Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Kecelakaan rumah sakit


__ADS_3

Mama Niko yang memberi perintah agar tubuhku dikelurkan , mama NIko yang menangani ku, sebagai Dokter yang bertanggung jawab, tapi karena ada keperluan mendadak dia mengalihkan ke Dokter lain tanpa komunikas Dokter tersebut membawaku keruangan yang seharusnya tidak cocok untukku, karena penyakit phobia yang aku derita,


Alarm otomatis berdenging membuat sebuah orang panik di rumah sakit dimana aku dirawat,


Ruangan Radiologi itu tertutup otomatis jika ada bahaya dan dindingnya kaca tebal yang susah di pecahkan,


Percikan api  semakin menjalar, kedua Dokter tadi masih berusaha memberiku pertolongan  dan perawat laki- laki berusaha memadamkan api dengan air seadanya dari wastafel dan ember kamar mandi,


Kepanikan pun terjadi dibalik kaca itu salah satu Dokter muda itu memeluk tubuhku yang di penuhi darah dari kepalaku yang terluka lumayan parah.


Semua orang berlari ke ruangan radiologi termasuk Frans dan Niko beberapa sekuriti rumah sakit menenangkan Mami yang berteriak melihat kami terjebak dalam ruangan kematian itu,


Terpaksa kaca tebal itu harus alat seperti laser untuk melubanginya, kalau untuk di hancurkan dengan alat tidak berhasil,


Dokter itu masih memelukku menyanyikan lagu yang aku sukai lagu yang khas, lagu yang aku sukai, tubuhku sedikit tenang tak berdaya , aku melihat mami berteriak panik memandang kearah kami , Frans melihatku dengan tatapan tidak kalah panik tangannya menutup mulutnya, tidak tega melihat kami yang hampir mati terbakar dalam ruangan itu. Kami hampir saja jadi sosis bakar. Pintunya tiba-tiba macet tidak bisa di buka.


Frans  melihat sekeliling sebelum pergi, aku melihat gerakan mulutnya


“Bertahanlah, bertahanlah Fai !” Frans meneriakkan kalimat itu, walau  aku tidak bisa mendengarnya , tapi aku bisa membaca gerakan bibirnya,


Dulu dirumah Frans kami sering melakukan permainan itu di rumah Kaca Milik mami, siapa yang tidak bisa menebak akan dihukum berkeliling Rumah. Tapi kalau aku menang aku akan meminta kak Frans mengendong, tentu saja Ia tidak mau karena katanya ,  Ia malu melakukan hal seperti itu karena akan dilihat papi dan maminya, dia akan memilih berlari mengelilingi rumah dengan tiga kali lebih banyak, dari pada mengendong seorang wanita yang terus mengekorimya,


Mendadak ingatan itu muncul melihat ia melakukan tebakan bibir itu lagi, aku tersenyum sedih membayangkannya.


Aku memandangnya dari balik kaca yang jadi penghalang kami, dia memberikan gerakan bibir lagi dan kali ini dibantu tangan untuk menyampaikannya kira kira seperti;


      “Aku minta maaf,karena terlambat mengungkapkannya cinta lewat kata kataku," ujar Frans di balik kaca


Maafkan aku, karena aku tidak mampu merangkai kata kata untuk menggambarkan perasaanku  padamu


Maafkan aku karena membuatmu menunggu lama untuk mendengarnya

__ADS_1


Walau aku sudah  memberitahumu lewat bintang malam dan melalui rintik hujan tapi caraku yang menyampaikannya salah, hingga kau tidak mengerti bagaiman Perasaanku sesungguhnya,


Haruskah aku mengulanginya lagi? Walau aku sudah ribuan kali mengungkapkannya lewat caraku?


Baiklah’ aku akan mengatakannya lagi lewat kalimat yang mudah kau      mengerti”


           ILOVE YOU


Kata katanya  indah, bagai rangkain puisi atau  mungkin sebuah puisi yang di bacakan untukku,


Mataku semakin meredup dan terasa perih karena darah segar dari kepalaku melintas dari hidungku dan mengenai mataku, bahkan hanya mengusapnya saja tanganku tidak bertenaga,


Dokter yang memeluk tubuhku tidak menyadari penderitaanku,  karena separuh wajahku bermandikan darah


Jarumnya terasa sangat lambat berputar,segala usaha mereka lakukan membuka pintu yang mendadak yang terkunci,


Mulai didobrak   tapi tidak berhasil, hingga seseorang naik melalu plafon dan merusak asbesnya


Dia hanya memandangku sekilas, tangan dengan sigap meracik sebuah serbuk, untuk memecahkan kaca untuk membawa kami keluar,


  Dan berhasil,  kaca tebal yang  menjadi petaka akhirnya pecah juga, hidupku selalu punya kejadian tragis, begitu juga seperti saat ini, bukan perawatan yang aku terima tapi kemalangan yang datang,  Tragis emang.


Dengan penuh kepanikan  tubuhku yang sudah bermandikan darah ,di larikan kebagian perawatan begitu juga kedua perawat laki laki yang menemaniku, terlihat mengalami luka yang lumayan, hingga akhirnya mereka juga di rawat,


Mami Niko terlihat marah besar di ruang Dokter karena tidak komunikasi dulu padanya dan Dokter yang baru menemaniku tidak membaca catatan   kesehatanku,


Komplit sudah penderitaanku, bahkan mengingat  semua masalahku , aku berharap tidak bangun lagi, entah berapa aku sudah tertidur, dengan sangat hati hati aku mencoba membuka kelompak mataku, dengan segala rasa berkecamuk dalam hati dan sakit dalam tubuhku tidak bisa dijabarkan dengan kata kata,


Aku merasa bahwa hidupku di ikuti malaikat maut, yang setiap hari memberiku penderitaan yang terus menerus  menghantui.


Kali ini ruangan ku berbaring lebih besar   dan nyaman,  iNi lebih cocoknya Rumah mewah dari  Pada rumah sakit,

__ADS_1


Kelurga Frans dan kakek dan kakakku terlihat obrolan serius mami dan Tari mereka juga sedang mengobrol  ketika aku memandang kesebelah ,


“Oh sial”


Aku  terkaget Frans lagi memandangku dengan tatapan susah untuk di terjemahkan, aku hanya pasrah , tangannya masih memegang erat tanganku,


     “Terimakasih sudah bangun Faila,aku sangat mengkhawatirkan mu, aku pikir aku tidak bisa melihatmu lagi” Frans  menunjukkan kekhawatirannya,


Melihat kakakku dan kakek ada di ruangan itu ingin rasanya aku melarikan diri lagi,tapi melihat keadaanku saat itu mustahil rasanya aku  kabur,


Aku masih diam dan menyimak kata kata yang keluar dari Frans, mendadak ada satu ide brilian terpikirkan,


    “Mi Faila sudah bangun, Frans mencoba memberi tahu mereka tapi pandangan matanya menatapku dengan curiga, karena tidak ada respon baik sahutan dariku,


  “Fai kamu sudah bangun sayang” mami melihatku dengan tatapan gembira bercampur cemas dengan Tari, sahabat terbaikku sepanjang masa,


selama aku masuk kerumah sakit tidak sedikitpun Ia meninggalkanku, bahkan baju untuk buat dia ganti dia menyuruh Repina dan Adira mengambil di kamar kami


Kali ini alis mami yang sedikit terangkat, melihat wajahkku tanpa reaksi dan tanpa jawaban baik hanya sebatas senyuman, mataku hanya memandang mereka dengan tatapan tidak kenal, mereka saling menatap melihat reaksiku.


  Kepalaku terbungkus perban putih mengelilingi  kepalaku, orang yang sakit yang kepalanya karena terbentur jadi lupa ingatan seperti sinetron Indonesia,


Ide itu muncul begitu saja agar aku tidak ingin  mengobrol dengan kakakku tadinya dendamku sudah aku lupakan untuk kakeky dan sudah belajar berbaikan tapi untuk Henro kakakku belum


  “Apa yang terjadi?”  Mami menatap Frans dengan bingung.


Tari menutup mulutnya, sepertinya Ia menyadari kalau aku lupa padanya,


    “Fai kamu tidak mengenal, aku?” Tari menutup mulutnya dengan tangannya


BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT

__ADS_1


__ADS_2