
“Fai menikah lah lagi denganku” ucap Frans.
“Apaaaaa?”
Aku tidak yakin dengan pendengaranku, aku rasa aku sedang berhalusinasi, aku memukul pipiku untuk memastikan apa yang dikatakan Frans bukan mimpi atau bukan khayalan semata.
“Faila lihat kesana” ucap Frans menunjuk sekelompok orang yang memegang spanduk.
“Faila, will you merry me?”
“Frans, apa ini,” ucapku tidak percaya menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku, ia sangat manis sekaligus aku merasa malu.
“Itu lihat lagi”Frans menunjuk kearah samping, aku semakin histeris karena Arjun, Dio, ikut memegang tulisan’ FAILA I LOVE YOU’
Frans tidak hanya membuatku terpesona dengan tubuhnya dan perlakuan manis selama kami berlibur bersama, namun aku merasa hari ini, lebih mengesankan.
Aku tidak tahu kapan Frans mempersiapkan semua itu, sebuah momen lamaran yang sangat romantis, Frans sibuk dengan teleponnya, ternyata untuk itu, ia mengaturnya dari jarak jauh.
Teman-temannya yang mengerjakan semuanya yang paling membuatku kaget, Frans mengajak Papinya untuk melakukan lamaran itu, bukan hanya papinya, adek dan kakaknya juga membantunya untuk melamarku.
Oh Tuhan aku sangat terharu, dulu aku bermimpi akan mendapatkan lamaran dari Frans, namun, itu dulu, sebelum aku melahirkan anak-anakku. Akan tetapi saat ini, aku mendapatkannya walau bukan di waktu yang aku inginkan.
“Aku mau Frans ,” ucapku dengan yakin.
Tidak perduli dengan penolakan yang akan di lakukan kakak Hendra. Bagiku inilah duniaku, inilah masa depanku, aku akan melakukan apapun supaya tetap bersama Frans.
Aku menghampiri Papinya Frans memeluknya bagai seorang ayah, bagiku lelaki yang saat ini duduk di kursi roda dia adalah sosok ayah bagiku.
“Papi maafkan aku ,” ucapku menangis di kakinya.
“Terimakasih sudah mau menerima Frans kembali, terimakasih sudah mau menerima keluarga kami lagi,” ucap Papi memeluk dengan hangat, bagai seorang ayah yang memeluk putrinya.
Cincin indah itu melingkar di jariku, perasaanku saat itu bercampur aduk, antara senang karena akhirnya Frans mencintaiku, melamarku ingin jadi istrinya kembali, namun, bagaimana dengan kakakku yang tidak merestui hubungan kami?
Tapi hari esok biarlah diurus hari esok, saat ini aku hanya ingin Frans bersamaku, aku menjadi wanita yang paling bahagia.
__ADS_1
Aku memeluk tubuh Frans, “Aku mencintaimu Faila dari dulu hingga saat ini” ucap Frans mengusap punggungku.
“Aku juga mencintaimu Frans,” ucapku dengan tangisan, tangisan kebahagian.
Papi melakukan pengobatan di Singapura dan Dino yang menjaganya dengan Arjun, ide lamaran itu datangnya katanya dari kak Dion, ia yang menyarankan agar Frans melamarku di Singapura.
Iya dulu, saat masih tinggal di rumah Frans pernah mengungkapkan keinginan dan pernah bergurau kalau aku berharap Frans melamarku dengan konsep ala-ala artis,
Aku tidak menduga keinginanku di masa lalu terwujud saat ini, aku baru ingat semua yang aku gambarkan saat itu, terlaksana saat ini.
“Fai, aku berharap kamu cepat menikah dengan Frans dan kembali ke rumah kita yang dulu mengantikan sosok ibu untuk kami,” ucap kak Dion. Saat kami tiba di hotel, akhirnya perjalanan kami berhenti di Negara itu.
“Iya aku rindu kita berkumpul lagi kak,” ucap arjun lelaki muda berwajah tampan ini sebentar lagi akan menamatkan kuliahnya, namun belum juga menyelesaikan kuliahnya ia sudah punya keinginan untuk menikah muda, agar ada sosok wanita dalam rumah mereka katanya.
Kak Dion tidak tahu apa yang terjadi, di usianya yang sudah melewati kepala tiga, namun, enggan untuk membina sebuah rumah tangga baik Regi saudara Frans, anak nomor tiga, ia juga belum punya keinginan untuk memiliki istri, walau karirnya sebagai abdi Negara sudah sukses, tetapi ia enggan untuk menikah.
Ada apa dengan semua lelaki ini? Tanyaku dalam hati.
Tapi kata Frans sejak kepergian Mami tahun lalu, keluarga mereka terpecah belah, ada rasa kecewa di wajah anak-anak itu, Mami yang mereka sayangi tega berbuat jahat pada cucu dan menantunya yaitu aku, saat itu, semua itu karena pengaruh seorang nenek sihir yang bernama Adella dan ibunya kedua wanita itulah yang sudah meracuni pikiran mami, hingga berubah sangat jahat dan rakus dengan harta dan uang.
“Tidak apa-apa kan sayang, kalau perjalanan kita terhenti di sini?” tanya Frans menatapku dengan tatapan hangat penuh cinta.
“Fai … aku ingin meminta izin nanti pada kak Hendra untuk menikahi kamu secepatnya” Frans menggenggam tanganku dengan erat.
Aku menunduk degan lemah, terus terang untuk hal yang satu itu, aku merasa sangat takut.
“Frans, kalau kakak tidak merestui kita apa yang kamu lakukan?” tanyaku menatap ke dalam manik berwarna hitam itu.
“Aku akan terus memohon sampai aku bisa membawa kalian bertiga dari sana”
*
Setelah mengantar Papi ke rumah sakit lagi dan di jaga Arjun dan kak Dion, aku dan Frans kembali ke hotel, tempatnya tidak jauh dari rumah sakit di mana papi di rawat.
Tiba di hotel kami berdua tiba-tiba seakan kehilangan energi. Frans terlihat diam, ia sibuk dalam pikirannya aku juga seperti itu.
__ADS_1
“Mau makan apa sayang? Tanya Frans setelah mandi.
“Pesan apa saja, aku belum lapar,” kataku tidak berselera, mataku masih menatap cincin yang melingkar di jariku
Semakin aku menatap cincin bermotif bunga rose itu semakin aku merasa takut.
Takut kehilangan keluargaku dan juga takut kehilangan Frans juga.
“Jangan di terlalu dipikirkan sayang” ucap Frans memelukku dan membawa kepalaku di dadanya, ada rasa nyaman setiap kali aku bersama Frans.
“Aku takut kehilanganmu Frans, juga takut kehilangan anak-anakku dan keluargaku”
“Sayang, mantan suami itu ada, namun, tidak ada yang namanya mantan ibu, kamu paham, kan maksudku” kata Frans.
Aku mengangkat leherku menatap wajahnya. “Apa maksudnya ?” tanyaku dengan tatapan bingung
“Sayang, kamu tetap ibu si kembar walaupun kamu tidak bersamanya,” ucap Frans mendaratkan bibirnya di keningku.
Akhirnya ucapan Frans melegakan hatiku, meyakinkan pilihanku,
“Baiklah, terimakasih Frans telah membuka pikiranku, aku sudah yakin dengan hatiku”
“Apa itu ?” Frans menataku dengan mata berbinar.
Aku mendaratkan bibirku di bibir Frans, alisnya menyengit menatapku.
“Aku akan menikah denganmu Frans”
“Benarkah?”
“Iya” jawabku dengan yakin, “Walau kakak melarangku aku akan tetap bersamamu tapi, Frans anak-anak?”
“Tidak apa-apa sayang, mereka tetap anak-anak kita sampai kapanpun”
Setelah satu minggu di Singapura menghabiskan sisa liburan di kota itu, sekaligus mendampingi papi di rumah sakit, kesehatan Papi sudah mulai berangsur pulih, kami memutuskan kembali Ke Indonesia setelah hampir tiga minggu lamanya kami meninggalkan Jakarta.
__ADS_1
Menghabiskan waktu beberapa jam saja terbang Singapura ke Jakarta, saat ini kami telah berada di bandara Internasional Soekarno Hatta.
“Sayang … kita kerumahku saja besok kita atur waktu untuk menemui keluargamu,” ucap Frans tiba-tiba terlihat sangat ketakutan, seakan ia takut aku akan melarikan diri darinya. “Besok aku membawa keluargaku untuk melamar kamu lagi dari keluargamu,” ucap Frans menggenggam erat telapak tanganku, wajahnya mendung ada garis-garis kekhawatiran terpancar di wajahnya.