
Aku naik kekamar dan mengunci pintu, merebahkan tubuh ini di ranjang di kamar .
Epek obat yang aku minum, aku kembali tidur, sayup- sayup ku dengar Frans mengetuk pintu dan memanggil namaku tapi rasa ngantuk itu membuatku tidak berdaya,
Kelurga Frans khawatir, karena aku tidak menyahut dan aku mengunci pintunya, tidak ada sahutan, Frans mendobrak pintu kamarku.
Aku masih bisa mendengar suara mereka berbicara
“Itu karena efek tidur itu Mi,” ujar kak Dion menjelaskan , setelah memeriksaku menempelkan kedua jarinya b di cerobong lubang hidung ini , memastikan apa aku masih bernapas apa tidak.
Mami membenarkan posisi tidurku, menyelimuti ku, tidak lupa juga di mencium kening ini.
“Fai, kenapa kamu tidak memberitahukan mami kalau kamu punya penyakit ….Maaf Mami tidak tahu kalau kamu sakit sayang,” ucap mami mengusap pucuk kepala ini.
Sudah hampir sore, aku mendengar suara mereka lagi mengobrol serius di ruangan tamu di bawah, aku penasaran tentang pembahasan mereka.
Kakiku melangkah mau turun, tetap aku melihat kakak Hendo ikut duduk disana dengan kakek, pembahasan mereka tentang aku.
“Aku ingin membawanya keluar negeri untuk mendapatkan perawatan di sana,”ujar Hendro.
Mendengar ia bicara seperti itu, aku sangat membenci suaranya , bahkan aku berharap aku tidak bertemu dengan kakak yang membuangku.
“Tidak , kakek akan membawanya pulang kampung , kakek akan merawat di sana,” ujar kakek lagi.
“Tapi dia masih kuliah, Om," mami Frans seolah-olah ia tidak rela kalau aku dibawa pulang.
“Kuliah tidak penting lagi Sin, saat ini kesembuhan yang paling dia butuhkan, aku gagal lagi kedua kalinya, bahkan saya tidak tahu kalau ia punya penyakit separah ini tadinya saya pikir hanya ketakutan biasa” ucap kakek, “Kalau dia sudah sembuh nanti aku akan menikahkannya dengan anak sahabatku di Malang , mereka sudah saling mengenal, menikahkannya saat ini, akan membuatku tenang di masa tua, aku bisa mati dengan tenang jika ia sudah ber rumah tangga,”ujar kakek.
“Aku yang akan menikahi Kek,” suara itu membuat ku terkejut. Frans menawarkan dirinya untuk menikahiku karena kasihan.
Aku tertawa merasa lucu, mendengar hal itu, sedih rasanya mendengarya . Mendengar Frans menawarkan dirinya karena kasihan padaku.
Mendengar mereka semua membahas diriku seakan-akan mereka tahu siapa aku dan tahu apa yang sudah aku alami.
“ Tau apa kalian tentang hidupku?”
“Apa kamu yakin Frans,” tanya kakek , terdengar bersemangat,
Aku membenci mendengar Frans ingin menikahiku, mungkin dulu itu hal yang sangat aku inginkan bahkan aku mengejar-ejarnya seperti orang yang tidak tahu malu, tetapi saat ini sangat berbeda. Aku tidak menyukai mereka semua.
Frans berniat menikahiku. Ia berpikir petaka dan bencana terhadap diriku di mulai dari aksinya yang memarahiku malam itu.
Tapi semua itu bukan karena Frans, ia tidak perlu menikahiu dan meyulitkan dirinya, ini penyakitku sejal kecil yang aku simpan dalam hati hingga tidak ada yang mengetahuinya.
Aku merasa sangat lucu mendengar dia mengobankan dirinya untuk menikahiku. Tetapi aku tidak menginkan Frans lagi, aku tidak butuh ia lagi. Aku ingin memulai hidup baru melupakan Frans aku ingin menuntaskan kuliahku.
Malampun tiba aku tidak mau turun ke bawah untuk makan malam, karena ada kakak Hendro di sana, aku kembali ke kamar.
Ada suara kaki yang datang kekamar aku pura-pura tidur, ternyata Frans yang datang. Aku merasakan Frans memelukku dari belakang, ia menempel bibirnya di pundakku
“Aku akan menjagamu Fai, percayalah padaku,” ucapnya mengecup belakang leherku.
Tubuhku tidak merespon apapun yang ia katakan. Ini pengakuan yang pertama kalinya yang aku dengar dan mungkin aku tunggu selama ini , selama bertahun- tahun aku mengejarnya baru kali ini aku mendengar kalimat itu keluar dari bibir Frans
Tapi, hatiku membatu dan aku tidak menginginkan itu lagi.
‘Cinta itu sudah pergi’
Hatiku sudah mulai tertutup setidaknya utuk saat ini.
Frans semakin mempererat memelukku dari belakang.
“Fai, apa kamu masih tidur? Apa kamu tidak mendengarku?” Ia bertanya, aku menutup mata ini tidak menghiraukanya dan tidak ingin bicara dengannya.
__ADS_1
Ia membaringkan tubuhnya di sampingku, membelai rambutku yang panjang, Frans berusaha membangunkanku tapi maaf
‘Aku tidak ingin melihat Frans lagi ia sudah tahu penyakitku untuk apa lagi aku dengannya?’
“Fai apa kamu masih tidur? Aku masih diam dan tidak ingin menanggapinya “Baiklah tidur lah lagi,” Frans meninggalkanku tidur kembali
*
Saat pagi tiba,
Pagi- pagi sekali kak Henro kakaku sama kakek pergi entah kemana, ternyata tadi malam kakek sama Hendo menginap di rumah Frans.
Sejak mereka mengetahui penyakitku, entah kenapa perasaan tidak enak tinggal di rumah Frans , biasanya aku tidak pernah merasa tidak enak dan biasanya aku selalu bermuka tembok . Dulu rumah Frans sudah seperti rumah sendiri untukku , tapi saat perasaan itu aku juga mulai merasa asing di rumah Frans
Saat kakek dan kakakku pergi, kesempatanku turun, aku sengaja menunggu kakak pergi agar aku tidak usah bertemu kakak lelakiku yang aku benci sepanjang hidupku.
Saat aku turun, keluarga Frans sedang duduk berkumpul di meja makan semua anggota keluarga berkumpul, aku pikir ini kesempatanku untuk bicara.
“Eh Fai. sudah bangun sini duduk dekat, Mami,”ujar mami menarik satu kursi untukku,
Aku menarik napas dalam –dalam, berusaha mengumpulkan kekuatan dan keberanian, untuk minta izin keluar dari rumah Frans.
“Mami, Pi, aku mau ngomong,” mataku, menatap Mami
Tiba- tiba suasa hening menyelimuti meja makan perasaan tegang menyelimuti suasana pagi itu, anak- anaknya, menatapkuku dengan mata menyelidiki wajah semuanya tegang, membuatku grogi melihat tatapan menunggu dari mereka, lidahku terasa keluh.
“Aku ingin pergi,Mi,” kataku membuat membuat suasana pagi itu tiba-tiba terdiam “Aku ingin tinggal di Asrama dengan teman ku,” Kedua orang tua Frans saling menatap
Wajah keduanya menjadi terlihat suram.
“Tapi kenapa, Fai? apa kami melalukan kesalahan,” tanya Mami.
“Tidak Mi, aku hanya ingin mandiri, kelurga ini sudah lama menampungku, hidupku sudah terlalu enak, aku ingin mandiri saja”
“Aku tau Pi, kaerna itulah aku sangat berterimakasih, kakek tidak lagi memberi uang kuliahku sejak bulan kemarin, makanya , aku ingin bekerja dan kebetulan pekerjaaan yang aku dapat di dekat asrama kampus.”
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu ingin bekerja, papi’kan bisa bantu,” Papinya Frans menatapku.
“Aku hanya ingin mandiri saja dan aku mau buktiin sama kakek aku bisa, Pi.”
“Fai banyak hal yang ingin mami tanyakan padamu. Kenapa kamu tidak pernah menceritakan pada kami tentang penyakitmu”
“Tidak apa- apa, Mi aku bisa mengatasinya ,aku hanya ingin pamit saja, hari ini,” ucapku.
“Tapi kami sudah membahas tadi malam tentang pernikahanmu dengan Frans , kami percepat.” Wajah mami terlihat gembira, mungkin mereka semua berharap, aku akan melompat kegirangan setelah Frans berdsedia menikahiku.
Tapi aku besikap biasa saja tidak ada rasa gembira ataupun rasa senang bahkan tidak merespon sedikitpu, mereka saling menatap melitku yang tidak berreaksi.
“Mami, aku ingin menuntaskan kuliahku dulu.”
“Fai apa kamu tidak ingin menikahi Frans lagi?” tanya Mami wajahnya menatapku dengan serius.
Aku menarik napas panjang, rasanya sangat berat, untuk menjawabnya
,
“Aku ingin kuliah saja Mi”
“Apakah kamu belum memaafkannya?”
“Aku suda tidak apa- apa lagi dengan Frans Mi”
Aku menarik Napas dalam lagi berharap cepat cepat bisa kabur dari situasi itu
__ADS_1
“Terimakasi mi, untuk selama ni terimakasi pi dan kakak semua dan segala kebaikan kalian pada ku. Maafkan semua kelakuan burukku selama aku berada tinggal di rumah ini”
“Fai ada apa ini, kenapa tiba- tiba seperti ini kamu pamit begini mau kemana? Wajah papinya Frans terlihat lebih serius lagi.
“Setidanya kakek dan kakamu pulang dulu ke sini dan kita bicarakan baik- baik ,” bujuk papi lagi.
Tapi aku menolak dengan tegas, justru ingin pergi karena aku tidak ingin bertemu denganya.
“Jadi benar kata kakek, kamu sedikit demi sedikt akan menjauh dan pada akhirnya akan menghilang,” kata Arjun menatapku
“Tidak benar Jun, aku berkunjung lagi
Tiba tiba mami ngamuk karena kecewa setelah tidak berhasil membujukku dan itu lebih baik dia meluapkan kemarahan nya dari pada menahannya dan aku janji tidak akan marah apa lagi dendam
“Baiklah, pergilah, Kamu pembohong, kamu bilang kamu sudah memaafkannya dan kamu berjanji tidak akan pergi apapun yang terjadi, tapi ternyata kamu pendendam baiklah pergilah, kalau kamu yang inginkan seperti itu,” ucap mami Frans setelah gagal membujukku.
“Mami maaf”
Semuanya jadi diam. Aku begegas mengambil koperku yang sudah ku persiapkan mulai tadi malam.
Tiba - tiba Frans dengan emosi datang mengikuti dari belakang dan menutup pintu dengan sangat kencang dan menguncinya dari dalam, matanya tajam.
“Fai, kamu tidak akan mengatakan apa-apa padaku, apa kamu akan mendiamiku selamanya?”
“Tidak, aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan Frans, jadi kita tidak ada masalah,” kataku bersikap tenang.
“Seandainya kamu berterus terang padaku, aku tidak merasa bersalah, karena aku tidak pernah tau tentang dirimu, tapi aku ingin memperbaikki semuanya Fai, berikan aku kesempatan aku akan memperbaiki semuanya,” ujar Frans.
“Tidak perlu Frans, kamu tidak perlu memperbaiki dan tidak perlu ada yang di perbaiki dari kita, Karen kita memang tidak pernah ada hubungan apa-apa ,jadi tidak perlu meminta maaf, jika ada yang harus meminta maaf, itu aku, kerena selama ini akulah yang bersalah padamu,”ucapku.
Mata Frans berkaca-kaca.
“Maaf Fai, maaf karena selama ini aku tidak tahu tentang penyakitmu”
“Tidak perlu merasa bersalah Frans, aku tidak pernah benar-benar menyukaimu, aku tidak pernak Cinta padamu selama ini, anggap saja kelakuanku selama ini, karena penyakitku, penyakit lama yang aku sembunyikan, aku hanya menjadikanmu sebagai pelarianku, karena aku takut hidup sendirian, aku takut gelap, jadi jangan kamu pikirkan aku megejarmu karena aku benar-benar mencintaimu, sekarang kamu sudah tau,kan, jadi tidak perlu merasa bersalah padaku, apa lagi sampai menikahiku, aku tidak ingin jadi beban untukmu, mulai saat ini kamu bebas mencinti siapapun yang kamu sukai, aku pastikan aku tidak akan mengekori kamu seperti binatang peliharaan seperti yang hampir bertahun-thun yang aku lakukan,” kataku
Mendegar pengakuanku yang tidak pernah mencintainya, wajahnya terllihat menegang ,ia mungkin tidak akan menduga kalau aku akan mengaku seperti itu.
Wajahnya menunduk dan rahang mengeras ada rasa kecewah terlihat di wajahnya
“Apa kamu belum memaafkanku? Ia mencoba bertanya lagi. “Apa benar kamu tidak ada perasaan lagi padaku?”
“Iya, mari kita saling melupakan anggap tidak pernah bertemu,”
Ia langsung melepaskan tangannya mendengarku bicara seperti itu.
“Apa benar tidak ada sedikitpun?”
“Iya ,” jawabku lagi
“Baiklah, kamu pergilah,”
Ia berdiri dan membantu, tatapan matanya nanar menatap kosong.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)