
Aku sebenarnya ikut tadi dalam rapat petinggi rumah sakit mendampingi ayahku,” ucap Arvind ia mulai cerita setelah membawa nampan makanan di meja kami.
“Terus?” tanyaku setengah acuh, karena aku juga tahu ia ada di sana.
“Sayang orang tidak hadir,” ucap Arvinda
Orang yang tidak datang yang dimaksud Arvind adalah aku, sebenarnya aku tidak ingin berbohong padanya, tapi anehnya aku juga malas menceritakan kebenaran padanya,
“Kamu sepertinya sangat terkenal di rumah sakit ini, semua orang melihatmu,” kataku mengalihkan pembicaraan, agar ia tidak membahas masalah rumah sakit lagi, otakku panas memikirkan pekerjaan dan masalah Tari, masalah Frans , masalah anak-anak kalau saja kepala bisa di ukur isi otaknya sudah penuh.
“Itu sudah biasa,” ucap Arvind terlihat angkuh.
Tiba-tiba ada dua orang Dokter muda juga teman Arvind ikut bergabung.
Eh, Arvin terlihat kagok dan sungkan, ia memperkenalkanku sebagi hanya temanya aku tau itu, karena siapapun akan sedikit malu jika pasangannya seorang janda.
“Siapa Vind?” tanya salah satu teman Arvind yang bermata sipit.
“Oh-oh ini hanya teman”
“Halo saya Faila, saya temannya Dokter Arvind,” sahutku membantu kegagapan Arvind.
Ternyata ia gagap karena ada seorang dokter muda yang sangat cantik, mendekat, mungkin ia suka, karena ia mencuri pandang untuk melirik wanita itu.
Aku hanya merasa lucu melihat sikap gagapnya, ternyata lelaki playboy seperti ia bisa gugup juga.
“Hai arvind,” sapa teman dokter cantik itu.
“Hai sini gabung,” kataku menyuruh ikut gabung dengan kami, jadi dalam satu meja makan terlihat ramai,
Arvind seperti salah tingkah karena ada aku dan ada Dokter cantik itu disampingnya.
“ Ayo mari makan dong jangan pada malu-malu,” aku memecahkan kecangungan.
“Arvin sama siapa?” Tanya teman Dokter muda itu dengan ragu- ragu
“Saya teman Dokter Arvind jangan khawatir,” kataku.
Aku merasa masuk ke tempat yang salah, karena tatapan mata para dokter melihatku dengan tatapan menyelidiki, buru-buru menghabiskan makan, ingin cepat pergi.
“Bu...!”panggil seseorang, menoleh dan merasa bersyukur walau sedikit terkejut ada Dion.
“He…?”
Berdiri dan pamit meninggalkan kelompok para dokter muda itu
Aku pamit, memilih tempat duduk lain di sebelah Arvind aku membiarkan mereka bicara.
“Ada apa?” tanya kak Dion menatapku
“Kak Dion dokter di sini juga?”
“Benar aku baru pindah kesini 6 bulan yang lalu,” ucapnya masih manatapku tidak percaya.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu Fai? siapa yang sakit disini?”
“Aku baik –baik kak, Tari sakit.”
Dio adalah mantan abang iparku, ia adalah abangnya Frans, kak Dio sudah seperti abang sendiri untukku, pernah hidup lama dalam satu rumah, aku dekat dengan kak Dio sama dengan Frans.
“Frans juga ada disini papi, kami membawanya kesini,” ucap kak Dion
saat mendengar nama itu lagi, lagi-lagi rasanya jantungku berdengdang hebat lagi, padahal aku sudah berharap tidak bertemu Frans lagi, aku selalu berharap biarlah hubungan kaki menjadi kenangan masa lalu, walau aku masih sangat mencintainya.
Tapi entah kenapa Arvind melirik kearah kami terus menerus dari tadi yang tidak aku harapkan akhirnya terjadi juga, Frans tiba datang ingin makan siang juga dengan kak Dion.
“Fai Tari dirawat di sini juga?” Tanya Frans menjatuhkan panggulnya di depanku, kemeja yang ia pakai tadi saat mengajar di sekolah Arden itu juga yang ia kenakan saat ini.
“Iya,” Jawabku suara bergetar berharap Arvin tidak menghiraukan kami, lelaki itu termasuk lelaki yang nekat juga,
“Ini…bersihkan mulutmu,” kata Frans memberikan sapu tangannya padaku membuat wajahku memerah bagai tomat rebus, mungkin karena makan buru –buru tadi, jadi sedikit belepotan
“Oh terimakasih Frans” Aku mengusap dagu yang belepotan suasana semakin terasa gerah, karena antara Arvind dan Frans sama-sama ada di sana
Aku menghindari masalah yang nantinya membuatku sakit kepala, jadi lebih baik di hindari, aku pamit sama Frans dan kak Dion.
.
Melangkah buru-buru, tapi Frans malah mengikuti sampai ke taman.
“Fai, siapa dokter yang muda tadi yang terus melihat kamu?” tanya Frans terlihat cemburu
oh ia teman, tidak penting,”
“Sini duduk bentar Fai,”ucap Frans.
Frans duduk di sampingku,ia memberi botol bekas minumnya padaku, karena dari dulu satu bekas minum bekas piring, tanpa aku sadari aku langsung meminum bekas minumannya, karen sudah terbiasa jadi lupa kalau ia sudah jadi mantan.
Kami diam untuk beberapa menit,
“Fai… apa kamu pernah memikirkan akan seperti ini?”
Aku hanya menggeleng, tida tahu harus menjawab apa pada Frans,
“Frans…aku ingin menjenguk Papi , tapi aku takut ia marah padaku.”
Untuk beberapa saat Frans diam, karena apa yang aku pikirkan benar, kalau Papi Frans pasti marah besar padaku. “ Biarkan saja dulu berikan ia waktu dulu,” ucap Frans, matanya terlihat sendu, Frans masih memperlakukanku sama seperti dulu, mencubit pipiku saat aku salah bicara, membuatku jengkel karena sikapnya tidak berubah.
“Jangan memperlakukanku sepeti itu lagi, Frans aku bukan anak kecil lagi, aku bukan seperti dulu lagi,” ucapku kesal
“Bagiku kamu masih Faila yang dulu, Faila yang mengemaskan, seperti yang ini,” ia mengacak-acak rambutku dan mencubit pipiku.
“Ah dasar aku memukul tangannya, kamu tahu gak kita dimana?”
“Rumah sakit,” jawab
“Frans… aku bertanya padamu” Kataku aku menatapnya, “Apa kamu tidak marah padaku?”
__ADS_1
“Kalau kamu bilang marah untuk keputusan yang kamu buat tentu saja marah Fai, tapi aku memilih menerima iklas dan menerimanya apapun yang terjadi,” kata Frans
Saat kami duduk berdua, tiba-tiba datang Arvind dari belakang, aku mulai merasa kurang nyaman.
“Fai tadi katanya mau menemaniku makan, malah ninggalin,” kata Arvind dengan tatapan sinis kearah frans
“Oh kamu tadi ada teman jadi aku pergi.”
Frans terlihat sangat tenang bersikap dewasa dan berpengalaman, beda dengan Arvind yang masih muda, Arvindy melirik Frans dengan sinis terlihat sangat jelas ia tidak menyukai Frans.
“Nanti anak-anak jangan lupa diberi minum vitamin. Retha tadi di sekolah suaranya serak, ia mau demam kayaknya” Frans kembali mengacak-acka kepalaku .
“Ckk” gerutuku kesal, ia pergi meninggalkan kami dengan Arvind.
“Apa ia mantan suamimu?”
“iya”
“Sepertinya sangat akrap tidak terlihat seperti mantan suami, malah seperti orang yang baru menikah,” kata Arvin dengan wajah yang datar.
Aku tak mengharapkan, dengan situasi seperti saat ini di cemburui sama Frans, di dikejar cinta brondong, aku tidak mengharapkannya, aku hanya ingin mendapat ketenangan ucapku dalam hati.
“Maaf tadi sikapku yang tadi,”
“Sikap yang mana? Oh yang kamu malu menyebutku temanmu, di depan wanita yang kamu sukai tadi dan di depan teman temanmu.”
“Bukan seperti itu, aku hanya bingung tiba –tiba ziza datang,” ucap Frans menceritakan kebenarannya padaku, padahal aku tidak mengharapkannya.
“Oh namanya bagus, ia cantik kalian serasi,” kataku menyemangatinya
“Aku tidak peduli aku ingin bersamamu,” kata Arvind dengan wajah serius.
“Ia masih mudah dan sama-sama Dokter jangan mengahrapkanku, aku sudah seorang ibu dan hidupku rumit,” kataku.
“Aku suka dengan hidup yang rumit yang penting jangan munafik,” kata Arvind dengan nada kecewa.
“Aku mau pulang dulu mau momong anak kamu bekerja dengan baik, iya”
“Kapan aku bisa bertemu dengan anak-anakmu Fai?”
“Untuk apa?”
“Karena aku calon ayah baru mereka.”
“jangan ngacoh kamu harus mencari wanita yang baik yang pastinya bukan janda sepertiku,” kataku tidak bersemangat
“Fai aku men-“
“Arvind tolong kau lagi tidak ingin membahas yang lain, aku banyak pikiran kakak iparku dirawat disini,” kataku memotong ucapan Arvin aku tahu ia mau bicara apa tadinya
“Oh maafkan aku,” kata Arvind.
Aku meninggalkannya aku tidak mengharapkan dan tidak menginginkan apa-apa darinya.
__ADS_1