Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Dipaksa menikah


__ADS_3

Kakek datang dari kota Malang untuk menjengukku, mendengar obrolan kakek dan keluarga Frans,  aku memilih  pergi lagi,meninggalkan kakek mengobrol  dengan mereka, bahkan saat aku datang malam, tidak membahas apapun dengan kakek.


Pagi-pagi sekali kakek sudah bangun , Ia orang tua yang rajin olah raga tidak seperti aku  yang malas ber olah raga. Aku menghampiri kakek yang melakukan senam-senam ringan di taman depan rumah Frans.


“Apa  kamu  tidak apa apa  sayang?” Tanya kakek saat aku mendekat.


“Gak, memangnya ada apa kek?” Aku balik bertanya, sebenarnya ada rasa bersalah pada kakekku,  karena  tidak pernah  menuruti  kemauannya,  kakek  selalu berpesan  agar aku menamatkan kuliah.


“Apa  yang  perlu  kakek  bantu?”  Ia bertanya lagi, aku semakin bingung, raut wajahnya seperti orang lagi marah.


“Tidak  ada”


“Saya rasa  ada  Fai, kakek  akan membawa kamu pulang”


“Haaa kok begitu?”


“Kamu  lupa ...  perjanjian  kita, kamu bilang,  kalau  kamu  berpisah  dengan  Frans aku  boleh  meminta apa  aja  sama  kamu, kamu tidak  lupa, kan?”


Kakek masih ingat saja janji itu, aku pernah janji pada kakek, kalau aku dan Frans tidak punya hubungan kakekku akan membawaku pulang ke kampung.


“Tapi  aku  kan  belum  menyerah  kek, aku  masih  mencintainya,” kataku memaksakan diri.


“Jangan  bohongin  diri  sendiri  Fai, kesempatan sudah  habis, menyerahlah cinta tidak bisa di paksakan, kamu tidak lelah mengejarnya bertahun-tahun Masih banyak lelaki lain di dunia ini Fai!”


“Jangan  begitu  Kek,  beri  aku  kesempatan lagi,” kataku , tidak ingin di bawa pulang kampung.


“Tidak  Fai  kita  harus  pulang  dan kamu  harus  menikah  dengan  anak  teman  kakek, kita  sudah  sepakat  itu  dan  kalau  kamu  ingin meneruskan  kuliahmu  setidaknya  kamu  harus  menikah  dulu,   agar kakekmu ini  tenang, biar  ada  yang  menjagamu”


“Kakek,  aku tidak  ingin  menikah  dengan anak teman kakek itu, aku tidak suka,” kataku menolak keras perjodohan.


“Apa kamu  masih  mengharapkan Frans? Dia  tidak pernah suka padamu  Fai,  kamu  hanya  pengganggu untuknya,  kamu  harusnya  malu  pada  dirimu sendiri,”kata-kata kakek kali ini menusuk ulu hatiku.


Kakek  dan aku  terlibat  perdebatan sengit, wajahnya menegang.


“Aku  ingin meneruskan  kuliahku,”


“ Apa ini  yang ingin  kamu  tunjukkan padaku … !” Kakek  memperlihatkan  lembar LKS Milikku. “Ini hancur Fai … hancur, nilaimu jelek!”


“ Dari  mana  kakak  mendapat  kan itu ,bukan nya  hasil   semester ini aku  simpan di-”


“Fai bagaimana, apa kamu ingin mau membanggakan kuliahmu, pada kakek?”


Aku malu, wajah ini bagai terbakar saat kakek memegang kertas putih itu.


“Aku  membawamu  ke sini  ke universitas yang bagus   dengan bayaran mahal, apa  hanya  ini yang kamu  dapatkan?”


“Maafkan Kek,  aku  janji  akan memperbaiki nilaiku”

__ADS_1


“Tidak,aku sudah bilang  padamu,  kesempatan untukmu sudah berakhir  hari ini, aku akan membawamu pulang,”ucap kakek, memaksaku pulang kampung.


“Aku  tidak mau  menikah,  aku menolak segala perjodohan.”


“Baik,  kakek  tidak akan  memaksamu menikah , tetapi aku  tidak  akan memberikan uang  sepeser pun untukmu  mulai  hari ini,” kata kakek mengancam ku.


Kakek  meninggalkanku  dengan  wajahnya  terlihat sangat  marah  dan  kesal.


‘Ada apa dengan kakek kenapa ia kekeh bangat ingin membawaku keluar dari rumah ini,baru kali ini aku melihatnya semarah itu. Apa karena Frans menghina ibuku?’


Saat itu juga, Kakek pamit  pulang  pada  keluarga  Frans, keluarga itu juga melihatku di marahin.


“Aku  akan mengantar kakek sampai stasiun kereta,  ya,”kataku saat di depan rumah Frans.


“Tidak usah, ingat kata-kata kakek itu, aku tidak akan membayar kuliahmu kalau kamu tidak mau ikut pulang,” ucapnya mengarahkan  jari telunjuknya ke arahku di depan keluarga Frans mereka hanya diam tidak bertanya  kenapa kakek semarah itu.


*


Setelah  kakek  pulang , aku  berpikir  keras bagaimana  kelanjutan kuliahku,  jika kakek menghentikan biaya kuliahku, jalan satu  satunya  mencari  kerja.


Pulang  kuliah,  aku  mencoba mencari - mencari  lowongan pekerjaan paruh waktu,  di  temanin  Tari  sahabatku, aku  menceritakan semuanya padanya dan ia bersedia membantu.


Beberapa hari kemudian.


Aku  tidak pernah lagi bersama  Frans, baik di rumah, aku sudah jarang bertatap muka dengannya.  Aku  lebih  fokus  menyelamatkan kuliahku  karena  kakek menyetop uang  bulananku.


Saat pagi tiba di kampus aku  melewati  lapangan  basket  di mana  Frans  dan teman teman lagi  bermain  basket  seperti  biasa.


“Fai!” Ia melambaikan tangannya sok akrap


Aku  menoleh,  mencoba  memutar  ingatanku  siapa  sosok  tinggi  tegap ini  yang  sedang  menghampiriku.  Seperti  biasa ingatanku  payah soal mengingat  orang.


“Siapa,  iya ?” tanyaku  bingung


“Eh  lupa  lagi, aku Mohan .”


“Oh  Mohan ada apa” kataku tidak mengharapkan kehadiran.


“Mau  kemana?” tanyanya lagi


“Aku  mau pulang"


Aku belum mengenalnya,  tapi  sikap sok  akrabnya membuatku tidak suka.


“Mau saya  antar? Ia menawarkan tumpangan.


“Tidak  usah," menolak tanpa menyingung.

__ADS_1


Ia tahu  hubunganku  dengan  Frans  tidak  lagi  akur, ia  mau membuat gara-gara  sepertinya  dan memaafkan  situasi, seperti   yang  sudah  di ketahui  Frans  dan  Mohan  musuh bebuyutan  sudah  sejak  lama.


Bahkan beberapa saat lalu, mereka  baru selesai  bertanding,  pertandingannya  di  menangkan  Frans  dan teman-  temannya.


“Apa  mereka  saling  kenal?”  Tiara  juga  mengambil keutungan,  mencoba memanas- manashin  situasi. Frans menatap Mohan dengan tatapan tidak suka


“Ayolah.” Mohan   memaksa  membuatku jengkel, aku sudah banyak masalah dan  banyak pikiran karena kakekku  menghentikan pendanaan, aku terpaksa  harus bekerja. Tapi belum dapat  pekerjaan  juga.


“Koz  kamu  maksa  sih,” kataku, aku mengabaikannya. Aku  ingin melewatinya, tetapi dia juga  menghalangi  jalanku, merentangkan kedua tangannya di depan. Aku benar-benar sangat marah, aku tahu ia hanya ingin  mengusik Frans.


Pada  akhirnya  Frans emosi, ia  datang  dan mendorong  tubuh  Mohan  yang  mencoba  menghalangiku, ia  berhasil,  ia  hanya  ingin  mengusik  Frans  saja.


Melihat   semua  itu,  kepalaku  merasa  makin  pusing,  rasanya  ingin  meledak.


“Apa  masalahmu?”  Tanya  Frans  pada Mohan  dan memberinya  satu bogem  mentah. Mohan  tidak  mau  tinggal  diam  dia  membalas pukulan Frans.


“Udah, udah ngapain sih kalian?” membuatku kesal.


Tinju kananya mengenai pipi   Frans, perkelahian pun  tak ter elakkan  sebelum  masalahnya  semakin panjang  dan  sampai  ke  Dosen.


Aku memegangi  tangan  Frans  agar tidak meneruskannya   lagi,   Hendra  dan  Agus  memegangi  Mohan yang  terlihat  ingin menghantam Frans  dan  bibir  Mohan  mengeluarkan  darah segar.


Aku  memegangi  tangannya,  tapi  tidak  begitu berhasil ia masih  dengan  bringas  ingin  menghajar  Mohan juga.


Aku  memeluk  tubuhnya  dengan  sekuat  tenaga  badan kami  menyatu  dadaku  ke dada  bidang Frans.


“Sudah, tolong jangan buat aku malu,"  bisikku  memohon dan mengencangkan  pelukan.


Aku  tidak  tau  harus  berbuat  apa  hanya  itu  yang  bisa aku   lakukan  saat itu.


Aku  mendorong nya  mundur,  untungnya  ia mau berhenti,  menarik tangannya  pergi dari  kerumunan , Hendra  dengan  sigap membawa   Mohan  menjauh  juga.


Aku  mendudukkan nya  di  salah  satu  kursi  taman. Tiara  membawa obat  luka dan mengobati bibir  Frans.


“Tolong obatin Frans, iya,” kataku ingin meninggalkannya. Tapi tangan Frans memegang tangan ini.


“Jangan pergi"


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-The Cursed King(ongoing)


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)


__ADS_2