
Melakukanya dengan frans orang aku cintai memang sangat menyenangkan, akan tetapi hatiku merasa gelisah , karena saat ini, aku dan Frans statusnya hanyalah mantan istri,
Saat malam panas bersama frans aku kini sendiri di kamarku, ada rasa bersalah dalam hati, bersalah pada kakak Hendra, karena aku sudah membohonginya, bersalah pada anak-anakku, karena aku meninggalkan mereka.
Merebahkan tubuhku di ranjang, malas untuk bangkit lagi, walau rasa hangat itu masih membayangi kepalaku, sentuhan hangat yang di berikan Frans membuatku lupa diri, sentuhan yang lama tidak aku rasakan, kini saat ia melakukannya lagi padaku, aku terbuai, aku terhanyut dibuatnya.
Namun bagaimana dengan kakakku yang tidak merestui hubungan kami lagi, akankah aku berpisah dengan Frans dan tetap bersama keluargaku, kelurga yang sudah merawatku dan menjagaku di saat aku terpuruk.
Tok … Tok ….
Suara ketukan dari pintu saat aku melirik ada Frans berdiri di depan membawa box, membawakan serapan untukku.
Bagaimana ini? Aku merasa baru bertemu dengannya, tapi tidak ingin meninggalkan.
Aku membuka pintu dengan wajah tersipu, belum melupakan malam hangat bersama frans.
“Selamat pagi sayang,” ucap Frans tanpa sungkan.
Ha, sayang? sejak kapan Frans memanggilku dengan sebutan sayang ucapku dalam hati.
“Iya Frans, ada apa,” ucapku tiba-tiba merasa canggung, masih berdiri di ambang pintu menghalangi Frans untuk masuk.
“Ada apa?” tanya frans, kepalanya di miringkan sedikit melihatku yang bersikap malu-malu.
“A-ah, sini itu serapan untuk aku iya” Aku mengambil dari tangan Frans dan aku berbalik badan, niatnya memang ingin menghindarinya,
“Aku tidak di ajak masuk?” tanya Frans menatapku dengan dengan tatapan bingung.
“Oh, itu –itu a-“
“Kamu kenapa sih Faila,” ucap Frans ia mendorong tubuhku masuk dan ia juga masuk, ia bersikap tenang, tapi kenapa aku yang malah malu. Malu-luain malah.
__ADS_1
Ah, tenanglah Faila, tenanglah ucapku dalam hati beberapa kali,
Pada saat serapan juga aku malah banyak diam bahkan melihat wajah Frans aku sangat sungkan.
“Fai, apa aku melakukan kesalahan?” tanya Frans menatapku dengan tatapan serius, ia menyudahi serapannya dan mengusap mulutnya dengan beberapa tissue, lalu ia meraih gelas bening dan ia tuangkan air mineral meneguknya beberapa kali hingga jangkung di lehernya terlihat naik turun dan mengeluarkan bunyi.
Guk … guk ….
Lagi-lagi mataku menatapnya dengan tatapan tanpa berkedip oh, iya sangat tampan pagi ini, kaos yang ia kenakan ketat dan memperlihatkan otot, tangannya yang keras, aku menelan savilaku dengan susah payah, oh, mataku tergoda lagi,
“Faila kenapa kamu menatapku seperti itu? tadi saja kamu tidak mau melihatku, sekarang kamu menatapku seakan aku ini makanan lezat yang siap di telan, tapi tadi saat aku datang kamu kenapa memperlakukanku seperti bunga katkus barang yang harus dijauhkan, kenapa sayang,” ucap Frans meletakkan piring yang aku pegang dan mengigit potongan pizza yang ada di mulutku.
Aku mematung lagi, ia semakin mengigit potongan pizza itu hingga tinggal sedikit di bibirku, aku masih mematung bunyi jantung berdetak cepat, bagai gendang di tabuh.
“Frans,” desahku merasa terdesak karena ia memajukan tubuhnya memburu bibirku.
Tidak perduli dengan sikapku yang menghindar.
Tangan Frans menangkap pipi dengan kedua tangannya dengan gerakan cepat ia mengigit potongan pizza melahapnya hingga habis, tidak sampai disitu, ia juga mengigit bibir bawahku dengan gerakan sangat lembut.
“Frans, apa yang kamu lakukan?” ucapku dengan suara terdengar aneh karena mulut Frans menghalangi bibirku.
“Jangan coba-coba ingin menjauh dariku lagi Faila, kita tidak di bisa dipisahkan lagi”
Otakku menolak karena apa yang kami lakukan sebuah kesalahan, namun, hatiku bagai sebuah tanah gersang yang rindu hujan, rindu buaian, rindu kehangatan, hatiku rindu sentuhan.
Saat terjebak diantara dua perasaan, antara hati yang mau dan pikiran yang menolak, tiba –tiba Frans menarik diri.
Ia berdiri dan menyisir rambut yang jatuh kekeningnya, lalu ia menolehku lagi, senyum manis mengembang di bibirnya,
Ah, ahhhhhh apa ini? Hatiku berteriak.
__ADS_1
“Pakai bajumu, kita keluar berada dalam kamar dan melihatmu seperti itu, aku takut kamu tidak selamat,” ucap Frans.
Oh. Karena terlalu banyak pikiran, aku baru menyadari kalau pakaian yang aku kenakan hanya baju atasan yang panjang, panjangnya di atas lutut hanya bisa menutupi bagian sensitipku dan bagian panggulku.
Saat Frans bicara seperti itu, aku baru sadar kalau pakaianku mengundang … pantas Frans langsung menyosor lagi tadi.
“Kita kemana?” tanyaku kurang bersemangat, aku merasa ada yang gagal terlaksana, menyebabkan bagian dari hatiku sedikit kecewa, namun, aku tidak tahu apa tepatnya.
Saat aku berdiri dan melintas dari depan Frans, tiba-tiba tangannya ia rentangkan dan dengan gerakan tiba-tiba ia menarik kearahnya dengan perasaan kaget mataku melotot dan jantung hampir copot aku memegang dada Frans, tanganku seakan bergerak sendiri, meraba dada bidang itu, otot dadanya mengembul membentuk tojolan keras di mana-mana.
Demi apapun, aku menginginkannya lagi, Frans tersenyum melihat gerakan tanganku, mendaratkan bibirnya di leherku lagi.
Aku mau, aku mau lebih Frans jeritku dalam hati.
Melupakan status kami sebagai sepasang mantan suami istri, ia mengangkat tubuhku keatas meja dengan gerakan lembut, ia melepaskan pakaian yang aku kenakan , tidak ada penolakan dari tubuhku, aku bagai kehausan, haus akan sentuhan yang tidak pernah aku rasakan itu.
Frans menyusuri bagian leherku, lalu berhenti di bukit kembarku, bukit kembar yang ukurannya sebesar papaya mengkal itu, buah itu seakan mengintip manja dari pembungkusnya.
Dari dulu setiap kali Frans melihat benda sintal itu matanya seakan tersihir, ia akan mantap dengan takjub ukurannya yang besar membuatnya indah dan menjadi aset kebangaanku , barang milikku asli, ia memang besar dari pabriknya dan bukan karena diisi angin, maupun di tambal pakai plastik,
Saat Frans menatap dengan takjub, ia mendaratkan wajahnya diantara sela bukit itu, ia pegang dengan kuat membuat tubuhku bergetar kuat, mengelinjak bagai cacing terkena panas.
Tidak mau menunggu lama-lama, aku membuka pengait pembungkusnya, sepasang gunung yang terlihat sangat indah menantang di depan Frans, bahkan ujung bukit itu terlihat sangat menggoda warna coklat kemerah-merahan , melihat ada buah ranum di depan matanya, Frans memakannya dengan sangat lahap.
Frans mengeluarkan suara aneh, suara seperti anak anjing yang sedang mengigit tulang, terdengar rakus dan menggebu.
Dengan gebrakan cepat ia melepaskan kaos yang ia pakai, kami berdua sama-sama menggebu dan saling menginginkan saat Frans membuka baju kaosnya aku di suguhkan dengan pemandangan yang membuat mataku tidak berkedip di buatnya, sejak kapan perut Frans berubah berkotak-kotak keras seperti itu gumamku, nafasku masih menggebu, titisan air mengalir dari lehernya menyusuri dadanya dan turun ke perut,
Aku arahkan lidahku ke tetesan air itu, aku menjilatinnya bagai lelehan coklat, walau rasanya asin, tapi aku terus menjilati bagian dadanya. Frans menggeliat menahan tubuhku, tidak ingin terhalang apapun, Frans membuka celana pendek yang ia kenakan, celana olahraga ,
Bersambung
__ADS_1