
Bergabung dengan teman-teman Frans membuatku merasa tidak suka untuk pertama kalinya, biasanya aku yang selalu yang paling heboh dan paling berisik, tetapi kali ini aku tidak ingin.
Aku ingin bantuan kecil datang menyelamatkan ku. Akhirnya, bantuan kecil yang aku harapkan pun datang bukan hanya bantuan kecil , menurutku ini bantuan yang sangat besar, karena hatiku masih sakit tidak ingin bertemu dengan Frans, aku berpikir kenapa aku tidak dari dulu bisa membencinya Frans seperti ini kataku dalam hatiku.
Tiba- tiba ponsel milikku berdering aku buru- buru mengangkat.
Adira menghubungiku, kami janjian ke kost- kosannya, untuk mengerjai tugas kelompok dan bantuan kedua juga datang Tari memanggilku dari samping.
‘Baiklah keluar dari rumah setidaknya aku tidak melihat wajah Frans, setiap saat’ucapku dalam hati.
“Aku pergi dulu aku ada janji sama teman- teman, aku pamit sebelum melangkah, aku tidak ingin meninggalkan kecurigaan pada mereka
“Aku tidak ada masalah koz sama kak frans, aku hanya sibuk mengerjai tugas kuliah dan mengejar ketertinggalan ku, kataku menjelaskan dengan singkat.
“Kak Frans, tolong bilangin mami nanti aku pulangnya mungkin malam ,iya’ aku kerumah teman ngerjain tugas ,” kataku pada Frans.
Terpaksa aku harus mengucapkan itu agar mereka tidak curiga lagi,
“Iya,” jawap Frans terlihat kaku seperti kanebo kering, aku pun terbebas dari mereka, walau samar- samarku dengar Vera masih membahas diriku.
“Sepertinya ada yang berubah dengan sikapnya, seperti bukan Faila biasanya,” kata Vera matanya masi menatapku.
“Iya, kamu benar,” ujar Serli
“Kalian berantem Frans?” Tanya Tiara menatap Frans.
“Tidak” jawab Frans acuh.
*
Seperti yang aku mulai membiasakan diri akan fokus dulu ke kuliahku.
Sekarang lebih banyak bergaul dengan Adira ,Repina dan Tari aku seperti punya geng baru. Mereka tidak kalah ramenya dari teman- teman Frans juga, sedikit hatiku teralihkan dari Frans.
‘Sebenarnya aku mengejar Frans karena cinta apa karena butuh hiburan?’ Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlintas di otakku begitu saja.
Hari itu tujuan kami ke tempat Repina dan Adira kots- kosan bertingkat itu di penuhi mahasiswa dari kampus kami juga , semua kamarnya di huni para wanita dan di depan pintu masuk ada tulisan ‘khusus Putri’
Kamar Repina dan Adira hanya ber ukuran 3x4 meter dan mereka berbagi kamar mandi dan jemuran dan tempat mencuci, dengan penghuni lain,di lantai Satu
Walau kamar itu sempit tapi mereka berdua bisa menyusun barang dengan rapi, kasur yang mereka pakai tidur di susun berdiri, sehingga dapat menampung tubuh kami ber empat.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu mengerjai tugas kelompok
tapi perut sudah mulai lapar, ternyata sudah sore juga
“Lapar ni kita cari makan yuk,” ajak Adira
“Aku saja yang masak di mana dapurnya ?” tanyaku yang selalu menempatkan diriku tukang masak atau bahasa kerenanya Koki
“Kita di sini tidak ada dapur Fai, kita kalau makan semuanya kita beli, iya itulah nasip anak kost,” kata Repina,
Ada sebenarnya hanya saja mengantri hanya untuk memasak kata Adira.
Tapi sepanjang mengerjain tugas, otakku malah sibuk dengan pikiran-pikiran yang lain. Harusnya aku seperti mereka hidup mandiri dan fokus ke kuliah.
“Jadi kalian tiap hari makan di luar,” tanyaku lagi penasaran, bukanya sok tapi memang ini aku baru tau tentang kehidupan mereka berdua.
“Iya” begitulah anak kos kebanyakan Fai rata rata semua di sini begitu juga”
Karena di kosan Adira tidak bisa memasak maka kami memutuskan. Makan di salah satu rumah makan sederhana, tidak jauh dari kost, tempat sudah di penuhi banyak orang.
Tapi tidak diduga ada bang Niko juga ditempat itu
“Bang Niko!” Aku terkejut, karena beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya di kampus yang biasanya hampir tiap hari nongkrong dan nemanin mereka latihan Basket
“Di sini duduk ,” ajaknya sekali lagi
Tanpa pikir panjang dan tanpa mempedulikan teman - temanya aku langsung duduk.
“Bang Niko tinggal di sini juga?” Tanyaku bersemangat.
“Iya , kamu ngapain ke tempat ini?”
Aku ngerjai tugas di Rumah Adira tanganku menunjuk adira dan Repi yang masih ngantri, sadar akan dirinya di omongin adira menebarkan senyum manis nya.
Melihat bang Niko makan dengan lahapnya , membuat aku semakin lapar.
“Uda pesan?” tanya bang niko sepertinya dia sadar kalau aku memandanginya entah kenapa tak melihatnya beberapa hari membuat rindu pada canda dan bayolan nya.
“Belum, ini sudah lapar dari siang belum di isi,” kataku
“Iya udah tunggu di sini iya, kamu mau makan apa?” tanya kembali
__ADS_1
Apa aja deh, kayak bang Niko tadi juga gak apa- apa”
Tidak berapa lama dia sudah datang bawa pesananku rendang daging dan tempe dan sayuran
“Ini makanlah,” kata Bang Niko
dia menyerahkan piring putih ke depanku dan segelas teh hangat
Tanpa pikir panjang apa mungkin epek lapar, aku melahap nya tanpa sungkan dan baru sadar ketiga teman ku
iya ampun tari sambil mataku mencari cari mereka “Sini kataku ke ketiganya,”
“Gak setia kawan.” Tari menoyor kepala ini, tepat lagi asik- asiknya mengigit daging berbentuk segi empat itu jatuh dari bibirku. Untungnya jatuh di piringku lagi, kalau jatuh di lantai bisa- bisa berebut sama mpus yang merengek- rengek dari tadi di bawah meja, dekat kakiku.
Ketiganya akhirnya duduk di sampingku ,setelah bang Niko mengusir teman- teman nya yang sudah duluan menghabiskan makanannya dan memanggil ketiga cewek hunter itu duduk bergabung dengan kami.
Tidak peduli dengan toyoran dari tangan Tari ke kepalaku yang lumayan sakit, aku tetap saja fokus dengan makanku yang tinggal setengah porsi lagi, kayak orang seminggu tidak makan.
“Kamu kelaparan ya Fai?” Tanya Adira bibirnya menyeruput jus jeruk, jus jeruk itu sepertinya menyegarkan tenggorokannya.
“Iya,” jawabku, tidak perduli dengan omelan ketiganya, mereka selalu suka protes padaku.
“Iya Fai, tapi bisa gak jangan malu maluin,” hardik Tari yang setiap saat selalu mengkritikku “Kamu tuh makan udah kayak orang k sebulan tidak makan,” kata Tari matanya menatapku dengan mata melotot
Bang Niko hanya tertawa lepas melihat ketiga cewek bawel itu selalu mengomeliku.
“Jangan- malu malui kayak di pasar senen kemarin , ya,” ungkapnya lagi sedikit mengancam, aku hanya senyum saja merasa malu di depan bang Niko.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi
__ADS_1