Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Aku tidak benar-benar mencintaimu


__ADS_3

Aku naik kekamar dan mengunci pintu, merebahkan tubuh ini di ranjang di kamar .


Epek obat  yang  aku minum,  aku  kembali  tidur, sayup-  sayup  ku  dengar  Frans  mengetuk pintu  dan memanggil  namaku  tapi  rasa  ngantuk itu  membuatku  tidak  berdaya,


Kelurga   Frans khawatir, karena aku tidak menyahut dan aku mengunci pintunya, tidak ada sahutan, Frans  mendobrak pintu kamarku.


Aku  masih bisa  mendengar  suara  mereka  berbicara


“Itu  karena  efek tidur itu Mi,” ujar  kak  Dion  menjelaskan , setelah  memeriksaku  menempelkan kedua  jarinya b  di cerobong  lubang  hidung ini , memastikan apa aku masih bernapas apa tidak.


Mami  membenarkan posisi  tidurku,   menyelimuti ku,  tidak lupa juga  di  mencium kening ini.


“Fai, kenapa kamu tidak memberitahukan mami kalau kamu punya penyakit ….Maaf Mami tidak tahu kalau kamu sakit sayang,” ucap mami mengusap pucuk kepala ini.


Sudah hampir  sore,  aku  mendengar  suara mereka   lagi mengobrol serius  di  ruangan tamu di bawah, aku penasaran tentang pembahasan mereka.


Kakiku melangkah  mau turun, tetap  aku  melihat  kakak Hendo  ikut  duduk disana dengan kakek, pembahasan mereka tentang aku.


“Aku ingin membawanya keluar  negeri  untuk  mendapatkan perawatan di sana,”ujar Hendro.


Mendengar ia bicara seperti itu, aku sangat membenci suaranya , bahkan aku berharap aku tidak bertemu dengan kakak yang membuangku.


“Tidak ,  kakek   akan  membawanya  pulang  kampung , kakek  akan  merawat   di sana,” ujar kakek lagi.


“Tapi  dia  masih  kuliah, Om," mami Frans seolah-olah ia  tidak rela kalau aku dibawa pulang.


“Kuliah  tidak penting  lagi Sin, saat  ini  kesembuhan  yang   paling  dia  butuhkan, aku gagal lagi kedua kalinya, bahkan saya tidak tahu kalau ia punya penyakit separah ini tadinya saya pikir hanya ketakutan biasa”  ucap  kakek,  “Kalau dia sudah sembuh nanti aku akan menikahkannya dengan  anak  sahabatku di  Malang ,  mereka  sudah  saling  mengenal, menikahkannya  saat ini, akan  membuatku  tenang  di  masa tua,  aku  bisa  mati dengan tenang jika ia sudah ber rumah tangga,”ujar kakek.


“Aku  yang akan  menikahi  Kek,” suara itu  membuat ku terkejut.  Frans  menawarkan  dirinya  untuk  menikahiku karena  kasihan.


Aku tertawa merasa lucu, mendengar  hal itu,   sedih rasanya mendengarya .  Mendengar  Frans  menawarkan  dirinya karena  kasihan padaku.


Mendengar mereka  semua membahas diriku seakan-akan mereka  tahu siapa aku dan tahu  apa yang sudah aku alami.


“ Tau apa kalian tentang hidupku?”


“Apa   kamu yakin  Frans,”  tanya  kakek , terdengar bersemangat,


Aku membenci mendengar Frans ingin menikahiku,  mungkin dulu itu hal yang sangat aku inginkan bahkan aku mengejar-ejarnya seperti orang yang tidak tahu malu, tetapi saat ini sangat berbeda. Aku tidak menyukai mereka semua.


Frans  berniat  menikahiku.  Ia  berpikir  petaka  dan  bencana terhadap  diriku di  mulai  dari aksinya  yang memarahiku malam itu.


Tapi semua itu bukan karena Frans, ia tidak perlu menikahiu dan meyulitkan dirinya, ini penyakitku sejal kecil yang aku simpan dalam hati hingga tidak ada yang mengetahuinya.


Aku merasa sangat lucu  mendengar  dia  mengobankan dirinya untuk menikahiku. Tetapi aku tidak menginkan Frans lagi, aku tidak butuh ia lagi. Aku ingin memulai hidup baru melupakan  Frans aku ingin menuntaskan kuliahku.


Malampun  tiba  aku  tidak  mau  turun  ke bawah  untuk  makan  malam,  karena  ada kakak Hendro di sana, aku kembali ke kamar.


Ada suara kaki yang datang kekamar aku pura-pura tidur, ternyata Frans yang datang. Aku merasakan Frans memelukku dari belakang, ia menempel bibirnya di pundakku


“Aku akan menjagamu Fai, percayalah padaku,” ucapnya mengecup belakang leherku.


Tubuhku  tidak  merespon  apapun  yang  ia  katakan. Ini pengakuan yang  pertama  kalinya yang aku  dengar  dan  mungkin  aku  tunggu  selama  ini , selama  bertahun- tahun aku mengejarnya  baru kali ini aku mendengar kalimat itu keluar dari bibir Frans


Tapi,  hatiku  membatu  dan  aku  tidak  menginginkan itu  lagi.


‘Cinta  itu  sudah  pergi’


Hatiku sudah  mulai tertutup setidaknya utuk saat ini.


Frans semakin mempererat memelukku dari belakang.


“Fai, apa kamu masih tidur?  Apa kamu tidak mendengarku?” Ia bertanya, aku menutup mata ini tidak menghiraukanya dan tidak ingin bicara dengannya.

__ADS_1


Ia membaringkan tubuhnya di sampingku, membelai rambutku yang panjang, Frans berusaha membangunkanku tapi maaf


‘Aku tidak ingin melihat Frans lagi ia sudah tahu penyakitku untuk apa lagi aku dengannya?’


“Fai  apa  kamu  masih  tidur? Aku  masih  diam  dan  tidak ingin menanggapinya “Baiklah  tidur  lah  lagi,” Frans  meninggalkanku  tidur  kembali


*


Saat pagi tiba,


Pagi-  pagi  sekali kak Henro kakaku  sama  kakek  pergi  entah  kemana, ternyata  tadi  malam  kakek  sama  Hendo  menginap  di  rumah  Frans.


Sejak mereka mengetahui penyakitku, entah kenapa perasaan tidak enak  tinggal di rumah Frans , biasanya  aku tidak pernah merasa tidak enak dan biasanya aku selalu  bermuka tembok .  Dulu rumah Frans sudah seperti rumah sendiri  untukku , tapi saat perasaan itu aku juga mulai merasa asing di rumah Frans


Saat kakek dan kakakku pergi,  kesempatanku turun, aku sengaja menunggu kakak pergi agar aku tidak usah bertemu kakak lelakiku yang aku benci sepanjang hidupku.


Saat aku turun, keluarga Frans sedang duduk berkumpul di meja makan semua anggota keluarga  berkumpul, aku pikir ini kesempatanku untuk bicara.


“Eh Fai. sudah bangun sini duduk dekat, Mami,”ujar mami  menarik satu kursi untukku,


Aku  menarik  napas  dalam –dalam, berusaha  mengumpulkan  kekuatan dan keberanian, untuk minta izin keluar dari rumah Frans.


“Mami, Pi, aku  mau  ngomong,” mataku, menatap Mami


Tiba-  tiba suasa hening  menyelimuti meja makan perasaan  tegang  menyelimuti suasana  pagi itu, anak-  anaknya,  menatapkuku dengan mata menyelidiki wajah semuanya tegang, membuatku grogi  melihat tatapan menunggu dari mereka, lidahku terasa keluh.


“Aku  ingin  pergi,Mi,” kataku membuat   membuat  suasana  pagi itu tiba-tiba  terdiam “Aku  ingin tinggal  di Asrama  dengan  teman ku,” Kedua orang tua Frans saling menatap


Wajah  keduanya menjadi terlihat suram.


“Tapi  kenapa,  Fai? apa kami  melalukan  kesalahan,”  tanya Mami.


“Tidak Mi,  aku  hanya ingin  mandiri, kelurga  ini  sudah  lama  menampungku,  hidupku  sudah  terlalu  enak, aku ingin mandiri  saja”


“Aku  tau  Pi,  kaerna  itulah  aku  sangat  berterimakasih,  kakek  tidak  lagi memberi uang  kuliahku sejak  bulan  kemarin, makanya ,  aku ingin bekerja dan kebetulan  pekerjaaan yang aku dapat di dekat asrama kampus.”


“Kenapa  kamu  tidak bilang  kalau  kamu ingin bekerja,  papi’kan  bisa  bantu,” Papinya Frans menatapku.


“Aku  hanya  ingin mandiri  saja  dan  aku  mau buktiin  sama kakek  aku bisa, Pi.”


“Fai  banyak  hal  yang ingin  mami  tanyakan  padamu. Kenapa  kamu  tidak  pernah  menceritakan  pada  kami tentang penyakitmu”


“Tidak  apa- apa, Mi aku  bisa  mengatasinya  ,aku hanya  ingin  pamit saja, hari ini,” ucapku.


“Tapi  kami  sudah  membahas  tadi malam  tentang pernikahanmu  dengan  Frans ,   kami  percepat.”  Wajah mami terlihat  gembira,  mungkin mereka semua berharap,   aku  akan  melompat  kegirangan  setelah  Frans  berdsedia  menikahiku.


Tapi aku besikap biasa saja tidak ada rasa gembira ataupun rasa senang bahkan tidak merespon sedikitpu, mereka saling menatap melitku yang tidak berreaksi.


“Mami,  aku  ingin  menuntaskan  kuliahku  dulu.”


“Fai  apa kamu  tidak ingin  menikahi  Frans  lagi?” tanya Mami wajahnya menatapku dengan serius.


Aku  menarik  napas panjang,  rasanya sangat  berat, untuk menjawabnya


,


“Aku ingin kuliah saja Mi”


“Apakah  kamu  belum  memaafkannya?”


“Aku  suda  tidak  apa-  apa  lagi  dengan Frans Mi”


Aku  menarik  Napas  dalam lagi  berharap   cepat  cepat  bisa  kabur  dari  situasi  itu

__ADS_1


“Terimakasi  mi, untuk  selama ni  terimakasi pi  dan  kakak  semua dan   segala  kebaikan  kalian pada ku.  Maafkan  semua kelakuan  burukku selama aku berada tinggal di rumah ini”


“Fai ada  apa ini,  kenapa tiba- tiba  seperti ini  kamu  pamit  begini  mau  kemana? Wajah papinya Frans terlihat lebih serius lagi.


“Setidanya  kakek dan kakamu pulang  dulu   ke sini  dan  kita  bicarakan  baik- baik ,” bujuk  papi  lagi.


Tapi aku menolak dengan tegas, justru ingin pergi karena aku tidak ingin bertemu denganya.


“Jadi  benar  kata  kakek, kamu sedikit  demi  sedikt  akan menjauh  dan pada  akhirnya  akan menghilang,” kata Arjun menatapku


“Tidak  benar Jun, aku berkunjung lagi


Tiba  tiba  mami ngamuk  karena  kecewa  setelah  tidak  berhasil  membujukku  dan  itu lebih  baik  dia  meluapkan  kemarahan nya  dari pada  menahannya  dan  aku  janji tidak  akan marah  apa  lagi  dendam


“Baiklah, pergilah, Kamu  pembohong, kamu  bilang  kamu  sudah memaafkannya  dan kamu  berjanji  tidak  akan  pergi apapun  yang  terjadi,  tapi ternyata   kamu pendendam  baiklah pergilah,  kalau kamu yang inginkan seperti itu,” ucap mami Frans setelah gagal membujukku.


“Mami  maaf”


Semuanya jadi diam. Aku  begegas mengambil koperku  yang  sudah  ku persiapkan  mulai  tadi  malam.


Tiba - tiba  Frans  dengan  emosi  datang   mengikuti  dari  belakang dan menutup  pintu  dengan  sangat  kencang  dan menguncinya   dari  dalam,  matanya  tajam.


“Fai, kamu tidak akan mengatakan apa-apa padaku, apa kamu akan mendiamiku selamanya?”


“Tidak, aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan Frans, jadi kita tidak ada masalah,” kataku bersikap tenang.


“Seandainya kamu berterus  terang padaku, aku tidak merasa  bersalah, karena aku tidak pernah tau tentang dirimu, tapi aku ingin memperbaikki semuanya Fai, berikan aku kesempatan aku akan memperbaiki  semuanya,” ujar Frans.


“Tidak perlu Frans, kamu tidak perlu memperbaiki dan tidak perlu ada yang di perbaiki dari kita, Karen kita memang tidak pernah ada hubungan apa-apa ,jadi tidak perlu meminta maaf, jika ada yang harus meminta maaf,  itu aku, kerena selama ini akulah yang bersalah padamu,”ucapku.


Mata Frans berkaca-kaca.


“Maaf Fai, maaf karena selama ini aku tidak tahu tentang penyakitmu”


“Tidak perlu merasa bersalah Frans, aku tidak pernah benar-benar menyukaimu, aku tidak pernak Cinta padamu selama ini, anggap saja kelakuanku  selama ini, karena penyakitku, penyakit lama yang aku sembunyikan, aku hanya menjadikanmu sebagai pelarianku, karena aku takut hidup sendirian, aku takut gelap, jadi jangan kamu  pikirkan aku megejarmu karena aku benar-benar mencintaimu, sekarang kamu sudah tau,kan,  jadi tidak perlu merasa bersalah padaku, apa lagi sampai menikahiku, aku tidak ingin jadi beban untukmu, mulai saat ini kamu bebas mencinti siapapun yang kamu sukai, aku pastikan aku tidak akan mengekori kamu seperti binatang peliharaan seperti yang hampir bertahun-thun yang aku lakukan,” kataku


Mendegar  pengakuanku yang tidak pernah mencintainya, wajahnya terllihat menegang ,ia mungkin tidak akan menduga kalau aku akan mengaku seperti itu.


Wajahnya menunduk dan rahang mengeras ada rasa kecewah terlihat di wajahnya


“Apa  kamu  belum  memaafkanku?  Ia mencoba  bertanya  lagi. “Apa   benar  kamu  tidak  ada  perasaan  lagi  padaku?”


“Iya, mari kita saling melupakan anggap tidak pernah bertemu,”


Ia  langsung  melepaskan tangannya  mendengarku bicara seperti itu.


“Apa  benar  tidak  ada  sedikitpun?”


“Iya ,”  jawabku   lagi


“Baiklah,  kamu  pergilah,”


Ia berdiri dan membantu, tatapan matanya nanar menatap kosong.


Bersambung …


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)


__ADS_2