
Kini aku hidup dalam kebingungan setiap kali datang kerumah sakit Tari akan marah melihatku.
Aku merasakan kepalaku berdenyut, rasa pusingku belum hilang , apalagi saat memikirkan Frans, ia mungkin tidak merasa adil, karena aku memisahkannya dengan anak-anaknya, tapi suratan takdir kami sudah seperti ini, tidak ada yang bisa aku perbuat. Saat malas bangun dari ranjang karena sakit kepala tiba-tiba…
Kriiiiing…
Kriiiiiing…
“Iya Arvin, ada apa?”
“Aku ingin bicara denganmu, kamu turun dan kita perlu bicara” perintah Arvind dengan suara berat seperti suara mabuk.
“Maaf Vind aku tidak bisa,”
“Kalau tidak kamu datanglah sekarang”
“Vind… dengar, aku mau bilang, lupakan untuk bertemu denganku, carilah wanita yang cocok degan kamu, aku ini seorang ibu dari dua orang anak,
“Aku tidak perduli, aku hanya ingin bertemu dengan kamu apa susahnya sih,”bentak Arvin dari ujung telepon.
“Kalau saya bilang tidak bisa iya, tidak bisa, Arvind”
“Kamu seorang Janda kenapa bersikap jual-jual mahal kamu tidak tahu kalau banyak wanita di luar sana yang antri mendapatkan perhatianku.”
“Baiklah, teruskan saja, aku tidak tertarik”
Aku menutup teleponnya, tidak ingin mengurus lelaki brondong, aku sudah banyak pikiran tidak mau menambah beban pikiran lagi. Aku tidak ingin mengurusi kayak gini pikiranku sudah banyak beban di tambah lagi kamu, aku pikir Arvind akan berhenti di sampai di situ, aku pikir ia akan berhenti, tapi pikiranku salah, ia kembali meneleponku.
“Arvind ini sudah malam apa yang kamu inginkan?” tanyaku menahan amarah.
“Berikan alamat rumahmu, aku akan datang ayo kita bicara ita tuntasan semuanya”
“Dengar baik-baik Arvind aku sudah bilang padamu kalau aku tidak punya masalah dengan kamu lagi”
Mematikan telepon itu lebih baik dari pada mendengar ocehan yang tidak jelas dari Arvind.
**
Besok pagi tiba-tiba, si kembar tidak mau berangkat sekolah, merengek ingin melihat Bunda dan kak Hendra, aku tidak ingin rasanya kembali ke rumah sakit itu lagi, ada Arvind manusia pengganggu dan ada Frans juga di sana belum lagi Tari melihatku seperti melihat setan.
“Mommy bawa kami sama Bunda, aku ingin bertemu,” rengek Aretha mulai menangis.
“Aku juga ingin bertemu, aku kangen” suara Arden lebih berisik.
Tidak tahan dengan rengekan keduanya aku memutuskan membawanya keduanya, baru juga sampai di pintu rumah sakit Arvind sudah datang dari dalam.
__ADS_1
Ah, ini orang ngapain kesini sih menyusahkan.
“Kenapa tidak menjawab teleponku?”
“Arvind anak-anak ingin bertemu Bunda mereka, aku kau tidak ingin melakukan hal yang lain saat ini, jadi tolong jangan menambah masalah,”
“Aku hanya bicara sebentar,” ucapnya memaksa.
Emosiku naik ke ubun-ubun, aku harus membuat batas pada lelaki muda ini aku ingin menunjukkan siapa aku sebenarnya.
“Haris…! Tolong urus orang ini”
Mata Arvinda menatap tajam dan kaget menatapku, ia tidak menduga kalau aku memanggil pengawal karena hal itu,
Suasana hati tidak selamanya baik, ada saatnya baik ada saatnya buruk, Arvind berpikir kalau aku Janda muda yang bisa gampang ia rayu karena ia punya tampang yang ganteng.
“Maaf Bos, kalau Ibu Faila bilang nanti, berarti nanti” Haris mendorong Arvind terlihat mata Arvind kaget.
Baru juga melangkah beberapa langkah Frans juga kebetulan baru turun bahkan melihat Haris mendorong Arvind.
“Om…Frans,” teriak Aretha merangkul tubuh Frans.
Melihat Frans dan melihat lelaki Brondong itu dua hal yang berbeda saat melihat Frans saat ini hatiku terasa lega, berbeda saat melihat Arvind bocah labil yang memaksakan ke hendak pada orang lain.
“Ada apa?” tanya Frans melihat wajahku yang terlihat seperti benang kusut.
Frans menatap sinis kearah Arvinda, aku tahu kedua lelaki itu saling melirik dengan tatapan sinis satu sama lain.
“Makanya Fai, jangan terlalu baik sama orang apa lagi bocah seperti itu, ia pikir semua wanita itu bisa ia permainkan, apa lagi kayak kamu yang ia pikir janda muda,”
“Ckk, status janda muda itu membuat merasa jijik”
Frans hanya tertawa, aku tahu ia pasti merasa bersalah ingin melakukan banyak hal untuk aku dan anak-anaknya.
“Mbak tolong bawa anak-anak masuk untuk bertemu Bunda mereka”
“Iya mbak”
Kedua pengasuh itu membawa bocah kembar ke kamar Tari, kalau tidak di pertemukan akan ada gempa di rumah, suara tangisan Aretha melengking menusuk kuping belum lagi Arden yang guling-gulingan dan melompat sana –sini, seperti monyet kelaparan, kalau permintaan keduanya tidak di turuti.
“Kok kamu tidak ikut Fai, kok anak-anak di lepas begitu saja sama mbak mereka?”
“Frans… kalau Tari melihatku yang ada teriak histeris melihatku, ia menyalahkanku karena aku yang menandatangani pengangkatan janin itu dari rahimnya”
“Oh, belum pulih ternyata,” ucap Frans mengajakku duduk. “Sini duduk aku temanin kamu, nanti ada orang jahat yang melirik-lirik kamu,” ucap Frans bercanda.
__ADS_1
Frans akhirnya bisa berdamai dengan keadaan, ia tidak lagi memaksakan ke hendaknya, walau dalam hatinya ia ingin sekali kami bersama demi anak-anak tapi kakak Hendra tidak memperbolehkan hal itu terjadi , baginya Frans dan keluarganya tidak pantas untukku dan anak-anak, apa lagi saat Maminya Frans yang hampir mencelakai Arden.
“Frans!”
“Iya,” ia menatapku dengan tatapan tulus.
“Apa pernah kamu menyesal bertemu denganku?”
“Ah? Pertanyaannya aneh tiba-tiba”
“Aku pernah, akui menyesal pernah tinggal di rumahmu aku menyesal pernah mengilaimu dengan waktu yang lama” kataku.
“Jangan mengungkitnya lagi Fai, aku mohon, biarkan aku melangkah dengan perlahan.”
“Frans, aku ingin pergi jauh”
Frans menatapku dengan tatapan sedih.
“Kenapa tiba-tiba Fai? apa ada masalah?”
“Masalahku banyak Frans, aku ingin berkeliling dunia ingin menikmati hidup, aku tidak memikirkan hal yang lain-lain lagi, anak-anak biar Tari dan Kak Hendra yang mengurus”
“Kapan?”
“Satu minggu lagi rencanaku”
“Itu artinya aku tidak punya kesempatan lagi bersama anak-anak, kalau kamu pergi itu artinya, kakakmu tidak akan membiarkan aku bertemu mereka”
“Aku tidak tahu Frans”
Suasana jadi hening Frans tiba-tiba terlihat sedih, aku sendiri berada dalam kebimbangan, maka itu aku memutuskan menghabiskan waktuku ingin menikmati hidup, menunggu Tari pulih menunggu ia bisa menerimaku sebagai sahabatnya kembali, sebelum aku pergi aku ingin membereskan beberapa hal termasuk Arvind, aku ingin memberitahunya kalau saya adalah Bosnya dalam rumah sakit, aku ingin bilang kalau rumah sakit tempat ia bekerja saat ini, adalah milikku sama seperti Papinya.
**
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, aku menyuruh Haris mengumpulkan petinggi rumah sakit termasuk Arvind para
wakilan dari beberapa Dokter.
Matanya menatap dengan bingung saat aku duduk sejajar dengan kakeknya sebagai pemilik rumah sakit.
“Perkenalkan beliau Ibu Faila Kirana, beliau adalah pemegang saham nomor dua di rumah sakit, itu artinya ia juga pemilik rumah sakit ini”
Arvind langsung diam tidak berkutik, saat itu yang aku inginkan ia diam dan tidak menganggu, tadinya aku tidak ingin memamerkan siapa diriku, tapi karena sikap tidak sopannya aku akhirnya membeberkan siapa diriku.
Saat ini, ia hanya pegawaiku yang bekerja di rumah sakitku, jadi aku ingin ia berhenti bersikap sombong terlebih agar berhenti untuk bersikap arogan.
__ADS_1
Bersambung