
Bab 11
Kemarahan yang berujung penghinaan.
Liburan akhirnya selesai, kami pulang lagi ke Jakarta, karena hari ini ulang tahun Frans, mami berencana perayaan kecil-kecilan untuk ulang tahun Frans.
Walau mami ami terlihat lelah , tapi demi anak- anak, Mami akan selalu rela melakukan apapun.
“Ibu luar biasa,” ucap Papi tersenyum manis sambil memijit pundak istrinya.
Kami semua bekerja sama untuk membuat perayaan untuk perayaan Frans. Hingga sore tiba, kami semua sudah rapi tinggal menunggu yang empunya hajatan datang, Frans ada kuliah tambahan hari ini adi
Entah kenapa hatiku gelisah menunggu Frans.
Jam sudah menunjukkan angka tujuh, kami semua makin gelisah. Mami menelepon Frans, tetapi tidak di angkat papi mencoba menghubungi teman- temannya, kata teman-temannya ia sudah pulang sejak tadi. Kami semua makin padik gelisah itu semakin tak karuan ketika jarum jam sudah beranjak ke angka delapan
Terpaksa kami memulai acara tanpa Frans, dimulai dari meniup lilin untuk kak Dion yang kebetulan berulang tahun juga bulan yang sama, hingga acara untuk kak Dion selesai, Fran tak kunjung datang.
Teman - teman kak Dion satu- persatu meninggalkan rumah , tapi anehnya tak satu pun teman Frans tidak ada yang datang, padahal Mami memesan Frans agar membawa teman-temanya juga.
Tepat jam Sembilan, akhirnya orang yang kami tunggu akhirnya datang, kami semua masih duduk di ruang tamu mengobrol seperti biasa.
Tapi tiba tiba Frans datang menarik tanganku dengan sangat kasar, dengan wajah marah garis lehernya mengeras.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya padaku menatapku dengan sangat tajam dengan wajahnya sangat marah.
Aku diam menatapnya dengan bigung karena tidak tau apa yang telah aku perbuat padanya, otak ini mencoba mengingat, tetapi aku tidak membuat masalah padanya.
“Frans, apa yang terjadi?”
“Katakan! Apa yang kamu lakukan”
Ia berteriak sekali lagi, membuat seisi rumah besar itu di penuhi suaranya
Aku masih posisi bingung karena tidak melakukan apa- apa yang membuatnya begitu marah, tetapi melihat wajahnya yang sangat marah membuatku semakin tidak bisa berpikir, bahkan terasa kaku dan bisa
“Tapi, aku tidak melakukan apa- apa,” jawabku kebingungan.
“Kamu menghancurkan hidupku dan kerja kerasku!” Teriak Frans
“Tapi apa yang aku lakukan?” Tanyaku .
“Kamu, masih bertanya apa yang sudah kamu perbuat?”
Ia menatapku, dengan tatapan tajam dan sangat menakutkan
“Tapi aku benar- benar tidak tau, apa yang sudah lakukan.” Aku masih berdiri.
“Karena apa yang kamu lakukan itu semua salah, kamu mengerti.” Ia membentakku lagi kali ini lebih tinggi .
__ADS_1
“Tapi katakan di mana letak kesalahanku?”
“Kamu masih bertanya apa kesalahanmu? berhentilah menggangu hidupku, berhentilah menghantuiku, berhenti mengikutiku, aku tidak butuh perhatianmu sedikit pun, aku baru tau ada wanita sepertimu di dunia ini,” ucapannya sangat merendahkan.
“ Wanita seperti apa?” Tanyaku
“Sikap murahan mu, Puas,” katanya lagi, matanya memerah, ia mengepal tangannya,
“Sudah, sudah.” Mami mencoba memenangkan Frans.
Tapi bukannya tenang malah tambah marah, dia melepaskan tangan mami dan dia kembali menunjuk jari wajah ini dengan tatapan menghina.
Aneh..dari semua penghinaan itu, hatiku tidak sedikitpun marah atau terluka. Aku mencoba duduk di samping papi yang sedari tadi bingung dengan sikap kemarahan Frans. Kita semua tidak tau kenapa Fans semarah itu.
“Semuanya bisa bicarakan dengan, duduklah,” bujuk ayah
“Berhentilah bersikap murahan, itu menjijikkan.” Teriaknya lagi tanpa memperdulikan pandangan semua orang itu padaku
Aku diam kalau aku menjawab dia akan semakin marah, diam waktu yang pas untuk mengatasi semua ini
“Kenapa kamu diam?”
“Frans kamu membuat kita semua bingung ,” ucap papi, bicara lembut, papi juga melihatku memintaku, menjawab pertanyaan itu .
“Aku benar benar gak tau apa apa Pi” jawabku mereka.
“Karena kamu aku kehilangan proyek, kamu masih bilang tidak bersalah, apa kamu terbiasa berbohong ? Apa kamu di ajarin keluargamu biasa berbohong ? Apa ibumu tidak pernah mengajarimu hal-hal baik?” pungkasnya masih dengan kemarahan
Mendengar kata ibuku di sebut - sebut dan di bawa -bawa aku terusik, itu adalah kelemahanku, ia boleh memaki-makiku dengan segala hinaan tapi jangan pernah membawa-bawa wanita yang melahikanku, aku merasa duniaku berhenti saat itu juga.
“Berhenti jangan teruskan lagi,” bentakkku aku marah.
“Ibumu pasti telah menyesal telah melahirkan anak seperti mu,” katanya masih memakiku
“Berhenti aku bilang..!” teriakku, aku berdiri dan benar- benar di atas batas kesabaran ku, kemarahanku rasanya sangat tepat, untuk
pertama kalinya aku marah padanya. “Kenapa membawa-bawa nama ibuku..!?” aku berdiri .
“Kenapa..?? Tanya sambil berdiri juga
Aku mengepal tanganku sangat keras pandangan mataku serasa kabur, aku ingin berteriak meluapkan rasa panas di dada ini, saat Frans membawa nama ibu, rasanya penyakit trauma yang aku sembunyikan selam ini dari mereka.
‘Tenanglah Fai kamu bisa bertahan,” ucapku dalam hati.
Paaak …
Tiba -tiba ada suara keras terdengar di depan mataku, kami semua sangat kaget.Papi menampar pipi Frans dengan sangat keras
“Papi…!” Mami terlihat sangat shock.
__ADS_1
“ Kamu sudah ia disuruh untuk berhenti, kenapa kamu tidak mau berhenti,” bentak Papi dengan marah “ Kamu kenapa tiba-tiba jadi seperti wanita?” katanya lagi
Papinya tidak pernah semarah itu, apa lagi sampai dia menampar, aku tidak sanggup lagi untuk berdiri seluruh lutut kakiku terasa gemetaran. Aku pergi meninggalkan keluarga Frans, aku takut jatuh di hadapan mereka dan sangat memalukan nantinya jika hal itu terjadi.
“Fai, mau kemana sayang..?” panggil Mami .
“Aku ke kamar Mi besok kita bicarakan lagi,” aku berusaha senyum, walau senyum yang di paksakan, mencoba tidak ingin menangis karena jika aku sempat menangis hal buruk akan terjadi pada tubuhku dan aku tidak bisa mengendalikannya nanti.
“Baiklah sayang,” jawab mami dengan tatapan bingung dengan situasi yang terjadi
Aku buru- buru mendengarkan lagu- lagu dari ponsel milikku dan mendengarkan musik aku harus melakukannya sebelum rasa sedih itu menyiksaku, aku jug membaca buku komik lucu
Mendengar musik dan membaca buku komik sambil tidur -tiduran di kasur, mencoba membuat hatiku tetap gembira kalau aku menangis dan sedih aku akan merasa sesak dan tersiksa gulingan-gulingan, melupakan hal penghinaan yang di lakukan Frans.
“Katakan sekarang, jadi apa masalahnya?” tanya papi pada frans, “ kamu bilang proyekmu hilang karena Faila, ceritakan kenapa bisa terjadi seperti itu?” tanya Mami aku samr-samae
“Jadi Proyek yang aku dapat itu, punya ayah temanku. Katanya Faila menemui nya dan memukulinya, tadi pagi di kampus, iya bawa-bawa namaku, Pi.”
“Gak mungkin Faila seperti itu,” kata Arjun dan Regi.
“Temanku melihatnya, keluar dari kelas Adelia,” wajah Frans terlihat masih kesal.
“Oh..jadi ini karena wanita itu,” dumel Maminya
“Sebelum kamu marah dan menyalahkan orang lain sebaiknya tanyakan mamimu dulu.”
“Apa hubungannya ama mami?” mata satu keluarga itu menatap maminya.
“Mami tau?” Frans menatap Maminya.
“Iya…Mami yang melakukannya, Mami menampar wanita itu karena bicara tidak sopan pada mami dan dia juga mengatai mami wanita mata duitan , iya sudah aku hajar, ia juga bilang kamu mendekati dia supaya proyek jatuh ke tangan mu. makanya Mami marah. Maaf kerena mami marah, semuanya jadi berantakan.
“Wah mami keren puji Arjun dan mengajunkan jempolnya.
“Terus kenapa jadi Faila yang jadi sasarannya,” tanya Regi
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi
__ADS_1