Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Bertengkar


__ADS_3

Tangannya, sudah terbungkus rapi dengan perban luka, Mataku masih membaca situasi.


Ia duduk di sofa menunggu turun dengan memainkan ponsel miliknya,


Apa kamu meniduriku tadi malam? Bagaimana kau melakukan itu saat aku sedang tertidur


Tentu saja pertanyaan itu hanya seputar otakku saja, tidak punya keberanian mengungkapnya,


Karena dipikirannya akulah yang pihak yang salah, dan aku menyadari kesalahan yang aku lakukan,


Ia menatapku sekilas, dan kembali menatap layar ponselnya, sepertinya sedang chatting dengan seseorang


“Kamu sudah siap ?” Ia bertanya tapi matanya tidak berpaling dari ponselnya,


“Sudah “ Tapi kita mau kemana ?” tanyaku


“Ikut saja, nanti kamu juga tau katanya masih dengan sikap seenak udelnya,


“Gak boleh gitu dong kamu harus kasih tahu aku, kamu mau bawa aku kemana,” kataku , dengan wajah lemas ditambah perut yang lapar juga,


“Kamu bukan dalam posisi berhak untuk bertanya Seenaknya, katanya dengan begitu egois,


Aku berpikir, apa sikap kebanyakan Tentara keras kepala seperti dia ?”tidak menuduh tapi yang satu itu membuatku hampir-hampir geli.


aku tidak ingin jadi gundik dia terus menerus, baik saat ini, ataupun nanti, baru jadi calon istrinya saja, aku sudah hampir mau pingsan, karena kekerasan yang ia lakukan bagaimana nanti sudah menikah. Apa lagi kami tidak didasari cinta .


Aku terdiam memikirkan cara agar lepas darinya, baik hanya saat ini, mungkin kalau tante Mira sudah datang akan beda lagi ceritanya,


Badanku rasanya semuanya sakit .Di banting ke tempat tidur itu rasanya sakit, pundakku terasa ngilu dan pegal, belum sakit yang lain-lainnya lagi.


Suara berisik didapur aku menoleh ,”OH syukur kataku punya sedikit harapan,


Sibibi sudah balik dari kampung sepertinya,


“Aku serapan dulu, aku lapar bangat,” kataku dengan memegangi perutku


Ia menatapku, seperti sebuah peringatan JANGAN MACAM_MACAM


Belum juga ia memberi Izin aku sudah meninggalkannya yang masih memandangku,


“EH non sudah bangun,” kata sibibi dengan senyum,


Apa Ia tahu aku tidur dikamar Felix aku bertanya dalam hati, itu sangat memalukan kalau  ketahuan,


Wanita yang belum jadi istri sudah langsung satu kamar, baru di tinggal berdua sebentar, pasti pikiran si bibi seperti itu,


“Kapan bibi datang,” tanyaku pada wanita paru baya itu, bibi masih menatapku dengan senyuman.

__ADS_1


“Tadi pagi subuh subuh, aku di suruh ibu cepat balik karena, tidak ada teman Non Faila di rumah,” kata sibibi


Sudah pasti Ia mengetahui semuanya. Apalagi rumah berantakan seperti diterpa Badai , pasti Ia sudah melihat kami yang tidur dalam satu kamar berbagi selimut dengan manusia  kutub utara itu bisikku kesal, sekaligus merasa malu,


“Non mau serapan apa ? biar bibi buatin, Bibi mau kepasar,” dulu kata si bibi,


“Kepasar?” Aku ikut BI boleh ?” ikut saja dari pada bersama manusia kutub utara bisikku dalam hati,


“ Boleh ‘Tapi izin dulu sama si Mas felix,” kata sibibi


“Jangan bi tidak usah, kita pergi saja diam-diam,” kataku


“Jangan Non ” itu cari masalah nanti Bibi kena marah sama dia, kata Bibi sepertinya sudah paham sikap Felix,


Belum juga aku sempat serapan si manusia Kutub utara datang, dengan wajahnya yang tidak sabar menunggu , tidak ada rasa bersalah setelah apa yang ia lakukan terhadapku,


“Masih lama Ayo ”


“Aku dirumah saja sama si Bibi,”aku menolak ajakannya


“Tidak bisa ayo”


“Tapi katakan dulu kita kemana baru aku mau,” kata ku Protes,


Tapi mulutnya tidak bicara tapi matanya yang menjawab dengan sangat tegas. Dia menatapku, Melotot tajam ,tidak ingin ditolak apa lagi dibantah ”


“Ah sial” lagi –lagi aku gagal menolaknya,


“Jangan memancing aku marah lagi Faila “


Ia menarik tanganku mengikuti langkanya dari belakang, rasa kesal, bercampur rasa lapar komplit jadi satu, belum juga rasa sakit di segala penjuru tubuhku,


“Tapai jangan memaksa gini juga dong, aku masih belum juga jadi istrimu, sudah sengsara seperti ini,” kataku melepaskan tangannya


“Yang mulai memutuskan ingin menikah denganku itu siapa?” Kata felix lagi


“Aku tau, tapi aku sadar lagi, aku tidak ingin meneruskannya. Karena saya pikir kita tidak cocok,” kataku.


“Iya kamu pikir aku juga mau pernikahan ini, aku ingi memberimu pelajaran , agar jangan menjadikan hidup orang jadi mainan dan bersikap seenaknya mu saja” kata Felix,


“Kita sudah membahasnya kemarin dan aku sudah meminta maaf” kataku sedikit pusing,


“Kita tetap menikah apapun yang terjadi” jadi persiapkan dirimu,” katanya.


“Kita akan sama –sama menderita kalau seperti itu, aku tidak memiliki perasaan sedikit padamu,” kataku jengkel.


“kamu pikir aku juga menyukaimu, seleraku tinggi aku tidak suka wanita bekas orang lain,” kata felix menghina lagi.

__ADS_1


“Bekas apa maksud kamu?” Mataku hampir menangis menahan penghinaan dari mulutnya,


“Uda jangan dibahas lagi, aku hanya ingin mengajakmu pergi kamu yang mencari masalah dan memulai pertengkaran,” katanya ingin menenangkanku


“ Kamu bilang aku wanita Bekas? bekas siapa?”


“Fai,Fai… sudah cukup, aku salah ngomong,” katanya , dengan volume suara menurun mungkin melihat mataku yang hampir menangis,


“ Aku ingin tahu apa maksudnya? kamu bilang aku wanita bekas, itu menyakitkan,” kataku sedikit berteriak, Felix sepertinya tidak ingin meneruskan pertengkaran kami dan mungkin malu pada sibibi atau malu sama orang yang melintas,


Ia kembali naik dan masuk kekamarnya, aku mengikutinya kembali kejadian kemarin sore terlupakan oleh otakku, hanya satu terlintas dipikiranku.


Berhenti menghinaku. Dengan kemarahan, aku mengikutinya kekamarnya, aku ingin mengakhiri semuanya , aku tidak perduli ia memukulku kembali atau ia melemparku dari atas.


Ia duduk dipinggir ranjangnya dengan tangan mengusap kepala frustasi, menatapku bukan dengan raut kemarahan tapi bersikap bersalah.


Matanya menatapku , menyuruh untuk berhenti membahasnya , tapi otakku sudah panas dan gerah melihat sikapnya yang menilai ku begitu gampang,


Hidupku , bukanlah seburuk yang dipikirkan.Jika dinilai dari harta keluargaku memiliki segalanya Restoran , Hotel dan Rumah sakit, bahkan kakekku melimpahkan itu atas namaku,


Hanya gengsilah yang membuatku seperti ini, aku tidak menyentuh harta milik kakekku, Sakit hati dan kebencian ku pada keluargaku dulu membuatku menjauhkan semua milik keluargaku.


Tapi si Felix dari segi mana ia menghinaku begitu rendah. Wajahku cantik dengan tinggi badan 167cm aku ramping , kulitku bersih, rambutku panjang lurus hitam dan terawat, bodyku juga bagus perutku rata, pinggangku ramping, Tapi alasan manusia yang satu ini ,menilaiku begitu jelek dimatanya,


Aku terlihat seperti orang gila yang membanggakan diri sendiri,


“Katakan” desakku kembali seolah tidak mengenal rasa takut lagi


“Fai aku sudah bilang salah bicara,


“Bukan ini pertama kamu ngomong seperti itu padaku , aku sudah sering mendengar penghinaan itu, mulutmu sangat jahat”


“Berhenti Faila jangan teruskan lagi,” pungkasnya terlihat putus asa


Tapi aku tidak perlu takut lagi, Hancur- hancur sekalian


“Kau yang melakukannya padaku, kenapa kamu menuduh orang lain,” kataku


Tidak terima dipojokkan dan batas kesabarannya sepertinya sudah habis,


“Berhenti menuduhku Faila, aku bukan seperti dia yang menidurimu seenaknya, aku akan melakukan kewajiban ku sebagai suami . Jika itu sudah sah di dalam agama”


“Aku tidak pernah melakukan itu dengan Frans , Ia menjagaku dengan baik dan menghormatiku dan tidak pernah menyakitiku, Ia jauh lebih baik dan terhormat darimu,”


“Pergilah, Pergilah dari hadapanku daripada aku melakukan kekerasan lagi padamu, kata Felix dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya


Haaa baiklah, kesempatan bagus untukku melarikan diri.

__ADS_1


Kabuuuuur!


BERSAMBUNG ….


__ADS_2