Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Ingin Ziarah


__ADS_3

“Faila’’ kamu harus menjalani semuanya” kata Tari menyemangattiku,


“Maaf tubuhku masih lemah” aku menolak ajakan Tari berkat bantuan  kertas dan satu pena, untuk memperlancar komunikasi kami,


  “Baiklah’’ aku akan menjagamu aku juga tidak usah masuk kuliah hari ini”  Tari menawarkan bantuannaya


      “Tidak usah aku sendirian aja disini, aku tidak ingin menjadi beban bagi hidup orang lain lagi,


Ingin rasanya jauh dari orang yang mengenalku, mengenal seorang Faila tentang cerita hidupnya yang banyak komplik.


Rindu hidup tanpa ada yang mengenal masa laluku, aku ingin hidup tanpa ada yang taku kalau seorang wanita yang ketakutan pada banyak hall


  “Baiklah Fai, aku akan langsung datang jika mata kuliahnya sudah selesai,” ucap Tari dengan wajah yang penuh kekawatiran,


  “Hmmmm,” aku mengangguk.


Tari berangkat kuliah aku masih merebahkan tubuhku di kasur, aku merasa hening, aku merasa kesepian, tapi entah mengapa, dari banyak masalah yang menimpahku.


Baru kali ini aku merindukan kedua orang tuaku, selama ini aku terlalu sibuk membenci mereka, hingga lupa untuk bersyukur,


Aku merindukan mama dan papaku, mungkin kereta pagi ini masih ada, Jurusan Jakarta-Malang di Mana kedua orang tuaku dimakamkan.


Malang Kota kelahiranku sekaligus kota awal penderitaanku


Aku  memutuskan untuk ziara ke makam kedua orangtuaku,


salahku mungkin selama ini, selalu membenci dan menyalahkan ke dua oran tuaku,


Tapi kali ini aku ingin mencoba memahami jalan pikiran mamaku, takdir dan kematian itu rahasia Tuhan, manusia boleh berencana tapi Tuhanlah yang memutuskan.


Aku ingin ziara ke makam kedua orang tuaku.Memutuskan menaiki kereta api, untuk membawaku ke Kota kelahiranku.


Aku nekat melakukan perjalanan sendiri untuk melawan ketakutan ku dengan sikap pasrah,


menerima apapun yang terjadi nantinya


Tidak bisa dipungkiri, sepanjang perajalan kesedihan menyelimuti jiwaku, melewati persawahan, mengingatkanku kembali ke masa kecilku,


Airmata itu mengalir  bagai sungai kecil membasahi pipiku, pandanganku belum beralih dari jendela kecil itu, bahkan tidak meyadari mungkin orang- orang dalam kereta mungkin sudah memandangku dengan tatapan bigung,


Melihat seorang wanita mulai dari memasuki Gerbong kereta sudah menunjukkan kesedihan, menangis tanpa suara. Aku takut untuk menoleh kesampingku, mungkin melihatku menangis sepanjang perjalanan, Aku hanya melihat  kekursi yang berhadapan denganku dua orang yang berbadan tegap lengkap dengan seragam loreng- loreng kebangaan mereka abdi Negara,


Memberiku senyuman, penampilanku bukan lagi yang seperti yang Faila yang kampungan, sekarang aku sudah bisa merawat tubuh  tidak  berniat menyombongkan diri, aku suda masuk kategori wanita idola Pria, Manis dan cantik.


Tidak membalas seyuman pria tampan, Aku takut dia akan mengajakku nanti berkomunikasi atau hanya berkenalan, itu sangat memalukan untukku, karena sampai saat ini suaraku belum juga kembali atau mungkin tidak akan pulih lagi, Membuat hidupku nantinya semakin komplit penderitaanya,Tidak bisa bicara memikirkanya saja membuatku Prustasi,


Tidak ingin diajak mengobrol atau berkenalan layaknya anak muda yang baru bertemu.


Aku mengambil posisi bersandar dan menutup mata, dengan begitu, tidak ada lagi yang ingin mengajakku berbicara,


Tapi benar saja  ‘Nasip baik tidak bisa di raih dan nasib buruk tidak bisa di tolak’ keduanya harus di terima dan dijalani.  Itulah yang terjadi padaku, mungkin karena sudah lama tidak pulang ke kampung halaman sudah bertahun tahun lamanya ,


Saya lupa stasiun dimana saya harus turun,dengan sikap panik


Malu bertanya maka sesat dijalan, akupun mengingat pepatah lama itu, tidak ingin tersesat memberanikan diri mencoba bertanya pada petugas kereta, tapi sayang  bigung cara berkomunikasinya,


Kedua Tentara muda itu hanya mengawasiku, sedikit menjaga gensi karna sudah terlanjur tadi mencueki keduanya, maka memutuskan tidak menanyakan pada mereka.

__ADS_1


Aku mengambil kertas menunjuk pada sappam.


     “Tidak salah kok mba “kata petugas itu, yang melihatku sedikit iba,


Mungkin dalam hatinya .Cantik –cantik sayang bisu, mungkin itu yang dipikirkan petugas tersebut dengan padangannya yang iba melihat diriku,


Walau batinku menolak untuk dikasihani ,tapi mau gimana ‘ sepertinya harus menerimanya,


Aku duduk kembali ke kursi yang aku duduki, kedua cogan itu masih dengan sikap mengawasiku,


Dasar. Apa yang salah sih, aku merunggut kesal dengan tatapan mata sinis melihat salah tentara muda itu.


Mungkin salahku tadi, kenapa aku harus bersikap cuek pada kedua pemuda itu yang berakhir seperti ini.


   “Kita ada disini mba sebagai pelayanan masayarakat siap setiap saat jika dibutuhkan” Kata seorang dari mereka dari nama yag menempel didadanya sepertinya namanya Rio wardana dan satu lagi dari awal sikap terlihat berbeda dengan temannya yang lebih ramah.


Tapi salah satu tentara itu sepertinya sangat dingin dan kaku dan aku sangat tidak menyukai lelaki seperti itu,


Dingin dan kaku tipe lelaki yang aku jauhi, si cowok dingin itu namanya, Felix S dia tidak banyak bicara dan hanya terfokus pada buku yang ia baca,


Baiklah kali ini biar aku balas dengan senyuman saja.


Kereta akhirnya tiba di stasiun Kota Baru Malang, tapi aku lupa sibapak petugas itu tadi  bilangnya, kota Baru apa Kota lama, saat kreta berhenti, aku bigung  apa aku turun apa tidak?


Aku terlihat kebigungan, dan malu melihat kedua lelaki  berseragam Tentara itu. Otakku memang selalu payah dalam hal mengingat.


Melihat kedua Tentara itu turun aku juga turun, tapi aku terlihat begitu bodoh karena tidak tahu harus melangkah kearah mana.


  “Si neng mau kemana sebenarnya?” Bernama Rio bertanya.


Tatapanya dingin  dan datar, tidak begitu bersahat, membuat kaum wanita lemah sepertiku akan mundur karena takut melihat tatapan mata dinginya.


Tapi untuk penampilan dan postur tubuh jangan tanya, Wajahnya sedikit kebule bulean dengan kulitnya yang putih, dengan pangkasan Rambut cepak layaknya tentara,


Postur tubuhnya mengambarkan wataknya yang tegas dan cuek


   “Ayo,” kata Felix menyikut temannya, sepertinya tidak menyukai  sifatku yang bertingkah bodoh.


“Eh”


Dengan gagu gerakan tangan, tunggu aku mencoba membuang gensi yang tak ada guna,mungkin benar lebih baik meminta tolong pada tentara ini dari pada nanti kebingungan sendiri, dan salah orang.


Tanganku menarik ujung kemeja bernama Rio,karena itulah caraku menghentikannya, melihat tanganku menarik lengan kemeja temannya membuat dahi Felix berkerut, penuh tanda Tanya,denagan tatapan lebih Tajam lagi.


      “Oh iya ampu jangan menatapku sepertti itu anak muda.


        “Iya.Rio juga masih dengan posisi  lengan kemeja aku pegang dan megeluarkan kertas dan pena, menyakan alamat tujuanku,


Melihatku seperti itu kedua pemuda tampan itu hanya memandang satu sama lain,


       “Apa kamu tidak bisa bicara?” Rio bertanya hati hati


       Aku mengeleng pelan.


         “Oh iya ampun aku tidak tahu maaf” Rio perhatian tapi tidak dengan Felix matanya masih dengan sikap menyelidikiku.


OH.melihat tatapan Tampan Felix kali ini

__ADS_1


Membuatku,sedikit grogi, Pernakah kalian bertemu Pria tampan tapi malah memperlakukan kalian


Bagai orang yang layak diselamatkan.


"Namaku Rio , dan ini temanku Felix “ Rio dengan ramah mengulurkan tangannya.


Memperkenalkan dirinya dan temanya,  Rio  seikapnya ramah.


Seperti komunikasi untuk orang tuna Bicara, membuat ku bingung


Karna memang tidak mengerti,


Melihat bibirnya komat- Kamit tanpa suara, bagai dukun yang lagi


Baca mantra, dengan bantuan gerakkan tangannya lihai,


Mungkin jenis komunikasi itu mungkin dikuasai Rio,


"Maaf' bicaralah aku bisa mendengarnya”


Aku menulis dalam kertas itu lagi, ia ragu cara komunikasi yang merepotkan


Memang.


Rio, sedikit ragu, alisnya yang tebal sedikit dimiringkan


"Maksudnya aku bicara normal kamu bisa mendengarnya”


"Iya” Aku mengangguk


"Berarti aku bicara normal dan kamu menjawab dengan tulisan?”


Rio bertanya lagi dengan mimik wajah senyum, antara merasa


Legah, karena aku bisa mendengar


Aku tidak tahu apa ia menertawakan kekuranganku.


Oh, kalau itu arti dari senyuman itu, berhentilah mentertawakan


penderitaanku cowok tampan, aku bermonolog.


Sepertinya Rio mengerti, melihatku dengan wajah suram,


BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP 3 BAB TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2