
Kakek datang dari kota Malang untuk menjengukku, mendengar obrolan kakek dan keluarga Frans, aku memilih pergi lagi,meninggalkan kakek mengobrol dengan mereka, bahkan saat aku datang malam, tidak membahas apapun dengan kakek.
Pagi-pagi sekali kakek sudah bangun , Ia orang tua yang rajin olah raga tidak seperti aku yang malas ber olah raga. Aku menghampiri kakek yang melakukan senam-senam ringan di taman depan rumah Frans.
“Apa kamu tidak apa apa sayang?” Tanya kakek saat aku mendekat.
“Gak, memangnya ada apa kek?” Aku balik bertanya, sebenarnya ada rasa bersalah pada kakekku, karena tidak pernah menuruti kemauannya, kakek selalu berpesan agar aku menamatkan kuliah.
“Apa yang perlu kakek bantu?” Ia bertanya lagi, aku semakin bingung, raut wajahnya seperti orang lagi marah.
“Tidak ada”
“Saya rasa ada Fai, kakek akan membawa kamu pulang”
“Haaa kok begitu?”
“Kamu lupa ... perjanjian kita, kamu bilang, kalau kamu berpisah dengan Frans aku boleh meminta apa aja sama kamu, kamu tidak lupa, kan?”
Kakek masih ingat saja janji itu, aku pernah janji pada kakek, kalau aku dan Frans tidak punya hubungan kakekku akan membawaku pulang ke kampung.
“Tapi aku kan belum menyerah kek, aku masih mencintainya,” kataku memaksakan diri.
“Jangan bohongin diri sendiri Fai, kesempatan sudah habis, menyerahlah cinta tidak bisa di paksakan, kamu tidak lelah mengejarnya bertahun-tahun Masih banyak lelaki lain di dunia ini Fai!”
“Jangan begitu Kek, beri aku kesempatan lagi,” kataku , tidak ingin di bawa pulang kampung.
“Tidak Fai kita harus pulang dan kamu harus menikah dengan anak teman kakek, kita sudah sepakat itu dan kalau kamu ingin meneruskan kuliahmu setidaknya kamu harus menikah dulu, agar kakekmu ini tenang, biar ada yang menjagamu”
“Kakek, aku tidak ingin menikah dengan anak teman kakek itu, aku tidak suka,” kataku menolak keras perjodohan.
“Apa kamu masih mengharapkan Frans? Dia tidak pernah suka padamu Fai, kamu hanya pengganggu untuknya, kamu harusnya malu pada dirimu sendiri,”kata-kata kakek kali ini menusuk ulu hatiku.
Kakek dan aku terlibat perdebatan sengit, wajahnya menegang.
“Aku ingin meneruskan kuliahku,”
“ Apa ini yang ingin kamu tunjukkan padaku … !” Kakek memperlihatkan lembar LKS Milikku. “Ini hancur Fai … hancur, nilaimu jelek!”
“ Dari mana kakak mendapat kan itu ,bukan nya hasil semester ini aku simpan di-”
“Fai bagaimana, apa kamu ingin mau membanggakan kuliahmu, pada kakek?”
Aku malu, wajah ini bagai terbakar saat kakek memegang kertas putih itu.
“Aku membawamu ke sini ke universitas yang bagus dengan bayaran mahal, apa hanya ini yang kamu dapatkan?”
“Maafkan Kek, aku janji akan memperbaiki nilaiku”
__ADS_1
“Tidak,aku sudah bilang padamu, kesempatan untukmu sudah berakhir hari ini, aku akan membawamu pulang,”ucap kakek, memaksaku pulang kampung.
“Aku tidak mau menikah, aku menolak segala perjodohan.”
“Baik, kakek tidak akan memaksamu menikah , tetapi aku tidak akan memberikan uang sepeser pun untukmu mulai hari ini,” kata kakek mengancam ku.
Kakek meninggalkanku dengan wajahnya terlihat sangat marah dan kesal.
‘Ada apa dengan kakek kenapa ia kekeh bangat ingin membawaku keluar dari rumah ini,baru kali ini aku melihatnya semarah itu. Apa karena Frans menghina ibuku?’
Saat itu juga, Kakek pamit pulang pada keluarga Frans, keluarga itu juga melihatku di marahin.
“Aku akan mengantar kakek sampai stasiun kereta, ya,”kataku saat di depan rumah Frans.
“Tidak usah, ingat kata-kata kakek itu, aku tidak akan membayar kuliahmu kalau kamu tidak mau ikut pulang,” ucapnya mengarahkan jari telunjuknya ke arahku di depan keluarga Frans mereka hanya diam tidak bertanya kenapa kakek semarah itu.
*
Setelah kakek pulang , aku berpikir keras bagaimana kelanjutan kuliahku, jika kakek menghentikan biaya kuliahku, jalan satu satunya mencari kerja.
Pulang kuliah, aku mencoba mencari - mencari lowongan pekerjaan paruh waktu, di temanin Tari sahabatku, aku menceritakan semuanya padanya dan ia bersedia membantu.
Beberapa hari kemudian.
Aku tidak pernah lagi bersama Frans, baik di rumah, aku sudah jarang bertatap muka dengannya. Aku lebih fokus menyelamatkan kuliahku karena kakek menyetop uang bulananku.
Saat pagi tiba di kampus aku melewati lapangan basket di mana Frans dan teman teman lagi bermain basket seperti biasa.
“Fai!” Ia melambaikan tangannya sok akrap
Aku menoleh, mencoba memutar ingatanku siapa sosok tinggi tegap ini yang sedang menghampiriku. Seperti biasa ingatanku payah soal mengingat orang.
“Siapa, iya ?” tanyaku bingung
“Eh lupa lagi, aku Mohan .”
“Oh Mohan ada apa” kataku tidak mengharapkan kehadiran.
“Mau kemana?” tanyanya lagi
“Aku mau pulang"
Aku belum mengenalnya, tapi sikap sok akrabnya membuatku tidak suka.
“Mau saya antar? Ia menawarkan tumpangan.
“Tidak usah," menolak tanpa menyingung.
__ADS_1
Ia tahu hubunganku dengan Frans tidak lagi akur, ia mau membuat gara-gara sepertinya dan memaafkan situasi, seperti yang sudah di ketahui Frans dan Mohan musuh bebuyutan sudah sejak lama.
Bahkan beberapa saat lalu, mereka baru selesai bertanding, pertandingannya di menangkan Frans dan teman- temannya.
“Apa mereka saling kenal?” Tiara juga mengambil keutungan, mencoba memanas- manashin situasi. Frans menatap Mohan dengan tatapan tidak suka
“Ayolah.” Mohan memaksa membuatku jengkel, aku sudah banyak masalah dan banyak pikiran karena kakekku menghentikan pendanaan, aku terpaksa harus bekerja. Tapi belum dapat pekerjaan juga.
“Koz kamu maksa sih,” kataku, aku mengabaikannya. Aku ingin melewatinya, tetapi dia juga menghalangi jalanku, merentangkan kedua tangannya di depan. Aku benar-benar sangat marah, aku tahu ia hanya ingin mengusik Frans.
Pada akhirnya Frans emosi, ia datang dan mendorong tubuh Mohan yang mencoba menghalangiku, ia berhasil, ia hanya ingin mengusik Frans saja.
Melihat semua itu, kepalaku merasa makin pusing, rasanya ingin meledak.
“Apa masalahmu?” Tanya Frans pada Mohan dan memberinya satu bogem mentah. Mohan tidak mau tinggal diam dia membalas pukulan Frans.
“Udah, udah ngapain sih kalian?” membuatku kesal.
Tinju kananya mengenai pipi Frans, perkelahian pun tak ter elakkan sebelum masalahnya semakin panjang dan sampai ke Dosen.
Aku memegangi tangan Frans agar tidak meneruskannya lagi, Hendra dan Agus memegangi Mohan yang terlihat ingin menghantam Frans dan bibir Mohan mengeluarkan darah segar.
Aku memegangi tangannya, tapi tidak begitu berhasil ia masih dengan bringas ingin menghajar Mohan juga.
Aku memeluk tubuhnya dengan sekuat tenaga badan kami menyatu dadaku ke dada bidang Frans.
“Sudah, tolong jangan buat aku malu," bisikku memohon dan mengencangkan pelukan.
Aku tidak tau harus berbuat apa hanya itu yang bisa aku lakukan saat itu.
Aku mendorong nya mundur, untungnya ia mau berhenti, menarik tangannya pergi dari kerumunan , Hendra dengan sigap membawa Mohan menjauh juga.
Aku mendudukkan nya di salah satu kursi taman. Tiara membawa obat luka dan mengobati bibir Frans.
“Tolong obatin Frans, iya,” kataku ingin meninggalkannya. Tapi tangan Frans memegang tangan ini.
“Jangan pergi"
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)