
“Aku mau sama Bunda, aku mau sama Papi, aku mau sama Momi, aku sama abang” Retta menangis ia minta Videocall.
Tak sanggup rasanya menelepon, ia menangis aku jauh lebih sedih, melihat anak sendiri terluka, bagiku aku jauh merasa terluka, aku merasa ikut terluka saat melihat bocah kembar itu terluka.
“Apa itu Aretha?” Suara Frans bergetar.
“Ia terus menangis minta kesini, ia melihat abangnya tadi terluka, kasihan ia pasti ketakutan melihat abangnya terluka, apalagi kami semua tidak ada yang melihatnya, mereka berdua tidak bisa dipisahkan, kebiasaan anak kembar”
“Bunda…”
“Momy!”
Arden bangun Ia mencari Tari , aku memeluk tubuhnya, merasa sangat lega saat melihatnya
Frans sudah selesai di ambil darahnya. Ia berdiri menatap Arden tangannya gemetar dan akhirnya memeluknya. “Anakku… Oh maafkanku,” suaranya bergetar ini pertama kalinya untuknya melihat secara langsung bocah tampan itu, bahkan keduanya terlihat sangat mirip bagai pinang dibelah kampak.
Ia meronta lemah tidak ingin dipeluk Frans , seperti yang diajarkan Tari; ‘Tidak boleh dekat sama orang lain’ .
“Momy,” tangannya dibentangkan minta digendong. Aku kerepotan untuk menggendongnya, karena selang infus masih menempel pada tangannya kepala yang terluka dibalut dengan perban yang dililit membungkus kepalanya. Ia menangis mencari kembarannya , seperti biasa mereka berdua tidak boleh dipisahkan resiko anak kembar.
“Momy dede Etha mana? Matanya mencari seluruh ruangan makin takut saat tahu kalau kami berada di rumah sakit tidak melihat Tari dan tidak melihat kak Hendra, ia semakin menangis ketakutan.
Frans duduk menatapnya mata dibalut rasa rindu. Aku bisa rasakan sorot matanya . Ia pasti ingin memeluk tubuh Ardenn, kebenaran yang Ia baru dengar, kalau Ia punya anak, kebenaran itu dengar dari mulutku yang tidak sengaja.
Baginya masih seperti mimpi. Ia tidak pernah menduga kalau anak yang Ia lihat sekilas di Hotel , waktu itu adalah darah dagingnya sendiri.
Anak itu bahkan fotokopi dari dirinya, Ia ingin sekali memeluk mengendong Arden tapi anak itu menolak orang asing ia diajarkan Tari agar tidak dekat sama orang asing, maka saat Frans ingin memeluk atau hanya sekedar memegang tangannya ia menolak.
Ia masih merengek ingin Bunda dan kak Hendro, mendengar kakak Hendro di panggil papi membuat Frans terlihat marah. Tapi Ia ingin marah sama siapa? Ia tidak dalam posisi bisa marah saat ini, ia bisa melihat dan menyentuh anak-anakku saat ini itu sudah sangat berharga.
“Dedek Etha di rumah sayang, bunda lagi sakit Papi jaga Bunda” Aku Membujuknya, aku menggendongnya, Frans membantu memegang selang infus itu. Dalam hati Frans ia ingin yang mengendong. Akhirnya ia sedikit tenang . dan akhirnya tertidur, jam sudah menunjukkan jam 3 pagi,
Frans masih duduk di samping ranjangnya. Ia mengusap kepalanya menempelkan bibinya di kening beberapa kali.
“Kenapa kamu berbohong padaku Fai?” tatapan matanya menyelidikiku. “Kenapa kalian menghalangiku untuk melihat anakku”
“Jangan membahas saat ini Frans, kepalaku sakit” tanganku memijit-mijit kening yang berdenyut. “Pulanglah Frans, ajak mami pulang pulang kita akan membahas nanti” kataku merasa lelah.
Tapi ia tidak mau, ia ingin tetap di rumah sakit.
“Frans pulanglah jangan membuatnya, semakin sulit. Percayalah padaku, kamu sudah taukan, kami tadi rencana akan datang kerumahmu, jadi tunggulah , aku akan mengurus semuanya”
“Kamu menyuruhku percayamu padamu Fai. setelah apa yang kamu lakukan padaku, kalian menjauhkanku dari anakku” Suaranya meninggi dengan sorot mata menegas ia menegaskan kalau Ia berhak untuk anak itu,
“Frans kamu bukanlah dalam posisi yang tepat untuk marah seperti ini .Tolonglah beri aku waktu, aku akan mengurus semuanya, kita perlu bicara berdua. Tapi jangan saat ini jika kamu sayang pada Arden dan Aretha, biarkan ia sembuh dulu aku janji kita akan bicara nanti”
Frans tidak mau pulang ia tetap kekeh untuk menjaga Arden hal ini akan membuat semuanya akan berat.
“Frans, aku janji akan mengurus semuanya, percayalah jangan membuat semuanya sulit. Kakakku belum tahu, kalau aku sudah pulih ingatannya. Ia mungkin akan marah besar nanti
__ADS_1
Tolonglah demi anak-anak , percaya padaku, Aku menjelaskan semuanya nanti pada kakak”
Aku memohon memegang tangan Frans , dengan segala usaha akhirnya ia mau pulang.
Tapi seperti yang aku pikirkan, tidak berapa lama kakak memindahkan Arden kerumah sakit lain saat itu juga .Aku tidak tau harus berbuat apa lagi, aku di tempatkan diposisi yang sulit saat ini.
“Ia, tidak berhak menemui anak ini Faila” Wajah kakak marah mengetahui kalau Frans mendonorkan daranya pada Arden.
“Ini demi keselamatan Arden tadi kakak, aku tidak berpikir apa-apa hanya keselamatan Arden,” ucapku membela diri dan menjelaskan semuanya.
“Aku sudah memesan kamar untuk mereka berdua . Tari jadi bisa melihatnya”
Mereka di tempatkan di ruangan yang sama.
karena kandungannya yang lemah, Tari diharuskan istirahat total.
“Berikan, ponselmu padaku,” pinta kakak dengan suara tegas.
“Haa? kenapa ponselku juga harus disita”
“Jangan menelpon siapapun dan jangan memberitahu lelaki itu” ucapnya dengan nada marah dan tegas,
Aku berpikir, akan ada masalah besar jika seperti ini. Frans berpikir dirinya berhak untuk anak-anaknya dengan alasan yang kuat. Kakak berpikir Frans manusia yang tidak dibutuhkan dan tidak diperbolehkan untuk melihat anaknya. Ia berpikir kalau Ia lah yang berhak untuk anak-anak
Aku berada di tengah antara ayah anak-anak dan kakak sendiri
*
“Baiklah,” ucap kakak Hendro tapi matanya menatapku dengan curiga ia curiga kalau aku akan mengkhianatinya dan melapor ke Frans, aku berpikir kalau kakak akan menyuruh orang untuk memata-matai ku.
*
Dua hari sejak Arden di rumah sakit, aku memutuskan menemui Frans di kantornya dan terpaksa berbohong pada kakak, aku harus meminta maaf untuk itu, aku haru bersusah payah lepas dari pengawasan kakak untuk bisa menemui Frans, aku berpikir Frans berhak untuk mengetahui keadaan anaknya,
Pada akhirnya akan seperti ini juga,
Fakta tentang Frans
Waktu pulang dari Bali aku berpikir Frans akan merebut Arden dari kami , karena aku berpikir. Ia tidak berhak untuk si kembar
Pulang dari Bali. Aku menemui Bang Niko untuk meminta bantuan hukum darinya, tentang pendapatnya tentang situasi kami dan Frans yang memiliki anak setelah bercerai
Niat Saya ingin konsultasi. Jika Frans tidak berhak lagi dengan anak-anakku . Tapi kenyataan yang aku dengar membuat semuanya berubah.
Ternyata Bang Niko pengacara Frans. Memang lebih enak teman sendiri yang membantu.
Fakta tentang Frans belum menanda tanganin surat perceraian kami, Aku merasa satu pukulan keras tempat dikepalaku, membuatku terpukul itu artinya kami sampai saat ini masih sah suami istri. Pengadilan belum mengetuk palu untuk perceraian kami.
“Kenapa, jadi seperti ini jadinya?”
__ADS_1
Itu artinya Frans menunggu selama 4 tahun. dan cincin yang dipakai masih cincin pernikahan kami.
Aku mau pingsan mendengarnya saat itu,
*
“Frans sakit waktu itu Faila, Ia sakit parah. Ia sengaja membiarkanmu pergi karena ia sakit. Ia kangker usus.
Kalian sama – sama sakit ia selama 2 tahun menjalani pengobatan tadinya Dokter menyarankan untuk memotong ususnya tapi resikonya tinggi , kemungkinan untuk pulih kecil
diberi alternatif kedua. Ia kemoterapi selama 2 tahun Ia memilih pengobatan yang sulit itu demi bisa melihatmu suatu saat nanti Faila.
Ia menahan sendiri rasa sakit itu. Lihat kepalanya sampai botak saat itu rambutnya rontok karena kemo malam itu . sebelum kamu terbang, Ia meminta kami tiba tiba datang ke apartemennya untuk membuat pesta.
Ia ingin kau membencinya, agar kamu yakin untuk pergi jika sudah membencinya, kamu akan pergi tanpa ragu” ucap bang Niko.
Bang Niko menceritakan semuanya, membuatku merasa bersalah,
“Tolong jangan beritahu ia, kalau aku sudah mengetahui semuanya, meminta Bang Niko agar tidak memberi tahukannya, kalau aku sudah tahu semuanya” kataku
‘
Aku mengingat apa yang dikatakan Mohon , pada saat itu.
“Bagaimana dengan Adella bukan mereka sudah menikah?” tanyaku saat itu.
“Tidak, Ia tidak pernah menikahi wanita itu, tapi Ia tetap bertahan sampai saat ini”
Kini aku semakin merasa bersalah pada Frans.
Mengejutkan sekali rasanya” .Kami masih sah hubungan suami istri. Aku mengingat kembali . Apa yang dilakukan lift saat padaku , satu kissing hot darinya,
Ia tidak salah” karena Ia berpikir aku masih istrinya makanya ia berani menyentuhku.
Tapi masalahnya bagaimana aku menjelaskan Pada Kakakku yang sudah terlanjur membencinya.
Hari ini aku mengunjunginya di kantornya
“Ada yang bisa saya bantu Mbak?” tanya seorang wanita muda berdiri di meja resepsionis tersenyum ramah padaku,
“Mbak, saya ingin bertemu dengan pak Frans” kataku menahan rasa grogi.
“Sebentar ya bu” Ia mengangkat gagang telepon dan menghubungi seseorang.
“Ibu naik saja keatas” Ia memberiku card ,
Hingga tiba diruangan Frans. Aku menunggu dan duduk disalah satu sudut ruangan , menatap jauh kejalanan melihat hilir mudik kendaraan , Mencoba mengawasi letak kepadatan di sudut jalanan ibukota, mataku sibuk berandai-andai. Andai bisa memindahkan mobil –mobil itu dengan kekuatan super, menyusunya dengan rapi dan tertib , agar tidak jadi selalu macet tiap hari,
Aku tidak menyadari Frans sudah berdiri di tepat disamppingku.
__ADS_1
Matanya ikut mengawasi arah pandanganku dengan segala hayalanku.
“Haaa Frans,” aku terkejut ketika Ia juga menundukkan kepalanya tepat di sampingku, Wangi dari tubuhnya menyerbu hidungku.