepannya tas Hermes matte crodile yang harganya setara satu mobil mewah.
Bisa dipastikan mereka dalam ruangan ini orang orang berkelas dan sangat kaya.
Mereka semua menatapku dengan segala macam tatapan yang berbeda dan bisa aku baca, mereka mengagumiku.
__ADS_1
Atau mungkin mereka akan mendekatiku untuk mendapatkan perhatian kakek. Aku duduk disamping kakek, segala jenis makanan mewah dan super mahal sudah tersaji.
Mungkin tinggal menungguku saja.
“OK silahkan “kata kakek mempersilahkan tamunya untuk mulai menikmati hidangannya.
Kakek sepertinya sangat khawatir padaku, Ia mungkin berpikir aku akan bersikap malu-maluin karena tidak pernah mendapat didikan yang tepat.
Tapi kakek boleh berpikir seperti itu, tapi aku mendapat pelajaran berharga dari keluarga Frans , yang selalu membawaku keacara besar seperti saat ini.
Keluarga Frans keluarga yang berkelas juga, jadi didikannya dan ajaran dari Maminya Frans begitu banyak aku dapatkan.
Tiba- tiba merasa kangen pada maminya Frans. Wanita yang sangat menyayangiku dulu. Tapi kali ini sepertinya sudah ada yang mengantikan posisi itu,
Suasana makan itu sangat singkat dan makanan mahal itu terbuang sia-sia.
Aku mengikuti tradisi yang mereka bangun didunia mereka. Dunia orang kaya yang berkelas.Tapi apa mereka tidak berpikir berapa orang di luar sana yang tidak mampu beli beras hanya untuk sekedar buat makan saja, walau hanya dengan lauk seadanya mungkin dengan kerupuk barang kali.
Seperti yang pernah aku rasakan bersama sahabatku
Tari,
Acara makan selesai juga beberapa orang pelayan hotel membereskan meja tempat kami dengan cepat kilat
Mohan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku pahami.
ada seorang wanita muda juga duduk di sebelahnya dan aku pastikan wanita itu Ibunya. Wanita itu menatapku dari tadi, wanita yang berpenampilan glamor dengan segala aksesoris bling-bling menghiasi tubuhnya.
Aku akan memberi pelajaran berharga pada Mohan kataku dengan kemarahan didadaku.
Kamu akan membayar penderitaan yang kamu berikan pada sahabatku kataku berbisik dalam hati.
Mohan masih menatapku
Tak disangka Ia mendekat dan duduk di sampingku
“Kamu sangat cantik Fai, aku sempat tidak kenal tadi “ kata Mohan.
“Aku hanya membalasnya dengan senyuman ringan seadanya,
“Fai apa kita punya masalah” Mohan bertanya padaku dengan tatapan matanya menatapku langsung kedalam mataku,
,
“Tidak,” kataku.
Tapi kamu punya masalah dengan sahabatku gumamku
Tiba –tiba tari menelpon
Hai tar, aku sudah selesai ne kataku,Ia sepertinya mulai jenuh sendirian
Tapi mendengar Nama Tari wajah Mohan berubah drastis
“Apa kamu ingin bertemu Tari?,” wajahnya sedikit menegang
“Iya,” kataku
“ Tapi Pestanya belum selesaikan” Kata Mohan seolah tidak ingin aku bertemu dengan Tari.
“Tunggu Fai, aku ingin bicara hal penting denganmu, tunggu acaranya selesai,” kata Mohan berharap
“Maaf Mohan. Tapi Tari sudah di sini,” kataku wajahnya berubah langsung pucat pasi.
“Sejak kapan?” Mohan panik
“Baru” kataku
“Ayo kita bicara sebentar Fai, “ bujuk Mohan sedikit memaksa
__ADS_1