
“Kita pulang,” ucap Frans, ia berdiri dan berjalan di depanku, aku mengikutinya dari belakang. Jika Frans marah, teman-temannya sudah mengerti, saat kami pulang Niko sudah tidak ikut nebeng kami kali ini, mungkin ia takut melihat tampang marah Frans.
Aku dan Frans pulang, tetapi sepanjang perjalan pulang, ia hanya berdiam diri, aku belum paham alasan kemarahannya.
Aku sudah biasa menerima sikap dingin darinya, tetapi aku tidak suka dengan suasana hening dan sepi seperti saat di dalam mobil Frans, itu bisa membuatku sesak napas. Aku memulai obrolan memecah keheningan aku tidak bisa dalam keadaan hening, penyakitku akan kambuh.
“Apa kita langsung pulang, Frans?” Ia belum menjawab menandakan dia masih marah dan tanda petik.
' jangan di ganggu'
Kalau sudah seperti itu, lebih baik menghindari masalah, sebelum ia meledak. Untungg aku selalu membawa headset di tasku, mendengar musik dengan volume tinggi akan membuatku tenang.
Aku menyibukkan diriku dengan ponsel milikku, jalanan ibukota seperti biasa padat merayap, padahal jarak tempuh tidaklah terlalu jauh dari Cibubur Permai ke Rafles tidak makan waktu lama hanya makan 20 menit, tetapi di depan Mall Trans media seolah mobil tidak bergerak, alhasil perjalan begitu jauh rasanya. Jakarta hari ke hari semakin macet keluh di dalam hati.
Dreeet...
Bunyi notip ponselku ada pesan masuk di laman WA
Pesan masuk dari bang Niko. Sekarang aku paham kenapa Frans terlihat begitu kesal padaku.
Bang Niko mengirim pesan.
Bukan hanya mengirim pesan, Niko juga menelepon, aku mencoba mematikan panggilan telepon dari Niko.
Hedeeeeh… apa bang Niko tidak mikir, kalau dia meneleponku seperti ini, Frans akan marah? ucapku dalam hati.
Tapi tidak berhenti, ia tetap saja meneleponniku, Frans melirikku dengan mata tajam. Dari pada-daripada, aku putuskan terima panggilan dari bang Niko.
“Kenapa bang Niko?”
“Aku tau dia lagi mendiamimu sepanjang perjalanan, kan?"
Katanya sok tau “Aku ingin menemanimu, aku akan bicara sempai kamu di rumah, agar kamu tidak merasa sesak nafas,” suara bang Niko terdengar santai tidak ada candaan di balik suaranya.
“Kok abang Niko, bisa tau?” Tanyaku kaget, karena aku pikir aku tidak pernah memberitahukan siapapun tentang penyakitku.
“Iya, iyalah, aku sebenarnya dukun tau,” ucapnya bercanda.
“Aku tidak pernah mengatakan pada siapapun,”kataku masih dengan wajah panik.
“Fai kamu pasti penasaran kenapa Frans marah-marah dari tadi, itu bukan karena kita, apa kau tau itu?”
__ADS_1
“Tidak tau,” jawabku masih merasa bingung.
“Beneran, tidak tau?”
“Tidak tau”
“Sama aku juga tidak tau,” katanya membuat orang kesal.
Ia mulai bercerita hal-hal lucu sepanjang perjalan, Frans sibuk dengan kemudinya, ia tidak menghiraukan ku yang sedang menerima telepon.
Membayangkan tingkah lucu bang Niko , dengan mata juling dan mendengar cerita lucu Bang Niko membuatku, spontan tertawa terpingkal- pingkal kali ini.
Sumpah, aku tidak ada niat buat Frans marah seperti sekarang ini. Ia meminggirkan mobilnya di samping indo maret, ia merampas ponselku dan dia mematikannya dan melempar ke jok kebelakang
“Hentikan! Kamu bikin aku tidak konsen menyetirnya, apa perlu aku menurunkan mu di sini,” bentak Fras dengan rahang megeras ia marah.
Raut wajahnya jauh lebih marah dari rumah Agus tapi, Tidak tau hal apa yang membuatnya marah kali ini.
“Apa kamu marah ?”Ia hanya diam, “Apa kamu cemburu ?" Aku bertanya dengan percaya diri, walau aku sudah tau akan jawabannya, ia tersenyum kecut,
“Jad tadi kalian ingin membuatku cemburu? sory kalau aku buat rencana kalian gagal total, aku marah karena hal lain, tidak ada hal cemburu . Kemarahanku karena kalian berisik tak tidak jelas, menambah sakit kepalaku itu saja"
“Oh baiklah," ucapku lagi dengan tersenyum kecil. " Kami tidak ada niat buat kakak Frans cemburu, kami hanya bercanda apa ada nya dan mengalir begitu aja, bang Niko lucu dan humoris, aku selalu tertawa terpingkal-pingkal setiap kali bertemu"
“Kamu memujinya terus dari tadi, kenapa kamu tidak jadian aja sama dia?”katanya lagi.
“Baiklah sepertinya aku juga lelah lama-lama, menanti tidak ada kepastian darimu,” kataku santai
Ucappanku membuat wajahnya lebih suram, wajahnya bagai awan yang gelap. Suasana kembali hening ia diam aku juga diam.
Aku meraih ponsel milikku yang dia lempar ke belakang, menghidupkannya dan mendengarkan musik hanya itu yang bisa menyelematkanku, kalau tidak aku bisa sesak nafas nantinya.
Frans kali ini fokus pada kemudi mobilnya aku sibuk dengan layar ponselku.
‘Lebih baik menonton youtube dari pada melihat kemarahanmu'
Tapi tidak sengaja satu video klip musik dari salah satu grup band, seolah menggambarkan diriku yang sekarang.
Ceritanya, saat si wanita mengejar si laki-lakinya hampir bertahun-tahun, tapi pada akhirnya ia lelah dan pergi jauh meninggalkan si lelaki. Wanitanya akhirnya menikah dengan orang lain yang mencintainya, lelaki sederhana yang mampu membuatnya bahagia, saat sudah bahagia pangeran yang ia kejar, datang kembali.
Wah kebetulan bangat ini, apa ini peringatan untukku, agar aku berhenti? Aku mulai merasa sedih.
Aku merasa ada mahluk asing masuk ke dada ini, setiap kali aku merasa sedih, aku q merasa sesak tak karuan, jantung berdetak sangat cepat, keringat dingin mulai menetes di keningku, padahal pendingin di mobil Frans hidup juga.
__ADS_1
‘Tidak boleh seperti ini boleh’ tidak teriakku dalam hati tapi aneh tanganku tidak bisa aku gerakkan.
Tiba- tiba tangannya Frans menarik heardset yang menempel di kupingku, membuatku selamat dari serangan panik yang mengerikan. Dadaku naik turun dengan napas terengah-engah tidak beraturan.
“Kita sudah sampe,” ucap Frans
“Baiklah,” jawabku dengan sedikit senyum yang di buat – buat, menutup serangan jantung yang barusan aku rasakan. Saat aku mau turun, Frans menarik tanganku,
“Maaf,” kata Frans , ia merasa bersalah, mungkin ia takut aku mengadu pada Maminya.
“Maaf untuk apa ? Tanyaku
“Maaf untuk semuanya,”katanya.
Batinku bertanya Semua nya? semua itu apa?Apa ia meminta maaf karena tidak bisa memberikan aku cintanya? Apa ia meminta maaf karena aku sudah mengejar –ngejarnya dengan sia-sia?”
“Baiklah, aku tidak tau kamu meminta maaf untuk apa, lupakanlah, ayo masuk,” kataku meninggalkannya, karena merasa sangat lelah dan tidak berdaya lagi.
Merebahkan diriku di kamar yang jaraknya satu kamar dengan kamar milik Frans, mataku tertutup tapi pikiranku melayang kemana- mana
Kamar Frans sudah seperti kamarku sendiri dan tidak bisa di pungkiri, aku sering kali menginap di kamar frans dan tidur dan berbagi selimut dan berbagi bantal dengannya
Rasa cintaku yang berlebihan padanya, membuatku kehilangan rasa malu. Harusnya sebagai gadis yang belum menikah dan hanya tamu di rumah Frans, tidak seharusnya aku tidur di kamar seorang lelaki yang belum suami.
Kelurga Frans sudah mengetahui semuanya. Mami bahkan beberapa kali membangunkan kami berdua yang tidur pulas dengan satu selimut agar tidak terlambat kuliah.
Pertama- tama memang malu –malu, tapi lama- kelamaan sudah terbiasa, bahkan sudah seperti suami istri yang keman- mana selalu bersama. Aku dijuluki seperti permen karet yang selalu menempel pada Frans.
Pernah sekali Mami menyuruh kami untuk menikah tapi Frans menolaknya alasan harus fokus kuliah dan ingin berkarir nantinya.
Iya.iyalah. iya kali… Frans mau menikahi si gadis kampung sepertiku, mau dibawa kemana wajahnya di depan teman-temanya saat itu sebelum aku kuliah.
“Kamu harus semangat sayang, Mami mendukungmu, Mami dan Papi selalu di belakangmu,” ucapnya kala itu, membuatku bertahan sampai saat ini.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya keempat ku, tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing