
Kak Hendro lelaki dan suami yang Luar biasa menurutku. Ia tidak pernah saya lihat, terlibat pertengkaran diantara mereka berdua.
Kabar kami akan pulang ke Indonesia , sampai juga ke telinga Felix. Ia datang kerumah dengan wajah bersemangat, karena ia juga telah menyelesaikan studinya . Setelah belajar selama 3 tahun.
“Wah, bisa pas gitu iya kita sama pulang,” ucap Felix.
“Ia. Tari merengek ingin pulang “ kata Hendro tidak begitu bersemangat.
Walau dengan berat hati akhirnya kak Hendra menuruti keinginan kami.
Ia sibuk menelepon Pengacara, yang ada di Jakarta untuk mencarikan rumah untuk kamu tempati nantinya. Ia meminta banyak hal dalam pemilihan rumah itu pada Pengacara Kakek.
“Harus ada halamannya iya Pak , jangan di pinggir jalan, kalau bisa harus ada gerbangnya, maksudku harus ada pagarnya.
OH ,jangan lupa. Tidak boleh ada kolam renang” Katanya menambahkan.
Pada hal baru hitungan minggu kami di London tapi sudah mau minggat lagi,tapi itulah yang terjadi, kami akan pulang lagi ke Indonesia
Hari yang sibuk untuk beres-beres Persiapan untuk mudik. Kak Hendro kali ini luluh juga pada istrinya. Tari ingin Baby twin sekolah di Indonesia . Butuh usaha keras untuk bernegosiasi, untuk menyakinkan suaminya akhirnya berhasil , karena ayah Tari sebentar lagi keluar dari penjara itu juga yang menjadi alasan Ia ingin tinggal di Indonesia.
Beres-beres hari ini ikut di bantuin Felix, kebutuhan sekembar yang paling banyak , barang- barang mereka membutuhkan beberapa Koper yang besar. Untuk menampung semua keperluan mereka.
Malam itu sebelum berangkat kak Hendro. Memberiku nasehat untukku, jangan percaya pada siapapun , baik yang mengaku kelurga atau teman padamu selama di Indonesia. Babi Twin akan jadi anak mereka, aku tidak boleh mengaku. Kalau mereka anak yang aku lahirkan. Restoran keluarga kami yang ada di Jakarta,
Rencananya aku yang memegang dan begitu juga Hotel.Kakak tidak mau mengurus nya. Ia tetap akan jadi seorang Dokter rencananya ia ingin membuka Rumah sakit sendiri.
“Jangan Percaya dengan siapapun nanti, karena kita tidak punya kelurga, ingat ya, hanya kami yeng keluargamu, tidak ada yang lain. Kata kak Hendro wajahnya terlihat sangat serius dan menekan setiap kata-kata yang Ia ucapkan.
Setelah semuanya sudah dipersiapkan, baik rumah yang akan tempati di Jakarta, kami siap untuk Terbang,
07:00 waktu London
Kakak selalu ingin yang terbaik untuk kami, dengan bawaan sebanyak itu, ditambah dua bocah super aktif kak Hendro sudah memikirkan semua itu,
Ia memboyong kami ke Indonesia . Hampir 14 jam lebih waktu terbang dari London Jakarta,
Waktu yang begitu lama menurutku, Tapi tidak untuk Arden .Ia tidak bosan ataupun jenuh , tadinya kami berpikir ia akan bosan dan merengek atau berulah minta pulang,
Karena ini penerbangan yang paling lama yang mereka lakukan sejak lahir,
Walau bisanya kak Hendro sering membawa mereka liburan tidak pernah keluar dari Inggris, hanya di Negara itu liburan ala kakakku, bisa di tempuh dengan Mobil saja,
Ini pengalaman pertama mereka, kita sebagai orang tuanya sangat khawatir, tapi malah bercanda dan berlarian tidak ada rasa capek apalagi rasa takut,
kami sudah mulai tidak berdaya karena lamanya waktu perjalanan. Tapi Arden masih aktif .Disaat semuanya sudah tidur,
__ADS_1
Ia malah Nonton kartun sendirian, tertawa sendiri, asik sendiri kini giliranku yang mengawasinya .
Aku merebahkan tubuhku di kursi pesawat itu, dengan mata selalu waspada, mengawasinya. Menjaganya tidak boleh lengah. Rasa pengen taunya sering sekali membahayakan dirinya sendiri dan adik kembarnya,
Tadi saja pas masuk sudah membuat drama menegangkan,baru lengah sebentar. Ia sudah menekan pintu darurat mengeluarkan alat pernafasan darurat.
Paling greget . Ia Ingin melihat burung yang berada persis di samping badan pesawat, Ia ingin membuka jendelanya agar bisa melihatnya.
“Wahhh, Bahaya !” kataku membentaknya, ia diam dan marah padaku.
Melihat kak Hendro lelah. Aku menyuruh kakak dan Tari tidur, aku saja yang mengawasinya, saat memandang wajahnya dari samping hidung itu sangat mancung, Ia sangat tampan,
“ Apakah ayahnya dulu setampan dia,”aku bermonolog sendiri.
“Mommy mengantuk ?” Ia bertanya yang melihatku yang matanya mulai meredup
“Iya kamu tidur iya, biar mommy bisa tidur juga” kataku membujuknya.
“Ehh!?” kataku kaget karena Ia langsung menurut.
Kali ini ia mau menurut kalau biasanya akan selalu melakukan penawaran dulu, setiap kali disuruh atau dilarang.
“Sebentar lagi iya Bunda! Nanti iya bunda, tidak mau Bunda”
“Tidur ama Mom iya” Aku membujuknya sekali lagi.
Iya menggeleng . Sepertinya marahnya, padaku gara –gara aku bentak, belum reda, Arden mendekati Kak Hendro, ia menyempil di sampingnya, padahal sicantik Aretha sudah terlebih dahulu berada disana , Si cantik memeluk leher Papinya. Kini pengganggu itu datang mengusik bobo si cantik. Tentu saja Ia menangis karena abangnya menggangu.
Tari bangun ingin memisahkan keduanya. Tapi Ia tetap mengotot ingin tidur di kursi kakak Hendro, sempit-sempittan. Kak Hendro terbangun dengan matanya masih kantuk .
Kali ini. Ia membuat drama lagi. Cemburu pada adiknya, minta gantian, sekarang gilirannya bersama Papinya.Ia menyuruh adiknya pergi sama Bundanya, agar Ia bisa sama Papinya.
Inces tidak mau mengalah, dengan tangisan ia juga mendorong Tubuh abangnya , agar tidak merebut tempatnya di hati Papinya.
Tidak ada yang mengalah. Mereka berdua menangis. Berebut minta dekat Papinya.
Entah Drama yang keberapa Ini dilakukan Arden. Kakak hanya diam , mengumpulkan kesadarannya.
Ia berdiri mengendong keduanya kembali.Ia tau bocah lelaki itu saudah mengantuk ingin tidur, makanya Ia buat keributan.
Baru sebentar di gendong ia sudah tertidur pulas, dan adiknya juga. Akhirnya hening dalam ruangan pesawat itu, hanya suara denguman halus dari mesin pesawat yang terdengar,
Setelah menempuh jarak hampir 15 jam lebih,
Akhirnya sampai juga di Bandara Internasional Soekarno Hatta, dua mobil sedan hitam sudah menunggu kami. Kakak memeng benar- benar sudah mempersiapkan semuanya dengan sepenuh hati..
__ADS_1
**
Sekarang berada di Jakarta Indonesia.Aku melihat semuanya. Walau tidak mengingatnya semuanya . Tapi hatiku merasakan ada perasaan yang tidak asing dari dalam walau saat ini aku lupa ingatan tapi ada bagian hatiku seakan sudah biasa. Merasa kalau
Rasa rindu yang tidak bisa kaungkapkan dengan kata kata . dari bandara kami butuh 1satu jam lagi untuk sampai di tempat. Baby twin masih tertidur lelap karena ke lelahan, ia
Digendong dan kak Hendro
“Selamat datang lagi kita di Jakarta Fai,” ucap Tari , tangannya, menggenggam tanganku dengan hangat,
Aku hanya mengangguk
Sepajang jalan aku mencoba mengingat semuanya, tapi Nihil aku tidak bisa mengingat apapun saat ini, kenyataan kalau aku pernah tinggal lupa. Kalau aku memaksa mengingat.Kepalaku panas ingin meledak . hal itu berbahaya untukku.
“Jagan coba -coba memaksa otakmu, untuk memaksa mengingat apapun Fai “kata Kak Hendro mengingatkanku lagi .
“Iya kak” aku hanya mengangguk
Malam ini kita terlalu lelah, kita tidur Di Hotel kita dulu, besok kita akan kerumah.”kata Kak Hendro.
Wajah kak Hendro terlihat sangat cemas dan takut , setiap kali aku menoleh keluar ruangan. Sebagaimana besar aku berusaha mengingatnya, tidak pernah berhasil. Jadi aku memutuskan berjalan mengikuti alurnya. Memilih percaya kakak dan Tari
“Ini Hotel kita Faila . Kamu harus mengingatnya kalau yang membangun ini Kakek kita. Kamu yang akan mengelolanya nanti
Restauran milik Kakek ada disamping Hotel ini juga “ kata Kak Hendro memperkenalkan semuanya dari awal padaku,
*KIRANA HOTEL*
Gedung tinggi bercat kuning tersebut, tempat kami berada saat ini. Ada satu ruangan yang katanya Ruangan kerja dan tempat tinggal kakekku saat masih hidup.
Foto kakek dipajang di lantai dasar Hotel bukti kalau hotel mewah ini hasil keringat orang tua itu.
Seorang manager mudah berwajah oriental berjas Hitam menyambut kami dan kakak dan seorang pengacara keluarga kami yang sudah lama mengabdikan dirinya pada Kakek.
Hari ini, hari pertamaku bekerja sebagai Ceo dan pemilik Hotel kakekku. Entah kenapa kakak laki-lakiku, malah menyerahkan semuanya menjadi tanggung Jawabku.
Seluruh karyawan berkumpul disatu aula. Untuk menyambutku sebagai atasan mereka.
Bermacam –macam tatapan mata memandangku.
“Ini Faila Kirana, cucu pemilik Hotel kita, mulai sekarang mengambil alih semua kepemimpinan Hotel,” kata Manager Hotel wajahnya sudah berumur tersenyum kecil padaku Memberiku kesempatan. Mengucapkan sepatah dua kata sambutan
Sekarang bekerja di Hotel dan Restoran sendiri. Aku menjadi Faila yang baru saat ini. Faila yang lupa Ingatan.
Ckkk kenapa harus lupa ingatan sih? Gumam ku rasanya tidak enak.
__ADS_1