
Bertengkar dengannya dari tadi, menguras tenagaku, belum juga melihat darah yang mengalir dari tangannya membuat lututku lemas, aku tidak punya tenaga lagi walau hanya bicara aku kehabisan daya dan tenaga ibarat daya ponsel baterai ku sudah kritis tinggal 2% saja.
Tubuhku tergolek lemah di atas kasur miliknya,ini benar benar pertarungan yang sangat melelahkan bagiku,sedangkan bagi dia ini tidak ada apa apanya.karena memiliki tenaga yang kuat di banding aku.
“Apa yang akan kamu lakukan lagi,”kataku tidak berdaya, tangannya dengan cepat melucuti pakaianku hingga hanya menyisakan, sepasang bra dan cd yang menutup sebagian tubuhku,
Aku memiringkan posisi tubuhku dan, apapun yang ia lakukan saat ini aku sudah pasrah dan mungkin aku pantas mendapat ganjaran itu, aku sudah siap jika ia melakukan itu malam ini, siapapun yang melihat tubuh saat itu, tidak melepaskannya,
“Aku tidak akan selamat”Bisikku lemah
Tangannya kali ini merangkul pinggangku dengan erat dadaku yang montok menempel didadanya, nafasnya begitu tenang
Aku yakin ia tidak akan melepaskan ku malam ini. Kalimat itu terulang terus kepalaku,
Kurasakan nafas hangatnya dileherku kembali, kurasakan jantungku berpacu semakin kencang,
Kini tangan itu berhenti dipipiku, mengusap –usapnya dengan lembut dan kembali membelai rambutku, yang panjang,
“Baiklah, lakukan apa yang ingin kau lakukan !” kataku dalam hati sedikit putus asa
luka gigitan yang dia lakukan, masih terasa perih, ia mengusap dengan lembut ,ia mengoleskan sesuatu kearah bibirku, tapi aku tidak ingin membuka mata,
Dan tidak mau tau, dengan apa yang ingin Ia lakukan saat ini, Sikapku pasrah saja,
Tapi baunya seperti lipbam rasa madu, ia mengolesnya bagian yang bengkak,
Bukan hanya itu, aku rasakan tangannya, mengusap pundakku, yang merah kebiru-biruan akibat ulahnya,
Usapan itu begitu rasanya hangat apa dia mengobatinya.? Bagaimana dengan tangannya,?”
Dan aku tertidur bagai di bius dengan dosis tinggi karena kelelahan , tidak merasakan apa apa lagi
Suara ayam berkokok bersahut-sahutan, membuatku terbangun , dan belum juga suara keroncongan dalam perutku, yang seolah protes karena belum dikasih makan,
Aku mencoba membuka mataku memandang sekeliling
__ADS_1
“Kamar Felix kataku panik, samar samar kejadian sore itu menyentuh ingatanku,
Aku mengintip tubuhku di balik selimut. “Dengan pelan pelan memastikan apa yang terjadi, dan mencoba menenangkan jantungku yang berdentum sangat kencang,
Aku mencoba, kalau ada rasa rasa asing dibawah sana” tapi otakku karena panik belum bisa tersambung, dan belum konek dengan kejadian sesungguhnya,
Aku menoleh ke samping tapi Felix tidak ada disana
“Apa yang sudah terjadi semalam !” aku mencoba mengingat kejadian itu, tapi lagi gagal.
Jari jariku mencoba memastikan bagian bawahku untuk memastikan lobang itu selamat atau tidak, apa tidak terjadi apa-apa !” karena aku mendadak lupa ingatan tidak bisa mengingat sedikitpun kejadian terakhir sore sore itu.
“Apa yang kamu lakukan !” Suara itu mengagetkanku, serta mampu membuat wajahku seperti terbakar kaget dan menahan malu,
Felix sedang duduk dimeja kamarnya, lagi menatapku dengan satu alisnya diangkat,
“Aaapaa-apa dia melihatku kelakuanku tadi ?” ini memalukan aku memukul kepala.
Aku masih belum pakai baju, dan masih mengenakan pakaian yang terakhir, sepasang dalaman berwarna senada , warna kuning, warna yang kontras dengan kulitku yang sawo matang,
“Apa kamu tidak akan bangun juga,?” wajahnya masih seperti biasa dingin dan datar,
Melihat wajahnya aku diburu ribuan pertanyaan di otakku , Apakah ia melakukanya tadi malam ? tidak mungkin. Ia melepaskan ku kan ?”
Aku masih berdiam didalam selimut ujung selimut aku pegang dengan erat mengantisipasi jika nanti manusia Batu Es ini marah dan menarik selimutnya,
“Ayo” bangunlah kita akan pergi !”
Aku mulai panik. “Ia akan mengajak kemana lagi ?” Apa kejadian kemarin sore berlanjut lagi ?”
Aku duduk, dengan membungkus tubuhku dengan selimut tebal milik Felix, kedua bola mata mencari baju yang aku pakai kemarin sore , sayang tidak menemukanya,
“Kita akan kemana ?” bertanya dengan hati-hati, aku masi takut kalau ia masi marah,
“Mandilah” nanti juga kamu tau.!” Kata Felix. Kali ini ia lagi menyisir rambut cepaknya, menatap kearah Kaca, sepertinya ia baru mandi juga, karena bau harum sabun masih menusuk hidungku,
__ADS_1
“Apa ia melakukanya tadi malam ?” aku mencoba merasa, daerah pangkal pahaku tapi tidak menemukan hal yang asing diarea itu, ah tidak mungkin ia melepaskanku !”
Aku masih diam, aku ingin bertanya tapi aku tidak berani membahas hal itu lagi,
Dalam hatiku berharap Ia tidak melakukanya, Walau kemungkinannya sangat kecil,
“Aku menunggu di bawah mandilah kita akan jalan, katanya dengan gayanya yang cuek dan dingin, hal itu membuatku uring-uringan,
Apa aku tadi malam tidak sesuai yang di harapkan ?” Apa aku tidak menarik dimatanya.?” Kenapa sifatnya begitu dingin setelah -?”
“AH “iya ampun Faila ,!” Tamatlah riwayatmu ditangan manusia kutub utara ini aku bermonolog sendiri di kamar mandi terlintas satu kata bijak yang pas untuk keadaanku saat ini:
Siapa yang menabur angin, akan menuai badai
Hal itu sepertinya pas, untuk aku saat ini, Aku menguyur tubuhku dengan air dingin, sengaja menguyur lama kepalaku, berharap rangkaian kejadian malam itu dapat aku ingat. Karena katanya dengan mandi air dingin dapat membuat otak dan pikiran jernih. Tapi sepertinya tidak berlaku pada seorang Faila, Karena otaknya yang lamban dalam segala hal,
Dia sudah menunggu di bawah dengan pakaian rapi, aku akan menurut saja apa yang ia lakukan padaku,
Rumah yang berantakan Tadi sore sudah rapi, aku melihat tangannya yang terluka akibat menonjok alas kaca meja yang di ruang Tamu,
Tangannya, sudah terbungkus rapi dengan perban luka, Mataku masih membaca situasi dengan diam.
Ia duduk di sofa menunggu turun dengan memainkan ponsel miliknya .
Kutatap lekat wajahnya dengan begitu banyak pertanyaan,tapi tak bisa ku tanyakan,padahal ia ada di dekatku,tapi untuk menanyakannya suatu hal yang amat berat buatku.
“Apa kau sudah melakukanya tadi malam.? Bagaimana kau melakukan itu saat aku sedang tertidur,mungkinkah ia memperlakukan wanita sepertiku,yang sedang lemah dan pasrah ia manfaatkan?
Apa ia berkepribadian seperti itu,kalau dari di lihat dari profesinya sebagai abdi negara rasanya tidak mungkin,karena mereka pasti di didik berjiwa sosial dan disiplin tinggi.
Tangannya, sudah terbungkus rapi dengan perban luka, ia ahli juga dalam hal mengobati,kerena terlihat rapi di bungkus.Mataku masih membaca situasi dengan diam.berharap keadaan ini cepat berlalu.
BERSAMBUNG ….
JANGAN LUPA!!! … , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
__ADS_1
, Makasih, kakak semua.