
Ternyata hari perpisahan itu , sudah semakin dekat. Surat perjanjian pernikahan itu ternyata tinggal satu minggu lagi. Itu artinya satu minggu kedepannya aku akan menyandang gelar Baru. Janda Muda, ucapku dalam hati semakin kesal,
“Fai, mari kita bicara”
“Nanti saja bicaranya, kepalaku sakit, antar saja aku kerumah kakek”
“Kenapa kerumah Kakek ? Apa kita tidak kerumah Mami aja”Frans menatapku sekilas.
“Kakekku baru meninggal hari ini Frans aku ingin menemani Kak Hendra. Ia tidak punya siapa-siapa selain aku “
Raut wajah Frans tidak tidak begitu setuju aku kembali kerumah Kakek” Frans ingin bicara hal yang penting padaku .Aku bisa baca dari gelagatnya. Karena sejak malam pertama tiga minggu yang lalu kami tidak pernah ada waktu bicara berdua. Karena aku menghabiskan waktu menjaga Kakek sengaja menghindar
Aku tau apa yang ingin dibicarakan Frans padaku. Tapi sudah cukup untukku, aku ingin pergi Jauh
Ingin berada di tempat dimana tidak ada orang yang tidak mengenaliku, menjalani hidup yang baru.
“Baiklah” Frans memilih mengalah,
Walau wajahnya terlihat marah, karena penolakan yang aku lakukan, belakangan ini, semakin ia berusaha mendekat dan ingin memperbaiki semuanya, semakin aku menjauh dan membuat jarak diantara kami.
Hatiku yang tersakiti tidak akan mungkin seperti yang dulu lagi. Ibarat kaca yang sudah pecah, bagaimanapun usaha untuk menyatukan serpihannya, tidak akan sama lagi seperti sebelumnya.
Hingga tiba di depan Rumah kakek. Ia berdiam dan menarik nafas panjang.
“Sampai jumpa Frans” aku berpamitan, tanganku meraih pintu mobil Frans. Tapi tangan menahan lenganku. Matanya sayu menatapku, Untuk sesaat hatiku luluh. Jarang –jarang aku melihat tatapan pilu dari wajah Frans . Biasanya Ia selalu bersikap tegas terlihat serius dalam segala hal. Tapi kali ini Ia begitu tersiksa menahan perasaanya.
“Tidak bisakah kita bicara sebentar?” Frans masih menahan lenganku.
Tapi aku sudah memutuskan berjalan sendiri tidak ingin terpengaruh lagi. Aku menggeleng minta maaf pada Frans. Alasan aku capek dan lelah akhirnya ia mengerti juga.
“Aku akan datang kerumah nanti Frans , tapi untuk saat ini berikan aku waktu . Aku ingin bersama Kak Hendro dulu. Kamu pulang saja”
“Tapi nanti apa kata keluargaku kalau aku tidak menemanimu pada saat-saat seperti ini “ Matanya menatapku seperti memohon
“Katakan saja, aku yang ingin sendiri, Keluargamu Pasti mengerti dan kamu jago dalam hal itu”
“Katakan terus terang saat ini. Faila, jangan memberiku harapan sia-sia. Apa kamu berniat meninggalkanku” Pertanyaan itu membuat kepala makin pusing.
“Aku pergi dulu”
__ADS_1
“Apa benar itu rencanamu?” Wajah Frans mengeras dan mata coklatnya menatapku sangat tajam.
“Aku hanya ingin Istirahat Frans, aku lelah karena beberapa hari belakangan ini aku tidak tidur”. Aku menghiraukan pertanyaan itu. Membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu berlalu begitu saja. Mungkin dalam pikiran Frans itu sangat menggangu tapi biarkan saja. Ia menanggung perasaanya sendiri,
“Apa salahnya menjawab”suaranya meninggi, Aku menantangnya tidak gentar lagi :Toh juga mau Runtuh.
“Aku tidak ingin menjawabnya saat ini, karena aku belum ada jawabannya”
“Baiklah silahkan keluar” Kata Frans dalam kemarahan. Tapi bagiku itu bagus. Setidaknya membuatku semakin yakin melangkah
Ia melajukan mobilnya dengan sangat kasar sampai-sampai terdengar decitan suara dari Ban mobilnya.
Ia marah dan sejak hari itu , Ia tidak datang lagi menemui ku .
Akhirnya hari itupun tiba , tidak terasa. Aku menatap lingkaran merah dalam kalender di Nakas kecil disamping tempat tidurku .tanggal yang dilingkari dengan pena merah ,mengingatkanku, bahwa waktuku sudah selesai. Kini aku seorang janda
Masa kontrak pernikahan kami yang selama 6 bulan sudah habis, tepat hari ini.
“Mampukah aku menjalani ini?” dadaku rasanya sesak memikirkannya.
Tidak terasa seminggu sudah orang tua itu juga, meninggalkan kami. Tapi anehnya rasa kehilangan itu malah semakin terasa. Masih sering merasa kakek masih ada di tempat yang biasa kakek duduk membaca buku.
Seperti dugaanku, kakak Hendra tidak ingin tinggal di Indonesia Ia memutuskan akan kembali ke London Inggris
Kak Hendra juga tidak mau meninggalkanku sendirian. Ia dan Tari memutuskan menikah di Luar Negeri walau beberapa sebelumnya mereka berdua sempat berargumen. Karena Tari yang berbeda keyakinan dengan Kami . Bertahan dengan keyakinannya, begitu juga dengan kak Hendra bertahan dalam keyakinannya. Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan cinta mereka berdua antara sahabat dan kakak sendiri.
Mereka memiliki kisah cinta sendiri.Cinta beda agama. Tapi tidak menghalangi mereka berdua. Sempat diam-diamman beberapa hari.Hingga memutuskan mereka akan menikah di Luar Negeri. Persiapan sudah selesai paspor juga sudah selesai.
Aku tidak tau harus memulai dari mana, untuk menghadapi keluarga Frans. Aku memutuskan baiknya bicara empat mata dengan Frans.
Aku mencoba menelpon Frans tapi . Ia tidak mengangkatnya.
Aku ingin bicara berdua dengan Frans. “Apa kamu ada waktu malam ini? aku mengirim pesan padanya, karena lewat telepon Ia tidak menjawabnya.
Ia membalasnya walau sangat lama.
“Iya datang aja, ke Apartemenku malam ini” Ia membalasnya.
Tapi kenapa harusnya di Apartemennya sih? Aku bergumam .Tapi mencoba membuang pikiran –pikiran negatif.
__ADS_1
Memutuskan menurutinya, walau ada perasaan yang tidak enak dalam hati, tapi aku memutuskan pergi juga.
Jam menunjukkan jam 20:00 malam. Akhirnya aku tiba di apartemen milik Frans. Butuh usaha keras melewati jalanan yang macet ke apartemennya yang berada di Margonda Depok.
~Tiiing~
Aku menekan angka 7 lift berbentuk tabung mengangkutku ke lantai tujuh. Aku masih di selimuti perasaan antara takut ,
Dada, rasanya semakin sesak. Suara jantungku semakin tidak ber irama ketika aku tiba di lantai tujuan. Aku mencoba menenangkan jantungku dan menarik nafas panjang membuang dari hidung .Berharap ritual kecil itu mampu menstabilkan jantung yang kian semakin bedetup-detup tidak karuan.
Aku melirik arloji kecil yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktunya tepat seperti yang sudah di sepakati dengan Lelaki yang sebentar lagi hanya akan menjadi seorang mantan suami untukku.
Setelah menarik nafas panjang beberapa kali Aku memutuskan memompa keberanianku dan menekan bel
~Ting-tong~
~Ting-Tong~
Ditekan sampai dua kali, tapi tidak ada jawaban. Aku semakin gelisah di tekan ketiga kalinya baru ada, sahutan, seseorang mendonggokkan kepalanya dari celah pintu. Tapi bukan Frans
Sepertinya salah seorang teman satu team basket Frans. Agus. Ia menatapku dan menyuruh masuk.
“Ada Frans gak ? aku bertanya setengah bingung
“Ada ayo masuk Fai” Agus membuka pintunya.
Mataku melotot tidak percaya Suara musik itu sangat membisingkan. Volumenya , lampunya yang kerlap-kerlip merasa berada dalam sebuah club malam. Ternyata Frans mengadakan Pesta-pesta bersama teman-temannya. Ia belum menyadari kedatanganku. Atau sudah menyadarinya tapi ia memilih cuek. Karena Ia masih sibuk bercengkrama dengan teman-teman satu tangannya memegang satu gelas minuman dan tangannya satu lagi memegang benda berasap itu. Benda yang sangat aku benci salah satu di muka bumi ini. Karena asapnya bisa membuatku batuk-batuk dan pernah sampai hampir pingsan karena pusing.
Membuatku semakin marah , ada Adella disana dan tiara dan Vera, Agus membisikkan kedatanganku Pada Frans Ia menatapku sekilas dan minta izin pada teman-temanya.
Rasa kebencianku semakin memuncak melihat wajahnya, saat aku menangis meratapi Nasib. Ia justru bersenang-senang di sini
“Sinilah Fai, ikut bergabung,” kata Frans terlihat sangat asing dimataku.
“Sepertinya kamu sibuk. Mungkin lain kali saja, aku berbalik badan ingin meninggalkan tempat jahanam itu.Rasa muak, benci marah bercampur jadi satu . aku ingin berteriak melampiaskan kemarahanku.
Ia menahan pintunya dengan badanya.Wajahnya terlihat marah. Tapi aku lebih marah.
“Kamu bilang ‘ kamu ingin bicara penting padaku” kata Frans.
__ADS_1
“Tidak jadi Frans. Kamu sudah memberikan jawabannya,” kataku mengepal tanganku meremasnya dengan kuat. Menahan Emosiku yang ingin meletup.