Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Lamaran yang ditolak


__ADS_3

Sore itu akan jadi hari kenangan yang buruk antara aku dan kakakku.


Unu pertama kalinya aku  membantah semua ucapannya.


Ia masih menegang wajahnya mengeras karena marah, ia marah karena   mendengar lamaran dari Frans.


“Fai, dari sekian lelaki banyak lelaki di dunia ini kenapa harus Frans di sudah menyakitimu  begitu  banyak”


“Aku mencintainya kakak.”


“ Fai dari dulu kamu mencintai lelaki itu lalu apa yang kamu dapatkan kekecewaan penghianatan luka dan perceraian”


“Anak-anakku mereka yang aku  dapatkan Kak, Frans ayah kandung mereka Kak jangan lupakan itu, mereka lahir dari sebuah pernikahan yang sakral walau pada akhirnya kami berpisah  karena keadaan,’ ujarku lagi.


“Fai, aku tidak tahu apa yang  membuatmu berubah seperti ini,” ujar Kak Hendra.


“Berubah seperti apa Kak?”


“Fai, aku perduli padamu dan aku sayang padamu”


“Aku tahu Kak, tetapi aku tidak mau selamanya hidup dalam pengawasan Kak Hendra”


“Lalu?”


“Aku akan menikah”


“Walau aku menolaknya?”


“Iya”


“Aku bukan anak kecil lagi Kak yang  harus-”


“Kamu akan menyesal Fai”


“Tidak Kak”


“Jika kamu menikah lagi dengan Frans ikut artinya kamu masuk ke lubang yang sama”


“ Bukan Kak saat ini sudah berubah dia bukan orang dulu lagi,


“Kamu tidak boleh menemui anak-anak dalam catatan sipil akulah ayah mereka dan Tarilah ubu mereka”


Tidak adi memang kakak yang aku percayau memisahkan aku dari aanak-anakku . Tetapi tidak apa-apa.


                       **


Sore itu juga keluarga Frans akhirnya datang  untuk melamarku lagi lucu memang mantan suaminya melamar mantan istrinya.


Frans datang bersama semua keluarganya aku sangat menghargai niat baik mereka itu artinya Frans dan keluarganya sudah berubah.


Apa yang aku dan Frans pikirkan benar Kak Hendra menolak lamaran Frans

__ADS_1


“Aku tidak menolak adik lamaran ini, aku tidak akan memberikan adik saya satu-satunya pada lelaki yang selalu menyakitinya,” ujar Kak Hendra di depan keluarga Frans.


Frans hanya tersenyum kecil, terlihat jelas  ada rasa kecewa  di  matanya tetapi ia menutupinya dan tidak mau memperlihatkan di depan keluarganya.


“Jika ada kesalahan anak kamu di masa lalu kami meminta maaf,” ujar Papi.


Bahkan Papi Frans yang tidak atu rumah dengan mereka masih sempat-sempatakan untuk datang.


“Saya pikir kalau sudah  bercerai kenapa harus menikah lagi. Kenapa mereka tidak mencari kehidupan masing- masing,’ ujar Hendra lagi.


Bukannya tidak sopan tetapi aku kasihan melihat Frans dan keluarganya saat mereka mendapat penekanan dari Kak Hendro.


“Aku setuju untuk menikah,” ucapku bangkit dari kursi.


“Fai!”


“Kak saya bukan anak kecil lagi atau anak gadis saya seorang janda”


“Fai masih banyak yang mau”


“Kak hentikan, cukup aku akan memilih jalanku sendiri,” ujarku.


Wajah Kak Hendro langsung menegang.


“Baiklah kalau kamu memilih menikah dengannya kamu tidak akan bisa melihat anak-anak.” Wajah keluarga Frans langsung menegang.


“Mereka cucu saya”


“Tapi saya ayahnya.” Frans  berdiri dengan emosi.


“Tidak apa-apa. Tidak ada namanya mantan ibu dan mantan ayah Arden dan Aretha akan tahu kebenaran siapa  ibu mereka  dan kamu berdua ayah dan ibunya. Tetapi Kakak merebutnya dari kami dengan alasan kakak yang  merawat mereka dari baru lahur, baiklah aku mengakui terimakasih untuk Kak Hendra karena telah menjaga mereka dan menjagaku”


“Anak-anakku lahir dari hasil pernikahan Kak Hendara bukan hasil hubungan gela atau hasil pernikahan, tetapi Kak Hendra  bisa menjadikan mereka jadi anak-anakmu padahal kami berdua masih hidup”


“Karena kamu tidak ada saat mereka ada,” ujar Kak Hendra membungkam Frans. “Bahkan kamu tidak tahu kalau Faila hamil saat itu,  mana mungkin kamu menyebut dirimu seorang ayah,” ujarnya lagi.


“Aku memang salah saat itu, tetapi bukan berarti Kak Hendra bisa hubungan darah ayah dan anak!” Ujar Frans dengan suara  meninggi.


“Bisa bahkan ada undang-undanng kalau  orang tua tidak mampu merawat anak anaknya  lebih baik diserahkan pemerintah.”


Frans dan keluarganya sempat hampir emosu tetapi aku menghalangi mereka.


“Baiklah Kakak rawatlah anak-anak kami engan baik suatu saat mereka juga akan mencari saya sebagai ibunya.”


AKu berdiri dan menarik koper.


“Apa kamu akan lebih memilih dia dari pada anak-anak”


“Sudah aada kakak dan Tari yang menjaga mereka, lagian percuma juga juga aku di sini toh yang mengatur semuanya kakak kan?”


“Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa Faila”

__ADS_1


“Tidak apa-apa Kak, waktu kecil juga kakak sudah menendangku dari rumah dan memaksaku  tinggal di panti dan apa yang aku alami saat ini juga tidak membuatku kaget. Nikmati semuanya harta yang  kakak miliki aku tidak akan mengganggunya”


Kak Hendra langsung diam, ua kaget dengan apa yang aku lakukan selama ini aku selalu melakukan apapun yang kakak katakan walau  ia berkata untuk kebaikanku . Kebaikan di pikiran dia belum tentu tentu kebaikan untukku.


“Ayo Frans, kita pergi dari sini.” Frans dan keluarganya berdiri.


“Baiklah menikah lagi dengan mantan suami tanpa restu dariku,” ujar Kak Hendra lagi.


“Baik Kak saya sudah dewasa bahkan sudah menjadi seorang ibu, aku bisa menjaga hidupku aku tidak akan selamanya jadi beban untuk Kak Hnedra lagi,” ujarku menarik copre  milikku.


Kedua anak kembar itu masih tidur jadi tidak melihat apa yang terjadi, sementara Tari hanya bisa menangis melihat ketegangan yang terjadi.


Aku sebenarnya tidak ingin melawan atau bersitegang dengan kakakku, tetapi sampai kapan hidupku akan diatur-atur olah Kak Hendra, sampai kapan hidupku dibawah kendalinya. Aku harus melakukan sesuatu  dalam hidupku.


Kamu keluar dari rumah, walau dengan perasaan kecewa. Namun, apapun keputusan Kak Hendra tidak  mempengaruhi keputusan kami.


Tiba di luar rumah.


“Baiklah, aku akan tinggal  di apartemenku”


“Kamu tidak  mau ikut  ke rumah Fai”


“Tidak Mi, aku akan tinggal di apartemenku, maaf atas sikap Kak Hendra,” ucapku.


“Fai, kamu mau kemana? Kamu tidak ikut dengan kita ke rumah?”


“Tidak Pi  nanti apa kata orang aku mantan isti Frans tapi tinggal satu rumah, aku akan tinggal di apartemen, nanti aku akan ku telepon lagi”


“Fai, aku akan mengantar,” ujar Frans’


Frans mengantarku ke rumah ke aparteman, sepanjang jalan aku memilih diam, aku tidka tahu apa keputusanku sudah benar apa belum, aku memilih Frans dari pada anak-anakku.


“Kamu tidak apa-apa Fai?”


“Tidak apa-apa aku turun di hotel sana saja. Aku butuh waktu sendiri”


“Fai apa kamu menyesal?”


“Tidak Frans aku hanya butuh waktu sendiri”


“Baiklah,” ucapnya kemudian. Lamaran yang di tolak membuatku  dalam situasi sulit.


  Bersambung …


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak.  Jangan lupa kasih komentar terbaik kalian juga di karya ini dan karya yang lain juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta untuk sang pelakor. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang Kecil  Faila(ongoing}


__ADS_2